Tampilkan postingan dengan label Transportasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transportasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Safety Riding Versi Raden

Safety Riding Versi Raden
By. Nurul Aria
 
pic from here

Drrt.. drrttt…

Ponsel pintar Rani bergetar sejak tadi di dalam saku seragam kerjanya, entah siapa yang meneleponnya sejak tadi. Sayangnya Rani masih harus menyelesaikan terapi pada pasiennya yang terakhir hari ini sebelum pulang.

Saat menuliskan bukti bayar untuk pasiennya, sekilas Rani melihat ke arah jam dinding berwarna hitam yang tersimpan rapi di dinding di hadapannya, jarum pendek sudah menunjuk angka 9 sedangkan jarum panjangnya sudah di angka 10, tetapi di ruangannya masih ada pasien anak yang belum selesai terapi sejak tadi.

Seharusnya Rani memang sudah bisa pulang pukul 20.30 tadi, karena memang kliniknya tutup jam 20.00.  Namun ternyata, ketika Rani sedang bersiap untuk pulang, ada pasien yang datang mendadak untuk diterapi. Untungnya hanya terapi uap pada anak yang tidak membutuhkan waktu berjam-jam.

Setelah pasiennya selesai dan sudah keluar dari ruangan kliniknya, Rani mengambil ponsel pintarnya yang tadi bergetar. Tertera 5 notifikasi panggilan tak terjawab, dan beberapa notifikasi whatsapp di layar ponselnya itu.

Tanpa sadar ditepuk dahinya, “Ya Tuhan. Lupa. Kan tadi janjian sama Raden pulangnya.”

Kedatangan pasiennya yang mendadak membuatnya lupa mengabari teman komunitasnya tersebut. Tadi Rani memang sudah janjian dengan Raden untuk pulang bareng karena jalur pulangnya Raden melewati klinik tempat ia bekerja, rumah mereka pun searah.

Sebelum membaca pesan di whatsapp yang juga dari Raden, Rani mencoba menghubungi Raden terlebih dahulu, namun tidak diangkat.

Mungkin Raden sudah di jalan. Pikir Rani sambil membuka pesan di whatsappnya.

Raden : Ran, gue otw tempat lo ya.
Raden : gue tlp lo ga diangkat2.
Raden : gue tunggu tempat biasa. ok.
Raden : paling 15 menit lagi gue sampe.

Rani bergegas merapikan kliniknya, mencabut kabel-kabel listrik dari alat-alat terapi kemudian mematikan lampu ruangan dan AC.

“Raden seharusnya sudah sampai, nih.” Ujar Rani pelan ketika menuju tempat janjiannya dengan Raden yang tak terlalu jauh dari kliniknya. Dan ternyata benar dugaan Rani. Raden sudah tiba di tempat mereka janji bertemu.

Ini memang bukan kali pertama Rani pulang bareng Raden. Semenjak Raden mengambil kuliah kelas karyawan di daerah Salemba yang tak terlalu jauh dari klinik tempat Rani bekerja, hampir setiap mendapat jadwal shift sore, Rani selalu pulang bareng Raden. Lumayan mengirit ongkos dan waktu, pikirnya.
  
Dilihatnya pria bertubuh kekar itu sedang melepaskan sarung tangannya, kemudian baru melepaskan helmnya dan menaruhnya di atas tangki bensin motor besarnya.

Sorry lama, Den. Ada pasien mendadak tadi.” Ujar Rani ketika sudah berada di dekat Raden.

“Hey, Ran. Gue juga baru sampe kok. Santai. Heheh.” Pria yang ditegurnya itu berujar sambil berjalan menuju bagian belakang motornya. Membuka boks yang selalu ia bawa di motornya tersebut, mengambilkan helm full face dan menyerahkannya ke Rani.

“Tas lo mau ditaro di boks sekalian, gak? Biar enak lo duduknya.” Tanya pria berkepala plontos itu.

“Eh, iya, boleh.” Rani kemudian menyerahkan tas gembloknya yang agak berat itu ke Raden, kemudian langsung dimasukkan ke dalam boks yang memang muat 2 helm itu.

“Lengkap amat, Bro, atributnya. Kayak mau touring aja.” Ujar Rani ketika melihat Raden mulai mengenakan lagi satu persatu atribut bermotornya.

Mulai dari dalaman helm yang seperti ciput ninja para hijabers, kemudian helm full face, dan terakhir sarung tangan. Sedangkan jaket tebal-hitamnya sudah melekat sejak tadi di tubuh kekarnya. Pun dengan sepatu boots yang terpasang rapi di kedua kakinya.

Safety riding itu penting, Ran.” Jawabnya sambil mengenakan sarung tangannya yang sebelah kanan.
“Meskipun gak touring?” tanya Rani.
“Meskipun gak touring” ulang Raden yang kemudian naik ke atas motornya. “Yuk, Ran, naik.”

Rani pun perlahan menaiki motor besar milik Raden di bagian belakang, bagian penumpang. Sejujurnya Rani agak kurang suka naik motor besar dengan boks di bagian belakangnya. Ribet naiknya.

“Udah?” Tanya Raden dari depan kemudi.
“Udah.” Jawab Rani setelah menyandarkan punggungnya di boks.
“Udah pake helmnya, kan?” tanya Raden lagi.
“Udeeeh, pak Raden” jawab Rani sambil mengetuk helm di kepalanya sendiri.
“Hahah, sorry, Ran. Gue cuma mastiin aja keselamatan lo. Daripada lo kenapa-napa, ntar” ujarnya memastikan.

Setelah yakin atribut keselamatan sudah dikenakan dengan baik dan benar, Raden pun membiarkan motor besarnya melaju menyusuri jalanan ibu kota di malam hari.

****

Saat memasuki wilayah Cilandak yang agak sedikit macet, meskipun saat itu jam di ponsel pintar Rani sudah menunjukkan angka 22.00, Raden membuka kaca di helm full facenya dan sedikit menoleh ke Rani lalu bertanya,
“Ran, lo laper, gak? Mampir dulu ya. Heheh.”
“Boleh. Boleh. Gue juga gak sempet makan tadi gara-gara pasiennya padet gitu.”

Mereka akhirnya mampir di warung tenda yang menjual pecel lele di sekitar Cilandak. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rani mulai menanyakan hal yang sepanjang perjalanan tadi terpikirkan olehnya.

“Den, kan tadi lo bilang Safety Riding itu penting, ya? Seberapa pentingnya sih?”
“Kenapa lo nanya gitu, Ran?” bukannya menjawab, Raden justru bertanya balik ke Rani.

“Soalnya yang gue lihat, masih banyak pengendara motor yang mengabaikan tentang safety riding ini. Tapi lo gak. Lihat aja perlengkapan perang lo banyak gitu.” Jawab perempuan berkacamata ini.

“Hmm… Panjang nih gue jelasinnya. Bisa tiga sks. Hahah.” Canda Raden.
“Santai. Makanan masih belom datang ini.” Balas perempuan berkerudung biru di hadapannya itu.

“Buat gue, berkendara sepeda motor itu memang seharusnya memakai perlengkapan pelindung seluruh badan. Karena, kan, naik sepeda motor gak ada besi yang melindungi badan kayak mobil, Ran. Makanya perlengkapan perang gue banyak banget.” Jelas Raden. “Helm, jaket, celana panjang, sarung tangan, bahkan riding shoes atau boots itu safety gear paling penting buat gue.” Lanjutnya lagi.

“Kalo helm, harus full face emangnya, ya, Den? Bukannya half face juga udah SNI, ya?” tanya Rani sambil mengaduk-aduk teh manis hangatnya yang baru datang.

“Sebenernya sih, mau pake helm yang mahal atau yang murah, half face atau full face, gak terlalu masalah. Tapi, ternyata gue lebih nyaman pake helm full face. Ya, meskipun gak semua helm full face pasti nyaman, sih. Makanya gue lebih seringnya beli yang harganya sedikit agak di atas rata-rata. Lebih nyaman.”  Raden menghentikan bicaranya ketika makanan yang kami pesan akhirnya datang juga.

“Mau lanjut atau makan dulu nih?” ujar Raden sambil mencelupkan jari-jari tangan kanannya ke dalam mangkok besi berisi air bersih yang memang disediakan untuk kobokan itu.
“Makan dulu aja kali, ya.” Jawabku.

****

“Tadi sampe mana gue jelasinnya?” tanya Raden begitu piringnya bersih dari makanan, tapi tidak dengan mulutnya.

“Lo baru jelasin tentang helm aja, kok, tadi.” Jawab Rani.
“Eh, ini gak papa lo balik agak maleman lagi? Masih panjang soalnya. Heheh.”
“Santai, Pak. Besok masih shift sore. Hehe.”
“Oke” ujar Raden sambil mengacungkan ibu jarinya yang masih basah, baru dicuci di air kobokan.

“Masih tentang helm. Mungkin bagi kebanyakan orang pakai helm yang nyaman atau full face gak terlalu penting kalau naik motor untuk jarak dekat atau sekedar ngantar anak ke sekolah atau beli makanan di warung. Tapi, kita kan gak pernah tahu di depan sana ada apa? Bisa aja kan ternyata kita jatuh tiba-tiba dari motor, atau keserempet, terus kepala kita terbentur jalanan. Pake helm aja masih bisa kenapa-napa. Apalagi gak pake helm.” Diambilnya gelas minumnya yang airnya sudah setengah itu, kemudian diteguknya hingga habis.

“Gue, yang biasa nempuh jarak jauh rumah-kantor-kampus, atau kalo touring, deh. Bisa aja kan ngalamin kejadian ‘tak terduga’ gitu.” Ujarnya sambil membentuk tanda kutip dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya di udara saat menyebutkan kata ‘tak terduga’. “Kalo misalnya gue gak pake helm yang nyaman dan aman buat gue, ya bisa wasalam.”

“Contohnya gini, pake helm yang bentuk busa dalemnya gak cocok sama bentuk kepala, atau bobot helmnya terlalu berat, gak nyaman banget pasti. Mungkin awalnya cuma berasa leher pegal. Tapi, efek terparahnya bisa bikin sebadan-badan capek, bahkan bisa berakibat pandangan jadi agak kabur. Bahaya, kan, tuh.”    

Rani mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju dengan penjelasan Raden yang memang sesuai logikanya itu. Tapi masih ada yang mengganjal juga di kepalanya.

“Terus kalo jaket, celana panjang, boots, sama apalagi tuh yang lo bilang tadi, kepentingannya apa?” Rani semakin penasaran dengan safety riding versi Raden ini setelah mendengarkan penjelasan tentang helm.

“Udah banyak sebenarnya artikel yang membahas bisa kena penyakit ini, itu, akibat naik motor gak pake jaket. Kalo gue, ya, buat ngelindungin badan dari udara atau angin, lah. Karena berkendara motor itu impactnya langsung ke sekitar kita, salah satunya ya udara atau angin itu.”

“Kalo bisa, sih, pake jaket yang kualitasnya memenuhi aspek kategori windproof. Terus kalo perjalanan jauh, baiknya pake yang ada pelindung siku, bahu dan lengan kayak gini, sebagai tambahan proteksi ketika terjadi benturan karena kecelakaan.” Tambahnya sambil menunjuk bagian siku dan bahu pada jaket yang tadi ia kenakan.

“Nah, kalo celana panjang sih hampir sama fungsinya kayak jaket. Sarung tangan pun. Tapi ini wajib sih buat gue. Karena gue selalu berasumsi bahwa gue gak pernah tahu sepanas dan sedingin apa jalur yang gue lewatin. Karena pernah, pas gue ke Puncak Pass gak pake sarung tangan sama sekali. Jadilah jari-jari tangan gue kaku dan gemetaran. Hahah” ujarnya sambil menggerak-gerakkan kesepuluh jari-jarinya.

“Beku ya, Den, jari lo?” tanya Rani meyakinkan.
“Banget.”
“Lo yang banyak lemaknya aja bisa beku, apalagi gue, ya? Hahha” canda Rani.
“Haha sial.”

“Eh, terus kenapa harus boots?” Rani masih belum mendengar penjelasan tentang penggunaan sepatu boots ini dari mulut Raden.

“Oiya, sepatu khusus motor atau boots riding ini biasanya tingginya sampai semata kaki atau lebih. Gue punya satu cerita kalo tentang ini. Bos gue yang ngalamin, sih. Jadi waktu itu dia buru-buru harus ke kantor. Biasa pake pantofel, dong, ya, kalo orang kantoran. Pas setengah jalan menuju kantor, dia kecelakaan. Dari mata kaki sampai samping tulang kering retak, cedera luka dalam gitu, deh. Dan itu karena kena separator busway itu, loh. Kontak langsung, tanpa pelindung. Gara-gara itu harus dioperasi dan ngabisin uang puluhan juta rupiah.”

“Ya, Allah. Serem amat.” Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Cuma gara-gara kurang safety riding, keluar uang banyak, ya.” Lanjutnya lagi.

“Ya pilihannya cuma itu kan, Ran. Antara keluar modal agak banyak sedikit buat beli perlengkapan safety riding yang bisa bikin nyaman dan memberikan proteksi badan seutuhnya, atau harus ngalamin kecelakaan dulu terus keluar uang puluhan juta, bahkan nyawa bisa melayang, baru menyesal? Tinggal pilih.” Ujarnya sambil senyum.

“Wah, Seru nih ngobrol sama lo. Jadi nambah pengetahuan gue tentang berkendara. Meskipun lebih seringnya jadi penumpang doang gue. Hehe”

“Eh, tunggu. Ada dua hal lagi yang ketinggalan.” Ujar Raden tiba-tiba.
“Apa?”
“Saat berkendara motor itu, sebisa mungkin otak atau pikiran harus rileks, Ran. Meskipun lagi banyak pikiran. Karena safety itu sendiri kan berawal dari pikiran kita sendiri. Sama buat kondisi senyaman mungkin, lah, ketika di atas motor.” Ujar Raden mengakhiri penjelasan panjangnya.

“Wah, makasih banyak, loh, Den, atas penjelasannya. Makin ngerti gue tentang pentingnya safety riding.” Ujar Rani semangat. “Eh, tapi pulang malem aman gak, nih?” tanyanya sambil melihat jam di ponsel pintarnya.
“Eh, iya. Udah malem banget. Gak bagus lah buat anak gadis. Bentar gue bayar dulu, ya.”  

Setelah selesai membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, Raden dan Rani pun menuju tempat motor besar Raden diparkir. Dan Raden memulai lagi ritual memakai atribut bermotornya tersebut.  

***


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Senin, 09 Februari 2015

Akankah Jakartaku Bisa Senyaman Dulu Lagi?

Tuhan,

Hari ini Jakartaku terendam banjir di banyak tempat. Barat, Timur, Selatan, Utara, bahkan Pusat juga. Hampir semua wilayah Jakarta terendam air. Entah itu hanya 10 cm kah, 20, 30 bahkan ada yang sudah mencapai 1 meter lebih. Yang paling heboh tentang berita kalau di halaman Istana Negara, yang terletak di Jakarta Pusat ini pun tergenang air. Iya, sebagian besar Jakartaku diselimuti air berwarna cokelat. Ada juga di beberapa titik berwarna kehitaman. Tidak hanya jalan raya yang tergenang air, rumah-rumah penduduk pun mulai ikut dijambangi si air.

Banyak orang yang terjebak macet karena banjir menggenangi hampir seluruh jalanan di Jakarta. Akses ke mana-mana pun susah. Kendaraan bermotor, pejalan kaki, bahkan jalur perkeretaapian pun ikut kena dampak dari hujan tak berkesudahan ini. Yang di jalan terjebak tidak bisa ke mana-mana, yang di kantor pun terancam tidak bisa pulang  karena aksesnya tertutup air yang menggenang tinggi.
Ah, aku jadi teringat dua tahun yang lalu. Kejadian hampir sama dengan hari ini. Hujan tak kunjung reda, sungai meluap membanjiri Jakarta. Tapi, tahun 2013 itu banjir parah di Jakarta Pusat karena tanggul Latuharhari Jebol. Terjebak di tempat kerja, gak bisa pulang karena aksesnya tertutup banjir. Entah di hari yang sama atau beda aku terjebak di Manggarai karena hujan dan banjir menutup rel kereta di stasiun Tebet.    

Banyak yang bilang ini karena air hujan yang tak kunjung reda menjatuhi Jakarta sejak semalam. Dan memang, sejak semalam hingga aku menulis surat ini pun Jakarta masih diguyur hujan. Kadang deras, kadang gerimis. Tapi tak pernah berhenti. Seakan langit sedang bersedih layaknya orang patah hati.

Banyak juga yang menyalahkan pemerintah yang tidak becus mengurusi tata kota, karena setiap tahun Jakarta selalu banjir.

Tapi apakah selalu hujan yang disalahkan?
Apakah pemerintah juga yang harus disalahkan?
Kenapa bukan manusianya yang disalahkan? Diri sendiri.

Yang aku tahu, masih banyak manusia yang hobi buang sampah sembarangan di jalan. Banyak manusia yang mendirikan bangunan di bantaran kali. Banyak manusia yang memangkas pepohonan rimbun yang seharusnya jadi tempat resapan air hujan dan mengubahnya menjadi hutan beton. Banyak pengembang (yang juga terdiri dari manusia-manusia) yang melupakan sistem drainase yang baik. Sehingga membangun perumahan, jalan raya, gedung bertingkat, tapi lupa memperbaiki sistem drainasenya. Semua hal ini yang menyebabkan banjir, bukan?

Tuhan,

Mungkin aku pernah menjadi salah satu manusia-manusia itu. Iya, aku pernah buang sampah sembarangan, aku juga pernah memaki pemerintah. Tapi aku sadar, aku juga salah. Aku tidak merawat Jakartaku dengan baik.

Tuhan,

Akankah Jakartaku bisa senyaman dulu lagi?
Jakarta yang bersih, yang bebas banjir. Jakarta yang belum dipenuhi kendaraan bermotor seperti sekarang.  Aku rindu Jakartaku yang dulu.

Tertanda,


Rula - Penghuni Jakarta

Selasa, 20 Januari 2015

Weekend bersama Manusia-Manusia Hebat

Hai….

Selamat Tahun Baruuuuuu....

Di awal Tahun ini gue mau posting tulisan yang sebenernya udah gue tulis sejak Desember 2014 kemarin, tapi baru sempat gue selesain sekarang. Heheh.. pisss.. 

Di postingan ini gue mau cerita pengalaman gue jadi volunteer di acara "Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu Bintaro" (YSI Bintaro) di Kebun Raya Bogor, Sabtu, 29 November 2014. It’s been a few weeks ago, memang. Tapi keriaan itu masih terbayang di benak gue sampai sekarang.



Bermula dari…

Dari posting-an di salah satu grup whatsapp, broadcast tentang acara "Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu Bintaro" yang diadakan dalam rangka menyambut Hari Disabilitas Internasional dan juga dalam rangka mengampanyekan #MasyarakatInklusif.

Karena gue, yang udah lama banget gak terjun jadi volunteer karena kesibukan ini itu, yang kangen jadi volunteer lagi, kangen ketemu malaikat-malaikat lucu ini lagi, akhirnya memantapkan diri untuk daftar jadi volunteer di acara Wisata Anak ini. Meskipun harus nekat ngajuin cuti dari jauh-jauh hari. (FYI itu acara kan di hari Sabtu, ya, dan gue selalu shift siang kalo Sabtu). Makanya harus cuti dari jauh-jauh hari biar gue bisa mengobati rindu gue berinteraksi dengan malaikat-malaikat yang selalu jadi mood booster gue ini. Bismillah… Pasti bisa.

Setelah mengisi formulir online itu, gue dihubungi via e-mail oleh kak Dhika, Koordinator Lapangan Acara Wisata Anak, untuk hadir dalam rapat sekalian perkenalan dengan volunteer yang lainnya. Sayangnya pada rapat pertama ini gue berhalangan hadir karena ada acara (lupa acara apa, hehe). Dari hasil rapat pertama itu diputuskan kalau rapatnya akan diadakan setiap hari minggu di YSI Bintaro, jam 9 pagi.
Rapat, 2 November 2014

Hari Minggu, 2 November 2014, akhirnya gue bisa hadir di rapat kedua persiapan Wisata Anak di YSI Bintaro.  Hmm.. di mana itu YSI Bintaro? Yaaa, di Bintaro lah, Rul… Kalo naik kendaraan umum, angkotnya itu A.K.A.P deh.. Alias antar kota antar propinsi. (Perjalanan jauh, kapten! Gak nyampe-nyampe ini). Heheh. Tapi itu karena gue naik angkot yang dari lebak bulus. Jalur yang gue tau cuma itu, itu pun setelah nanya-nanya ke temen gue yang tinggal sekitar Bintaro. Tapi untuk rapat-rapat berikutnya akhirnya gue naik KRL, itu pun setelah nanya-nanya lagi sama panitia yang lain. Better lah yaa naik KRL dibanding naik angkot. Heheh. Tapi ada hikmahnya sih gue ngangkot, jadi semacam napak tilas wilayah ciputat-rempoa-binplaz, lah.. Mengenang zaman masih suka berkeliaran di sana. *oke stop intermezzonya*

Sampai di YSI Bintaro, langsung ketemu kak Dhika dan beberapa volunteer –yang kebanyakan masih kuliah- di aula lantai 2. Sepertinya cerita tentang rapatnya gue skip, ya. Off the record! *piss lagi*.

Berfoto setelah rapat, 2 November 2014



Di Acara Wisata Anak bersama YSI Bintaro ini, gue mengajukan diri untuk menjadi Liaison Officer, atau disingkat LO. Kerjaannya? Yang handle pengisi acara. Kenapa gue pilih jadi LO? Karena gue penasaran sama kerja LO seperti apa. Mungkin juga akibat berkali-kali baca bukunya kak Melanie Subono yang judulnya Liaison Officer Forever dan Ouch!, kisah kak Mel selama jadi LO. Dan gue curious, kakak.. Makanya, ada kesempatan jadi LO, ngajuin diri deh.. heheh..

Tim Liaison Officer with Mbak Rini dan Randy

Tim LO ini masuk ke Area 5, dengan koordinator Iqbal, Anggotanya cewek semua *termasuk gue* dan semuanya mahasiswi *kecuali gue*, ada Nadya, Rahmalia, Dinda, dan Utari. Nah karena ada beberapa kategori pengisi acara, jadinya dibagi-bagi lah tugasnya. Dan gue kedapetan untuk handle yang ngisi acara Musik dan Tari.

Itu sekilas tentang persiapan acara Wisata Anak Bersama Sahabat YSI Bintaro. Sebelum lanjut, gue mau cerita saat Car Free Day, satu minggu sebelum hari H.    

Jadi, satu minggu sebelum hari H ini panitia dari YSI Bintaro mengajak volunteer dan beberapa anak-anak yang ada di YSI Bintaro untuk jalan-jalan pagi di sekitar Senayan – Sudirman saat car free day. Janji ketemuan di Parkir Timur Senayan (yang ternyata rame banget karena ada event Colour Run dan Wisuda).
Ubay dan kak Dwi
kak Herta dan kak Dhika with Ubay

with kakak-kakak yang abis Colour Run
Setelah sempet ngetem beberapa saat di sekitaran FX Sudirman, akhirnya Bu Reno, Ketua panitia Wisata Anak, mengajak anak-anak dan volunteer naik TransJakarta (TJ) Busway. Mencoba transportasi umum yang (katanya) ramah disabilitas.

menaiki JPO menuju halte GBK
menaiki JPO menuju halte GBK
Mulai dari halte busway Gelora Bung Karno, yang memang ramah disabilitas, jadi anak-anak yang menggunakan kursi roda bisa masuk. Saat masuk ke haltenya pun dipermudah, dan ternyata anak-anak disabilitas ini free loh, yang bayar hanya pengantarnya aja. Keren, lah, ini. Cuma sayangnya halte busway GBK ini agak sempit dan hanya satu pintu untuk naik-turun penumpang. Jadinya petugas di halte buswaynya harus koordinasi terlebih dahulu dengan pramudi TJnya. Akhirnya kami semua masuk TJ melalui pintu paling depan. Untungnya TJ saat itu belum terlampau penuh. Jadi bisa masuk semua. Dan lagi, petugas onboardnya ikut membantu menaikkan anak-anak dengan kursi roda. Makasih, pak! 

Berfoto sebelum masuk halte GBK
Kursi roda masuk jalur khusus
Kursi roda masuk jalur khusus

menunggu Transjakarta Busway di halte GBK
petugas onboard membantu mengangkat anak disabilitas masuk bus

Anak-anak yang memang belum pernah naik TJ ini terlihat sangat senang dan bersemangat. Ubay, Nurul, Jelita, Bella senyum dan tertawa dengan riang. Tapi ada satu anak yang agak ketakutan. Namanya Ayu, tidak menggunakan kursi roda dan saat itu kursi penumpang penuh, jadinya berdiri dan berpegangan erat ke gue. Asli, pegangannya kenceng banget dan tangannya sampe keringetan. Saking takut jatuh. Ditambah lagi, sang pramudi buswaynya beberapa kali ngebut dan ngerem agak mendadak gitu. Tapi akhirnya, setelah beberapa halte lewat, ada penumpang yang berdiri da mempersilahkan Ayu untuk duduk. 


Ubay tertawa senang saat di dalam TJ
Ayu yang pegangan erat ke gue



Bella dan Jelita yang terlihat antusias saat di dalam bus
Tujuan awal mau ke Bunderan Hotel Indonesia. Tapi berhubung halte Bunderan HI sudah tidak ada dan halte Tosari (saat itu) terlampau sempit dan tidak ramah disabilitas, jadinya kami turun di halte Sarinah (yang memang lebih besar). Sampai di halte Sarinah, terpaksa kami balik lagi ke arah Sudirman. Karena Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di sana tidak ramah disabilitas. Alias berbentuk tangga. Jadinya anak-anak yang menggunakan kursi roda tidak bisa turun. Karena lift yang disediakan pun tidak berfungsi.

penampakan tangga penyebrangan dari halte Sarinah

di halte Sarinah









Nah, saat naik TJ arah balik ke Sudirman, kami dapat bus yang sepi penumpang. Jadi agak leluasa masuk. Dan Ayu, juga beberapa pendamping anak bisa duduk dengan nyaman. Tapi kami agak bingung saat hendak turun di halte GBK. Karena kami naik dari pintu paling depan, sedangkan saat di halte GBK, penurunan penumpang dari pintu tengah. Jadilah kami urung turun di halte itu. Pindah ke halte Bunderan Senayan, yang (saat itu) sudah lebih luas. Tapi ternyata halte Bunderan Senayan ini masih belum ramah disabilitas. Karena saat di pintu keluarnya, anak-anak dengan kursi roda tidak bisa lewat. Karena rata-rata kursi rodanya agak lebar dan besar. Hanya kursi roda yang kecil yang bisa lewat. Jadinya, anak-anak yang menggunakan kursi roda agak besar terpaksa harus digendong saat melalui pintu keluar.


hanya Jelita yang bisa lewat.
Bella harus diangkat melewati pintu keluarnya
Ubay juga harus digendong untuk bisa keluar halte
   



Nurul dan kursi rodanya juga harus diangkat keluar halte
Beruntungnya masih banyak manusia baik yang membantu mengangkat anak-anak berserta kursi rodanya untuk melewati pintu keluar di halte Bunderan Senayan ini. Jadi selain pendamping dari YSI Bintaro, Kak Dhika dan petugas di halte Bunderan Senayan-nya, ada kakak berkemeja biru itu yang membantu mengangkat Bella dan Nurul. Makasih ya, kakak-yang-tidak-diketahui-namanya. (Kalo ada yang kenal dengan kakak ini, boleh loh dimensyen di kolom komen blog ini. Maacih)

Saat melewati jembatan di halte Bunderan Senayan

Back to Wisata Anak Bareng YSI Bintaro.

Sejak hari jumat malam, gue dan tim LO juga beberapa orang dari divisi perlengkapan menginap di hotel dekat Kebun Raya Bogor. Persiapan untuk acara esok harinya. 

Dari pagi, setelah sarapan kami bersiap ke TKP. Follow up para pengisi acara sudah sampai mana, check sound, GR, dan persiapan panggung lainnya. Excited, deg-degan, campur aduk, deh. Itu yang gue rasain di pagi hari itu. Mulai dari menghubungi pengisi acara yang gue handle, konfirmasi keberadaan mereka udah di mana, panik karena no respon dari CP yang dikasih ke gue. Banyak, deh.

Sekitar pukul 9-an, satu persatu peserta Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu ini mulai berdatangan dan Lapangan Randu di Kebun Raya Bogor ini pun mulai dipenuhi oleh panitia dan peserta yang mayoritas menggunakan kaos berwarna kuning.

Suasana di Lapangan Randu 


Dan mata gue mulai mencari-cari pengisi acara yang gue handle. Ada adik-adik tunanetra dari Sanggar Pelita Monas, yang akan membawakan Tari Saman dan bermain Angklung. Ada Fauzan dengan Autisme, yang jago main Biola, akan membawakan 2 lagu instrumen dengan Biola. Dan juga ada adik-adik Down Syndrome yang lucu-lucu dari Sanggar Tari Insan Anugerah yang membawakan Tarian Robotic.

Disaat gue sedang mencari-cari mereka di antara peserta lainnya yang hampir semuanya mengenakan kaos kuning cerah itu, gue melihat sosok yang gue kenal banget. Temen-temen dari Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung. Ada kak Yunas dan kak Lena, ada Icha juga (oke, memang hanya itu yang gue kenal dari Palsi Gunung). Langsung gue deketin mereka. Udah lama gue gak berkunjung ke Palsi Gunung, jadinya seneng banget bisa ketemu mereka di acara ini. Kangen mereka!. Mumpung belum terlalu sibuk, gue sempatkan diri menyapa rombongan dari Palsi Gunung ini. Kangen-kangenan, terutama sama Icha yang agak gemuk. Dan tak lupa gue juga mengabadikan pagi bersama mereka dengan berfoto. (Karena belom tentu nanti bisa foto lagi).

bersama rombongan dari Palsi Gunung
Gak cuma ketemu anak-anak dari Palsi Gunung. Gue pun ketemu dengan anak-anak dari YSI Barito. Mardi, Hosean, Mira, Irma, Tegar, dan banyaaak lagi. Bener-bener ajang temu kangen gue dengan malaikat-malaikat kecil yang udah lama gak gue temuin. Seketika hati gue berbunga-bunga. Setiap bercengkrama dengan mereka, selalu memberi suntikan semangat buat gue. Meskipun semalam kurang tidur, dan agak sedikit panik, tapi hilang seketika.

bersama anak-anak YSI Barito dan Inung.

Selesai bercengkrama dan berfoto-foto dengan anak-anak dari YSI Barito ini, gue kembali ke tugas gue sebenernya saat itu. Mencari keberadaan pengisi acara dan melihat persiapannya. Terutama dengan adik-adik tunanetra dari Sanggar Pelita Monas yang akan membawakan Tari Saman di awal acara. Setelah bertemu dengan Ibu Yani dari Sanggar Pelita Monas, memberitahu tentang rundown dan mempersilahkan adik-adik bersiap dan melakukan check sound untuk penampilan keduanya nanti. Selain Tari Saman, adik-adik dari Sanggar Pelita Monas ini juga akan tampil menampilkan permainan angklung mereka. Dan mereka semua berbakat.

adik-adik dari Sanggar Pelita Monas

Sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak, yang hampir semuanya masih sekolah tingkat menengah ini, tentang bagaimana mereka berlatih tarian Saman dan alat musik Angklung ini. Seru. Seperti kata Nurul, "awalnya emang susah, kak. Tapi setelah terbiasa, malah jadi gampang banget."

Nurul, dari Sanggar Pelita Monas
Gue pernah belajar Tari Saman. Pernah tampil membawakan Tarian Saman saat masih SMA dulu. Dan gue tau gak gampang berlatih untuk bisa menguasai Tarian Saman ini. Makanya gue kagum sama mereka. Semangat belajarnya tinggi. Mereka hebat, karena juga menguasai alat musik Angklung. Gue aja gak bisa. :')

Gak cuma adik-adik dari Sanggar Pelita Monas ini aja yang membuat gue kagum karena bakatnya. Ada Fauzan, meskipun terbatas dengan Autismenya, tapi Fauzan sangat ciamik saat memainkan Biola di atas panggung. Lagu yang dibawakan Fauzan saat dipanggung (yang gue inget) adalah lagunya Bruno Mars - Count On Me. Ini lagu kedua. Yang pertama gue agak lupa, karena tiba-tiba aja Shinta dari I'm Star ikut naik ke atas panggung mengiringi Fauzan dengan keyboardnya.

Fauzan ditemani Shinta dari I'm Star (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Satu lagi pengisi acara yang gue handle adalah adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah. Adik-adik dengan Down Syndrome ini membawakan Tarian Robotic. Lucu-lucu gerakannya. Bahkan ketika belum giliran mereka naik panggung, mereka tetap naik panggung. Ceritanya lagi check sound, yang diputerin lagu yang agak ngebeat, langsung mereka menyerbu panggung dan berjoget di atas panggung. Menghibur pengunjung lainnya. Dan mereka lucu-lucu.

adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah

adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah

Selain 3 pengisi acara yang gue sebutin di atas, acara Wisata Anak Bersama Sahabat YSI Bintaro ini juga dihibur oleh Shena (X-Factor), Pasha (AFI) yang mengajak serta Rifky (AFI), dan I'm Star, sebuah band yang personelnya merupakan anak-anak berbakat dengan Autisme.

kak Shena, kak Rifky dan kak Pasha (foto dokumentasi YSI Bintaro)
I'm Star (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Selain dihibur oleh musik dan tari, di Wisata Anak ini ada juga acara Lelang. Lelang lukisan hasil karya Pak Faisal Rusdi, yang melukis hanya dengan mulutnya karena keterbatasannya. Lukisannya terjual dengan harga yang cukup fantastis loh, gaes.

pak Faisal Rusdi sedang melukis (foto dokumentasi YSI Bintaro)


lelang lukisan pak Faisal Rusdi (foto dokumentasi YSI Bintaro)


Gak cuma lelang lukisan. Ada juga lelang Origami hasil karya Thomas Andika. Remaja pria dengan Autisme yang jago melipat-lipat kertas sehingga menghasilkan bentuk robot atau binatang.

Thomas (jaket abu-abu) sedang membuat origami (foto dokumen YSI Bintaro)
salah satu karya Thomas (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Lagi-lagi Allah seakan menyentil kepala gue melalui acara ini. Mereka, yang memiliki keterbatasan, namun masih bisa berkarya dengan baik. Nah gue? Lebih banyak males-malesannya daripada berkarya. :(

Oh iya, ada yang kelupaan. Acara Wisata Anak ini diawali dengan pelepasan balon warna-warni ke langit, loh, gaes. Jadi, seluruh pengisi dan peserta acara berkumpul di salah satu sisi lapangan Randu, untuk melepas balon warna-warni ini ke langit.

Pelepasan balon warna-warni (foto dokumentasi YSI Bintaro)
balon warna-warni menuju angkasa luas (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Nah, sepertinya udah hampir semuanya gue ceritain tentang acara Wisata Anak ini. Selain karena pengisi acara, ada lagi nih yang juga berjasa memeriahkan acara Wisata Anak ini. Tak lain dan tak bukan adalah para MC kondang, mbak Riry Wijaya, mbak Shanty, dan my favourite Announcer sejak SMA dulu.. Mas Imam Wibowo (yang ternyata tetep ganteng aja yaa mukanya, hehe). Mereka berhasil membuat acara Wisata Anak ini tetap "hidup".

trio MC kondang (foto dokumentasi YSI Bintaro)


kan.. mas Imam mukanya ga berubah, kan. teteup kasep :)
(foto dokumentasi YSI Bintaro)

Sebelum mengakhiri postingan ini, gue mau ngucapin makasih banget sama YSI Bintaro yang udah kasih gue kesempatan untuk bisa membantu di acara Wisata Anak ini. Banyak pengalaman berharga yang belom tentu gue dapetin lagi di kehidupan mendatang.

Aaaak, jadi kangen anak-anak lagi kan :(((

Ah, sudahlah... Sekian cerita dari gue tentang Weekend bersama Manusia-Manusia Hebat. Untuk dokumentasi lebih lengkapnya monggo mampir di FB YSI Bintaro.

Best Regrads!
Rula


(Start : Desember 2014, Finish: Januari 2015)