"Gina, namanya Gina." berulang kali Adit mengucapkan nama perempuan cantik yang notabene sepupu dari sahabatnya, Rian.
Malaikat Jahat : Perempuan penyuka warna biru itu bernama Gina, Bro. Sikat, Bro
Malaikat Baik: Tapi menurut informasi dari Rian, Gina sudah memiliki kekasih, Sobat. Mundur aja deh.
Malaikat Jahat: Pacarnya gak satu sekolah ini kan? Udah lah, lanjut aja PDKTnya, Bro.
Malaikat Baik: Jangan Sobat, Jangan pernah jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.
"AAARGGGHHH" teriak Adit dari balik bantal berwarna merah lambang klub sepak bola favoritnya. berusaha mengusir kedua malaikat yang sedang berdebat di atas kepalanya.
Malaikat Jahat: Gina begitu mempesona, Bro. Bibirnya yang sensual. Bodynya, Bro.. Beuh...
Malaikat Baik: Cari yang lain aja, Sobat. Masih banyak kok perempuan cantik yang jomblo.
Malaikat Jahat: Ya tapi belum tentu mereka mau sama bos kita, ini.
"Belum tentu juga Gina mau sama gue" Adit bermonolog.
Malaikat Jahat: Kalo dilihat dari perkenalan tadi, sih, dia tertarik sama lo juga, Bro. Matanya itu loh. Beuhh.
Malaikat Baik: Dia cuma berusaha sopan aja sobat.
"Udah. Udah. Kalian gak usah berantem. Gue udah memutuskan untuk ...." Adit menggantung kalimatnya.
Malaikat Jahat: mau lanjut PDKT-in Gina kan, Bro?
Malaikat Baik: Cuma mau temenan sama Gina aja kan, sobat? Jangan mau jadi orang ketiga ya, sobat.
Adit bangkit dari kasurnya. Beralih dari posisi tiduran ke posisi duduk, kemudian mengepalkan tangan kanannya.
"Gue udah memutuskan untuk temenan aja sama Gina." Adit meyakinkan dirinya lagi.
Malaikat Baik sudah joget-joget mengelilingi si Malaikat Jahat yang terduduk lesu melihat Bosnya menyerah begitu saja.
"Teman yang menyukai secara diam-diam" lanjut Adit dengan suara terbata.
Malaikat Baik dan Malaikat Jahat kemudian pergi meninggalkan Adit sendirian.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Rabu, 17 Juni 2015
Gina dan Adit
Telat. Lagi-lagi dia telat masuk sekolah. Adit masih saja
memperhatikan sosok perempuan yang baru saja melewati Pak Parno, Satpam yang
menjaga gerbang masuk sekolah. Perempuan berambut hitam sebahu dengan sepatu
kets biru itu berhasil membuat Pak Parno membiarkannya masuk ke dalam sekolah.
Yang Adit tahu, Pak Parno termasuk salah satu satpam sekolah yang paling
disiplin.
“Hayo, ngapain ngeliatin keluar
terus?” seseorang menepuk pundak Adit dari belakang. Teman sebangkunya, Rian
mengganggu keasyikan Adit memandang perempuan bersepatu biru tadi.
“Ngagetin aja lo” Adit langsung
membalikkan posisi duduknya yang semula menghadap ke jendela.
“Yan, kok bisa ya cewek itu
berhasil ngelewatin Pak Parno? Satpam killer
gitu. Gak pake sepatu item lagi.” Adit menunjuk ke arah gerbang sekolah.
“Cewek mana?” Rian mendongakkan
kepalanya keluar jendela kelas. Mencari-cari sosok yang dimaksud sahabatnya
itu.
“Gina maksud lo? Itu kan anak
baru. Baru masuk seminggu lalu kayaknya” ujar Rian. “Kelas sebelah tuh. Sepupu
gue” lanjutnya lagi.
***
Lagi-lagi dia melihat ke arahku. Ada yang aneh ya dengan penampilanku
saat ini? Gina membenarkan kemeja putihnya, kemudian rambutnya. Salah tingkah.
Aduh, orangnya ke sini lagi. Sama Rian pula.
“Gin, kenalin. Ini Adit. Temen sebangku
gue.”
Gina hanya menganggukkan wajahnya kemudian senyum. Rian mendekati wajah Gina, kemudian berbisik.
"Adit maksa minta dikenalin sama lo. kayaknya dia suka sama lo deh"
Seketika ada ada kupu-kupu beterbangan dalam perut Gina. memancarkan rona merah di pipi manisnya.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Rabu, 15 April 2015
Pulang
Tangannya masih menggenggam tanganku erat. Disaat aku harus memasuki gerbong kuda besi yang sudah menungguku sejak tadi.
“Kamu benaran gak bisa menunggu sebentar, lagi Sha?”
tanyanya dengan muka mengiba. Sejak tadi ia terus memintaku untuk tetap di
sampingnya. Seakan kami tidak akan pernah bertemu lagi.
“Maaf, tapi keretaku sebentar lagi berangkat. Aku harus
pergi, Ka”. Ujarku sembari melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat. Tampak
kebiruan dibalik kuku tangan beningku. “Ka, bulan depan kan kita akan bertemu lagi.
Kita pasti ketemu lagi, kok. Percaya sama aku.”
Raka hanya nenunduk, dan kedua tangannya masih menguasai
tanganku.
“Tapi…”
“Kenapa, karena mimpimu semalam itu?” tanyaku lagi.
Ah, lagi-lagi Raka
mempercayai mimpi buruknya itu.
“Kamu doakan aku selamat ya, biar bulan depan kita bisa
bertemu lagi. Okey, sayang?” ujarku meyakinnya lagi. Kali ini aku beri kecupan
lembut di keningnya. Pertahanannya runtuh. Tanganku sudah ia bebaskan dari
cengkeramannya.
“Aku pulang dulu ya. Kamu jaga kesehatan.” Kali ini aku
memeluknya. Meyakinkan dia aku akan baik-baik saja.
***
Aku sudah baik-baik saja sekarang, Ka. Aku di sini, memperhatikanmu
dengan seksama. Kau bersimpuh di hadapan gundukan tanah basah dengan taburan
bunga warna-warni. Menangis tersedu.
Maafkan aku tak mendengarkanmu, Ka.
Maaf karena aku tak mempercayai perkataanmu.
Aku pulang. Kembali meninggalkanmu.
Kali ini, untuk seterusnya.
Kecelakaan kereta itu memaksaku untuk meninggalkanmu, Raka.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Dafe
“Dear, seseorang gak akan berarti di muka bumi ini kalau
dilupakan. Tetapi akan lebih berarti lagi manusia itu jika dikenang.”
(Dafe, 19 Juli 2014)
Nisa termenung memahami kalimat yang muncul di layar ponsel
pintarnya itu. Sepenggal kalimat dari seseorang di masa lalunya yang kini entah
di mana, yang ia salin dan captured.
Dafe, begitu Nisa sering
memanggilnya, adalah seseorang yang teramat berarti bagi Nisa, dulu. Semasa SMA.
Tapi, sudah sepuluh tahun lamanya Nisa tak mendengar kabar beritanya. Entah masih
hidup atau sudah meninggal, Nisa tak tahu. Hingga suatu hari Nisa mendapatkan
nomor asing menghubunginya melalui pesan singkat. Dan semua kenangan seakan
bermunculan dengan sendirinya.
Fragmen-fragmen yang sebelumnya bersembunyi dibalik lobus-lobus
otaknya kembali bermunculan. Terutama adegan yang menceritakan tentang dirinya
dan Dafe di masa lalu.
“Aku senang kamu masih ingat sama aku, Nis” ujar Dafe malam
itu.
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, Dafe?” jawabku.
“Aku bukan siapa-siapa, Nis. Tak pantas kau kenang aku. Tapi,
aku berterima kasih kau masih sudi mengingat orang seperti aku ini.” Kemudian
pembicaraan kami terputus.
Dan ternyata itu kali terakhirnya Nisa bisa berbincang lagi
dengan Dafe, lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya, dulu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Rabu, 18 Februari 2015
Sampai Kamu Yakin
“Sepertinya aku harus menjauh sejenak dari kamu, Ka. Aku hanya ingin
meyakinkan diri aku. Bisa kan kamu gak hubungin aku dulu untuk beberapa saat?”
“Berapa lama, Ci?”
“Selamanya, Ka. Bisa?”
Raka masih tak habis pikir dengan
apa yang ada di pikiran Kasih. Perbincangannya dengan Kasih beberapa waktu lalu
masih terngiang jelas dalam benak Raka. Ia harus menjauhi Kasih? Untuk sementara
mungkin ia bisa, itupun ia ragu. Tapi ini, untuk selamanya? Raka tak yakin ia
bisa tanpa Kasih.
***
“Ci, jangan menjauh ya. Aku gak yakin bisa survive
tanpa kamu. Aku tahu kamu gak mau nyakitin dia. Tapi....” Raka berhenti
sejenak. Mengumpulkan oksigen dalam paru-parunya terlebih dahulu sebelum
melanjutkan perkataannya. “Tapi, apa kamu udah yakin sama dia, Ci?”
Kasih menunduk.
Tangan besar Raka menyentuh kedua
pipi Kasih. Hangat.
“Kalau memang kamu masih ragu akan pilihanmu. Aku akan menunggu sampai kamu yakin, Ci” Raka menatap
gadis berambut ikal dihadapannya.
“Aku tahu aku salah pernah ninggalin
kamu. Tapi, aku sadar. Hanya kamu yang bisa nenangin aku. Cuma kamu, Ci” Raka
membawa kedua tangan kasih mendekati bibirnya. Menciumi buku-buku jari Kasih
dengan lembut.
“Aku butuh waktu, Ka.” Hanya itu
yang mampu terucap dari mulut Kasih.
“Aku tunggu, Ci. Sampai kamu
yakin.” Raka tersenyum hangat.
***
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.
Selasa, 07 Oktober 2014
25 Day Blog Challenge, Day 9 : Meaning Behind Your Blog Name
Hai Hai Hai..
Semakin molor aja nih gue posting 25 Day Blog Challenge-nya. Udah mulai padet lagi jadwal pasien dan afternya. Sampe-sampe sekalinya ada waktu buat ngetik, dimanfaatin buat ngetik. Nyicil. Pas postingnya dirapel. Hihihi *gabisa juga padahal*
Oke, bahasan kali ini adalah Arti
di balik nama blog gue..
*mikir*
Awalnya gue kasih nama, eh Judul di blog gue itu “Whatever I Said” dan awalnya si alamat web-nya juga gitu. Sampe akhirnya gue ganti alamat webnya jadi rulachubby.blogspot.com . Ini lebih ke memudahkan gue untuk mengingat sih. Hehe.. Tapi judul di blog masih dengan “Whatever I Said”.
Filosopi dari kata “Whatever I Said” sebenernya simple. Blog ini awalnya sebagai diary gue, curhatan gue, tempat gue numpahin semua uneg-uneg atau apapun yang melintas di kepala dan khayal gue. Makanya kalo dilihat di postingan gue pas awal-awal ngeblog, lebih banyak tulisan yang ngelantur. Apa yang gue pikirin saat itu, itu yang gue tulis. Sampai dengan bentuk tulisan alay pun muncul di awal-awal blog ini exist. Hihihi *piss*. Nah, semakin ke sini, semakin usia bertambah, semakin mulai bisa berpikiran dewasa dan bijaksana *ehem ehem* gue mulai agak sedikit bijak menggunakan blog ini. Sempet vakum memang, tapi setelahnya lebih banyak diisi dengan cerpen atau Flash Fiction dan beberapa review. Ya, meskipun kadang masih suka gue tulis opini atau pendapat gue, dan beberapa curhatan. Campur aduk deh. That’s why, “Whatever I Said”.
Kalo untuk “rulachubby” ini sebenernya udah jadi nickname gue sekaligus username di beberapa akun sosmed. My name is Nurul, but some of my friends call me Rula. And because I have a chubby cheeks, jadi deh gue gabungin aja “rulachubby”. Karena nama Nurul sudah terlalu mainstream *eeaaa*
Udah kejawab kan ya, arti nama
blog gue?
Kalo masih belom, anggap aja udah ya *maksa* heheeh..
Bye!
Kalo masih belom, anggap aja udah ya *maksa* heheeh..
Bye!
Sabtu, 26 Juli 2014
Pelangi Kala Hujan
Pelangi Kala
Hujan
By
Nurul Aria / @rulachubby
Lebaran kali ini kamu pulang ke
rumah kan, nduk? Jangan lupa kenalin calon kamu ke Ibu, ya.
Pertanyaan
Ibu semalam masih terngiang dengan jelas di telinga Nisa. Pembicaraan Ibu dan
anak yang terpisah jarak malam itu membuat Nisa tak dapat tidur dengan nyenyak.
Nisa mencoba memejamkan kedua matanya. Mengenyahkan semua yang ada di benaknya
kini. Rasa takutnya akan sebuah komitmen yang bernama pernikahan itu kembali
menghantuinya. Mimpi buruk itu pun datang lagi menghampirinya.
***
Aku janji, aku akan menikahi
kamu. Setelah tugas aku selesai.
Ucapan
Rasyad yang masih Nisa ingat sebelum ia pergi meninggalkan Nisa, menuju pesawat
yang akan membawanya terbang ke Timur Indonesia. Rasyad, lelaki yang sudah lebih
dari dua tahun menjalin kasih dengannya. Lelaki yang sangat ia harapkan akan
menjadi pendamping hidupnya kelak.
Aku janji. Aku sayang kamu. Cuma
kamu yang aku inginkan untuk jadi pendampingku, ibu dari anak-anakku kelak.
Nisa masih ingat janji Rasyad setahun lalu. Di
Bandara Soekarno – Hatta, saat Nisa mengantar keberangkatan lelaki bertubuh
atletis itu untuk bertugas di pulau seberang.
“Hari
ini Rasyad akan pulang.” Nisa melihat lagi kalender pada agendanya. Terdapat
lingkaran dengan tinta merah pada tanggal 12. Nisa menandainya setelah dapat
kabar terakhir dari Rasyad, tiga bulan yang lalu. Sebelum akhirnya komunikasi
mereka terputus. Nisa akan menjemputnya hari ini. Menjemput lelaki yang sangat
ia rindukan.
Seperti apa rupa kamu sekarang, mas?
Nisa
sudah berada di lobby kedatangan
Bandara Soekarno – Hatta. Hatinya berbunga-bunga. Rindunya seakan tak
tertahankan lagi. Sudah tidak sabar ingin memeluk lelaki terkasihnya tersebut.
Nisa
memperhatikan satu persatu penumpang yang keluar. Mencari sosok yang selama ini
ia rindukan.
Ah, itu dia, Rasyad. Tidak ada
yang berubah darinya.
Nisa
tersenyum gembira setelah melihat lelaki yang selama ini ia rindukan sudah
terlihat di kejauhan. Tapi senyumnya tak bertahan lama. Lelaki tersebut semakin
mendekat ke arahnya. Bersama wanita cantik, yang bergelayut mesra di lengan
Rasyad.
Deg! Siapa wanita itu?
“Nisa..”
ekspresi kaget pun terpancar dari wajah maskulin Rasyad. Nisa mencoba untuk
tersenyum, meskipun ada yang mengganjal di hatinya.
“Kamu…
sendiri?” Rasyad kikuk. Nisa mengangguk. Masih dengan senyum yang dipaksakan.
Wanita
cantik berkulit putih itu masih menggandeng lengan Rasyad mesra. Nisa risih
melihat ada wanita lain bersama lelakinya itu.
Seakan
bisa membaca gelagat Nisa, Rasyad mengenalkan wanita berkulit putih tersebut
padanya.
“I..
ini Luna, istri ku. Luna, ini Nisa, sahabat aku sejak kecil” Wanita cantik
berkulit putih tersebut mengulurkan tangannya kehadapan Nisa.
Wanita cantik ini istrinya? Lalu
aku? Sahabatnya sejak kecil?
Pertahanannya
runtuh, dua bendungan yang berusaha ia tahan di kedua matanya pun tak dapat ia
tahan lagi. Nisa membalikkan tubuhnya, membelakangi Rasyad dan wanita yang
ternyata istrinya. Di kedua pipinya sudah terbentuk dua aliran sungai. Nisa
berjalan secepat mungkin menjauhi Rasyad dan keramaian di lobby bandara tersebut. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang
memandangnya aneh. Juga teriakan Rasyad yang memanggil namanya. Ia hanya ingin
pergi dari situ, secepatnya.
***
Akhir-akhir ini ia sering melamun.
Entah apa yang ia pikirkan.
Aldi
masih memandangi perempuan bergaun merah di hadapannya. Ya, ia sangat senang
memandangi perempuan yang menjadi rekan kerja satu timnya setahun belakangan
ini.
“Kenapa,
Di?” perempuan bergaun merah tersebut heran melihat Aldi memandanginya terus.
“Ada yang salah sama penampilan gue?” Aldi tersenyum melihat ekspresi keheranan
di wajah Nisa.
“Nggak,
kok. Nggak ada yang aneh sama lu. Gue cuma heran aja, cewek secantik lu hobinya
bengong ternyata. Hehe”
“Sial.
hehe” Nisa pun ikut tertawa.
Kamu manis kalau sedang tertawa. Batin Aldi.
***
“Menikah itu ibadah, Nis. Kalo
cuma gara-gara mantan lu itu lu jadi nggak mau nikah, rugi di elu. Dia udah
bahagia sama pasangannya. Nggak usah lu pikirin dia lagi. Mendingan sekarang lu
pikirin diri lu sendiri, dan Nyokap lu. Berapa umur nyokap lu sekarang? Berapa
umur lu sekarang? Come one, Nis! Allah itu nyiptain makhluknya
berpasang-pasangan. Jadi, kalo lu nggak mau nikah, orang yang tadinya ditakdirin
berjodoh sama lu jadi nggak punya pasangan, dong?”
Obrolannya
saat makan malam dengan Aldi tadi kembali terngiang di benaknya.
“Ada
benarnya, sih” Ujar Nisa sambil memandang plafon kamarnya.
***
Sudah
saatnya.
Batin
Aldi ketika melihat Nisa sedang duduk terdiam di kubikel kerjanya.
“Belum
pulang, neng?” tanya Aldi sambil menepuk pundak Nisa.
“Belum,
nih. Males.”
“Bulan
depan udah puasa, lu nggak ada niat ngambil cuti terus pulang ke rumah sebelum
puasa, gitu?” Aldi menyelidik.
“Nggak.
Entar pasti ditanyain calon terus sama nyokap.”
“Yaudah,
gue temenin.”
“Maksudnya?”
Nisa menatap Aldi bingung.
“Ya..
gue temenin lu pulang, ketemu sama Nyokap lu.” Ujar Aldi santai.
“Buat
apaan? Lagian ya, nanti gue juga bakal pulang ke rumah kok pas lebaran.” Jelas
Nisa heran.
“Buat…
ngelamar lu jadi istri gue.” Ujar Aldi serius. Nisa memandang Aldi heran.
“Gue
nggak tau kapan perasaan ini muncul, Nis. Tapi, setiap gue sama lu, gue selalu ngerasa
bahagia. Setiap ngeliat lu sedih, ataupun ngeliat lu diem kayak belakangan ini,
gue ngerasa kehilangan lu. Kehilangan lu yang selalu ceria, lu yang selalu
senyum sama siapa aja. Lu yang selalu jadi diri lu sendiri.”
Nisa
bergeming.
“Gue
nggak bisa janjiin lu apa-apa, sih. Tapi gue cuma mau buat lu bahagia, Nis.
Nggak sedih lagi setiap ditanya kapan nikah sama nyokap lu. Gue… Gue mau
nyembuhin luka lu itu, Nis. Luka yang dibuat sama mantan lu, yang membuat lu
trauma dengan komitmen dan nggak mau nikah. Gue mau nyembuhin luka lu itu, Nis”
Aldi menggenggam tangan Nisa. Mencoba meyakinkan perempuan di hadapannya ini,
bahwa ia serius ingin menjadikan Nisa pendamping hidupnya.
Nisa
tidak dapat berkata apa-apa. Kedua pipinya sudah basah, kini. Ada perasaan aneh
yang menyerang hatinya. Membuat pertahanannya runtuh lagi.
“Nis…”
Aldi mencari-cari jawaban di mata Nisa.
“Kalo
nyokap gue jantungan, terus anfal karena kaget dengan lamaran lu yang tiba-tiba
ini, sebelum Ramadhan pula, lu mau tanggung jawab?” Nisa menatap Aldi sambil
tersenyum. Aldi menatap mata Nisa, mencari keseriusan di sana. Nisa mengangguk,
kemudian tersenyum dan mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipinya.
Tuhan, terima kasih untuk kejutan
kecil menjelang Ramadhan ini.
***
nb: Ini tulisan gue setahun lalu yang gue ikutsertakan dalam #ProyekMenulis nulisbuku.com yang ternyata masuk dan dicetak di Kejutan Sebelum Ramadhan buku 8. Dan ini iseng gue posting di blog.. :D
Kamis, 10 Juli 2014
Sahabat Terbaik
Sahabat Terbaik
You
say you wander your own land
But
when I think about it
I
don’t see how you can
You’re
aching, you’re breaking
And
I can see the pain in your eyes
Says
everybody’s changing
And
I don’t know why
So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in
the game
I try to stay awake and remember my
name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same
(Everybody’s Changing – Keane)
Suara lembut Tom Chaplin, vokalis band Keane,
mengalun dari iPod touch kesayangan Fani. Ditatapnya layar smartphonenya dengan sedih. Masih terpampang
chat terakhir dengan sahabatnya semasa kuliah dulu.
Tanti: Lo yakin dgn keputusan lo ini Fan?
Tanti: Lo bahkan ga menghargai
kita2 yg masih nganggep lo bagian dari kita?
Fani: Maafin gue Tan, tapi gue beneran udah ga nyaman lagi
Tanti: Karena lo ga gabung di grup kah?
Tanti: Atau ada kata2 gue
yang nyinggung lo Fan?
Fani: I don’t know Tan. I just feel…
Tanti: Gue emang ga
tau ada kejadian apa kemaren antara lo sama anak2. Tapi Fan, kita kan temenan udah lama. Kalo emang ada masalah, ya kita bahas
bareng2 lah.
Fani: Jujur Tan, gue ga ngerasa
dihargain banget. Bukannya gue gila hormat, tapi..
Fani: Gue udah lama ngerasa ga nyaman
Tan. Dan gue udah ga sanggup harus pura2 nyaman di hadapan kalian.
Fani: Maafin gue Tan, gue ga bisa berada di tempat yg ga menghargai gue.
Bahkan ga anggep gue ada.
Tanti: Ya sudahlah kalo keputusan lo udah bulet. Gue ga bisa maksa. Kan setiap
orang pasti berubah
Fan. Termasuk kita.
Tanti: Gue cuma bisa bilang, kita sama2 udah dewasa. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah. Selamat jalan kawan.
Dua aliran sungai sudah mengalir membasahi pipi Fani kini. Sedih, sakit, kecewa,
kehilangan. Semua rasa itu campur aduk menggeluti Fani yang saat ini hanya terdiam mematung dalam kamarnya. Keputusannya sudah bulat. Fani sudah kecewa dengan sikap teman-temannya.
Dialihkan pandangannya ke monitor laptop empat belas inci yang sedari tadi dibiarkan menyala, terdapat wajah teman-temannya di sana. Foto-foto yang tersimpan rapi dalam
file khusus di memori laptopnya.
Foto-foto ketika masih kuliah dulu, saat bolos bersama, kemping di
Curug, Jambore, Ospek kampus, hingga foto-foto saat praktek kerja lapangan dulu masih ia simpan.
Dipandanginya satu per satu wajah ke delapan sahabatnya yaitu, Lea, Sari, Tanti, Rina, Riza,
Doni, Bram dan Pandu. Ada kerinduan yang dirasakannya saat menatap foto-foto
lama itu. Fani rindu canda tawa teman-temannya dulu. Rindu kebersamaan mereka
semasa kuliah dulu. Rindu. Ingin rasanya ia kembali lagi ke masa lalu. Masa
di mana semuanya belum berubah seperti sekarang.
Ya, Tanti benar. Keane juga benar. Setiap orang pasti
berubah. Berubah menjadi orang asing.
Berubah menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mengejar mimpi-mimpi
mereka. Dan sepertinya hanya Fani yang enggak berubah.
Everybody’s
changing and I don’t feel the same..
****
“Kenapa murung begitu mukanya?” ujar Selly, Mama Fani, begitu melihat anak gadis satu-satunya itu keluar kamarnya dengan wajah ditekuk.
Fani hanya menggeleng lesu, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruang tamu. Hendak menonton televisi,
namun pikirannya tidak tertuju pada layar plasma di hadapannya.
Bu
Selly menghampiri anaknya yang bersikap aneh hari itu.
“Kamu kenapa sih, Nak? Sejak tadi mama perhatikan kamu hanya cemberut saja di depan TV. Filmnya yang gak ada yang bagus, ya?” ujar Selly pada anaknya
yang masih memasang wajah tak enak itu. Yang ditanya hanya menggeleng pelan dan beberapa saat kemudian wajahnya berubah sedih,
seperti hendak menangis.
“Kalau ada masalah cerita sama mama. Mungkin saja mama bisa bantu” Selly memeluk anak kesayangannya itu dengan lembut.
Dengan segera mengalirlah cerita tentang retaknya hubungan persahabatan Fani dengan teman – teman masa kuliahnya dahulu dari bibir mungil Fani. Selly mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi anaknya itu dengan tisu. Bahkan tak jarang Selly merengkuh anak gadisnya itu ke dalam pelukannya. Seakan ingin menguatkan anaknya
yang sedang rapuh kini.
….
“Menurut mama, yang Fani lakukan ini salah nggak sih,
Ma?” Tanya Fani masih dengan air mata di pipinya.
Selly tersenyum sambil mengelus kepala Fani yang masih berada di dalam pelukannya itu.
“Kalau
mama jadi kamu, mama pasti akan melakukan hal yang sama seperti kamu sekarang. Untuk apa kita berada di tempat yang nggak membuat kita nyaman? Yang ada nanti kita malah ngedumel sendirian, ngeluh terus, jadinya malah nambah dosa, loh.”Selly menjelaskan dengan tenang.
“Sahabat
yang baik adalah sahabat yang bisa mengerti kondisi sahabatnya, mau menerima segala kelebihan dan kekurangan yang sahabatnya miliki. Sahabat
yang baik itu akan selalu berusaha membuat kita nyaman berada di dekatnya. Dan tidak pernah pamrih saat kita meminta bantuan. Bahkan biasanya,
mereka yang akan menawarkan bantuan terlebih dahulu sebelum kita meminta.” Selly menatap anaknya yang masih menangis.
“Apa
yang kamu tangisi, Nak?” Tanya Selly sambil menyeka kedua pipi anaknya yang chubby itu.
“Entahlah,
Ma.” Bahu Fani terangkat ragu.
“Mama
tahu kamu pasti sangat kecewa dengan mereka.
Berat memang melepaskan
orang–orang yang kita sayang. Tapi, jika itu
demi kebaikan mereka dan juga
demi kebaikan kita sendiri, ikhlaskan sajalah.” Selly memberi kekuatan pada anaknya dalam nasihatnya.
“Tapi
Ma, bukannya memutuskan tali silaturahmi itu hal
yang tidak disukai Allah, ya?” Tanya Fani bingung.
Selly menggeleng sambil tersenyum.
“Allah
maha mengetahui segalanya,
Nak” ujar Selly tenang.“Ada pepatah yang mengatakan,
gugur satu tumbuh seribu. Yakinlah, meskipun kamu kehilangan sahabat–sahabat terbaik kamu saat ini…”
ditatapnya lagi wajah anak semata wayangnya itu dengan lembut. “
…tapi kamu pasti akan mendapatkan penggantinya yang lebih baik lagi.”
Fani memandang takjub pada Mamanya. Senyum pun perlahan merekah di bibir mungilnya. Ada
ketenangan yang menghangatkan hatinya kini. Di peluknya satu–satunya wanita yang telah melahirkannya dan juga menjadi sahabatnya selama ini. Hanya mamanya
yang selalu mengerti keadaan Fani.Walaupun kini Fani sudah beranjak dewasa, tapi mamanya tetap menjadi sahabat terbaik bagi Fani.
You’re gone from here
And soon you will disappear
Fading into beautiful light
Cause everybody’s changing
And I don’t feel right
So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in
the game
I try to stay awake and remember my
name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same
(Everybody’s Changing – Keane)
****
Ini salah satu FF lama gue, yang gue bikin karena terinspirasi dari lagunya Keane dan ngetiknya sambil nangis. FF ini gue kirim ke NBC Bekasi untuk proyek menulisnya yang bertema "Friendship". Dibukukan dengan judul Long Friendship dan hanya dijual di nulisbuku.com
Langganan:
Postingan (Atom)
