Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

Malaikat Jahat Vs Malaikat Baik

"Gina, namanya Gina." berulang kali Adit mengucapkan nama perempuan cantik yang notabene sepupu dari sahabatnya, Rian.

Malaikat Jahat : Perempuan penyuka warna biru itu bernama Gina, Bro. Sikat, Bro
Malaikat Baik: Tapi menurut informasi dari Rian, Gina sudah memiliki kekasih, Sobat. Mundur aja deh.
Malaikat Jahat: Pacarnya gak satu sekolah ini kan? Udah lah, lanjut aja PDKTnya, Bro.
Malaikat Baik: Jangan Sobat, Jangan pernah jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. 

"AAARGGGHHH" teriak Adit dari balik bantal berwarna merah lambang klub sepak bola favoritnya. berusaha mengusir kedua malaikat yang sedang berdebat di atas kepalanya.

Malaikat Jahat: Gina begitu mempesona, Bro. Bibirnya yang sensual. Bodynya, Bro.. Beuh... 
Malaikat Baik: Cari yang lain aja, Sobat. Masih banyak kok perempuan cantik yang jomblo. 
Malaikat Jahat: Ya tapi belum tentu mereka mau sama bos kita, ini.

"Belum tentu juga Gina mau sama gue" Adit bermonolog.

Malaikat Jahat: Kalo dilihat dari perkenalan tadi, sih, dia tertarik sama lo juga, Bro. Matanya itu loh. Beuhh.
Malaikat Baik: Dia cuma berusaha sopan aja sobat. 

"Udah. Udah. Kalian gak usah berantem. Gue udah memutuskan untuk ...." Adit menggantung kalimatnya.

Malaikat Jahat: mau lanjut PDKT-in Gina kan, Bro? 
Malaikat Baik: Cuma mau temenan sama Gina aja kan, sobat? Jangan mau jadi orang ketiga ya, sobat.

 Adit bangkit dari kasurnya. Beralih dari posisi tiduran ke posisi duduk, kemudian mengepalkan tangan kanannya.

"Gue udah memutuskan untuk temenan aja sama Gina." Adit meyakinkan dirinya lagi.

Malaikat Baik sudah joget-joget mengelilingi si Malaikat Jahat yang terduduk lesu melihat Bosnya menyerah begitu saja.

"Teman yang menyukai secara diam-diam" lanjut Adit dengan suara terbata.

Malaikat Baik dan Malaikat Jahat kemudian pergi meninggalkan Adit sendirian.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

 

Gina dan Adit

Telat. Lagi-lagi dia telat masuk sekolah. Adit masih saja memperhatikan sosok perempuan yang baru saja melewati Pak Parno, Satpam yang menjaga gerbang masuk sekolah. Perempuan berambut hitam sebahu dengan sepatu kets biru itu berhasil membuat Pak Parno membiarkannya masuk ke dalam sekolah. Yang Adit tahu, Pak Parno termasuk salah satu satpam sekolah yang paling disiplin.   

“Hayo, ngapain ngeliatin keluar terus?” seseorang menepuk pundak Adit dari belakang. Teman sebangkunya, Rian mengganggu keasyikan Adit memandang perempuan bersepatu biru tadi.
“Ngagetin aja lo” Adit langsung membalikkan posisi duduknya yang semula menghadap ke jendela.
“Yan, kok bisa ya cewek itu berhasil ngelewatin Pak Parno? Satpam killer gitu. Gak pake sepatu item lagi.” Adit menunjuk ke arah gerbang sekolah.
“Cewek mana?” Rian mendongakkan kepalanya keluar jendela kelas. Mencari-cari sosok yang dimaksud sahabatnya itu.
“Gina maksud lo? Itu kan anak baru. Baru masuk seminggu lalu kayaknya” ujar Rian. “Kelas sebelah tuh. Sepupu gue” lanjutnya lagi.

***
Lagi-lagi dia melihat ke arahku. Ada yang aneh ya dengan penampilanku saat ini? Gina membenarkan kemeja putihnya, kemudian rambutnya. Salah tingkah.

Aduh, orangnya ke sini lagi. Sama Rian pula.  


“Gin, kenalin. Ini Adit. Temen sebangku gue.”

Gina hanya menganggukkan wajahnya kemudian senyum. Rian mendekati wajah Gina, kemudian berbisik. 

"Adit maksa minta dikenalin sama lo. kayaknya dia suka sama lo deh" 

Seketika ada ada kupu-kupu beterbangan dalam perut Gina. memancarkan rona merah di pipi manisnya.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Rabu, 15 April 2015

Pulang

Tangannya masih menggenggam tanganku erat. Disaat aku harus memasuki gerbong kuda besi yang sudah menungguku sejak tadi.

“Kamu benaran gak bisa menunggu sebentar, lagi Sha?” tanyanya dengan muka mengiba. Sejak tadi ia terus memintaku untuk tetap di sampingnya. Seakan kami tidak akan pernah bertemu lagi.
“Maaf, tapi keretaku sebentar lagi berangkat. Aku harus pergi, Ka”. Ujarku sembari melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat. Tampak kebiruan dibalik kuku tangan beningku. “Ka, bulan depan kan kita akan bertemu lagi. Kita pasti ketemu lagi, kok. Percaya sama aku.”
Raka hanya nenunduk, dan kedua tangannya masih menguasai tanganku.
“Tapi…”
“Kenapa, karena mimpimu semalam itu?” tanyaku lagi.

Ah, lagi-lagi Raka mempercayai mimpi buruknya itu.

“Kamu doakan aku selamat ya, biar bulan depan kita bisa bertemu lagi. Okey, sayang?” ujarku meyakinnya lagi. Kali ini aku beri kecupan lembut di keningnya. Pertahanannya runtuh. Tanganku sudah ia bebaskan dari cengkeramannya.
“Aku pulang dulu ya. Kamu jaga kesehatan.” Kali ini aku memeluknya. Meyakinkan dia aku akan baik-baik saja.

***

Aku sudah baik-baik saja sekarang, Ka. Aku di sini, memperhatikanmu dengan seksama. Kau bersimpuh di hadapan gundukan tanah basah dengan taburan bunga warna-warni. Menangis tersedu.
Maafkan aku tak mendengarkanmu, Ka.
Maaf karena aku tak mempercayai perkataanmu.
Aku pulang. Kembali meninggalkanmu.

Kali ini, untuk seterusnya. 

Kecelakaan kereta itu memaksaku untuk meninggalkanmu, Raka. 


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku


Dafe

“Dear, seseorang gak akan berarti di muka bumi ini kalau dilupakan. Tetapi akan lebih berarti lagi manusia itu jika dikenang.”
(Dafe, 19 Juli 2014)

Nisa termenung memahami kalimat yang muncul di layar ponsel pintarnya itu. Sepenggal kalimat dari seseorang di masa lalunya yang kini entah di mana, yang ia salin dan captured.
Dafe, begitu Nisa  sering memanggilnya, adalah seseorang yang teramat berarti bagi Nisa, dulu. Semasa SMA. Tapi, sudah sepuluh tahun lamanya Nisa tak mendengar kabar beritanya. Entah masih hidup atau sudah meninggal, Nisa tak tahu. Hingga suatu hari Nisa mendapatkan nomor asing menghubunginya melalui pesan singkat. Dan semua kenangan seakan bermunculan dengan sendirinya.

Fragmen-fragmen yang sebelumnya bersembunyi dibalik lobus-lobus otaknya kembali bermunculan. Terutama adegan yang menceritakan tentang dirinya dan Dafe di masa lalu.

“Aku senang kamu masih ingat sama aku, Nis” ujar Dafe malam itu.
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, Dafe?” jawabku.
“Aku bukan siapa-siapa, Nis. Tak pantas kau kenang aku. Tapi, aku berterima kasih kau masih sudi mengingat orang seperti aku ini.” Kemudian pembicaraan kami terputus.


Dan ternyata itu kali terakhirnya Nisa bisa berbincang lagi dengan Dafe, lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya, dulu.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Rabu, 18 Februari 2015

Sampai Kamu Yakin

“Sepertinya aku harus menjauh sejenak dari kamu, Ka. Aku hanya ingin meyakinkan diri aku. Bisa kan kamu gak hubungin aku dulu untuk beberapa saat?”
“Berapa lama, Ci?”
“Selamanya, Ka. Bisa?”

Raka masih tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Kasih. Perbincangannya dengan Kasih beberapa waktu lalu masih terngiang jelas dalam benak Raka. Ia harus menjauhi Kasih? Untuk sementara mungkin ia bisa, itupun ia ragu. Tapi ini, untuk selamanya? Raka tak yakin ia bisa tanpa Kasih.

***

“Ci, jangan menjauh ya. Aku gak yakin bisa survive tanpa kamu. Aku tahu kamu gak mau nyakitin dia. Tapi....” Raka berhenti sejenak. Mengumpulkan oksigen dalam paru-parunya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkataannya. “Tapi, apa kamu udah yakin sama dia, Ci?”

Kasih menunduk.
Tangan besar Raka menyentuh kedua pipi Kasih. Hangat.

“Kalau memang kamu masih ragu akan pilihanmu. Aku akan menunggu sampai kamu yakin, Ci” Raka menatap gadis berambut ikal dihadapannya.

“Aku tahu aku salah pernah ninggalin kamu. Tapi, aku sadar. Hanya kamu yang bisa nenangin aku. Cuma kamu, Ci” Raka membawa kedua tangan kasih mendekati bibirnya. Menciumi buku-buku jari Kasih dengan lembut.

“Aku butuh waktu, Ka.” Hanya itu yang mampu terucap dari mulut Kasih.


“Aku tunggu, Ci. Sampai kamu yakin.” Raka tersenyum hangat.

*** 


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.

Selasa, 07 Oktober 2014

25 Day Blog Challenge, Day 9 : Meaning Behind Your Blog Name



Hai Hai Hai..

Semakin molor aja nih gue posting 25 Day Blog Challenge-nya. Udah mulai padet lagi jadwal pasien dan afternya. Sampe-sampe sekalinya ada waktu buat ngetik, dimanfaatin buat ngetik. Nyicil. Pas postingnya dirapel. Hihihi *gabisa juga padahal*

Oke, bahasan kali ini adalah Arti di balik nama blog gue..

*mikir*

Awalnya gue kasih nama, eh Judul di blog gue itu “Whatever I Said” dan awalnya si alamat web-nya juga gitu. Sampe akhirnya gue ganti alamat webnya jadi rulachubby.blogspot.com . Ini lebih ke memudahkan gue untuk mengingat sih. Hehe.. Tapi judul di blog masih dengan “Whatever I Said”.

Filosopi dari kata “Whatever I Said” sebenernya simple. Blog ini awalnya sebagai diary gue, curhatan gue, tempat gue numpahin semua uneg-uneg atau apapun yang melintas di kepala dan khayal gue. Makanya kalo dilihat di postingan gue pas awal-awal ngeblog, lebih banyak tulisan yang ngelantur. Apa yang gue pikirin saat itu, itu yang gue tulis. Sampai dengan bentuk tulisan alay pun muncul di awal-awal blog ini exist. Hihihi *piss*. Nah, semakin ke sini, semakin usia bertambah, semakin mulai bisa berpikiran dewasa dan bijaksana *ehem ehem* gue mulai agak sedikit bijak menggunakan blog ini. Sempet vakum memang, tapi setelahnya lebih banyak diisi dengan cerpen atau Flash Fiction dan beberapa review. Ya, meskipun kadang masih suka gue tulis opini atau pendapat gue, dan beberapa curhatan. Campur aduk deh. That’s why, “Whatever I Said”.

Kalo untuk “rulachubby” ini sebenernya udah jadi nickname gue sekaligus username di beberapa akun sosmed. My name is Nurul, but some of my friends call me Rula. And because I have a chubby cheeks, jadi deh gue gabungin aja “rulachubby”. Karena nama Nurul sudah terlalu mainstream *eeaaa*

Udah kejawab kan ya, arti nama blog gue? 

Kalo masih belom, anggap aja udah ya *maksa* heheeh..

Bye!

Sabtu, 26 Juli 2014

Pelangi Kala Hujan

Pelangi Kala Hujan
By Nurul Aria / @rulachubby


Lebaran kali ini kamu pulang ke rumah kan, nduk? Jangan lupa kenalin calon kamu ke Ibu, ya.

Pertanyaan Ibu semalam masih terngiang dengan jelas di telinga Nisa. Pembicaraan Ibu dan anak yang terpisah jarak malam itu membuat Nisa tak dapat tidur dengan nyenyak. Nisa mencoba memejamkan kedua matanya. Mengenyahkan semua yang ada di benaknya kini. Rasa takutnya akan sebuah komitmen yang bernama pernikahan itu kembali menghantuinya. Mimpi buruk itu pun datang lagi menghampirinya.

***

Aku janji, aku akan menikahi kamu. Setelah tugas aku selesai.

Ucapan Rasyad yang masih Nisa ingat sebelum ia pergi meninggalkan Nisa, menuju pesawat yang akan membawanya terbang ke Timur Indonesia. Rasyad, lelaki yang sudah lebih dari dua tahun menjalin kasih dengannya. Lelaki yang sangat ia harapkan akan menjadi pendamping hidupnya kelak. 

Aku janji. Aku sayang kamu. Cuma kamu yang aku inginkan untuk jadi pendampingku, ibu dari anak-anakku kelak.

 Nisa masih ingat janji Rasyad setahun lalu. Di Bandara Soekarno – Hatta, saat Nisa mengantar keberangkatan lelaki bertubuh atletis itu untuk bertugas di pulau seberang.

“Hari ini Rasyad akan pulang.” Nisa melihat lagi kalender pada agendanya. Terdapat lingkaran dengan tinta merah pada tanggal 12. Nisa menandainya setelah dapat kabar terakhir dari Rasyad, tiga bulan yang lalu. Sebelum akhirnya komunikasi mereka terputus. Nisa akan menjemputnya hari ini. Menjemput lelaki yang sangat ia rindukan.

Seperti apa rupa kamu sekarang, mas?

Nisa sudah berada di lobby kedatangan Bandara Soekarno – Hatta. Hatinya berbunga-bunga. Rindunya seakan tak tertahankan lagi. Sudah tidak sabar ingin memeluk lelaki terkasihnya tersebut.

Nisa memperhatikan satu persatu penumpang yang keluar. Mencari sosok yang selama ini ia rindukan.

Ah, itu dia, Rasyad. Tidak ada yang berubah darinya.

Nisa tersenyum gembira setelah melihat lelaki yang selama ini ia rindukan sudah terlihat di kejauhan. Tapi senyumnya tak bertahan lama. Lelaki tersebut semakin mendekat ke arahnya. Bersama wanita cantik, yang bergelayut mesra di lengan Rasyad.

Deg! Siapa wanita itu?

“Nisa..” ekspresi kaget pun terpancar dari wajah maskulin Rasyad. Nisa mencoba untuk tersenyum, meskipun ada yang mengganjal di hatinya.
“Kamu… sendiri?” Rasyad kikuk. Nisa mengangguk. Masih dengan senyum yang dipaksakan.

Wanita cantik berkulit putih itu masih menggandeng lengan Rasyad mesra. Nisa risih melihat ada wanita lain bersama lelakinya itu.

Seakan bisa membaca gelagat Nisa, Rasyad mengenalkan wanita berkulit putih tersebut padanya.
“I.. ini Luna, istri ku. Luna, ini Nisa, sahabat aku sejak kecil” Wanita cantik berkulit putih tersebut mengulurkan tangannya kehadapan Nisa.

Wanita cantik ini istrinya? Lalu aku? Sahabatnya sejak kecil?

Pertahanannya runtuh, dua bendungan yang berusaha ia tahan di kedua matanya pun tak dapat ia tahan lagi. Nisa membalikkan tubuhnya, membelakangi Rasyad dan wanita yang ternyata istrinya. Di kedua pipinya sudah terbentuk dua aliran sungai. Nisa berjalan secepat mungkin menjauhi Rasyad dan keramaian di lobby bandara tersebut. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang memandangnya aneh. Juga teriakan Rasyad yang memanggil namanya. Ia hanya ingin pergi dari situ, secepatnya.

***

Akhir-akhir ini ia sering melamun. Entah apa yang ia pikirkan.

Aldi masih memandangi perempuan bergaun merah di hadapannya. Ya, ia sangat senang memandangi perempuan yang menjadi rekan kerja satu timnya setahun belakangan ini.

“Kenapa, Di?” perempuan bergaun merah tersebut heran melihat Aldi memandanginya terus. “Ada yang salah sama penampilan gue?” Aldi tersenyum melihat ekspresi keheranan di wajah Nisa.

“Nggak, kok. Nggak ada yang aneh sama lu. Gue cuma heran aja, cewek secantik lu hobinya bengong ternyata. Hehe”

“Sial. hehe” Nisa pun ikut tertawa.

Kamu manis kalau sedang tertawa.  Batin Aldi.

***

“Menikah itu ibadah, Nis. Kalo cuma gara-gara mantan lu itu lu jadi nggak mau nikah, rugi di elu. Dia udah bahagia sama pasangannya. Nggak usah lu pikirin dia lagi. Mendingan sekarang lu pikirin diri lu sendiri, dan Nyokap lu. Berapa umur nyokap lu sekarang? Berapa umur lu sekarang? Come one, Nis! Allah itu nyiptain makhluknya berpasang-pasangan. Jadi, kalo lu nggak mau nikah, orang yang tadinya ditakdirin berjodoh sama lu jadi nggak punya pasangan, dong?” 

Obrolannya saat makan malam dengan Aldi tadi kembali terngiang di benaknya.

“Ada benarnya, sih” Ujar Nisa sambil memandang plafon kamarnya.

***

 Sudah saatnya.
Batin Aldi ketika melihat Nisa sedang duduk terdiam di kubikel kerjanya.

“Belum pulang, neng?” tanya Aldi sambil menepuk pundak Nisa.
“Belum, nih. Males.”
“Bulan depan udah puasa, lu nggak ada niat ngambil cuti terus pulang ke rumah sebelum puasa, gitu?” Aldi menyelidik.
“Nggak. Entar pasti ditanyain calon terus sama nyokap.”
“Yaudah, gue temenin.”
“Maksudnya?” Nisa menatap Aldi bingung.
“Ya.. gue temenin lu pulang, ketemu sama Nyokap lu.” Ujar Aldi santai.
“Buat apaan? Lagian ya, nanti gue juga bakal pulang ke rumah kok pas lebaran.” Jelas Nisa heran.
“Buat… ngelamar lu jadi istri gue.” Ujar Aldi serius. Nisa memandang Aldi heran.
“Gue nggak tau kapan perasaan ini muncul, Nis. Tapi, setiap gue sama lu, gue selalu ngerasa bahagia. Setiap ngeliat lu sedih, ataupun ngeliat lu diem kayak belakangan ini, gue ngerasa kehilangan lu. Kehilangan lu yang selalu ceria, lu yang selalu senyum sama siapa aja. Lu yang selalu jadi diri lu sendiri.”

Nisa bergeming.

“Gue nggak bisa janjiin lu apa-apa, sih. Tapi gue cuma mau buat lu bahagia, Nis. Nggak sedih lagi setiap ditanya kapan nikah sama nyokap lu. Gue… Gue mau nyembuhin luka lu itu, Nis. Luka yang dibuat sama mantan lu, yang membuat lu trauma dengan komitmen dan nggak mau nikah. Gue mau nyembuhin luka lu itu, Nis” Aldi menggenggam tangan Nisa. Mencoba meyakinkan perempuan di hadapannya ini, bahwa ia serius ingin menjadikan Nisa pendamping hidupnya.

Nisa tidak dapat berkata apa-apa. Kedua pipinya sudah basah, kini. Ada perasaan aneh yang menyerang hatinya. Membuat pertahanannya runtuh lagi.

“Nis…” Aldi mencari-cari jawaban di mata Nisa.

“Kalo nyokap gue jantungan, terus anfal karena kaget dengan lamaran lu yang tiba-tiba ini, sebelum Ramadhan pula, lu mau tanggung jawab?” Nisa menatap Aldi sambil tersenyum. Aldi menatap mata Nisa, mencari keseriusan di sana. Nisa mengangguk, kemudian tersenyum dan mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipinya.

Tuhan, terima kasih untuk kejutan kecil menjelang Ramadhan ini. 

***


nb: Ini tulisan gue setahun lalu yang gue ikutsertakan dalam #ProyekMenulis nulisbuku.com yang ternyata masuk dan dicetak di Kejutan Sebelum Ramadhan buku 8. Dan ini iseng gue posting di blog.. :D

Kamis, 10 Juli 2014

Sahabat Terbaik

Sahabat Terbaik  


You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

(Everybody’s Changing – Keane)

Suara lembut Tom Chaplin, vokalis band Keane, mengalun dari iPod touch kesayangan Fani. Ditatapnya layar smartphonenya dengan sedih. Masih terpampang chat terakhir dengan sahabatnya semasa kuliah dulu.

Tanti: Lo yakin dgn keputusan lo ini Fan?
Tanti: Lo bahkan ga menghargai kita2 yg masih nganggep lo bagian dari kita?
Fani: Maafin gue Tan, tapi gue beneran udah ga nyaman lagi
Tanti: Karena lo ga gabung di grup kah?
Tanti: Atau ada kata2  gue yang nyinggung lo Fan?
Fani: I don’t know Tan. I just feel…
Tanti: Gue emang ga tau ada kejadian apa kemaren antara lo sama anak2. Tapi Fan, kita kan temenan udah lama. Kalo emang ada masalah, ya kita bahas bareng2 lah.
Fani: Jujur Tan, gue ga ngerasa dihargain banget. Bukannya gue gila hormat, tapi..
Fani: Gue udah lama ngerasa ga nyaman Tan. Dan gue udah ga sanggup harus pura2 nyaman di hadapan kalian.
Fani: Maafin gue Tan, gue ga bisa berada di tempat yg ga menghargai gue. Bahkan ga anggep gue ada.
Tanti: Ya sudahlah kalo keputusan lo udah bulet. Gue ga bisa maksa. Kan setiap orang pasti berubah Fan. Termasuk kita.
Tanti: Gue cuma bisa bilang, kita sama2 udah dewasa. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah. Selamat jalan kawan.

Dua aliran sungai sudah mengalir membasahi pipi Fani kini. Sedih, sakit, kecewa, kehilangan. Semua rasa itu campur aduk menggeluti Fani yang saat ini hanya terdiam mematung dalam kamarnya. Keputusannya sudah bulat. Fani sudah kecewa dengan sikap teman-temannya.
Dialihkan pandangannya ke monitor laptop empat belas inci yang sedari tadi dibiarkan menyala, terdapat wajah teman-temannya di sana. Foto-foto yang tersimpan rapi dalam file khusus di memori laptopnya. Foto-foto ketika masih kuliah dulu, saat bolos bersama, kemping di Curug, Jambore, Ospek kampus, hingga foto-foto saat praktek kerja lapangan dulu masih ia simpan.     
Dipandanginya satu per satu wajah ke delapan sahabatnya yaitu, Lea, Sari, Tanti, Rina, Riza, Doni, Bram dan Pandu. Ada kerinduan yang dirasakannya saat menatap foto-foto lama itu. Fani rindu canda tawa teman-temannya dulu. Rindu kebersamaan mereka semasa kuliah dulu. Rindu. Ingin rasanya ia kembali lagi ke masa lalu. Masa di mana semuanya belum berubah seperti sekarang.
Ya, Tanti benar. Keane juga benar. Setiap orang pasti berubah. Berubah menjadi orang asing.  Berubah menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mengejar mimpi-mimpi mereka. Dan sepertinya hanya Fani yang enggak berubah.

Everybody’s changing and I don’t feel the same..

****

“Kenapa murung begitu mukanya?” ujar Selly, Mama Fani, begitu melihat anak gadis satu-satunya itu keluar kamarnya dengan wajah ditekuk.
Fani hanya menggeleng lesu, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruang tamu. Hendak menonton televisi, namun pikirannya tidak tertuju pada layar plasma di hadapannya.
Bu Selly menghampiri anaknya yang bersikap aneh hari itu.
“Kamu kenapa sih, Nak? Sejak tadi mama perhatikan kamu hanya cemberut saja di depan TV. Filmnya yang gak ada yang bagus, ya?” ujar Selly pada anaknya yang masih memasang wajah tak enak itu. Yang ditanya hanya menggeleng pelan dan beberapa saat kemudian wajahnya berubah sedih, seperti hendak menangis.
“Kalau ada masalah cerita sama mama. Mungkin saja mama bisa bantu” Selly memeluk anak kesayangannya itu dengan lembut. 
Dengan segera mengalirlah cerita tentang retaknya hubungan persahabatan Fani dengan teman – teman masa kuliahnya dahulu dari bibir mungil Fani. Selly mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi anaknya itu dengan tisu. Bahkan tak jarang Selly merengkuh anak gadisnya itu ke dalam pelukannya. Seakan ingin menguatkan anaknya yang sedang rapuh kini.
….
“Menurut  mama, yang Fani lakukan ini salah nggak sih, Ma?” Tanya Fani masih dengan air mata di pipinya.
Selly tersenyum sambil mengelus kepala Fani yang masih berada di dalam pelukannya itu.
“Kalau mama jadi kamu, mama pasti akan melakukan hal yang sama seperti kamu sekarang. Untuk apa kita berada di tempat yang nggak membuat kita nyaman? Yang ada nanti kita malah ngedumel sendirian, ngeluh terus, jadinya malah nambah dosa, loh.”Selly menjelaskan dengan tenang.
“Sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa mengerti kondisi sahabatnya, mau menerima segala kelebihan dan kekurangan yang sahabatnya miliki. Sahabat yang baik itu akan selalu berusaha membuat kita nyaman berada di dekatnya. Dan tidak pernah pamrih saat kita meminta bantuan. Bahkan biasanya, mereka yang akan menawarkan bantuan terlebih dahulu sebelum kita meminta.” Selly menatap anaknya yang masih menangis.
“Apa yang kamu tangisi, Nak?” Tanya Selly sambil menyeka kedua pipi anaknya yang chubby itu.
“Entahlah, Ma.” Bahu Fani terangkat ragu.
“Mama tahu kamu pasti sangat kecewa dengan mereka. Berat memang melepaskan orang–orang yang kita sayang. Tapi, jika itu demi kebaikan mereka dan juga demi kebaikan kita sendiri, ikhlaskan sajalah.” Selly memberi kekuatan pada anaknya dalam nasihatnya.
“Tapi Ma, bukannya memutuskan tali silaturahmi itu hal yang tidak disukai Allah, ya?” Tanya Fani bingung.
Selly menggeleng sambil tersenyum.
“Allah maha mengetahui segalanya, Nak” ujar Selly tenang.“Ada pepatah yang mengatakan, gugur satu tumbuh seribu. Yakinlah, meskipun kamu kehilangan sahabat–sahabat terbaik kamu saat ini…” ditatapnya lagi wajah anak semata wayangnya itu dengan lembut. “ …tapi kamu pasti akan mendapatkan penggantinya yang lebih baik lagi.”
Fani memandang takjub pada Mamanya. Senyum pun perlahan merekah di bibir mungilnya. Ada ketenangan yang menghangatkan hatinya kini. Di peluknya satu–satunya wanita yang telah melahirkannya dan juga menjadi sahabatnya selama ini. Hanya mamanya yang selalu mengerti keadaan Fani.Walaupun kini Fani sudah beranjak dewasa, tapi mamanya tetap menjadi sahabat terbaik bagi Fani.

You’re gone from here
And soon you will disappear
Fading into beautiful light
Cause everybody’s changing
And I don’t feel right

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same


(Everybody’s Changing – Keane)

****

Ini salah satu FF lama gue, yang gue bikin karena terinspirasi dari lagunya Keane dan ngetiknya sambil nangis. FF ini gue kirim ke NBC Bekasi untuk proyek menulisnya yang bertema "Friendship". Dibukukan dengan judul Long Friendship dan hanya dijual di nulisbuku.com