Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2016

Belajar Mandiri


Beberapa hari lalu gue posting #RandomThought2016 gue di path (yang gue linked ke FB) dan sepertinya menyinggung beberapa pihak.

“Belajar untuk hidup tanpa bergantung pada orang lain bukanlah perkara yang mudah. Terutama bagi mereka yang sejak awal terbiasa dimanja, terbiasa disokong, terbiasa “ada”.
Beda perkara jika ia terbiasa mandiri, terbiasa melakukan semuanya sendiri, dengan hasil keringatnya sendiri. Beda perkara. Dan gue ga akan bahas itu.
Anggaplah, seorang anak terbiasa mendapat sokongan dari orang tuanya. Sebut saja dana dan bantuan lain yang membuat anak terbiasa merasakan kemudahan tanpa harus bersusah dahulu. Ya, memang sih, orang tua mana yang ingin melihat anaknya kesusahan? Jawaban mayoritasnya pasti, tidak ada.
Tapi apa yang salah dengan sokongan (terutama dana) dari orang tua tersebut bagi sang anak? Yang salah adalah “terbiasa”. Sang anak terbiasa hidup mudah tanpa bersusah dahulu. Sang anak terbiasa “diberi” tanpa berusaha. Sang anak tidak terbiasa tanpa sokongan.
Dan bagaimana jika someday, sang pemberi sokongan sudah tidak mampu lagi memberi? Atau yang terburuknya, yang memberi sokongan sudah tiada?
Mungkin sebagian besar akan shock,  kaget, dan seakan kehilangan arah. Apa yang harus dilakukan? Bagaimana kelak hidup ini?
Bersyukurlah bagi kalian yang sudah terbiasa berusaha. Bersusah dalam kemandirian. Terbiasa tanpa sokongan.
Karena roda kehidupan terus berputar. Kadang berada di atas, kadang di bawah.
Karena setiap yang benyawa pasti mati, meninggalkan dunia yang fana ini. Meninggalkan keluarga yang dicintai. Meninggalkan harta yang dimiliki.
Dan, karena hanya kehendak Sang Pencipta jualah, segala yang kita miliki saat ini masih bisa kita nikmati. Tapi tak tahu esok, lusa, dan masa depan...
#RandomThought2016”
 

Rangkaian kata di atas seketika muncul dan menyentil gue bertubi tubi. Mengingatkan gue akan beberapa tahun silam. Saat gue masih “hobi” menadahkan tangan pada orang tua, dan tante gue yang saat itu “ada” dan berkecukupan.

Iya, sejak kecil gue memang terbiasa dimanja. Apa yang gue mau pasti diberi. Segala hal terasa mudah bagi gue. Hidup dengan bergantung pada orang lain, pernah gue alami. Bahkan, mungkin, sampai sekarang.

Tamparan keras buat gue saat kalimat “Dan bagaimana jika someday, sang pemberi sokongan sudah tidak mampu lagi memberi? Atau yang terburuknya, yang memberi sokongan sudah tiada?” 

Been there. Dan gue beneran kehilangan arah. Bingung mau ngapain. Kalang kabut. Dan akhirnya pasrah jalanin hidup seadanya. Mulai belajar dari nol lagi. Belajar tanpa sokongan. Belajar tanpa kemudahan. Dan memang tidak mudah. Sampai saat ini pun gue belum bisa dibilang mandiri. Dan ketika gue sudah mulai memasuki dunia kerja, gue mulai merasakan yang namanya “nyari duit itu gak mudah”. Dari situ gue mulai belajar bersyukur untuk nikmat yang pernah gue punya.

Awal masuk dunia kerja, udah punya penghasilan sendiri, bukannya memberi ke ortu sebagian dari penghasilan kita, gue malah masih ganggu kenyamanan ortu gue di hari tuanya. Karena beberapa kali memang besak pasak dari pada tiang. Sampai akhirnya mulai mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan. Sehingga mampu memberi sebagian hasil keringat gue ke ortu. Meskipun ortu gak minta, tapi ada kesenangan sendiri saat gue bisa lihat senyum ortu saat menerimanya. Miss that moment.

Now, semenjak menikah dan gue memutuskan resign dari kerjaan, dan membuat gue bergantung pada suami gue, membuat gue kembali berpikir.  Gue harus cari uang tambahan lagi. Setidaknya agar gue bisa berbagi ke ortu gue kayak dulu lagi. Roda berputar, Rul!


Random thought gue kali ini bener bener nampar gue bolak balik. Sekian. Dan selamat belajar mandiri!

Kamis, 10 September 2015

Hari Bahagia Bersama Orang-Orang Hebat

Merayakan perubahan usia dengan pesta? Sudah biasa. Atau dengan mentraktir teman? Sudah biasa. Terus yang gak biasa apa?

Diam-diam merayakan bertambahnya usia dengan menjadi pengajar di Kelas Inspirasi (KI) Jakarta sambil ditemani oleh suami tercinta seharian penuh dan juga dikelilingi orang-orang hebat yang penuh energi positif, menurut gue adalah hal yang luar biasa.

Kelompok 17 KI JKT 4 (minus mas Fahmi, Irina dan Mba Nunu)


Kenapa diam-diam?

Bukan karena gak mau traktir teman-teman, sih. Tapi untuk beberapa tahun kebelakang ini gue emang lebih suka gak ada yang tahu, gak ada yang ingat ulang tahun gue (kecuali orang terdekat), dan merayakannya dengan cara gue sendiri.

Beberapa kali gue merayakannya dengan bikin kuis di akun Twitter gue, @rulachubby yang berhadiah buku-buku kumpulan cerita pendek yang ada karya gue. Tapi untuk tahun ini gue mau berbagi kebahagiaan dengan anak-anak hebat di SDN 19 Pagi, Manggarai. Dengan ikut Kelas Inspirasi tentunya.

Dan memang teman-teman baru di Kelompok 17 KI Jakarta 4 ini kebetulan juga gak ada yang tahu tanggal lahir gue. Jadi gue merasa aman. Meskipun akhirnya mereka tahu di akhir, setelah selesai acara, setelah berpisah. Padahal setelah selesai mengajar dari SDN 19 Manggarai kemarin, kita sempat ngumpul sambil ngopi cantik di Bakoel Kofie, Menteng, lho. Cukup lama, ber-hahahihi. Saling menceritakan pengalaman masing-masing, tapi tetep ndak ada yang tahu. Heheh.

  
Kenapa Kelas Inspirasi?

Sebenarnya udah lama banget gue mau ikut KI, baik yang di Jakarta, Bogor, Depok ataupun Bekasi. Selalu iri setiap lihat postingan temen-temen di sosmed tentang kegiatan hebat ini. Tapi selalu kandas karena lupa daftar terus. Baru inget pas udah penutupan. Hehehe. Dan untuk tahun ini, pas gue lihat KI Jakarta akan diadakan berbarengan dengan tanggal lahir gue, langsung aja daftar. Dan berharap banget terpilih untuk jadi Pengajar Sehari di KI Jakarta 4 ini. 

Dan, tahun ini gue beneran ikut KI. Suatu pencapaian besar buat gue. Berani untuk mencoba menjadi pengajar, untuk anak-anak SD yang luar biasa aktifnya.

Gue selalu merasa gak pernah bisa ngajarin orang lain tentang sesuatu. Apalagi menjelaskan tentang profesi gue. Fisioterapis. Masih banyak yang belum tahu apa itu Fisioterapi. Tapi, dengan modal nekat, voilaaa... KI Jakarta 4, berhasil gue lewati dengan lancar. Alhamdulillah.

Ditambah dukungan dari suami yang bantuin persiapan baik materi dan moril, jujur kalo gak disupport suami, ada kemungkinan gue mundur dari KI. Ditambah kesehatan gak stabil. Tapi Allah memang Maha Baik. Atas izin Allah gue bisa ikut KI Jakarta 4 kemarin. Bisa merayakan pergantian angka dengan pengalaman paling berkesan sepanjang 29 tahun usia gue. Iya, angkanya udah berubah jadi 29 sekarang. :) 


Kesan gue ikut KI Jakarta 4?

Seru. Bahagia. Salut sama bapak dan ibu guru SDN 19 Manggarai khususnya, dan seluruh bapak dan ibu guru di seluruh Indonesia umumnya. Ternyata gak mudah untuk berada di depan kelas anak usia SD dengan berbagai macam karakter dan keajaiban lain yang gue temuin selama jadi pengajar seharinya KI.

Baru ngajar satu kelas aja suara gue udah mulai serak-serak banjir karena harus teriak-teriak mengimbangi anak-anak kelas tiga yang berisik ditambah suara pintu perbatasan rel kereta dan commuterline yang lewat lumayan sering ini. Maklum, sekolah yang gue datangi ini terletak di lantai tiga komplek sekolah di pinggir rel kereta listrik yang menuju stasiun Manggarai.

That’s why gue salut dengan para guru di sini. Anak-anak yang ajaib, lingkungan yang kurang kondusif, tapi mereka tetap bisa memberikan pendidikan, pengajaran kepada murid-murid di sini.
Bersama para Guru SDN 19 Manggarai

Awalnya gue memang sempat panik dan kebingungan memikirkan pendekatan ke anak-anak hebat ini seperti apa? Materi yang akan gue berikan apa? Dan lain lain secara teknis. Tapi akhirnya mengalir begitu aja, loh. Lihat sekeliling kelas, lihat wajah-wajah innocent yang ada di kelas tersebut, dan terjadilah. Perkenalan, bermain, membentuk kelompok, berlomba memasang perban elastis, hingga tanpa disadari 35 menit waktu yang diberikan sudah hampir habis. Dan itu terjadi di semua kelas yang gue datangi.

Dimulai dari kelas 4, lanjut kelas 1, kelas 3, dan terakhir kelas 5 dengan beberapa kali jeda istirahat tentunya. Hehe. 

Keempat kelas yang gue datangi kemarin meninggalkan kesan tersendiri buat gue. Masing-masing kelas punya karakter sendiri.

Yang unik di kelas 1, jiwa bermain mereka masih cukup tinggi. Gue lebih banyak bermain di kelas yang isinya anak-anak mungil ini. Main Domikado. Dan seruuu. Oh iya, ada salah satu anak di kelas 1 ini yang mengingatkan gue dengan film Little Rascal.  Mirip sama pemimpin geng di Little Rascal soalnya. Hehe.


Agak miripkan sama pemimpinnya Little Rascals. 

Nah kalau di kelas 5, sebenarnya bisa agak serius. Tapi, karena gue masuk di jam terakhir, yang mana anak-anak sudah mulai ngantuk, jadilah gue mencoba untuk main tebak-tebakan di awal perkenalan gue sama mereka. Terus bikin kelompok lagi, melantai lagi. Berlomba memasangkan elastis perban ke salah satu teman di kelompoknya, kemudian dilepas lagi. Dan diakhiri dengan bermain UNO. Hehehe. Jangan salah, karena permainan UNO ini gue jadi bisa lihat karater anak sebenarnya. Dan itu seru.

Ohiya, hampir di semua kelas, cara gue berinteraksi dengan anak-anak dan memberikan materinya di lantai. Melantai alias lesehan di bawah. Lebih seru. Berkumpul dengan mereka. Lebih merasa dekat dengan anak-anak.

Nah, kalo masalah cita-cita, di beberapa kelas gue menemukan cita-cita yang unik untuk anak SD. Di kelas 5 ada yang bercita-cita menjadi ilmuwan, ahli kimia, bahkan pengusaha besar. Di kelas 6 ada yang bercita-cita menjadi pelukis. Kalau di kelas 3, ada yang ingin jadi pemadam kebakaran. Salut!

Dinding Harapan.
Yang ditempeli bangau origami dengan nama dan cita-cita tiap anak.


Duh, ceritanya udah panjang aja. Maaf ya. Memang gak akan ada habisnya sih kalau cerita tentang dunia anak-anak. Heheh.

And now....

Big thanks to KI yang udah meloloskan gue untuk bisa ikut menjadi Inspirator di Hari Inspirasi yang berbarengan dengan hari lahir gue. 

Dan gue juga sangat bersyukur atas skenario yang Allah tulis buat gue hingga hari ini. Banyak pengalaman seru yang lebih seringnya “nyentil” gue banget. Heheh. Selalu diingatkan untuk lihat sekitar. Iqra!! 

Masih banyak yang gak seberuntung gue. Masih banyak yang lebih baik dari gue. Masih banyak orang-orang baik yang selalu memberi inspirasi, menyebarkan energi positif di dunia ini. Masih banyak lubang, celah atau kesempatan untuk berbuat kebaikan. Tapi, kita gak akan pernah tahu, masih banyak kah waktu yang tersisa untuk kita berbuat kebaikan itu? Masih panjangkah usia kita agar bisa ikut menyebarkan energi positif itu?

Jadi, kalau memang bisa kita lakukan sekarang, kenapa harus tunggu nanti-nanti?

Just do what you wanna do!



Rula, Pamit!

nb: pic by Anindira Rustandi (@rustandi_dira) & Aditya Prinera (www.prinera.com)

Rabu, 09 September 2015

I'm Offocially 29 and Married

Have you ever wish all of your dream will be come true? Me, absolutely yes. But I know, that so imposibble. Just be realistic, sih. Karena memang gak semua yang lo impikan, lo harapkan, lo khayalkan bisa jadi kenyataan. Bahkan bisa tak kunjung jadi nyata. Mungkin karena kita yang kurang usaha untuk meraih impian itu. Atau bisa juga memang impian itu tak pantas untuk kita. Karena Tuhan selalu punya rencana terbaik buat umatnya. I believe in that. Duh, kenapa jadi sok alim gini sih gue. Heheh. 

Sejak gue kecil, gue punya banyak banget impian. Gue juga hobi berkhayal. Tapi bisa dihitung impian gue yang udah jadi kongkrit, alias nyata. Salah satunya, gue pernah bermimpi, bercita-cita jadi dokter (atau kalo gak istrinya dokter, deh), tapi pada akhirnya gue gak bisa masuk ke fakultas kedokteran pun jadi istri dokter. Malah lebih memilih jurusan Fisioterapi, D3. Ya, emang gak jauh-jauh dari dunia kesehatan, sih. Tapi gue gak menyesali keputusan gue untuk nyemplung di dunia Fisioterapi. Gue jadi banyak tahu tentang hal yang memang sebelumnya gue sama sekali gak tahu. Tentang bedanya pijat di fisioterapi dengan pijat di tukang urut. Bedanya otot, ligamen, persyarafan. Bahkan semua yang berhubungan dengan gerak dan fungsi tubuh manusia lainnya.

Gak cuma itu aja. Beberapa kali gue berkhayal punya ini, bisa ke sana, jadi itu. Ya, semacam punya bucket list sendiri gitu. Ada yang sudah kongkrit, acomplished, meskipun jarak pencapaian dari mimpinya agak jauh. Tapi ya ada juga yang memang belum tercapai juga. Hehhe .

Pencapaian gue hingga di usia gue yang ke 29 ini (iya, tahun ini gue udah masuk di angka 29) salah satunya NIKAH!. Finally gue berani juga memutuskan untuk menikah. Setelah sebelumnya gue hampir lebih memilih menjadi single selamanya karena masalah trauma. Hahah, ini gak akan gue bahas lagi. That’s just my past. Saat ini gue udah sah jadi Ny. Muhammad Reza Pahlevi. Ya, tepatnya 2 Agustus lalu gue melepas status SINGLE gue (padahal di KTP masih tuh. Hihih). Udah gak ada yang nanyain lagi “Kapan nikah?” dong yaa harusnya. *piss*

Selain tentang menikah, pencapaian gue lainnya kalo dilihat dari postingan gue tahun lalu itu adalah.. hmmm... I decided to resign from my work as phsycal therapist at RSIA YPK Mandiri dengan alasan mau fokus menyelesaikan novel gue yang udah lumutan dalam bentuk draft. 

Oke. Gue tau ini hal tergila yang pernah gue lakukan. Keputusan yang bisa dibilang nekat. Tapi, suami udah ngizinin. Dengan syarat, gue beneran selesaiin novelnya. And now i’m trying to finishing my draft. Dan mewujudkan salah satu mimpi gue, terbitin novel solo. Ganbate, Rul!!

Setelah menikah dan novel. Gue punya satu mimpi lagi, yang, yaa sebenernya ini selalu jadi harapan newly wed sih ya, have a babies. Kalo bisa before I go 30. Tapi semua gue pasrahin sama Arsiteknya manusia. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa J

Hmm. Apalagi ya..

Oiya, gue akhirnya ngerasain pake iPhone. Hihi. Norak, ya gue. Itu juga gegara windows phone gue rusak disaat gue harus ngirit pengeluaran buat biaya nikah. Jadinya, Abang, yang sekarang udah jadi suami, kebetulan punya 2 smartphone. Salah satunya iPhone 4. Jadilah doi minjemin gue iPhone 4nya buat gue pake. Sampe sekarang masih gue pake itu iPhonenya.  Hehe.

Dan, akhirnya gue punya laptop sendiri. Warna biru pula. Early birthday gift from my lovely husband and my self. Patungan gitu ceritanya, tapi tetep aja banyakan dari Abang duitnya. Abang yang urus. Gue terima udah beres. Hihi. Makasih sayangg *kiss kiss*

Last but not least, Rabu 9 September 2015 ini insyaallah gue akan ikut Kelas Inspirasi Jakarta yang ke 4. Berhadapan dengan anak-anak SD, memberi mereka inspirasi mengenai profesi yang gak melulu dokter atau insinyur. 

Ah, masih panjang ceritanya kalo mau dijabarin satu satu mah. Kasian yang baca nanti.
Heheh...

And now, I’m officially 29 and I’m married!

Alhamdulillah masih dipercaya untuk menjadi pemain dalam drama kehidupan ini. Terima kasih untuk nikmat tiada tara ya Allah. *terus mulai mewek* Suami yang the best, keluarga baru yang baik, lingkungan yang selalu support gue, dan teman-teman yang masih selalu mengingatkan untuk berbagi, berbagi, berbagi. I love you all!

Berdoa tak harus saat pergantian usia aja. Kapan pun gue pasti berdoa. Dan doa gue selalu berimpovisasi sesuai keadaan. Yang pasti selalu minta untuk diberikan kesehatan, perlindungan, dan kebahagiaan. Buat gue, buat suami gue, keempat orang tua gue (orang tua kandung plus papa mama mertua), dan keluarga baru gue.

Dan semoga bisa selalu menjadi yang terbaik, menorehkan kisah kisah lucu nan menarik dalam setiap lembaran baru buku kehidupan gue.

Boleh minta aminnya?



The Birthday girl, Pamit!  
@rulachubby

pic : from here

Selasa, 17 Februari 2015

Cepet Sembuh Ya, Bu

Hari ini sudah hari ke-empat Ibu gak tidur di rumah, melainkan menginap di kamar berbau khas chlorine itu.
Ibu gak kangen rumah, Bu?

Sejak Ibu dirawat, rumah terasa sepi, hampa, seakan tak ada kehidupan.
Ah, salah Uyun juga sih.
Bukannya menginap saja di ruangan dengan tempat tidur dua itu menemani Ibu, Uyun malah pulang ke rumah.
Kondisi yang membuat Uyun terpaksa pulang ke rumah dan membiarkan Dimas yang menjaga Ibu di sana.

Sepi, Bu.
Tak ada canda tawa Ibu. Pun ketika Uyun berkunjung menemui Ibu di sana.
Kangen cerita-cerita sama Ibu lagi.
Kangen dengerin cerita Ibu tentang kegiatan Ibu seharian. Yang sibuk di kelurahan, yang sibuk pengajian.
Kangen Ibu yang sehat.

Dear, Dokter yang merawat Ibu.
Ibu kapan boleh pulang ke rumah?
Ibu kapan sembuhnya?
Uyun kangen Ibu.

Cepet sembuh ya, Bu.  

Anakmu yang kangen.

Minggu, 15 Februari 2015

Aku Rindu Sehat, Buh

Kepada Yth,
Tubuh yang Membalut Tulang

Hai, sayang. Apa kabar kamu pagi ini? Feel better, kah? Apa mulai sakit-sakitan lagi?

Entah kenapa, setahun kebelakang kemarin ada aja yang kamu keluhkan. Ya demam, lah. Ya flu, lah. Ya macem-macem, lah. Selalu ada keluhan sakit yang muncul dari kamu. Seakan kamu akrab sekali dengan berbagai macam jenis penyakit yang sering menyapamu itu. Atau mereka yang senang bercengkrama denganmu? Sehingga enggan meninggalkanmu seorang diri?

Apa kau tahu, buh? Ketika kau kerap kali dikunjungi teman-teman penyakitmu itu, aku jadinya tak pernah bisa melakukan rutinitas-tiga-bulanan-ku selama 2014 kemarin. Iya, aku jadi gak bisa donor darah. Hal yang biasa aku lakukan jika kamu sehat, buh. Dan kamu tahu? Aku rindu memberikan darahku kepada mereka yang membutuhkan. Aku rindu merasakan sensasi yang muncul setiap jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahku kemudian mengalirkan cairan merah pekat melalui selang bening panjang menuju ke kantong darah yang telah dilabeli golongan darah A dan juga tanggal lahirku. Aku sangat rindu sensasi itu, buh.

Beberapa bulan ini aku selalu gigit jari setiap melihat teman-temanku memamerkan foto-foto mereka saat atau setelah melakukan donor darah. Aku sedih. Bahkan sempat aku menangis saking rindunya aku dengan kegiatan itu. Aku iri melihat mereka mampu memberikan darah mereka untuk disumbangkan, sedangkan aku tidak. Padahal sebelumnya aku selalu berhasil melakukan itu. Aku pun yang mengajak mereka untuk melakukan hal itu.

Dear Tubuhku Tersayang,

Aku hanya bisa berharap tahun ini kamu gak berteman lagi dengan berbagai macam penyakit itu. Aku mau kamu akrab dengan si sehat. Jadinya nanti aku bisa donor darah lagi. Serius, loh, ini aku sudah sangat merindu dengan donor darah. Ia bagai candu yang harus aku lakukan setiap tiga bulan itu.

Janji ya, buh, kamu harus sehat tahun ini. Minimal aku bisa dua kali lagi donor darah dalam setahun. Aku sangat berharap kamu sehat. Dan aku akan berusaha untuk menjagamu agar tetap sehat. Janji ya, buh. Tahun ini kita SEHAT! Aku rindu sehat, buh...


Aku, Pemilik Tubuh yang Membalut Tulang.

Senin, 09 Februari 2015

Akankah Jakartaku Bisa Senyaman Dulu Lagi?

Tuhan,

Hari ini Jakartaku terendam banjir di banyak tempat. Barat, Timur, Selatan, Utara, bahkan Pusat juga. Hampir semua wilayah Jakarta terendam air. Entah itu hanya 10 cm kah, 20, 30 bahkan ada yang sudah mencapai 1 meter lebih. Yang paling heboh tentang berita kalau di halaman Istana Negara, yang terletak di Jakarta Pusat ini pun tergenang air. Iya, sebagian besar Jakartaku diselimuti air berwarna cokelat. Ada juga di beberapa titik berwarna kehitaman. Tidak hanya jalan raya yang tergenang air, rumah-rumah penduduk pun mulai ikut dijambangi si air.

Banyak orang yang terjebak macet karena banjir menggenangi hampir seluruh jalanan di Jakarta. Akses ke mana-mana pun susah. Kendaraan bermotor, pejalan kaki, bahkan jalur perkeretaapian pun ikut kena dampak dari hujan tak berkesudahan ini. Yang di jalan terjebak tidak bisa ke mana-mana, yang di kantor pun terancam tidak bisa pulang  karena aksesnya tertutup air yang menggenang tinggi.
Ah, aku jadi teringat dua tahun yang lalu. Kejadian hampir sama dengan hari ini. Hujan tak kunjung reda, sungai meluap membanjiri Jakarta. Tapi, tahun 2013 itu banjir parah di Jakarta Pusat karena tanggul Latuharhari Jebol. Terjebak di tempat kerja, gak bisa pulang karena aksesnya tertutup banjir. Entah di hari yang sama atau beda aku terjebak di Manggarai karena hujan dan banjir menutup rel kereta di stasiun Tebet.    

Banyak yang bilang ini karena air hujan yang tak kunjung reda menjatuhi Jakarta sejak semalam. Dan memang, sejak semalam hingga aku menulis surat ini pun Jakarta masih diguyur hujan. Kadang deras, kadang gerimis. Tapi tak pernah berhenti. Seakan langit sedang bersedih layaknya orang patah hati.

Banyak juga yang menyalahkan pemerintah yang tidak becus mengurusi tata kota, karena setiap tahun Jakarta selalu banjir.

Tapi apakah selalu hujan yang disalahkan?
Apakah pemerintah juga yang harus disalahkan?
Kenapa bukan manusianya yang disalahkan? Diri sendiri.

Yang aku tahu, masih banyak manusia yang hobi buang sampah sembarangan di jalan. Banyak manusia yang mendirikan bangunan di bantaran kali. Banyak manusia yang memangkas pepohonan rimbun yang seharusnya jadi tempat resapan air hujan dan mengubahnya menjadi hutan beton. Banyak pengembang (yang juga terdiri dari manusia-manusia) yang melupakan sistem drainase yang baik. Sehingga membangun perumahan, jalan raya, gedung bertingkat, tapi lupa memperbaiki sistem drainasenya. Semua hal ini yang menyebabkan banjir, bukan?

Tuhan,

Mungkin aku pernah menjadi salah satu manusia-manusia itu. Iya, aku pernah buang sampah sembarangan, aku juga pernah memaki pemerintah. Tapi aku sadar, aku juga salah. Aku tidak merawat Jakartaku dengan baik.

Tuhan,

Akankah Jakartaku bisa senyaman dulu lagi?
Jakarta yang bersih, yang bebas banjir. Jakarta yang belum dipenuhi kendaraan bermotor seperti sekarang.  Aku rindu Jakartaku yang dulu.

Tertanda,


Rula - Penghuni Jakarta

Rabu, 04 Februari 2015

Dear, Koh Vince yang .......



Teruntuk Koh @vincebastian

Hai, Koh Vince.

Masih ingatkah dengan pertemuan pertama kita? Hari itu hari Rabu, 7 Januari 2015 jam 16.00. Saat pertama kali aku bertemu lelaki berjaket hitam dengan topi putih di ruang depan Studio KIS FM Jakarta, yang ternyata itu adalah Koh Vince. Aku yang hanya bisa menunduk malu, gak berani menyapa Koh Vince saat itu. Takut dikira es-ka-es-de. Padahal hari itu aku datang ke studio KIS FM Jakarta untuk taping siaran bareng Koh Vince. Hal yang sudah aku tunggu sejak lama. Bisa siaran bareng penyiar favorit yang suaranya selalu mengisi pagiku. Ah, iya. Hampir tak pernah aku absen mendengar ceracau Koh Vince dan Bang Mike (@jensmichael) setiap pagi. Menghibur, membuatku tertawa sendirian di antara gencetan penumpang commuterline yang setiap pagi selalu padat penumpang itu.  

Gugup, deg-degan, bingung, canggung, kira-kira itulah yang aku rasakan ketika mbak Prita, dari KIS FM Jakarta, memperkenalkanku pada lelaki ramah yang juga karismatik dan berkulit putih yang mengenakan jaket hitam dan topi putih tadi. Dengan rambut halus menghiasi rahang dan dagunya itu, dialah Vince Sebastian, yang lebih suka disapa Vince, atau Koh Vince. Prince Charming. Ah, maaf jika aku terlalu berlebihan memuji dirimu, Koh. Tapi itu jujur dari lubuk hati terdalam. I’m fallin in love with you. At the first sight. 

Itu awalnya ya, Koh. Malu-malu. Tapi, setelah berbincang beberapa lama aku gak bisa gak ketawa setiap melihat gerak gerik Koh Vince. Bahkan aku harus berkali-kali menahan tawa saat kita mau mulai taping. Sampai Koh Vince heran dan bertanya, “ada yang salah ya sama gue?” dan kalau gak salah aku menjawab, “lucu aja denger suara Koh Vince yang gak sesuai sama muka” kira-kira seperti itulah jawabanku ya, Koh? Hehe..

Iya, agak aneh memang begitu melihat dari wajah tampan berkarismatik itu mengeluarkan suara agak berat, ngebass. Padahal suara itu sudah begitu akrab ditelingaku setiap pagi. Tapi entah kenapa itulah yang aku rasakan saat melihat sang pemilik suara yang ternyata memilik darah Tionghoa ini langsung di depan mata. Dreams come true, huh?

 Dear, Koh Vince yang ......

Entah aku harus mengisi titik titik itu dengan apa. Meskipun baru kenal dengan Koh Vince beberapa menit, tapi aku bisa dengan mudahnya akrab dengan lelaki beralis tebal ini. Ah, iya. Mungkin karena persamaan alis kita ya, Koh? Atau mungkin karena dirimu memang mudah mencairkan suasana. Aku yang kaku dan gugup bahkan cenderung garing ini bertemu dengan dirimu yang ramah, supel dan humoris. Gak nyambung sih memang. Agak awkward. Dan aku harus meminta maaf karena beberapa kali guyonan Koh Vince aku cuekin. Gak aku gubris. Maaf ya, Koh.

Terima kasih karena sudah mau meluangkan waktu untuk siaran bareng seorang Rula-yang-disenggol-dikit-curhat. Hahaha. But, that was fun. Bisa kenal dengan penyiar kece, ngobrol serta foto bareng. Nah, bagian foto ini yang paling seru. Wefie. Hihih.

Kenangan pertama siaran bareng Koh Vince dengan sedikit curhat dan playlist lagu yang isinya curhatan semua. Terima kasih (sekali lagi), Koh Vince dan KIS FM, tentunya, yang sudah mewujudkan salah satu mimpi seorang Rula. Kenangan yang gak akan pernah terlupakan!

Tetap semangat siarannya ya, Koh. Tetaplah selalu merusak pagi hari para pendengar dengan banyolan-banyolan duet maut Koh Vince dan Bang Mike. Dan aku senaaaaaanggg hari Rabu ini kalian perdana siaran di #WednesdaySlowMachine. Meskipun agak aneh, kalian yang biasanya rusuh, harus agak sedikit kalem di hari Rabu ini. Hihihi... But I still love you both!

By the way, kayaknya sekian dulu ya, Koh, suratnya. Pasti Koh Vince udah mulai pegel deh bacanya. Udah panjang, bahasanya campur aduk. Labil. Ga jelas. Hehehe.. Pisss, Koh

Best Regrads,
Your big fans ever.





















Rula (@rulachubby)

Nb : thx for the pic Koh

Rabu, 08 Oktober 2014

Pelukan Rindu





Fajar datang beserta dinginnya angin berhembus, namun aku tetap merasa hangat.
Menenggelamkan diriku dalam dekapanmu lah yang membuatku hangat.
Bersandar pada dada bidangmu.
Meluapkan segala emosi yang terpendam lama, sehingga membuat dada bidangmu basah akan air mata.

Rindu. 
Rindu yang teramat sangat akan pelukan itu.

Pelukan yang mampu meluluhkan segala penat dan letih yang menerjang raga ini.
Pelukan yang mampu membangkitkan kembali kekuatan yang sudah lama lumpuh.
Pelukan yang mampu mengisi kembali energi yang telah hilang dimakan waktu.
Pelukan yang selalu mampu membuat bibir ini melukiskan senyum setelahnya.
Pelukan yang selalu membuatku hangat meski ditengah badai salju sekalipun.

Dan...
Pelukan yang ternyata hanya dalam mimpi, namun terasa nyata.

Iya, aku rindu dipelukmu.

Aku rindu kehangatan itu. 
Hingga aku bermimpi dipeluk olehmu.


Aku, yang merindu pelukmu.

-R-

Selasa, 07 Oktober 2014

25 Day Blog Challenge, Day 9 : Meaning Behind Your Blog Name



Hai Hai Hai..

Semakin molor aja nih gue posting 25 Day Blog Challenge-nya. Udah mulai padet lagi jadwal pasien dan afternya. Sampe-sampe sekalinya ada waktu buat ngetik, dimanfaatin buat ngetik. Nyicil. Pas postingnya dirapel. Hihihi *gabisa juga padahal*

Oke, bahasan kali ini adalah Arti di balik nama blog gue..

*mikir*

Awalnya gue kasih nama, eh Judul di blog gue itu “Whatever I Said” dan awalnya si alamat web-nya juga gitu. Sampe akhirnya gue ganti alamat webnya jadi rulachubby.blogspot.com . Ini lebih ke memudahkan gue untuk mengingat sih. Hehe.. Tapi judul di blog masih dengan “Whatever I Said”.

Filosopi dari kata “Whatever I Said” sebenernya simple. Blog ini awalnya sebagai diary gue, curhatan gue, tempat gue numpahin semua uneg-uneg atau apapun yang melintas di kepala dan khayal gue. Makanya kalo dilihat di postingan gue pas awal-awal ngeblog, lebih banyak tulisan yang ngelantur. Apa yang gue pikirin saat itu, itu yang gue tulis. Sampai dengan bentuk tulisan alay pun muncul di awal-awal blog ini exist. Hihihi *piss*. Nah, semakin ke sini, semakin usia bertambah, semakin mulai bisa berpikiran dewasa dan bijaksana *ehem ehem* gue mulai agak sedikit bijak menggunakan blog ini. Sempet vakum memang, tapi setelahnya lebih banyak diisi dengan cerpen atau Flash Fiction dan beberapa review. Ya, meskipun kadang masih suka gue tulis opini atau pendapat gue, dan beberapa curhatan. Campur aduk deh. That’s why, “Whatever I Said”.

Kalo untuk “rulachubby” ini sebenernya udah jadi nickname gue sekaligus username di beberapa akun sosmed. My name is Nurul, but some of my friends call me Rula. And because I have a chubby cheeks, jadi deh gue gabungin aja “rulachubby”. Karena nama Nurul sudah terlalu mainstream *eeaaa*

Udah kejawab kan ya, arti nama blog gue? 

Kalo masih belom, anggap aja udah ya *maksa* heheeh..

Bye!

Senin, 06 Oktober 2014

25 Day Blog Challenge, Day 8 : Your Glory Day

*Postingan ke delapan yang dipostingnya bukan di hari ke delapan.*

Hai.. Hai…

Udah mulai molor lagi nih gue posting 25 Day Blog Challenge-nya.. Karena memang mulai agak sibuk (lagi), dan sempet tepar juga, jadi mulai susah nyuri-nyuri waktu untuk ngetik dan posting di blog. *piss, ah. Ngeles mulu*

Judul kali ini adalah “Your Glory Day” .. My Glory Day… Awalnya sempet bingung. Hari apa yang paling istimewa buat gue? Yang mulia? Yang bersejarah? Hmm.. Hari pas gue lulus? Wisuda? Jadian? Lebaran? Atau apa? Ternyata, setelah ditelaah lagi bukan itu semua. Yang menjadi hari paling istimewa atau mulia itu adalah hari kelahiran gue. Selasa, 9 September 1986, jam 10.10 waktu RS Islam Cempaka Putih. Menurut gue itu adalah ‘My Glory Day’. Gak ada hari itu, gak akan gue bisa nikmatin dunia sampai hari ini. Eh, bisa aja sih. Tapi belum tentu jadi seorang Nurul, yang lebih sering dikenal Rula. Bisa jadi orang lain gue.

Meskipun gak bisa dibilang sempurna, tapi gue tetap bersyukur sama Sang Sutradara Kehidupan, Arsiteknya Manusia, yang udah kasih gue kesempatan hidup di dunia yang terlalu fana, dunia yang sangat mirip sinetron dan film-film di layar kaca. *atau mereka yang meniru kehidupan?*. Sampai saat ini, sudah lumayan banyak kejadian-kejadian gue alamin *Yaiyalah, udah masuk tahun ke 28* *dimention aja terus umurnya, rul*. Pengalaman datang silih berganti. Ada suka, duka, tawa, tangis, ada juga yang datar, hambar, perih, pedih. Ya namanya juga hidup. Kadang di atas, kadang di bawah. Macam roda yang berputar. *huahaha kepentok apa gue bisa nulis beginian* :’)

Intinya, hari kelahiran gue adalah My Very Glory Day.. Glory Day buat gue, dan yang pasti Glory Day buat Ibu gue juga. Gimana enggak? Udah bawa-bawa gue di perutnya selama 10 bulan 10 hari, yang pas mau lahir aja musti diancem dulu sama dokter, baru deh lahir normal. Gitu ceritanya..



Baiklah. Cukup sekian dan terima pelukan. #eh   

Kamis, 02 Oktober 2014

25 Day Blog Challenge, Day 7 : If You Won The Lottery....


Selamat malammmm.... 

Sebelum memulai gue mau minta maaf karena telat (lagi) posting tulisan di blog ini. Kemaren ane tepar, cyin.. Ini karena ada waktu sambil nunggu pasien dateng, nulis lah saya. :)))

Kali ini gue disuruh berkhayal jika gue menang Undian... 

Hmm... 

Jika gue menang Undian Satu Milyar Rupiah.... 

Gue akan... 

*berpikir keras*


*masih mikir*

Hmm...

*sok drama*

Oke, setelah dipikir-pikir, kalo gue menang Undian Satu Milyar Rupiah, gue akan pergunakan uang itu dengan sebaik-baiknya. Hehehe...

Yang pasti sih akan gue sisihin dulu 2,5%-nya untuk mereka yang berhak. Terus abis itu gue langsung daftarin Ibu dan Bapak pergi Haji. ONH Plus kalo bisa. Karena ini memang impian gue dari kecil, bisa ngebiayain Ibu dan Bapak menunaikan Rukun Islam yang kelima ini. *aminn ya Allah*.

Nah, kalo masih ada sisanya, akan gue pake untuk renovasi rumah. Mau beli rumah baru atau tanah kayaknya akan kurang duitnya. Karena gue udah terlalu nyaman tinggal di lingkungan yang sekarang, dan kalo mau beli tanah ataupun rumah di sekitar tempat tinggal gue itu butuh uang gak sedikit, mending gue renovasi aja rumah yang udah ada. *iya, gak?* Biar semuanya bisa tinggal di rumah, bareng-bareng. Ibu, Bapak, kedua adik gue, even jika udah pada berkeluarga semua. Kan seruuuuu... *lanjut ngayal lagi*

Kalo masih ada sisanya lagi.... Gue mau beli mobil aja deh. Jenis MVP kali ya, yang bisa muat banyak. Ngayalnya sih mau punya Nissan Grand Livina XGear. *eeaaa* Jadinya Ibu, Bapak dan kedua adik gue bisa keangkut. Jadi kalo setiap Lebaran dan mau kunjungan ke rumah saudara, gak perlu ribet nyari taksi lagi. *amin ya Allah*  

Ada sisanya lagi gitu? Hmm... Enaknya ditabung aja kali ya, buat jaga-jaga kalo ada kebutuhan mendadak. Kalo bisa buat bikin klinik atau kuliah lagi mah enak bener. *lanjut ngayal*

Entah kenapa kepikiran reaksi nyokap kalo (misalnya) gue beneran menang undian semilyar ini, pasti disuruh cepet-cepet nikah deh gue. :)))

Oh, oke.. Cukup sekian ngayalnya malem ini. Daripada tambah lebar dan makin melenceng, mending disudahi saja. 

Rula pamit!
*sambil mengaminkan khayalan di atas*


Selasa, 30 September 2014

25 Day Blog Challenge, Day 5 : 10 Songs You L.O.V.E


Haiii lagiiii….

Semoga gak bosen liat gue posting di blog terus update di twitter setiap hari, ya.. Meskipun postingan kali ini telat sehari. Kemarin lagi agak crowded, jadi baru sempet sekarang. *Padahal yang sekarang juga agak crowded* Hihi..

Daaann.. Gue lagi seneng nihh sama judul hari ke-5 Blog Challenge-nya. 10 lagu yang gue suka. Harus lagu cinta, kah? Tapi, kayaknya memang kebanyakan lagu cinta deh. *Nanya sendiri, jawab sendiri. Aneh* Sebenernya, hampir semua lagu tentang cinta yang gue suka dan jadi favorit. Yaa, namanya juga si Virgo yang terjebak dalam pribadi Melankolis, gini deh. Dan juga hampir semua lagu-lagunya The Moffatts adalah favorit gue. Bahkan di playlist hape gue cuma ada lagunya The Moffatts aja. *piss* Tapi sayangnya cuma bisa gue share 10 lagu aja, nih..  Hihi.. 


Okey, this is the list!


1. Always In My Heart – The Moffatts

"I believe there's a way to show you
Even when we are apart
Thought the time we're not together
You always in my heart"

Lagu ini terdapat di album Submodalities (2000). Dan video yang gue share ini adalah Tribute to Dave Moffatt. Jadi isinya memang cuma Dave.. Dave.. dan Dave dengan backsound Always In My Heart. Hiihhi.. Ini lagu yang selalu berhasil bikin gue nangis, apalagi kalo dengerinnya sendirian, di kamar, lagi masa-masa PMS. Duh.. *tisu mana tisu*


2. First Love – Utada Hikaru

"You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made"

Awal gue kenal lagu ini kayaknya sekitar akhir SMP atau awal SMA deh. Dan selalu berhasil dibuat nangis setiap nyanyi lagu ini. Dan, ini merupakan salah satu lagu wajib kalo karaokean. Saking seringnya gue nyanyiin, sampe apal liriknya...



3. Muhasabah Cinta – EdCoustic

"Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dari Mu
Kupasrahkan semua pada Mu"

Salah satu lagu yang selalu (juga) berhasil membuat gue nangis setiap dengerin ataupun nyanyiin lagu ini. Jleb. Bahkan gue pernah buat tulisan yang berjudul Kematian karena dengerin lagu ini. Inget dosa, cyin.. 



4. Falling In Love At The Coffee Shop – Landon Pigg

"I think that possibly, maybe I'm falling for you

Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you
I've seen the waters that make your eyes shine

Now I'm shining too"

Pertama kali tau lagu ini dari buku The Coffee Shop Chronicles. Coba searching, dengerin dan ternyata easy listening dan liriknya juga dalem. *emot lope lope*



5. I Remember You - Skid Row


"Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sands, I remember you
And through the sleepless nights, through every endless day
I wanna hear you say, I remember you"


Lagu 'gagal move-on' yang terdapat di album "Skid Row" (1989) ini pertama kali gue denger saat kelas 2 SMA. Waktu itu gue lagi suka sama cowok yang hobi banget sama band Rock, terutama Skid Row dan favoritnya memang di lagu ini. Gue suka liriknya. Suka lagunya. Cadas tapi galau, kalo kata salah satu penyiar favorit gue :)



6. More Than Words – Extreme

"Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cause I'd already know"

Lagu yang terdapat di album "Extreme II: Pornograffitti" (1990), ini sudah banyak versinya. Salah satunya versi Westlife. Tapi tetep aja gue lebih suka versi aslinya. Lebih njleb! Dan kemungkinan besar gue akan melted kalo ada cowok yang nyanyiin lagu ini unplugged. *emot lope lope* 


7. Wish You Were Here – Avril Lavinge

"And I remember all those crazy things you said
you left them running through my head
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here
All those crazy things we did
Didn't think about it, just went with it
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here"

Salah satu lagu dari album "Goodbye Lullaby" (2011) ini juga merupakan lagu curhatan gue yang gak pernah absen masuk playlist karaoke-an gue. Entah, setiap nyanyi lagu ini gue sangat menghayati banget. Apalagi pas masih ngalamin yang namanya LDR-an. 




8. You’re Still The One – Shania Twain


"When I first saw you, I saw love

And the first time you touched me, I felt love
And after all this time, you're still the one I love"


Lagu ini ada di album "Come On Over" (1997). Liriknya enak dan mudah diinget, musiknya enak. Jadi inget pas SMA kelas 1, pas pelajaran bahasa Inggris, gurunya muterin lagu ini. Kirain mah disuruh nyanyi, gak taunya disuruh nulis lirik yang ada di lagu ini. Ya, berhubung lagu kesukaan, lancar-lancar aja sih :D




9. Bila kau Tak Di Sampingku – Sheila On 7

"Terlalu bodoh untuk diriku

Menahan berat jutaan rindu
Apalagi menahan egoku
Maafkanlah sikapku
Lupakan lah salahku
Luapkan kepadaku"


Ini juga lagu curhatan, sampe-sampe gue nulis Flash Fiction based on this song, judulnya Mr. Possesif. 




10. Jet Lag - Simple Plan ft Kotak




"What time is it where you are?
I miss you more than anything
And back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin' lonely livin' upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figur out the time zones makin' me crazy"

Nah, kalo lagu yang ada di album "Get Your Heart On!" (2011) ini bisa dibilang sebagai lagu curhatannya para pejuang LDR. Hihi.. Lagu ini juga merupakan salah satu lagu wajib ada di playlist saat karaoke. *piss*



Oke, sebenernya cuma 10 lagu cinta yang boleh gue share di sini, dan lagu-lagu di atas baru sebagian kecil dari list favorit gue. Bisa dibilang yang paling baru juga sih. Tapi ini gue mau nyelipin satu lagu cinta favorit paling bisa bikin mewek. 

Lagu Bonus : My Heart Is Cursing - Kim Dong Wook 


"Ka seumi yok hae
sarang handan mal jo cha mo ta ni kka
Nun mul i tor jyeo keu ri umi heu reu ko heu reu ni kka
Ka si cho rom mokae golryeo borin seul peun keu mal man
ha ru jong il kwi ka ae maem dol ko man ijyeo"

English version
"My heart curses at me, because I can't even say I love you
My tears burst, because my longing for you flows and flows
Only that sad phrase has been struck to my throat like a thorn
And remain in my ears the whole day"

(lyric from http://www.emagasia.com/korean-songs-and-lyrics-kim-dong-wook-my-heart-is-cursing)

Iya, ini lagu kalo diliat dari lirik versi inggrisnya sedih banget, udah gitu melodinya juga ngenes banget, ditambah si Kim Dong Wooknya nyanyi pake sepenuh hati, jadi nusuk banget. Dan juga ini lagu selalu muncul di scene film He's Beautiful pas bagian ngenes juga *yaiyalah, rul*. Pokoknya selalu nangis deh setiap dengerin in lagu sampe dihayatin *nyari tisu*

Oke... Itulah beberapa lagu favorit gue yang gue share. Dan kalo diliat-liat lagi ya, ini beberapa  lagu, liriknya itu kok kode banget yaa ke si pacar.. *oop's* *pacar mana pacar* XD


See ya!