Bau tanah basah yang baru disiram oleh hujan setelah seharian panas terik selalu menjadi kesukaan Kayla. Seperti saat ini, ia pejamkan kedua matanya. Diresapinya aromatherapy kesayangannya ini.
"Selalu seperti ini ekspresinya" Ridho terheran dengan sahabat kecilnya yang masih saja bersikap sama sejak lima tahun lalu.
"Enak tau, aromanya, dho. Coba deh" Kayla masih belum membuka kedua matanya.
"Enak apanya. baunya aneh gitu"
"Makanya sambil diresapi. Sambil merem coba ngehirupnya" kali ini Kayla tersenyum. Masih dengan memejamkan kedua matanya.
Pemandangan yang selalu Ridho nantikan sebenarnya. Salah satu hal yang Ridho suka saat hujan, bersama Kayla. Memandangi bidadari di sampingnya secara diam-diam.
"Kawaidesu" gumam Ridho.
"Artinya apa, Dho?" Kayla membuka matanya dan berpaling menatap lelaki di sampingnya itu.
"Artinya gue ngantuk" Ridho bangkit dari duduknya.
"Udah reda nih, La. Jalan lagi, yuk" Ridho berjalan meninggalkan Kayla di halte tempat mereka berteduh dari hujan gerimis tadi. Meraba dada kirinya yang berdetak semakin tak karuan setiap Kayla memandangnya seperti tadi.
Entah sampai kapan ia harus menyembunyikan perasaannya ini. Terlalu pengecut baginya untuk menyatakan perasaannya pada gadis bermata sendu penyuka petrichor itu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tampilkan postingan dengan label #FF2in1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #FF2in1. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 September 2015
Semburat Jingga Rania
Bayangan hitam menghiasi
rerumputan di hadapannya sore ini. Esta mengamati siluet hitam yang semakin
memanjang dihadapannya.
Matahari sudah semakin
rendah rupanya.
Diarahkannya mata almondnya
menghadap langit. Menikmati gradasi warna senja kali ini. Semburat jingga
berpadu dengan merah muda dan sedikit warna violet. Mengingatkan dia akan
permen gula kapas kesukaan Rania.
Rania...
Rania, gadis kecil berpipi bulat yang
semakin bulat ketika ia memasukkan permen gula kapasnya sebanyak mungkin ke
dalam mulutnya.
Rania yang hampir selalu meminta
ditemani olehnya untuk berjalan-jalan sore. Hanya untuk melihat senja.
Iya, Rania sangat menyukai senja.
“Bunda... Bundaa, kenapa
langitnya berwarna seperti gula kapas, bunda?” tanya Rania waktu itu.
Karena mataharinya mau bobok
cantik dulu, sayang” Jawab Esta Asal.
“Oh, gitu ya, Bun. Kalo Rania mau
bobok cantik juga, langit bisa jadi kayakk permen kapas juga gak ya?” yang
hanya dijawab Esta dengan senyuman.
Rania kesayangan Bunda.
“Langit hari ini berwarna seperti
kapas lagi, Sayang” Esta memandang gundukan tanah yang masih basah di
hadapannya. Dibelainya lagi nisan kayu yang bertuliskan nama gadis kecilnya.
Esta tak mampu lagi menahan pilu yang sejak tadi menusuk-nusuk relung hatinya.
“Bun, Kita pulang, ya. Rania
sudah tidur tenang sekarang.” Raka berusaha membantu Esta untuk bangkit.
Kemudian dipeluknya salah satu wanita terkasihnya itu.
“Ikhlasin, Bun. She’s in heaven
now.” Gumpalan hangat yang sejak tadi membendung di pelupuk mata Raka pun
akhirnya tumpah.
Flash Fiction ini ditulis untuk
mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di facebook dan Twitter @nulisbuku
Rabu, 17 Juni 2015
Malaikat Jahat Vs Malaikat Baik
"Gina, namanya Gina." berulang kali Adit mengucapkan nama perempuan cantik yang notabene sepupu dari sahabatnya, Rian.
Malaikat Jahat : Perempuan penyuka warna biru itu bernama Gina, Bro. Sikat, Bro
Malaikat Baik: Tapi menurut informasi dari Rian, Gina sudah memiliki kekasih, Sobat. Mundur aja deh.
Malaikat Jahat: Pacarnya gak satu sekolah ini kan? Udah lah, lanjut aja PDKTnya, Bro.
Malaikat Baik: Jangan Sobat, Jangan pernah jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.
"AAARGGGHHH" teriak Adit dari balik bantal berwarna merah lambang klub sepak bola favoritnya. berusaha mengusir kedua malaikat yang sedang berdebat di atas kepalanya.
Malaikat Jahat: Gina begitu mempesona, Bro. Bibirnya yang sensual. Bodynya, Bro.. Beuh...
Malaikat Baik: Cari yang lain aja, Sobat. Masih banyak kok perempuan cantik yang jomblo.
Malaikat Jahat: Ya tapi belum tentu mereka mau sama bos kita, ini.
"Belum tentu juga Gina mau sama gue" Adit bermonolog.
Malaikat Jahat: Kalo dilihat dari perkenalan tadi, sih, dia tertarik sama lo juga, Bro. Matanya itu loh. Beuhh.
Malaikat Baik: Dia cuma berusaha sopan aja sobat.
"Udah. Udah. Kalian gak usah berantem. Gue udah memutuskan untuk ...." Adit menggantung kalimatnya.
Malaikat Jahat: mau lanjut PDKT-in Gina kan, Bro?
Malaikat Baik: Cuma mau temenan sama Gina aja kan, sobat? Jangan mau jadi orang ketiga ya, sobat.
Adit bangkit dari kasurnya. Beralih dari posisi tiduran ke posisi duduk, kemudian mengepalkan tangan kanannya.
"Gue udah memutuskan untuk temenan aja sama Gina." Adit meyakinkan dirinya lagi.
Malaikat Baik sudah joget-joget mengelilingi si Malaikat Jahat yang terduduk lesu melihat Bosnya menyerah begitu saja.
"Teman yang menyukai secara diam-diam" lanjut Adit dengan suara terbata.
Malaikat Baik dan Malaikat Jahat kemudian pergi meninggalkan Adit sendirian.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Malaikat Jahat : Perempuan penyuka warna biru itu bernama Gina, Bro. Sikat, Bro
Malaikat Baik: Tapi menurut informasi dari Rian, Gina sudah memiliki kekasih, Sobat. Mundur aja deh.
Malaikat Jahat: Pacarnya gak satu sekolah ini kan? Udah lah, lanjut aja PDKTnya, Bro.
Malaikat Baik: Jangan Sobat, Jangan pernah jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.
"AAARGGGHHH" teriak Adit dari balik bantal berwarna merah lambang klub sepak bola favoritnya. berusaha mengusir kedua malaikat yang sedang berdebat di atas kepalanya.
Malaikat Jahat: Gina begitu mempesona, Bro. Bibirnya yang sensual. Bodynya, Bro.. Beuh...
Malaikat Baik: Cari yang lain aja, Sobat. Masih banyak kok perempuan cantik yang jomblo.
Malaikat Jahat: Ya tapi belum tentu mereka mau sama bos kita, ini.
"Belum tentu juga Gina mau sama gue" Adit bermonolog.
Malaikat Jahat: Kalo dilihat dari perkenalan tadi, sih, dia tertarik sama lo juga, Bro. Matanya itu loh. Beuhh.
Malaikat Baik: Dia cuma berusaha sopan aja sobat.
"Udah. Udah. Kalian gak usah berantem. Gue udah memutuskan untuk ...." Adit menggantung kalimatnya.
Malaikat Jahat: mau lanjut PDKT-in Gina kan, Bro?
Malaikat Baik: Cuma mau temenan sama Gina aja kan, sobat? Jangan mau jadi orang ketiga ya, sobat.
Adit bangkit dari kasurnya. Beralih dari posisi tiduran ke posisi duduk, kemudian mengepalkan tangan kanannya.
"Gue udah memutuskan untuk temenan aja sama Gina." Adit meyakinkan dirinya lagi.
Malaikat Baik sudah joget-joget mengelilingi si Malaikat Jahat yang terduduk lesu melihat Bosnya menyerah begitu saja.
"Teman yang menyukai secara diam-diam" lanjut Adit dengan suara terbata.
Malaikat Baik dan Malaikat Jahat kemudian pergi meninggalkan Adit sendirian.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Gina dan Adit
Telat. Lagi-lagi dia telat masuk sekolah. Adit masih saja
memperhatikan sosok perempuan yang baru saja melewati Pak Parno, Satpam yang
menjaga gerbang masuk sekolah. Perempuan berambut hitam sebahu dengan sepatu
kets biru itu berhasil membuat Pak Parno membiarkannya masuk ke dalam sekolah.
Yang Adit tahu, Pak Parno termasuk salah satu satpam sekolah yang paling
disiplin.
“Hayo, ngapain ngeliatin keluar
terus?” seseorang menepuk pundak Adit dari belakang. Teman sebangkunya, Rian
mengganggu keasyikan Adit memandang perempuan bersepatu biru tadi.
“Ngagetin aja lo” Adit langsung
membalikkan posisi duduknya yang semula menghadap ke jendela.
“Yan, kok bisa ya cewek itu
berhasil ngelewatin Pak Parno? Satpam killer
gitu. Gak pake sepatu item lagi.” Adit menunjuk ke arah gerbang sekolah.
“Cewek mana?” Rian mendongakkan
kepalanya keluar jendela kelas. Mencari-cari sosok yang dimaksud sahabatnya
itu.
“Gina maksud lo? Itu kan anak
baru. Baru masuk seminggu lalu kayaknya” ujar Rian. “Kelas sebelah tuh. Sepupu
gue” lanjutnya lagi.
***
Lagi-lagi dia melihat ke arahku. Ada yang aneh ya dengan penampilanku
saat ini? Gina membenarkan kemeja putihnya, kemudian rambutnya. Salah tingkah.
Aduh, orangnya ke sini lagi. Sama Rian pula.
“Gin, kenalin. Ini Adit. Temen sebangku
gue.”
Gina hanya menganggukkan wajahnya kemudian senyum. Rian mendekati wajah Gina, kemudian berbisik.
"Adit maksa minta dikenalin sama lo. kayaknya dia suka sama lo deh"
Seketika ada ada kupu-kupu beterbangan dalam perut Gina. memancarkan rona merah di pipi manisnya.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Rabu, 15 April 2015
Pulang
Tangannya masih menggenggam tanganku erat. Disaat aku harus memasuki gerbong kuda besi yang sudah menungguku sejak tadi.
“Kamu benaran gak bisa menunggu sebentar, lagi Sha?”
tanyanya dengan muka mengiba. Sejak tadi ia terus memintaku untuk tetap di
sampingnya. Seakan kami tidak akan pernah bertemu lagi.
“Maaf, tapi keretaku sebentar lagi berangkat. Aku harus
pergi, Ka”. Ujarku sembari melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat. Tampak
kebiruan dibalik kuku tangan beningku. “Ka, bulan depan kan kita akan bertemu lagi.
Kita pasti ketemu lagi, kok. Percaya sama aku.”
Raka hanya nenunduk, dan kedua tangannya masih menguasai
tanganku.
“Tapi…”
“Kenapa, karena mimpimu semalam itu?” tanyaku lagi.
Ah, lagi-lagi Raka
mempercayai mimpi buruknya itu.
“Kamu doakan aku selamat ya, biar bulan depan kita bisa
bertemu lagi. Okey, sayang?” ujarku meyakinnya lagi. Kali ini aku beri kecupan
lembut di keningnya. Pertahanannya runtuh. Tanganku sudah ia bebaskan dari
cengkeramannya.
“Aku pulang dulu ya. Kamu jaga kesehatan.” Kali ini aku
memeluknya. Meyakinkan dia aku akan baik-baik saja.
***
Aku sudah baik-baik saja sekarang, Ka. Aku di sini, memperhatikanmu
dengan seksama. Kau bersimpuh di hadapan gundukan tanah basah dengan taburan
bunga warna-warni. Menangis tersedu.
Maafkan aku tak mendengarkanmu, Ka.
Maaf karena aku tak mempercayai perkataanmu.
Aku pulang. Kembali meninggalkanmu.
Kali ini, untuk seterusnya.
Kecelakaan kereta itu memaksaku untuk meninggalkanmu, Raka.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Dafe
“Dear, seseorang gak akan berarti di muka bumi ini kalau
dilupakan. Tetapi akan lebih berarti lagi manusia itu jika dikenang.”
(Dafe, 19 Juli 2014)
Nisa termenung memahami kalimat yang muncul di layar ponsel
pintarnya itu. Sepenggal kalimat dari seseorang di masa lalunya yang kini entah
di mana, yang ia salin dan captured.
Dafe, begitu Nisa sering
memanggilnya, adalah seseorang yang teramat berarti bagi Nisa, dulu. Semasa SMA.
Tapi, sudah sepuluh tahun lamanya Nisa tak mendengar kabar beritanya. Entah masih
hidup atau sudah meninggal, Nisa tak tahu. Hingga suatu hari Nisa mendapatkan
nomor asing menghubunginya melalui pesan singkat. Dan semua kenangan seakan
bermunculan dengan sendirinya.
Fragmen-fragmen yang sebelumnya bersembunyi dibalik lobus-lobus
otaknya kembali bermunculan. Terutama adegan yang menceritakan tentang dirinya
dan Dafe di masa lalu.
“Aku senang kamu masih ingat sama aku, Nis” ujar Dafe malam
itu.
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, Dafe?” jawabku.
“Aku bukan siapa-siapa, Nis. Tak pantas kau kenang aku. Tapi,
aku berterima kasih kau masih sudi mengingat orang seperti aku ini.” Kemudian
pembicaraan kami terputus.
Dan ternyata itu kali terakhirnya Nisa bisa berbincang lagi
dengan Dafe, lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya, dulu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Langganan:
Postingan (Atom)