Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Safety Riding Versi Raden

Safety Riding Versi Raden
By. Nurul Aria
 
pic from here

Drrt.. drrttt…

Ponsel pintar Rani bergetar sejak tadi di dalam saku seragam kerjanya, entah siapa yang meneleponnya sejak tadi. Sayangnya Rani masih harus menyelesaikan terapi pada pasiennya yang terakhir hari ini sebelum pulang.

Saat menuliskan bukti bayar untuk pasiennya, sekilas Rani melihat ke arah jam dinding berwarna hitam yang tersimpan rapi di dinding di hadapannya, jarum pendek sudah menunjuk angka 9 sedangkan jarum panjangnya sudah di angka 10, tetapi di ruangannya masih ada pasien anak yang belum selesai terapi sejak tadi.

Seharusnya Rani memang sudah bisa pulang pukul 20.30 tadi, karena memang kliniknya tutup jam 20.00.  Namun ternyata, ketika Rani sedang bersiap untuk pulang, ada pasien yang datang mendadak untuk diterapi. Untungnya hanya terapi uap pada anak yang tidak membutuhkan waktu berjam-jam.

Setelah pasiennya selesai dan sudah keluar dari ruangan kliniknya, Rani mengambil ponsel pintarnya yang tadi bergetar. Tertera 5 notifikasi panggilan tak terjawab, dan beberapa notifikasi whatsapp di layar ponselnya itu.

Tanpa sadar ditepuk dahinya, “Ya Tuhan. Lupa. Kan tadi janjian sama Raden pulangnya.”

Kedatangan pasiennya yang mendadak membuatnya lupa mengabari teman komunitasnya tersebut. Tadi Rani memang sudah janjian dengan Raden untuk pulang bareng karena jalur pulangnya Raden melewati klinik tempat ia bekerja, rumah mereka pun searah.

Sebelum membaca pesan di whatsapp yang juga dari Raden, Rani mencoba menghubungi Raden terlebih dahulu, namun tidak diangkat.

Mungkin Raden sudah di jalan. Pikir Rani sambil membuka pesan di whatsappnya.

Raden : Ran, gue otw tempat lo ya.
Raden : gue tlp lo ga diangkat2.
Raden : gue tunggu tempat biasa. ok.
Raden : paling 15 menit lagi gue sampe.

Rani bergegas merapikan kliniknya, mencabut kabel-kabel listrik dari alat-alat terapi kemudian mematikan lampu ruangan dan AC.

“Raden seharusnya sudah sampai, nih.” Ujar Rani pelan ketika menuju tempat janjiannya dengan Raden yang tak terlalu jauh dari kliniknya. Dan ternyata benar dugaan Rani. Raden sudah tiba di tempat mereka janji bertemu.

Ini memang bukan kali pertama Rani pulang bareng Raden. Semenjak Raden mengambil kuliah kelas karyawan di daerah Salemba yang tak terlalu jauh dari klinik tempat Rani bekerja, hampir setiap mendapat jadwal shift sore, Rani selalu pulang bareng Raden. Lumayan mengirit ongkos dan waktu, pikirnya.
  
Dilihatnya pria bertubuh kekar itu sedang melepaskan sarung tangannya, kemudian baru melepaskan helmnya dan menaruhnya di atas tangki bensin motor besarnya.

Sorry lama, Den. Ada pasien mendadak tadi.” Ujar Rani ketika sudah berada di dekat Raden.

“Hey, Ran. Gue juga baru sampe kok. Santai. Heheh.” Pria yang ditegurnya itu berujar sambil berjalan menuju bagian belakang motornya. Membuka boks yang selalu ia bawa di motornya tersebut, mengambilkan helm full face dan menyerahkannya ke Rani.

“Tas lo mau ditaro di boks sekalian, gak? Biar enak lo duduknya.” Tanya pria berkepala plontos itu.

“Eh, iya, boleh.” Rani kemudian menyerahkan tas gembloknya yang agak berat itu ke Raden, kemudian langsung dimasukkan ke dalam boks yang memang muat 2 helm itu.

“Lengkap amat, Bro, atributnya. Kayak mau touring aja.” Ujar Rani ketika melihat Raden mulai mengenakan lagi satu persatu atribut bermotornya.

Mulai dari dalaman helm yang seperti ciput ninja para hijabers, kemudian helm full face, dan terakhir sarung tangan. Sedangkan jaket tebal-hitamnya sudah melekat sejak tadi di tubuh kekarnya. Pun dengan sepatu boots yang terpasang rapi di kedua kakinya.

Safety riding itu penting, Ran.” Jawabnya sambil mengenakan sarung tangannya yang sebelah kanan.
“Meskipun gak touring?” tanya Rani.
“Meskipun gak touring” ulang Raden yang kemudian naik ke atas motornya. “Yuk, Ran, naik.”

Rani pun perlahan menaiki motor besar milik Raden di bagian belakang, bagian penumpang. Sejujurnya Rani agak kurang suka naik motor besar dengan boks di bagian belakangnya. Ribet naiknya.

“Udah?” Tanya Raden dari depan kemudi.
“Udah.” Jawab Rani setelah menyandarkan punggungnya di boks.
“Udah pake helmnya, kan?” tanya Raden lagi.
“Udeeeh, pak Raden” jawab Rani sambil mengetuk helm di kepalanya sendiri.
“Hahah, sorry, Ran. Gue cuma mastiin aja keselamatan lo. Daripada lo kenapa-napa, ntar” ujarnya memastikan.

Setelah yakin atribut keselamatan sudah dikenakan dengan baik dan benar, Raden pun membiarkan motor besarnya melaju menyusuri jalanan ibu kota di malam hari.

****

Saat memasuki wilayah Cilandak yang agak sedikit macet, meskipun saat itu jam di ponsel pintar Rani sudah menunjukkan angka 22.00, Raden membuka kaca di helm full facenya dan sedikit menoleh ke Rani lalu bertanya,
“Ran, lo laper, gak? Mampir dulu ya. Heheh.”
“Boleh. Boleh. Gue juga gak sempet makan tadi gara-gara pasiennya padet gitu.”

Mereka akhirnya mampir di warung tenda yang menjual pecel lele di sekitar Cilandak. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rani mulai menanyakan hal yang sepanjang perjalanan tadi terpikirkan olehnya.

“Den, kan tadi lo bilang Safety Riding itu penting, ya? Seberapa pentingnya sih?”
“Kenapa lo nanya gitu, Ran?” bukannya menjawab, Raden justru bertanya balik ke Rani.

“Soalnya yang gue lihat, masih banyak pengendara motor yang mengabaikan tentang safety riding ini. Tapi lo gak. Lihat aja perlengkapan perang lo banyak gitu.” Jawab perempuan berkacamata ini.

“Hmm… Panjang nih gue jelasinnya. Bisa tiga sks. Hahah.” Canda Raden.
“Santai. Makanan masih belom datang ini.” Balas perempuan berkerudung biru di hadapannya itu.

“Buat gue, berkendara sepeda motor itu memang seharusnya memakai perlengkapan pelindung seluruh badan. Karena, kan, naik sepeda motor gak ada besi yang melindungi badan kayak mobil, Ran. Makanya perlengkapan perang gue banyak banget.” Jelas Raden. “Helm, jaket, celana panjang, sarung tangan, bahkan riding shoes atau boots itu safety gear paling penting buat gue.” Lanjutnya lagi.

“Kalo helm, harus full face emangnya, ya, Den? Bukannya half face juga udah SNI, ya?” tanya Rani sambil mengaduk-aduk teh manis hangatnya yang baru datang.

“Sebenernya sih, mau pake helm yang mahal atau yang murah, half face atau full face, gak terlalu masalah. Tapi, ternyata gue lebih nyaman pake helm full face. Ya, meskipun gak semua helm full face pasti nyaman, sih. Makanya gue lebih seringnya beli yang harganya sedikit agak di atas rata-rata. Lebih nyaman.”  Raden menghentikan bicaranya ketika makanan yang kami pesan akhirnya datang juga.

“Mau lanjut atau makan dulu nih?” ujar Raden sambil mencelupkan jari-jari tangan kanannya ke dalam mangkok besi berisi air bersih yang memang disediakan untuk kobokan itu.
“Makan dulu aja kali, ya.” Jawabku.

****

“Tadi sampe mana gue jelasinnya?” tanya Raden begitu piringnya bersih dari makanan, tapi tidak dengan mulutnya.

“Lo baru jelasin tentang helm aja, kok, tadi.” Jawab Rani.
“Eh, ini gak papa lo balik agak maleman lagi? Masih panjang soalnya. Heheh.”
“Santai, Pak. Besok masih shift sore. Hehe.”
“Oke” ujar Raden sambil mengacungkan ibu jarinya yang masih basah, baru dicuci di air kobokan.

“Masih tentang helm. Mungkin bagi kebanyakan orang pakai helm yang nyaman atau full face gak terlalu penting kalau naik motor untuk jarak dekat atau sekedar ngantar anak ke sekolah atau beli makanan di warung. Tapi, kita kan gak pernah tahu di depan sana ada apa? Bisa aja kan ternyata kita jatuh tiba-tiba dari motor, atau keserempet, terus kepala kita terbentur jalanan. Pake helm aja masih bisa kenapa-napa. Apalagi gak pake helm.” Diambilnya gelas minumnya yang airnya sudah setengah itu, kemudian diteguknya hingga habis.

“Gue, yang biasa nempuh jarak jauh rumah-kantor-kampus, atau kalo touring, deh. Bisa aja kan ngalamin kejadian ‘tak terduga’ gitu.” Ujarnya sambil membentuk tanda kutip dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya di udara saat menyebutkan kata ‘tak terduga’. “Kalo misalnya gue gak pake helm yang nyaman dan aman buat gue, ya bisa wasalam.”

“Contohnya gini, pake helm yang bentuk busa dalemnya gak cocok sama bentuk kepala, atau bobot helmnya terlalu berat, gak nyaman banget pasti. Mungkin awalnya cuma berasa leher pegal. Tapi, efek terparahnya bisa bikin sebadan-badan capek, bahkan bisa berakibat pandangan jadi agak kabur. Bahaya, kan, tuh.”    

Rani mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju dengan penjelasan Raden yang memang sesuai logikanya itu. Tapi masih ada yang mengganjal juga di kepalanya.

“Terus kalo jaket, celana panjang, boots, sama apalagi tuh yang lo bilang tadi, kepentingannya apa?” Rani semakin penasaran dengan safety riding versi Raden ini setelah mendengarkan penjelasan tentang helm.

“Udah banyak sebenarnya artikel yang membahas bisa kena penyakit ini, itu, akibat naik motor gak pake jaket. Kalo gue, ya, buat ngelindungin badan dari udara atau angin, lah. Karena berkendara motor itu impactnya langsung ke sekitar kita, salah satunya ya udara atau angin itu.”

“Kalo bisa, sih, pake jaket yang kualitasnya memenuhi aspek kategori windproof. Terus kalo perjalanan jauh, baiknya pake yang ada pelindung siku, bahu dan lengan kayak gini, sebagai tambahan proteksi ketika terjadi benturan karena kecelakaan.” Tambahnya sambil menunjuk bagian siku dan bahu pada jaket yang tadi ia kenakan.

“Nah, kalo celana panjang sih hampir sama fungsinya kayak jaket. Sarung tangan pun. Tapi ini wajib sih buat gue. Karena gue selalu berasumsi bahwa gue gak pernah tahu sepanas dan sedingin apa jalur yang gue lewatin. Karena pernah, pas gue ke Puncak Pass gak pake sarung tangan sama sekali. Jadilah jari-jari tangan gue kaku dan gemetaran. Hahah” ujarnya sambil menggerak-gerakkan kesepuluh jari-jarinya.

“Beku ya, Den, jari lo?” tanya Rani meyakinkan.
“Banget.”
“Lo yang banyak lemaknya aja bisa beku, apalagi gue, ya? Hahha” canda Rani.
“Haha sial.”

“Eh, terus kenapa harus boots?” Rani masih belum mendengar penjelasan tentang penggunaan sepatu boots ini dari mulut Raden.

“Oiya, sepatu khusus motor atau boots riding ini biasanya tingginya sampai semata kaki atau lebih. Gue punya satu cerita kalo tentang ini. Bos gue yang ngalamin, sih. Jadi waktu itu dia buru-buru harus ke kantor. Biasa pake pantofel, dong, ya, kalo orang kantoran. Pas setengah jalan menuju kantor, dia kecelakaan. Dari mata kaki sampai samping tulang kering retak, cedera luka dalam gitu, deh. Dan itu karena kena separator busway itu, loh. Kontak langsung, tanpa pelindung. Gara-gara itu harus dioperasi dan ngabisin uang puluhan juta rupiah.”

“Ya, Allah. Serem amat.” Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Cuma gara-gara kurang safety riding, keluar uang banyak, ya.” Lanjutnya lagi.

“Ya pilihannya cuma itu kan, Ran. Antara keluar modal agak banyak sedikit buat beli perlengkapan safety riding yang bisa bikin nyaman dan memberikan proteksi badan seutuhnya, atau harus ngalamin kecelakaan dulu terus keluar uang puluhan juta, bahkan nyawa bisa melayang, baru menyesal? Tinggal pilih.” Ujarnya sambil senyum.

“Wah, Seru nih ngobrol sama lo. Jadi nambah pengetahuan gue tentang berkendara. Meskipun lebih seringnya jadi penumpang doang gue. Hehe”

“Eh, tunggu. Ada dua hal lagi yang ketinggalan.” Ujar Raden tiba-tiba.
“Apa?”
“Saat berkendara motor itu, sebisa mungkin otak atau pikiran harus rileks, Ran. Meskipun lagi banyak pikiran. Karena safety itu sendiri kan berawal dari pikiran kita sendiri. Sama buat kondisi senyaman mungkin, lah, ketika di atas motor.” Ujar Raden mengakhiri penjelasan panjangnya.

“Wah, makasih banyak, loh, Den, atas penjelasannya. Makin ngerti gue tentang pentingnya safety riding.” Ujar Rani semangat. “Eh, tapi pulang malem aman gak, nih?” tanyanya sambil melihat jam di ponsel pintarnya.
“Eh, iya. Udah malem banget. Gak bagus lah buat anak gadis. Bentar gue bayar dulu, ya.”  

Setelah selesai membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, Raden dan Rani pun menuju tempat motor besar Raden diparkir. Dan Raden memulai lagi ritual memakai atribut bermotornya tersebut.  

***


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Sabtu, 26 Juli 2014

Pelangi Kala Hujan

Pelangi Kala Hujan
By Nurul Aria / @rulachubby


Lebaran kali ini kamu pulang ke rumah kan, nduk? Jangan lupa kenalin calon kamu ke Ibu, ya.

Pertanyaan Ibu semalam masih terngiang dengan jelas di telinga Nisa. Pembicaraan Ibu dan anak yang terpisah jarak malam itu membuat Nisa tak dapat tidur dengan nyenyak. Nisa mencoba memejamkan kedua matanya. Mengenyahkan semua yang ada di benaknya kini. Rasa takutnya akan sebuah komitmen yang bernama pernikahan itu kembali menghantuinya. Mimpi buruk itu pun datang lagi menghampirinya.

***

Aku janji, aku akan menikahi kamu. Setelah tugas aku selesai.

Ucapan Rasyad yang masih Nisa ingat sebelum ia pergi meninggalkan Nisa, menuju pesawat yang akan membawanya terbang ke Timur Indonesia. Rasyad, lelaki yang sudah lebih dari dua tahun menjalin kasih dengannya. Lelaki yang sangat ia harapkan akan menjadi pendamping hidupnya kelak. 

Aku janji. Aku sayang kamu. Cuma kamu yang aku inginkan untuk jadi pendampingku, ibu dari anak-anakku kelak.

 Nisa masih ingat janji Rasyad setahun lalu. Di Bandara Soekarno – Hatta, saat Nisa mengantar keberangkatan lelaki bertubuh atletis itu untuk bertugas di pulau seberang.

“Hari ini Rasyad akan pulang.” Nisa melihat lagi kalender pada agendanya. Terdapat lingkaran dengan tinta merah pada tanggal 12. Nisa menandainya setelah dapat kabar terakhir dari Rasyad, tiga bulan yang lalu. Sebelum akhirnya komunikasi mereka terputus. Nisa akan menjemputnya hari ini. Menjemput lelaki yang sangat ia rindukan.

Seperti apa rupa kamu sekarang, mas?

Nisa sudah berada di lobby kedatangan Bandara Soekarno – Hatta. Hatinya berbunga-bunga. Rindunya seakan tak tertahankan lagi. Sudah tidak sabar ingin memeluk lelaki terkasihnya tersebut.

Nisa memperhatikan satu persatu penumpang yang keluar. Mencari sosok yang selama ini ia rindukan.

Ah, itu dia, Rasyad. Tidak ada yang berubah darinya.

Nisa tersenyum gembira setelah melihat lelaki yang selama ini ia rindukan sudah terlihat di kejauhan. Tapi senyumnya tak bertahan lama. Lelaki tersebut semakin mendekat ke arahnya. Bersama wanita cantik, yang bergelayut mesra di lengan Rasyad.

Deg! Siapa wanita itu?

“Nisa..” ekspresi kaget pun terpancar dari wajah maskulin Rasyad. Nisa mencoba untuk tersenyum, meskipun ada yang mengganjal di hatinya.
“Kamu… sendiri?” Rasyad kikuk. Nisa mengangguk. Masih dengan senyum yang dipaksakan.

Wanita cantik berkulit putih itu masih menggandeng lengan Rasyad mesra. Nisa risih melihat ada wanita lain bersama lelakinya itu.

Seakan bisa membaca gelagat Nisa, Rasyad mengenalkan wanita berkulit putih tersebut padanya.
“I.. ini Luna, istri ku. Luna, ini Nisa, sahabat aku sejak kecil” Wanita cantik berkulit putih tersebut mengulurkan tangannya kehadapan Nisa.

Wanita cantik ini istrinya? Lalu aku? Sahabatnya sejak kecil?

Pertahanannya runtuh, dua bendungan yang berusaha ia tahan di kedua matanya pun tak dapat ia tahan lagi. Nisa membalikkan tubuhnya, membelakangi Rasyad dan wanita yang ternyata istrinya. Di kedua pipinya sudah terbentuk dua aliran sungai. Nisa berjalan secepat mungkin menjauhi Rasyad dan keramaian di lobby bandara tersebut. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang memandangnya aneh. Juga teriakan Rasyad yang memanggil namanya. Ia hanya ingin pergi dari situ, secepatnya.

***

Akhir-akhir ini ia sering melamun. Entah apa yang ia pikirkan.

Aldi masih memandangi perempuan bergaun merah di hadapannya. Ya, ia sangat senang memandangi perempuan yang menjadi rekan kerja satu timnya setahun belakangan ini.

“Kenapa, Di?” perempuan bergaun merah tersebut heran melihat Aldi memandanginya terus. “Ada yang salah sama penampilan gue?” Aldi tersenyum melihat ekspresi keheranan di wajah Nisa.

“Nggak, kok. Nggak ada yang aneh sama lu. Gue cuma heran aja, cewek secantik lu hobinya bengong ternyata. Hehe”

“Sial. hehe” Nisa pun ikut tertawa.

Kamu manis kalau sedang tertawa.  Batin Aldi.

***

“Menikah itu ibadah, Nis. Kalo cuma gara-gara mantan lu itu lu jadi nggak mau nikah, rugi di elu. Dia udah bahagia sama pasangannya. Nggak usah lu pikirin dia lagi. Mendingan sekarang lu pikirin diri lu sendiri, dan Nyokap lu. Berapa umur nyokap lu sekarang? Berapa umur lu sekarang? Come one, Nis! Allah itu nyiptain makhluknya berpasang-pasangan. Jadi, kalo lu nggak mau nikah, orang yang tadinya ditakdirin berjodoh sama lu jadi nggak punya pasangan, dong?” 

Obrolannya saat makan malam dengan Aldi tadi kembali terngiang di benaknya.

“Ada benarnya, sih” Ujar Nisa sambil memandang plafon kamarnya.

***

 Sudah saatnya.
Batin Aldi ketika melihat Nisa sedang duduk terdiam di kubikel kerjanya.

“Belum pulang, neng?” tanya Aldi sambil menepuk pundak Nisa.
“Belum, nih. Males.”
“Bulan depan udah puasa, lu nggak ada niat ngambil cuti terus pulang ke rumah sebelum puasa, gitu?” Aldi menyelidik.
“Nggak. Entar pasti ditanyain calon terus sama nyokap.”
“Yaudah, gue temenin.”
“Maksudnya?” Nisa menatap Aldi bingung.
“Ya.. gue temenin lu pulang, ketemu sama Nyokap lu.” Ujar Aldi santai.
“Buat apaan? Lagian ya, nanti gue juga bakal pulang ke rumah kok pas lebaran.” Jelas Nisa heran.
“Buat… ngelamar lu jadi istri gue.” Ujar Aldi serius. Nisa memandang Aldi heran.
“Gue nggak tau kapan perasaan ini muncul, Nis. Tapi, setiap gue sama lu, gue selalu ngerasa bahagia. Setiap ngeliat lu sedih, ataupun ngeliat lu diem kayak belakangan ini, gue ngerasa kehilangan lu. Kehilangan lu yang selalu ceria, lu yang selalu senyum sama siapa aja. Lu yang selalu jadi diri lu sendiri.”

Nisa bergeming.

“Gue nggak bisa janjiin lu apa-apa, sih. Tapi gue cuma mau buat lu bahagia, Nis. Nggak sedih lagi setiap ditanya kapan nikah sama nyokap lu. Gue… Gue mau nyembuhin luka lu itu, Nis. Luka yang dibuat sama mantan lu, yang membuat lu trauma dengan komitmen dan nggak mau nikah. Gue mau nyembuhin luka lu itu, Nis” Aldi menggenggam tangan Nisa. Mencoba meyakinkan perempuan di hadapannya ini, bahwa ia serius ingin menjadikan Nisa pendamping hidupnya.

Nisa tidak dapat berkata apa-apa. Kedua pipinya sudah basah, kini. Ada perasaan aneh yang menyerang hatinya. Membuat pertahanannya runtuh lagi.

“Nis…” Aldi mencari-cari jawaban di mata Nisa.

“Kalo nyokap gue jantungan, terus anfal karena kaget dengan lamaran lu yang tiba-tiba ini, sebelum Ramadhan pula, lu mau tanggung jawab?” Nisa menatap Aldi sambil tersenyum. Aldi menatap mata Nisa, mencari keseriusan di sana. Nisa mengangguk, kemudian tersenyum dan mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipinya.

Tuhan, terima kasih untuk kejutan kecil menjelang Ramadhan ini. 

***


nb: Ini tulisan gue setahun lalu yang gue ikutsertakan dalam #ProyekMenulis nulisbuku.com yang ternyata masuk dan dicetak di Kejutan Sebelum Ramadhan buku 8. Dan ini iseng gue posting di blog.. :D

Kamis, 10 Juli 2014

Sahabat Terbaik

Sahabat Terbaik  


You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

(Everybody’s Changing – Keane)

Suara lembut Tom Chaplin, vokalis band Keane, mengalun dari iPod touch kesayangan Fani. Ditatapnya layar smartphonenya dengan sedih. Masih terpampang chat terakhir dengan sahabatnya semasa kuliah dulu.

Tanti: Lo yakin dgn keputusan lo ini Fan?
Tanti: Lo bahkan ga menghargai kita2 yg masih nganggep lbagian dari kita?
Fani: Maafin gue Tan, tapi gue beneran udah ga nyaman lagi
Tanti: Karena lo ga gabung di grup kah?
Tanti: Atau ada kata2  gue yang nyinggung lo Fan?
Fani: I don’t know Tan. I just feel…
Tanti: Gue emang ga tau ada kejadian apa kemaren antara lo sama anak2. Tapi Fan, kita kan temenan udah lama. Kalo emang ada masalah, ya kita bahas bareng2 lah.
Fani: Jujur Tan, gue ga ngerasa dihargain banget. Bukannya gue gila hormat, tapi..
Fani: Gue udah lama ngerasa ga nyaman Tan. Dan gue udah ga sanggup harus pura2 nyaman di hadapan kalian.
Fani: Maafin gue Tan, gue ga bisa berada di tempat yg ga menghargai gue. Bahkan ga anggep gue ada.
Tanti: Ya sudahlah kalo keputusan lo udah bulet. Gue ga bisa maksa. Kan setiap orang pasti berubah Fan. Termasuk kita.
Tanti: Gue cuma bisa bilang, kita sama2 udah dewasa. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah. Selamat jalan kawan.

Dua aliran sungai sudah mengalir membasahi pipi Fani kini. Sedih, sakit, kecewa, kehilangan. Semua rasa itu campur aduk menggeluti Fani yang saat ini hanya terdiam mematung dalam kamarnya. Keputusannya sudah bulat. Fani sudah kecewa dengan sikap teman-temannya.
Dialihkan pandangannya ke monitor laptop empat belas inci yang sedari tadi dibiarkan menyala, terdapat wajah teman-temannya di sana. Foto-foto yang tersimpan rapi dalam file khusus di memori laptopnya. Foto-foto ketika masih kuliah dulu, saat bolos bersama, kemping di Curug, Jambore, Ospek kampus, hingga foto-foto saat praktek kerja lapangan dulu masih ia simpan.     
Dipandanginya satu per satu wajah ke delapan sahabatnya yaitu, Lea, Sari, Tanti, Rina, Riza, Doni, Bram dan Pandu. Ada kerinduan yang dirasakannya saat menatap foto-foto lama itu. Fani rindu canda tawa teman-temannya dulu. Rindu kebersamaan mereka semasa kuliah dulu. Rindu. Ingin rasanya ia kembali lagi ke masa lalu. Masa di mana semuanya belum berubah seperti sekarang.
Ya, Tanti benar. Keane juga benar. Setiap orang pasti berubah. Berubah menjadi orang asing.  Berubah menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mengejar mimpi-mimpi mereka. Dan sepertinya hanya Fani yang enggak berubah.

Everybody’s changing and I don’t feel the same..

****

“Kenapa murung begitu mukanya?” ujar Selly, Mama Fani, begitu melihat anak gadis satu-satunya itu keluar kamarnya dengan wajah ditekuk.
Fani hanya menggeleng lesu, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruang tamu. Hendak menonton televisi, namun pikirannya tidak tertuju pada layar plasma di hadapannya.
Bu Selly menghampiri anaknya yang bersikap aneh hari itu.
“Kamu kenapa sih, Nak? Sejak tadi mama perhatikan kamu hanya cemberut saja di depan TV. Filmnya yang gak ada yang bagus, ya?” ujar Selly pada anaknya yang masih memasang wajah tak enak itu. Yang ditanya hanya menggeleng pelan dan beberapa saat kemudian wajahnya berubah sedih, seperti hendak menangis.
“Kalau ada masalah cerita sama mama. Mungkin saja mama bisa bantu” Selly memeluk anak kesayangannya itu dengan lembut. 
Dengan segera mengalirlah cerita tentang retaknya hubungan persahabatan Fani dengan teman – teman masa kuliahnya dahulu dari bibir mungil Fani. Selly mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi anaknya itu dengan tisu. Bahkan tak jarang Selly merengkuh anak gadisnya itu ke dalam pelukannya. Seakan ingin menguatkan anaknya yang sedang rapuh kini.
….
“Menurut  mama, yang Fani lakukan ini salah nggak sih, Ma?” Tanya Fani masih dengan air mata di pipinya.
Selly tersenyum sambil mengelus kepala Fani yang masih berada di dalam pelukannya itu.
“Kalau mama jadi kamu, mama pasti akan melakukan hal yang sama seperti kamu sekarang. Untuk apa kita berada di tempat yang nggak membuat kita nyaman? Yang ada nanti kita malah ngedumel sendirian, ngeluh terus, jadinya malah nambah dosa, loh.”Selly menjelaskan dengan tenang.
“Sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa mengerti kondisi sahabatnya, mau menerima segala kelebihan dan kekurangan yang sahabatnya miliki. Sahabat yang baik itu akan selalu berusaha membuat kita nyaman berada di dekatnya. Dan tidak pernah pamrih saat kita meminta bantuan. Bahkan biasanya, mereka yang akan menawarkan bantuan terlebih dahulu sebelum kita meminta.” Selly menatap anaknya yang masih menangis.
“Apa yang kamu tangisi, Nak?” Tanya Selly sambil menyeka kedua pipi anaknya yang chubby itu.
“Entahlah, Ma.” Bahu Fani terangkat ragu.
“Mama tahu kamu pasti sangat kecewa dengan mereka. Berat memang melepaskan orang–orang yang kita sayang. Tapi, jika itu demi kebaikan mereka dan juga demi kebaikan kita sendiri, ikhlaskan sajalah.” Selly memberi kekuatan pada anaknya dalam nasihatnya.
“Tapi Ma, bukannya memutuskan tali silaturahmi itu hal yang tidak disukai Allah, ya?” Tanya Fani bingung.
Selly menggeleng sambil tersenyum.
“Allah maha mengetahui segalanya, Nak” ujar Selly tenang.“Ada pepatah yang mengatakan, gugur satu tumbuh seribu. Yakinlah, meskipun kamu kehilangan sahabat–sahabat terbaik kamu saat ini…” ditatapnya lagi wajah anak semata wayangnya itu dengan lembut. “ …tapi kamu pasti akan mendapatkan penggantinya yang lebih baik lagi.”
Fani memandang takjub pada Mamanya. Senyum pun perlahan merekah di bibir mungilnya. Ada ketenangan yang menghangatkan hatinya kini. Di peluknya satu–satunya wanita yang telah melahirkannya dan juga menjadi sahabatnya selama ini. Hanya mamanya yang selalu mengerti keadaan Fani.Walaupun kini Fani sudah beranjak dewasa, tapi mamanya tetap menjadi sahabat terbaik bagi Fani.

You’re gone from here
And soon you will disappear
Fading into beautiful light
Cause everybody’s changing
And I don’t feel right

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same


(Everybody’s Changing – Keane)

****

Ini salah satu FF lama gue, yang gue bikin karena terinspirasi dari lagunya Keane dan ngetiknya sambil nangis. FF ini gue kirim ke NBC Bekasi untuk proyek menulisnya yang bertema "Friendship". Dibukukan dengan judul Long Friendship dan hanya dijual di nulisbuku.com