Hari ini sudah hari ke-empat Ibu gak tidur di rumah, melainkan menginap di kamar berbau khas chlorine itu.
Ibu gak kangen rumah, Bu?
Sejak Ibu dirawat, rumah terasa sepi, hampa, seakan tak ada kehidupan.
Ah, salah Uyun juga sih.
Bukannya menginap saja di ruangan dengan tempat tidur dua itu menemani Ibu, Uyun malah pulang ke rumah.
Kondisi yang membuat Uyun terpaksa pulang ke rumah dan membiarkan Dimas yang menjaga Ibu di sana.
Sepi, Bu.
Tak ada canda tawa Ibu. Pun ketika Uyun berkunjung menemui Ibu di sana.
Kangen cerita-cerita sama Ibu lagi.
Kangen dengerin cerita Ibu tentang kegiatan Ibu seharian. Yang sibuk di kelurahan, yang sibuk pengajian.
Kangen Ibu yang sehat.
Dear, Dokter yang merawat Ibu.
Ibu kapan boleh pulang ke rumah?
Ibu kapan sembuhnya?
Uyun kangen Ibu.
Cepet sembuh ya, Bu.
Anakmu yang kangen.
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Februari 2015
Minggu, 15 Februari 2015
Aku Rindu Sehat, Buh
Kepada Yth,
Tubuh yang Membalut Tulang
Hai, sayang. Apa kabar kamu pagi ini? Feel better, kah? Apa
mulai sakit-sakitan lagi?
Entah kenapa, setahun kebelakang
kemarin ada aja yang kamu keluhkan. Ya demam, lah. Ya flu, lah. Ya macem-macem,
lah. Selalu ada keluhan sakit yang muncul dari kamu. Seakan kamu akrab sekali
dengan berbagai macam jenis penyakit yang sering menyapamu itu. Atau mereka
yang senang bercengkrama denganmu? Sehingga enggan meninggalkanmu seorang diri?
Apa kau tahu, buh? Ketika kau
kerap kali dikunjungi teman-teman penyakitmu itu, aku jadinya tak pernah bisa
melakukan rutinitas-tiga-bulanan-ku selama 2014 kemarin. Iya, aku jadi gak bisa
donor darah. Hal yang biasa aku lakukan jika kamu sehat, buh. Dan kamu tahu? Aku
rindu memberikan darahku kepada mereka yang membutuhkan. Aku rindu merasakan
sensasi yang muncul setiap jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahku kemudian mengalirkan cairan merah pekat melalui selang bening panjang menuju ke kantong darah yang telah
dilabeli golongan darah A dan juga tanggal lahirku. Aku sangat rindu sensasi itu, buh.
Beberapa bulan ini aku selalu
gigit jari setiap melihat teman-temanku memamerkan foto-foto mereka saat atau
setelah melakukan donor darah. Aku sedih. Bahkan sempat aku menangis saking rindunya
aku dengan kegiatan itu. Aku iri melihat mereka mampu memberikan darah
mereka untuk disumbangkan, sedangkan aku tidak. Padahal sebelumnya aku selalu
berhasil melakukan itu. Aku pun yang mengajak mereka untuk melakukan hal itu.
Dear Tubuhku Tersayang,
Aku hanya bisa berharap tahun ini
kamu gak berteman lagi dengan berbagai macam penyakit itu. Aku mau kamu akrab
dengan si sehat. Jadinya nanti aku bisa donor darah lagi. Serius, loh, ini aku sudah sangat merindu dengan donor darah. Ia bagai candu yang harus aku lakukan
setiap tiga bulan itu.
Janji ya, buh, kamu harus sehat
tahun ini. Minimal aku bisa dua kali lagi donor darah dalam setahun. Aku sangat
berharap kamu sehat. Dan aku akan berusaha untuk menjagamu agar tetap sehat. Janji
ya, buh. Tahun ini kita SEHAT! Aku rindu sehat, buh...
Aku, Pemilik Tubuh yang Membalut
Tulang.
Sabtu, 14 Februari 2015
Ini Jawaban Atas Pertanyaanmu
Dear, My Future
Husband
“Apa kamu yakin mau nikah sama aku?”
Sepertinya kamu sudah bosan, ya,
setiap hari mendengar pertanyaan yang sama keluar dari mulutku. Setiap kita
bertemu, selalu itu yang aku tanyakan padamu. Seakan-akan aku tak pernah puas
dengan jawabanmu sebelumnya. Padahal aku tahu, jawabanmu memang tidak pernah
berubah. Kau selalu menjawab dengan senyuman dan anggukan “Yakin”. Meskipun
terkadang kamu mengembalikan pertanyaan ini kepadaku. Dan aku hanya diam seribu
bahasa.
Maaf ya, kalau aku selalu mengulang pertanyaan yang sama. Karena sebenarnya pertanyaan ini tidak hanya
aku tujukan padamu, tapi juga aku tujukan kepada diriku sendiri.
“Apakah aku yakin mau nikah sama
kamu? Jadi istri kamu?”
“Apakah aku bisa jadi istri yang
baik untukmu nanti?”
“Apakah aku bisa membahagiakan
kamu?”
Dan “Apakah-apakah” lainnya masih
berlari-larian mengelilingi kepalaku. Memenuhi rongga kosong dalam tempurung
berbalut pasmina ini.
Iya, aku takut. Aku khawatir. Aku
cemas…
Aku takut gak bisa jadi istri
yang baik untuk kamu.
Aku takut gak bisa bahagiain
kamu.
Aku takut kamu akan menyesal
karena memilih aku menjadi pendamping hidupmu, kemudian meninggalkan aku.
Iya, aku membayangkan itu semua. Hal
yang membuatku takut untuk maju.
Kamu, yang dengan jelinya
memperhatikan kekhawatiranku yang berlebihan ini.
Kamu, yang bingung dengan sikapku
yang semakin aneh ini.
Kamu, yang akhirnya
mempertanyakan semua ketakutanku.
Kamu bilang padaku “Kamu adalah
kebahagiaan aku. Jadi, aku udah cukup bahagia kalo kamu mau jadi pendamping
hidupku”
Aku bungkam. Lidahku kelu. Tubuhku
mengeluarkan sensasi yang tak kuduga saat mendengar kalimat manis itu. Gombal memang,
tapi aku tahu kamu tulus mengucapkan itu.
Masih dengan tidak percaya dirinya,
akupun mempertanyakan hal-yang-biasanya-dianggap-penting, “Kalau ternyata aku
gak bisa punya anak, ga bisa hamil, gimana? Kamu akan ninggalin aku? Kamu akan
nikah lagi?”
Dan (lagi-lagi) dengan senyuman,
sambil menggenggam tanganku, dan matamu tak lepas menatapku, dalam, kamu
berucap “Aku gak masalah meskipun ternyata gak punya anak. Selama aku bisa sama
kamu, itu udah cukup buat aku. Udah ya, kamu jangan mikir yang macem-macem lagi”
dan berakhir dengan usapan lembut di kepalaku.
Kepada calon imamku,
Sesungguhnya aku belum sepenuhnya
yakin akan pilihanku ini. Iya, aku masih tidak percaya dengan diriku sendiri, bisa
jadi makmum yang baik untukmu kelak atau tidak? Tapi, aku akan serahkan
semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Aku pasrahkan kepada Penulis Skenario
kehidupanku. Jika memang aku ditakdirkan untuk menjadi makmummu, semua proses
ini akan lancar-lancar saja, bukan?
Kepada lelaki yang menunggu
jawabanku ini,
Jika memang takdirku untuk menghabisi sisa hidupku bersamamu, hanya satu pintaku. Bimbing aku agar bisa menjadi makmum yang baik untukmu. Itu saja.
Me, your future wife.
Kamis, 12 Februari 2015
Rindu itu Kamu
Ketika dua hati terpisah jarak dan waktu, terbersitlah rindu.
Rindu berbincang hingga larut malam.
Rindu saling menatap dalam diam.
Rindu bercanda...
Rindu tertawa hingga menangis.
Rindu ....
Itulah yang aku rasakan setiap tak berjumpa denganmu, kasih.
Karena rindu itu kamu
Rindu berbincang hingga larut malam.
Rindu saling menatap dalam diam.
Rindu bercanda...
Rindu tertawa hingga menangis.
Rindu ....
Itulah yang aku rasakan setiap tak berjumpa denganmu, kasih.
Karena rindu itu kamu
Senin, 09 Februari 2015
Akankah Jakartaku Bisa Senyaman Dulu Lagi?
Tuhan,
Hari ini Jakartaku terendam
banjir di banyak tempat. Barat, Timur, Selatan, Utara, bahkan Pusat juga.
Hampir semua wilayah Jakarta terendam air. Entah itu hanya 10 cm kah, 20, 30
bahkan ada yang sudah mencapai 1 meter lebih. Yang paling heboh tentang berita
kalau di halaman Istana Negara, yang terletak di Jakarta Pusat ini pun
tergenang air. Iya, sebagian besar Jakartaku diselimuti air berwarna cokelat.
Ada juga di beberapa titik berwarna kehitaman. Tidak hanya jalan raya yang
tergenang air, rumah-rumah penduduk pun mulai ikut dijambangi si air.
Banyak orang yang terjebak macet
karena banjir menggenangi hampir seluruh jalanan di Jakarta. Akses ke mana-mana
pun susah. Kendaraan bermotor, pejalan kaki, bahkan jalur perkeretaapian pun
ikut kena dampak dari hujan tak berkesudahan ini. Yang di jalan terjebak tidak
bisa ke mana-mana, yang di kantor pun terancam tidak bisa pulang karena aksesnya tertutup air yang menggenang
tinggi.
Ah, aku jadi teringat dua tahun
yang lalu. Kejadian hampir sama dengan hari ini. Hujan tak kunjung reda, sungai
meluap membanjiri Jakarta. Tapi, tahun 2013 itu banjir parah di Jakarta Pusat
karena tanggul Latuharhari Jebol. Terjebak di tempat kerja, gak bisa pulang
karena aksesnya tertutup banjir. Entah di hari yang sama atau beda aku terjebak
di Manggarai karena hujan dan banjir menutup rel kereta di stasiun Tebet.
Banyak yang bilang ini karena air
hujan yang tak kunjung reda menjatuhi Jakarta sejak semalam. Dan memang, sejak
semalam hingga aku menulis surat ini pun Jakarta masih diguyur hujan. Kadang
deras, kadang gerimis. Tapi tak pernah berhenti. Seakan langit sedang bersedih
layaknya orang patah hati.
Banyak juga yang menyalahkan
pemerintah yang tidak becus mengurusi tata kota, karena setiap tahun Jakarta
selalu banjir.
Tapi apakah selalu hujan yang
disalahkan?
Apakah pemerintah juga yang harus
disalahkan?
Kenapa bukan manusianya yang
disalahkan? Diri sendiri.
Yang aku tahu, masih banyak
manusia yang hobi buang sampah sembarangan di jalan. Banyak manusia yang
mendirikan bangunan di bantaran kali. Banyak manusia yang memangkas pepohonan
rimbun yang seharusnya jadi tempat resapan air hujan dan mengubahnya menjadi hutan
beton. Banyak pengembang (yang juga terdiri dari manusia-manusia) yang
melupakan sistem drainase yang baik. Sehingga membangun perumahan, jalan raya,
gedung bertingkat, tapi lupa memperbaiki sistem drainasenya. Semua hal ini yang
menyebabkan banjir, bukan?
Tuhan,
Mungkin aku pernah menjadi salah
satu manusia-manusia itu. Iya, aku pernah buang sampah sembarangan, aku juga
pernah memaki pemerintah. Tapi aku sadar, aku juga salah. Aku tidak merawat
Jakartaku dengan baik.
Tuhan,
Akankah Jakartaku bisa senyaman
dulu lagi?
Jakarta yang bersih, yang bebas
banjir. Jakarta yang belum dipenuhi kendaraan bermotor seperti sekarang. Aku rindu Jakartaku yang dulu.
Tertanda,
Rula - Penghuni Jakarta
Jumat, 06 Februari 2015
Kepada Hati yang Harus Memilih
Dear Hati,
Berada di antara dua pilihan itu memang tak mudah, kan? Kau harus memilih baik atau buruk. Kanan atau kiri. Si A atau si B. Benar atau salah.
Yang membuat tidak mudah sebenarnya bukan dari pilihannya, melainkan apakah kau akan menyesal dengan pilihanmu nanti? Begitu kan, hati?
Dear Hati,
Sudahkah kau menentukan pilihanmu? Kepada siapa akhirnya kau menuju? Yakinkah kau dengan pilihanmu itu?
Dear Hati,
Jika kau masih ragu dengan pilihanmu itu, dengarkanlah lubuk terdalammu. Ikutilah intuisimu. Aku tahu, itu pasti yang terbaik untukmu.
Dear Hati,
Apapun pilihanmu, Aku tahu, itu pasti yang terbaik untukku.
Terima kasih sudah membantuku memilih, Hati.
Dari pemilik hati,
Rula
Kamis, 05 Februari 2015
Dear Macet
Dear Macet,
Setiap pagi aku selalu bertemu denganmu. Seperti pagi ini, aku bertemu denganmu. Tak hanya sekali aku menemukanmu pagi ini. Iya, kamu beredar di mana-mana. Tidak hanya di Jakarta.
Ah, iya. Kamu sangat tenar. Tapi, sayangnya hampir semua orang mencacimu, membencimu, tidak ada yang menyukaimu. Hmm.. Mungkin ada beberapa yang menyukaimu, tapi masih bisa dihitung dengan jari. Dan itupun karena alasan tertentu. Mungkin.
Penyebab dirimu hadir di muka bumi ini adalah banyaknya jumlah kendaraan bermotor di jalan raya. Iya, penumpukan kendaraan bermotor itulah yang menyebabkan macet di Jakarta khususnya.
Dear Macet,
Sepertinya aku sudahi dulu suratku ini. Nanti aku lanjut lagi ya.
Sampai bertemu nanti sore, macet.
Rula
Setiap pagi aku selalu bertemu denganmu. Seperti pagi ini, aku bertemu denganmu. Tak hanya sekali aku menemukanmu pagi ini. Iya, kamu beredar di mana-mana. Tidak hanya di Jakarta.
Ah, iya. Kamu sangat tenar. Tapi, sayangnya hampir semua orang mencacimu, membencimu, tidak ada yang menyukaimu. Hmm.. Mungkin ada beberapa yang menyukaimu, tapi masih bisa dihitung dengan jari. Dan itupun karena alasan tertentu. Mungkin.
Penyebab dirimu hadir di muka bumi ini adalah banyaknya jumlah kendaraan bermotor di jalan raya. Iya, penumpukan kendaraan bermotor itulah yang menyebabkan macet di Jakarta khususnya.
Dear Macet,
Sepertinya aku sudahi dulu suratku ini. Nanti aku lanjut lagi ya.
Sampai bertemu nanti sore, macet.
Rula
Rabu, 04 Februari 2015
Dear, Koh Vince yang .......
Teruntuk Koh @vincebastian
Hai, Koh Vince.
Masih ingatkah dengan pertemuan
pertama kita? Hari itu hari Rabu, 7 Januari 2015 jam 16.00. Saat pertama kali
aku bertemu lelaki berjaket hitam dengan topi putih di ruang depan Studio KIS FM Jakarta, yang ternyata itu adalah Koh Vince. Aku yang hanya bisa menunduk
malu, gak berani menyapa Koh Vince saat itu. Takut dikira es-ka-es-de. Padahal
hari itu aku datang ke studio KIS FM Jakarta untuk taping
siaran bareng Koh Vince. Hal yang sudah aku tunggu sejak lama. Bisa siaran
bareng penyiar favorit yang suaranya selalu mengisi pagiku. Ah, iya. Hampir tak
pernah aku absen mendengar ceracau Koh Vince dan Bang Mike (@jensmichael) setiap pagi. Menghibur,
membuatku tertawa sendirian di antara gencetan penumpang commuterline yang setiap pagi selalu padat penumpang itu.
Gugup, deg-degan, bingung, canggung,
kira-kira itulah yang aku rasakan ketika mbak Prita, dari KIS FM
Jakarta, memperkenalkanku pada lelaki ramah yang juga karismatik dan berkulit putih yang
mengenakan jaket hitam dan topi putih tadi. Dengan rambut halus menghiasi rahang dan
dagunya itu, dialah Vince Sebastian, yang lebih suka disapa Vince, atau Koh Vince. Prince
Charming. Ah, maaf jika aku terlalu berlebihan memuji dirimu, Koh. Tapi itu
jujur dari lubuk hati terdalam. I’m
fallin in love with you. At the first sight.
Itu awalnya ya, Koh. Malu-malu. Tapi,
setelah berbincang beberapa lama aku gak bisa gak ketawa setiap melihat gerak
gerik Koh Vince. Bahkan aku harus berkali-kali menahan tawa saat kita mau mulai
taping. Sampai Koh Vince heran dan
bertanya, “ada yang salah ya sama gue?” dan kalau gak salah aku menjawab, “lucu
aja denger suara Koh Vince yang gak sesuai sama muka” kira-kira seperti itulah
jawabanku ya, Koh? Hehe..
Iya, agak aneh memang begitu
melihat dari wajah tampan berkarismatik itu mengeluarkan suara agak berat,
ngebass. Padahal suara itu sudah begitu akrab ditelingaku setiap pagi. Tapi entah
kenapa itulah yang aku rasakan saat melihat sang pemilik suara yang ternyata
memilik darah Tionghoa ini langsung di depan mata. Dreams come true, huh?
Dear, Koh Vince yang ......
Entah aku harus mengisi titik
titik itu dengan apa. Meskipun baru kenal dengan Koh Vince beberapa menit, tapi
aku bisa dengan mudahnya akrab dengan lelaki beralis tebal ini. Ah, iya. Mungkin
karena persamaan alis kita ya, Koh? Atau mungkin karena dirimu memang mudah
mencairkan suasana. Aku yang kaku dan gugup bahkan cenderung garing ini bertemu
dengan dirimu yang ramah, supel dan humoris. Gak nyambung sih memang. Agak awkward.
Dan aku harus meminta maaf karena beberapa kali guyonan Koh Vince aku cuekin. Gak
aku gubris. Maaf ya, Koh.
Terima kasih karena sudah mau
meluangkan waktu untuk siaran bareng seorang Rula-yang-disenggol-dikit-curhat. Hahaha.
But, that was fun. Bisa kenal dengan
penyiar kece, ngobrol serta foto bareng. Nah, bagian foto ini yang paling seru.
Wefie. Hihih.
Kenangan pertama siaran bareng
Koh Vince dengan sedikit curhat dan playlist lagu yang isinya curhatan semua.
Terima kasih (sekali lagi), Koh Vince dan KIS FM, tentunya, yang sudah mewujudkan
salah satu mimpi seorang Rula. Kenangan yang gak akan pernah terlupakan!
Tetap semangat siarannya ya, Koh. Tetaplah selalu merusak pagi hari para pendengar dengan banyolan-banyolan duet maut Koh Vince dan Bang Mike. Dan aku senaaaaaanggg hari Rabu ini kalian perdana siaran di #WednesdaySlowMachine. Meskipun agak aneh, kalian yang biasanya rusuh, harus agak sedikit kalem di hari Rabu ini. Hihihi... But I still love you both!
By the way, kayaknya sekian dulu ya, Koh, suratnya. Pasti Koh Vince
udah mulai pegel deh bacanya. Udah panjang, bahasanya campur aduk. Labil.
Ga jelas. Hehehe.. Pisss, Koh
Best Regrads,
Your big fans ever.
Selasa, 03 Februari 2015
Kepada Mentari yang Tak Pernah Berhenti Menyinari Bumi
Selamat pagi, Mentari.
Pagi ini aku melihatmu tersembunyi malu-malu di balik awan
kelabu.
Memancarkan warna jingga keemasan yang cantik.
Iya, pagi ini kau tampak cantik, Mentari.
Kau tahu, Mentari?
Aku merindukan kehadiranmu setiap pagi.
Memberiku pelukan hangatanmu setiap pagi.
Pancaran sinarmu menerangi bumi setiap harinya.
Panasmu membuat cairan di permukaan bumi menguap naik
membentuk awan.
Aku begitu merindukanmu, Mentari.
Karena tidak setiap hari aku bisa bertemu denganmu.
Beberapa hari yang lalu, hujan menyabotase pagiku.
Menyembunyikanmu dibalik awan kelabu.
Tapi aku tahu, Mentari.
Kau tak pernah lelah berhenti menyinari bumi dan alam
semesta.
Kau biarkan sinarmu menerangi seluruh alam dari kegelapan.
Kau berikan kehangatan di setiap cahayamu.
Kau keringkan tanah basah dengan pancaran sinarmu.
Terima kasih untuk tetap bersinar menerangi alam ini,
Mentari.
Terima kasih untuk selalu memberikan cahaya terang bagi kami
penduduk bumi.
Meskipun aku tahu, beberapa dari kami sering mengeluh akan
panas dan terikmu.
Teruslah bersinar, Mentari.
Nb: Pic from here
Senin, 02 Februari 2015
See You Very Soon, D
Hai, D...
Maaf ya, kemarin aku gak kirim surat ke kamu. Tapi aku senang, karena semalam aku bisa mendengar suaramu lagi. Meskipun hanya sesaat. Seperti biasa, sinyal provider yang tidak bersahabat. Ditambah lagi kondisiku saat itu sudah sangat lelah, mengantuk. Jadi ngomongnya udah makin ngelantur. Dan kamu tahu itu.
D, terima kasih ya beberapa bulan ke belakang ini sudah menjadi pendengar setia aku, menghibur aku di setiap aku sedih atau stres karena pekerjaan, perhatianmu yang selalu mengingatkan aku untuk jangan telat makan, dan semua kebaikan kamu yang lainnya. Termasuk menemukan aku kembali. Entah harus aku harus membalas kebaikanmu itu bagaimana.
Maaf jika aku selalu mengganggu jam tidurmu selama ini. Selalu merepotkanmu, bahkan beberapa kali membuatmu khawatir akan aku.
Aku senang masih sempat berbincang denganmu lagi. Senang bisa bercanda denganmu lagi. Karena itu memang doaku selama ini.
Tapi.... Sepertinya ini akan menjadi suratku yang terakhir untukmu. Karena ada hati yang harus aku jaga. Maaf, D. Aku harus memilih. Kaupun tahu itu. Kita sudah membahas ini berkali-kali.
D, boleh kan aku berharap masih tetap bisa bercanda denganmu via telepon ataupun chatting. Itupun jika kamu tak keberatan.
Oh iya, jangan lupa mengabari aku ya jika kamu jadi ke Jakarta. Aku akan mengenalkanmu dengannya. Seperti permintaanmu waktu itu. See you very soon, D
Rula-chan
Maaf jika aku selalu mengganggu jam tidurmu selama ini. Selalu merepotkanmu, bahkan beberapa kali membuatmu khawatir akan aku.
Aku senang masih sempat berbincang denganmu lagi. Senang bisa bercanda denganmu lagi. Karena itu memang doaku selama ini.
Tapi.... Sepertinya ini akan menjadi suratku yang terakhir untukmu. Karena ada hati yang harus aku jaga. Maaf, D. Aku harus memilih. Kaupun tahu itu. Kita sudah membahas ini berkali-kali.
D, boleh kan aku berharap masih tetap bisa bercanda denganmu via telepon ataupun chatting. Itupun jika kamu tak keberatan.
Oh iya, jangan lupa mengabari aku ya jika kamu jadi ke Jakarta. Aku akan mengenalkanmu dengannya. Seperti permintaanmu waktu itu. See you very soon, D
Rula-chan
Minggu, 01 Februari 2015
Ceracau Hujan pada Bumi
Dear Bumi,
Sejak semalam aku jatuh membasahimu.
Aku juga mengajak serta kabut dan udara dingin untuk menyelimutimu hingga pagi ini.
Iya, hingga pagi ini aku pun masih setia bercengkrama denganmu melalui rintik rintik airku.
Kau tahu, Bumi? Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun.
Aku tak ingin bumi kekeringan akibat ditempa panas mentari.
Aku tidak ingin kau dehidrasi karena persediaan cairanmu menipis, menguap tertarik panasnya Sang Mentari.
Kau lihat betapa aku menyayangimu, Bumi?
Dan aku sangat menyayangkan begitu tahu kau diperlakukan tidak adil oleh penghunimu.
Mereka merusakmu, Bumi.
Mereka terus menggali hingga perutmu.
Mereka juga mengotorimu, menebarkan limbah bekas mereka pakai di mana-mana.
Mendirikan bangunan-bangunan liar yang menyebabkan terhambatnya kau meresap curahan air dariku.
Aku sedih, bumi.
Ya, meskipun aku tahu tidak semua makhluk penghunimu perusak.
Ada beberapa dari mereka yang justru berjuang untuk merawatmu, memperbaikimu, menjagamu.
Dan aku berterima kasih pada mereka yang dengan sukarela menjagamu.
Bumi, aku sudahi dulu, ya, ceracauku pagi ini.
Tapi tenang saja, aku masih setia mengunjungimu pagi ini.
Salam sayang, Hujan.
Nb : Pic from here
Sejak semalam aku jatuh membasahimu.
Aku juga mengajak serta kabut dan udara dingin untuk menyelimutimu hingga pagi ini.
Iya, hingga pagi ini aku pun masih setia bercengkrama denganmu melalui rintik rintik airku.
Kau tahu, Bumi? Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun.
Aku tak ingin bumi kekeringan akibat ditempa panas mentari.
Aku tidak ingin kau dehidrasi karena persediaan cairanmu menipis, menguap tertarik panasnya Sang Mentari.
Kau lihat betapa aku menyayangimu, Bumi?
Dan aku sangat menyayangkan begitu tahu kau diperlakukan tidak adil oleh penghunimu.
Mereka merusakmu, Bumi.
Mereka terus menggali hingga perutmu.
Mereka juga mengotorimu, menebarkan limbah bekas mereka pakai di mana-mana.
Mendirikan bangunan-bangunan liar yang menyebabkan terhambatnya kau meresap curahan air dariku.
Aku sedih, bumi.
Ya, meskipun aku tahu tidak semua makhluk penghunimu perusak.
Ada beberapa dari mereka yang justru berjuang untuk merawatmu, memperbaikimu, menjagamu.
Dan aku berterima kasih pada mereka yang dengan sukarela menjagamu.
Bumi, aku sudahi dulu, ya, ceracauku pagi ini.
Tapi tenang saja, aku masih setia mengunjungimu pagi ini.
Salam sayang, Hujan.
Nb : Pic from here
Sabtu, 31 Januari 2015
Are You Ok, D?
Hai, D...
Apa kamu sudah baca surat aku kemarin? Aku harap sudah. Hari ini aku akan menuliskan surat lagi untukmu. Karena sejak kemarin kamu tidak ada kabarnya lagi. Mungkin (lagi-lagi) sinyal provider tidak bersahabat untuk kita. :(
Ya, aku mencoba berprasangka baik saja. Karena sejauh ini memang hanya sinyal provider yang menghalangi komunikasi beda pulau kita. Kamu ingat, kan? Saat kita sedang asik bersenda gurau kemudian pembicaraan terputus atau respon dari masing-masing kita lama karena ternyata delayed? Iya, bahkan suara pun bisa terlambat sampai ke telinga si pendengar. Kemudian keluar lah kata-kata ajaib dari mulut kamu.
Yang paling aku ingat adalah "Kutil Medusa". Kata yang paling sering kamu ucapkan saat sinyal provider menguji kesabaran kita lagi.Tapi justru hal itu membuat aku tertawa karena membayangkan Medusa memiliki kutil di setiap ular yang menghiasi kepalanya itu. Seperti yang kamu deskripsikan padaku.
Ah, aku jadi rindu bercanda denganmu lagi, D. Karena kamu selalu tahu bagaimana membuatku tertawa, meskipun saat itu aku sedang stres karena kerjaan atau pikiran lain. Kamu selalu berhasil menghiburku. Memunculkan lagi senyum di wajah lelah ini. Selalu ada bahan candaan, guyonan yang keluar dari mulutmu itu. Seakan tak ada beban yang menghinggapi dirimu, D. Meskipun aku tahu, kamu sedang berjuang agar mendapatkan izin untuk pindah ke Jakarta.
By the way, waktu Jakarta sudah hampir siang. Sudah waktunya aku pamit. Besok aku lanjutkan lagi ya, D.
Salam untuk Ibu. Semoga kamu dan Ibu sehat selalu di sana. Ingat, jaga pola makan kamu. Jangan ngegym dulu. Dokter belum izinin kamu untuk latihan lagi, kan? :D
Aku yang (masih) merindumu.
Rula
Jumat, 30 Januari 2015
How Are you, D?
Hai D, how are you?
Meskipun semalam kita masih
bercanda melalui telepon hingga masing-masing dari kita tertidur dengan
sendirinya, tapi aku tetap menanyakan kabarmu melalui surat ini.
Kau tahu?
Sejujurnya aku masih tak percaya bisa berbincang denganmu lagi. Aku seperti
berada dalam mimpi. Kamu, yang selama sepuluh tahun kebelakang menghilang tanpa
jejak, tanpa kabar berita, tiba-tiba muncul seperti hantu. Meskipun tidak di
hadapanku secara fisik, tapi virtual.
Iya, aku sungguh tak menyangka
kamu yang menghubungi aku dini hari itu. Aku masih ingat, saat itu aku sedang bersiap
untuk sahur ketika ponsel pintarku menerima pesan singkat dari nomor tak
dikenal. Sejujurnya aku paling malas membalas pesan dari nomor asing, itu
kenapa saat itu aku agak malas merespon pesan dari nomor asing tersebut yang
ternyata kamu. Maaf, ya.
Saat itu aku tak tahu harus
merasa senang, sedih atau takut begitu tahu pemilik nomor asing itu kamu. Orang
yang selama ini aku cari, namun tak kunjung kutemukan. Aku bahkan sempat
berpikir kamu sudah lebih dulu meninggalkan aku sendiri di dunia ini. Atau mungkin
juga kamu sudah melupakan aku, dan tidak ingin bertemu aku lagi. Semua karena masa
lalu yang sangat tidak mengenakkan itu.
Tapi di satu sisi aku senang
karena akhirnya kamu yang menemukan aku. Meskipun setelah sepuluh tahun
berlalu, kamu masih mengingat aku dalam benakmu. Iya, aku tahu. Sangat sulit bagimu
mengumpulkan fragmen dari masa lalu yang memang tidak seharusnya diingat lagi. Terlalu
menyakitkan. But you did it! Dan aku
berterima kasih karena itu. Akhirnya doa-doaku dikabulkan. Aku bisa bertemu
dengan kamu lagi, meski hanya suaramu saja.
Kamu, yang saat ini berada
puluhan ribu mil jauhnya dari tempatku tinggal. Terpisah lautan, juga zona
waktu kita yang berbeda. Meskipun hanya berbeda dua jam, kamu lebih awal, tapi
tetap membuat salah satu dari kita harus mengalah. Entah aku yang harus bangun
lebih awal, atau kamu yang tidur lebih telat agar kita bisa bertukar kisah di
telepon. Selain itu, sinyal provider juga tak henti-hentinya menguji kesabaran
kita. Kamu selalu bilang “Ya, maklum aja namanya juga di pedalaman.” Dan aku
mencoba maklum.
Banyak kisah terucap, banyak
rindu tersirat dalam setiap candaan yang kamu lontarkan saat kita bertemu
suara. Tapi aku tetap merindukan hadirmu di sini, di hadapanku. Iya, meskipun
sudah melihat rupamu dalam foto yang kau kirimkan padaku, tapi aku tetap
berharap bisa bertemu muka denganmu.
Aku sudahi dulu ya, surat ini. Bisa
habis berlembar-lembar jika aku biarkan tangan ini menuliskan apa yang aku
rasakan, apa yang aku inginkan saat ini. Tapi yang pasti, aku tunggu
kedatanganmu di Jakarta, D. As soon as
possible.
Jaga kesehatanmu, ya! Jangan sampai
sakit lagi.
Aku yang merindumu,
Rula
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
