Tampilkan postingan dengan label Keluarga Nebengers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Nebengers. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Safety Riding Versi Raden

Safety Riding Versi Raden
By. Nurul Aria
 
pic from here

Drrt.. drrttt…

Ponsel pintar Rani bergetar sejak tadi di dalam saku seragam kerjanya, entah siapa yang meneleponnya sejak tadi. Sayangnya Rani masih harus menyelesaikan terapi pada pasiennya yang terakhir hari ini sebelum pulang.

Saat menuliskan bukti bayar untuk pasiennya, sekilas Rani melihat ke arah jam dinding berwarna hitam yang tersimpan rapi di dinding di hadapannya, jarum pendek sudah menunjuk angka 9 sedangkan jarum panjangnya sudah di angka 10, tetapi di ruangannya masih ada pasien anak yang belum selesai terapi sejak tadi.

Seharusnya Rani memang sudah bisa pulang pukul 20.30 tadi, karena memang kliniknya tutup jam 20.00.  Namun ternyata, ketika Rani sedang bersiap untuk pulang, ada pasien yang datang mendadak untuk diterapi. Untungnya hanya terapi uap pada anak yang tidak membutuhkan waktu berjam-jam.

Setelah pasiennya selesai dan sudah keluar dari ruangan kliniknya, Rani mengambil ponsel pintarnya yang tadi bergetar. Tertera 5 notifikasi panggilan tak terjawab, dan beberapa notifikasi whatsapp di layar ponselnya itu.

Tanpa sadar ditepuk dahinya, “Ya Tuhan. Lupa. Kan tadi janjian sama Raden pulangnya.”

Kedatangan pasiennya yang mendadak membuatnya lupa mengabari teman komunitasnya tersebut. Tadi Rani memang sudah janjian dengan Raden untuk pulang bareng karena jalur pulangnya Raden melewati klinik tempat ia bekerja, rumah mereka pun searah.

Sebelum membaca pesan di whatsapp yang juga dari Raden, Rani mencoba menghubungi Raden terlebih dahulu, namun tidak diangkat.

Mungkin Raden sudah di jalan. Pikir Rani sambil membuka pesan di whatsappnya.

Raden : Ran, gue otw tempat lo ya.
Raden : gue tlp lo ga diangkat2.
Raden : gue tunggu tempat biasa. ok.
Raden : paling 15 menit lagi gue sampe.

Rani bergegas merapikan kliniknya, mencabut kabel-kabel listrik dari alat-alat terapi kemudian mematikan lampu ruangan dan AC.

“Raden seharusnya sudah sampai, nih.” Ujar Rani pelan ketika menuju tempat janjiannya dengan Raden yang tak terlalu jauh dari kliniknya. Dan ternyata benar dugaan Rani. Raden sudah tiba di tempat mereka janji bertemu.

Ini memang bukan kali pertama Rani pulang bareng Raden. Semenjak Raden mengambil kuliah kelas karyawan di daerah Salemba yang tak terlalu jauh dari klinik tempat Rani bekerja, hampir setiap mendapat jadwal shift sore, Rani selalu pulang bareng Raden. Lumayan mengirit ongkos dan waktu, pikirnya.
  
Dilihatnya pria bertubuh kekar itu sedang melepaskan sarung tangannya, kemudian baru melepaskan helmnya dan menaruhnya di atas tangki bensin motor besarnya.

Sorry lama, Den. Ada pasien mendadak tadi.” Ujar Rani ketika sudah berada di dekat Raden.

“Hey, Ran. Gue juga baru sampe kok. Santai. Heheh.” Pria yang ditegurnya itu berujar sambil berjalan menuju bagian belakang motornya. Membuka boks yang selalu ia bawa di motornya tersebut, mengambilkan helm full face dan menyerahkannya ke Rani.

“Tas lo mau ditaro di boks sekalian, gak? Biar enak lo duduknya.” Tanya pria berkepala plontos itu.

“Eh, iya, boleh.” Rani kemudian menyerahkan tas gembloknya yang agak berat itu ke Raden, kemudian langsung dimasukkan ke dalam boks yang memang muat 2 helm itu.

“Lengkap amat, Bro, atributnya. Kayak mau touring aja.” Ujar Rani ketika melihat Raden mulai mengenakan lagi satu persatu atribut bermotornya.

Mulai dari dalaman helm yang seperti ciput ninja para hijabers, kemudian helm full face, dan terakhir sarung tangan. Sedangkan jaket tebal-hitamnya sudah melekat sejak tadi di tubuh kekarnya. Pun dengan sepatu boots yang terpasang rapi di kedua kakinya.

Safety riding itu penting, Ran.” Jawabnya sambil mengenakan sarung tangannya yang sebelah kanan.
“Meskipun gak touring?” tanya Rani.
“Meskipun gak touring” ulang Raden yang kemudian naik ke atas motornya. “Yuk, Ran, naik.”

Rani pun perlahan menaiki motor besar milik Raden di bagian belakang, bagian penumpang. Sejujurnya Rani agak kurang suka naik motor besar dengan boks di bagian belakangnya. Ribet naiknya.

“Udah?” Tanya Raden dari depan kemudi.
“Udah.” Jawab Rani setelah menyandarkan punggungnya di boks.
“Udah pake helmnya, kan?” tanya Raden lagi.
“Udeeeh, pak Raden” jawab Rani sambil mengetuk helm di kepalanya sendiri.
“Hahah, sorry, Ran. Gue cuma mastiin aja keselamatan lo. Daripada lo kenapa-napa, ntar” ujarnya memastikan.

Setelah yakin atribut keselamatan sudah dikenakan dengan baik dan benar, Raden pun membiarkan motor besarnya melaju menyusuri jalanan ibu kota di malam hari.

****

Saat memasuki wilayah Cilandak yang agak sedikit macet, meskipun saat itu jam di ponsel pintar Rani sudah menunjukkan angka 22.00, Raden membuka kaca di helm full facenya dan sedikit menoleh ke Rani lalu bertanya,
“Ran, lo laper, gak? Mampir dulu ya. Heheh.”
“Boleh. Boleh. Gue juga gak sempet makan tadi gara-gara pasiennya padet gitu.”

Mereka akhirnya mampir di warung tenda yang menjual pecel lele di sekitar Cilandak. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rani mulai menanyakan hal yang sepanjang perjalanan tadi terpikirkan olehnya.

“Den, kan tadi lo bilang Safety Riding itu penting, ya? Seberapa pentingnya sih?”
“Kenapa lo nanya gitu, Ran?” bukannya menjawab, Raden justru bertanya balik ke Rani.

“Soalnya yang gue lihat, masih banyak pengendara motor yang mengabaikan tentang safety riding ini. Tapi lo gak. Lihat aja perlengkapan perang lo banyak gitu.” Jawab perempuan berkacamata ini.

“Hmm… Panjang nih gue jelasinnya. Bisa tiga sks. Hahah.” Canda Raden.
“Santai. Makanan masih belom datang ini.” Balas perempuan berkerudung biru di hadapannya itu.

“Buat gue, berkendara sepeda motor itu memang seharusnya memakai perlengkapan pelindung seluruh badan. Karena, kan, naik sepeda motor gak ada besi yang melindungi badan kayak mobil, Ran. Makanya perlengkapan perang gue banyak banget.” Jelas Raden. “Helm, jaket, celana panjang, sarung tangan, bahkan riding shoes atau boots itu safety gear paling penting buat gue.” Lanjutnya lagi.

“Kalo helm, harus full face emangnya, ya, Den? Bukannya half face juga udah SNI, ya?” tanya Rani sambil mengaduk-aduk teh manis hangatnya yang baru datang.

“Sebenernya sih, mau pake helm yang mahal atau yang murah, half face atau full face, gak terlalu masalah. Tapi, ternyata gue lebih nyaman pake helm full face. Ya, meskipun gak semua helm full face pasti nyaman, sih. Makanya gue lebih seringnya beli yang harganya sedikit agak di atas rata-rata. Lebih nyaman.”  Raden menghentikan bicaranya ketika makanan yang kami pesan akhirnya datang juga.

“Mau lanjut atau makan dulu nih?” ujar Raden sambil mencelupkan jari-jari tangan kanannya ke dalam mangkok besi berisi air bersih yang memang disediakan untuk kobokan itu.
“Makan dulu aja kali, ya.” Jawabku.

****

“Tadi sampe mana gue jelasinnya?” tanya Raden begitu piringnya bersih dari makanan, tapi tidak dengan mulutnya.

“Lo baru jelasin tentang helm aja, kok, tadi.” Jawab Rani.
“Eh, ini gak papa lo balik agak maleman lagi? Masih panjang soalnya. Heheh.”
“Santai, Pak. Besok masih shift sore. Hehe.”
“Oke” ujar Raden sambil mengacungkan ibu jarinya yang masih basah, baru dicuci di air kobokan.

“Masih tentang helm. Mungkin bagi kebanyakan orang pakai helm yang nyaman atau full face gak terlalu penting kalau naik motor untuk jarak dekat atau sekedar ngantar anak ke sekolah atau beli makanan di warung. Tapi, kita kan gak pernah tahu di depan sana ada apa? Bisa aja kan ternyata kita jatuh tiba-tiba dari motor, atau keserempet, terus kepala kita terbentur jalanan. Pake helm aja masih bisa kenapa-napa. Apalagi gak pake helm.” Diambilnya gelas minumnya yang airnya sudah setengah itu, kemudian diteguknya hingga habis.

“Gue, yang biasa nempuh jarak jauh rumah-kantor-kampus, atau kalo touring, deh. Bisa aja kan ngalamin kejadian ‘tak terduga’ gitu.” Ujarnya sambil membentuk tanda kutip dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya di udara saat menyebutkan kata ‘tak terduga’. “Kalo misalnya gue gak pake helm yang nyaman dan aman buat gue, ya bisa wasalam.”

“Contohnya gini, pake helm yang bentuk busa dalemnya gak cocok sama bentuk kepala, atau bobot helmnya terlalu berat, gak nyaman banget pasti. Mungkin awalnya cuma berasa leher pegal. Tapi, efek terparahnya bisa bikin sebadan-badan capek, bahkan bisa berakibat pandangan jadi agak kabur. Bahaya, kan, tuh.”    

Rani mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju dengan penjelasan Raden yang memang sesuai logikanya itu. Tapi masih ada yang mengganjal juga di kepalanya.

“Terus kalo jaket, celana panjang, boots, sama apalagi tuh yang lo bilang tadi, kepentingannya apa?” Rani semakin penasaran dengan safety riding versi Raden ini setelah mendengarkan penjelasan tentang helm.

“Udah banyak sebenarnya artikel yang membahas bisa kena penyakit ini, itu, akibat naik motor gak pake jaket. Kalo gue, ya, buat ngelindungin badan dari udara atau angin, lah. Karena berkendara motor itu impactnya langsung ke sekitar kita, salah satunya ya udara atau angin itu.”

“Kalo bisa, sih, pake jaket yang kualitasnya memenuhi aspek kategori windproof. Terus kalo perjalanan jauh, baiknya pake yang ada pelindung siku, bahu dan lengan kayak gini, sebagai tambahan proteksi ketika terjadi benturan karena kecelakaan.” Tambahnya sambil menunjuk bagian siku dan bahu pada jaket yang tadi ia kenakan.

“Nah, kalo celana panjang sih hampir sama fungsinya kayak jaket. Sarung tangan pun. Tapi ini wajib sih buat gue. Karena gue selalu berasumsi bahwa gue gak pernah tahu sepanas dan sedingin apa jalur yang gue lewatin. Karena pernah, pas gue ke Puncak Pass gak pake sarung tangan sama sekali. Jadilah jari-jari tangan gue kaku dan gemetaran. Hahah” ujarnya sambil menggerak-gerakkan kesepuluh jari-jarinya.

“Beku ya, Den, jari lo?” tanya Rani meyakinkan.
“Banget.”
“Lo yang banyak lemaknya aja bisa beku, apalagi gue, ya? Hahha” canda Rani.
“Haha sial.”

“Eh, terus kenapa harus boots?” Rani masih belum mendengar penjelasan tentang penggunaan sepatu boots ini dari mulut Raden.

“Oiya, sepatu khusus motor atau boots riding ini biasanya tingginya sampai semata kaki atau lebih. Gue punya satu cerita kalo tentang ini. Bos gue yang ngalamin, sih. Jadi waktu itu dia buru-buru harus ke kantor. Biasa pake pantofel, dong, ya, kalo orang kantoran. Pas setengah jalan menuju kantor, dia kecelakaan. Dari mata kaki sampai samping tulang kering retak, cedera luka dalam gitu, deh. Dan itu karena kena separator busway itu, loh. Kontak langsung, tanpa pelindung. Gara-gara itu harus dioperasi dan ngabisin uang puluhan juta rupiah.”

“Ya, Allah. Serem amat.” Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Cuma gara-gara kurang safety riding, keluar uang banyak, ya.” Lanjutnya lagi.

“Ya pilihannya cuma itu kan, Ran. Antara keluar modal agak banyak sedikit buat beli perlengkapan safety riding yang bisa bikin nyaman dan memberikan proteksi badan seutuhnya, atau harus ngalamin kecelakaan dulu terus keluar uang puluhan juta, bahkan nyawa bisa melayang, baru menyesal? Tinggal pilih.” Ujarnya sambil senyum.

“Wah, Seru nih ngobrol sama lo. Jadi nambah pengetahuan gue tentang berkendara. Meskipun lebih seringnya jadi penumpang doang gue. Hehe”

“Eh, tunggu. Ada dua hal lagi yang ketinggalan.” Ujar Raden tiba-tiba.
“Apa?”
“Saat berkendara motor itu, sebisa mungkin otak atau pikiran harus rileks, Ran. Meskipun lagi banyak pikiran. Karena safety itu sendiri kan berawal dari pikiran kita sendiri. Sama buat kondisi senyaman mungkin, lah, ketika di atas motor.” Ujar Raden mengakhiri penjelasan panjangnya.

“Wah, makasih banyak, loh, Den, atas penjelasannya. Makin ngerti gue tentang pentingnya safety riding.” Ujar Rani semangat. “Eh, tapi pulang malem aman gak, nih?” tanyanya sambil melihat jam di ponsel pintarnya.
“Eh, iya. Udah malem banget. Gak bagus lah buat anak gadis. Bentar gue bayar dulu, ya.”  

Setelah selesai membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, Raden dan Rani pun menuju tempat motor besar Raden diparkir. Dan Raden memulai lagi ritual memakai atribut bermotornya tersebut.  

***


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Sabtu, 30 Agustus 2014

Diary Marathon Movie of The Week


Cara gue mengakhiri Agustus ini adalah dengan #MarathonMovie. Dalam 1 minggu bisa nonton 6 film di 4 hari yang berbeda. Antara seteres, error, atau emang gak punya kerjaan jadi berbaik hati menambah pundi-pundi uang si Blitz. Dan Iya, itu semua gue nontonnya di Blitz Megaplex GI. Eh, kecuali yang terakhir.

Jadi begini ceritanya..

Gue mulai dari hari Senin, 25 Agustus 2014. Gue gak inget sih hari senin ini gue nonton apa gak. Sepertinya gue pulang kerja langsung pulang, deh. Oke, skip. Next.

Hari Selasa, 26 Agustus 2014. Komunitas @NontonJKT ngadain #NobarJKT film Guardians Of The Galaxy di Blitz GI jam 18.30. Ya, sebenernya sih gue udah nonton ini film versi 3Dnya pas tayang awal di Midnight, Sabtu 20 Agustus 2014 lalu. Tapi berhubung ada scene yang guenya ketiduran, jadinya gue mau nonton lagi yang versi 2D dan kali ini bareng temen-temen dari @NontonJKT . FYI, Selasa itu, sejarah baru terukir di komunitas @NontonJKT. Karena ada 80-an orang (tepatnya gue lupa) yang ikutan #NobarJKT #GOTG malem itu. Yeayyyy…

Nobar GOTG

Padahal sebelumnya cuma 37 orang yang ikutan #NobarJKT Detective Conan : Dimensional Sniper di hari Jumat, 15 agustus 2014. Nah, sebelum nonton GOTG jam 18.30nya, gue memutuskan untuk mengisi jam kosong –gue balik kerja jam tiga, dan otomatis setengah empat udah beredar di GI- sambil menunggu setengah tujuh itu dengan menonton Lucy. Agak telat sih gue masuk audi, karena si Lucy sudah berjalan 30 menitan.. Jadi, hari selasa ini gue nonton 2 film. Lucy dan GOTG 2D. Di Blitz GI.


Nobar Conan


Hari Rabu, 27 Agustus 2014. Ini hari gue skip nonton karena lembur 2 shift. Oke, next.

Hari Kamis, 28 Agustus 2014. Kalo temen-temen @NontonJKT emang udah merencanakan untuk #KamisKeBioskop dan nonton Ju On 3 : The Beginning of The End jam 21.30 di Blitz GI. Iya.. Malem jumatan nonton #HorrorJKT. Skip lah gue sebenernya. Mana demen gue nonton horror. Yang ada merem terus gue gak liat ke layar. Dan lagi, niat awalnya gue cuma mau ikutan meeting sama tim K-nya @NontonJKT. Cumaaaa.. Mereka semua selalu menggoda saya untuk ikut nonton si Ju On ini.. Meskipun sudah berdalih “Kalo ada yang nganterin pulang sampe rumah, baru gue nonton” mereka tetap menggoda saya. Sebenernya itu alasan gue biar gak nonton. Karena gue tau, yang biasa nganterin gue pulang gak bisa ikutan nonton. Tapi, takdir berkata lain. Saat meeting, mereka masih gencar merayu untuk ikutan nonton Ju On. Dan si Sanguin Melankolis ini tetiba memesan tiket Ju On jam 21.30 via blitzmegaplex.com. Oke! Jadi, ibadah nonton malem jumatnya di Audi 7 seat D 4-13, menyaksikan si Toshio Saeki muncul tiba-tiba di layar. Deym!
para peserta ibadah malam jumat #HorrorJKT
Foto Kaki!


Hari Jumat, 29 Agustus 2014. Nah… Kali ini gue dapet undangan nonton film Korea berjudul Roaring Currents jam 19.00 di Blitz GI (again!). Dan seperti yang sudah-sudah, untuk mengisi kekosongan waktu, gue memutuskan untuk nonton film sekalian numpang tidur sore itu. Nah, ada cerita lucu nih di sini. Jadinya kan gue beli tiket untuk film Planes : Fire and Rescue jam 16.15 Audi 6. Karena cuma jam itu yang menurut gue cocok. Dan gak terlalu rame yang nonton. Bisa lah bobok cantik bentar. Pas gue beli, seinget gue itu film harusnya udah mulai. Tapi gue tetep ke toilet dulu sebelum masuk audi. Kebelet, cyin. Abis dari toilet gue masuk lah ke audi yang pintunya baru dibuka itu. Yang gak jauh dari toilet. Setelah tiketnya di robek sama mbak-mbak penjaga pintu, gue masuk dan ngambil kacamata 3D. Oke. Sempet bingung, emangnya Planes 3D? Eiya, kok susunan kursinya beda, ya, sama yang di layar pas pesen tiket via blitz machine? Skip. Gue tetep masuk itu audi dan langsung menuju row D seat 8. Film belum mulai. Penonton masih sepi. Gue gak curiga sama sekali. Mungkin karena kondisi gue yang super ngantuk. Sambil nunggu film mulai, ku pejamkan mata ini. Mencoba tidur. Sekitar 15-20 menit kemudian, film mulai. Etapi, kok ada si Peter Quill kecil, ya? Loh, ini kan Guardians Of The Galaxy? Ini si operator proyektornya salah muterin film, ya? Skip. Gue malah lanjut tidur. Tidur-tidur ayam, sih. Sempet melek di beberapa scene. Dan masih belom ngeh. Setelah film selesai. Turun. Keluar audi. Sambil balikin kacamata 3Dnya, gue nanya sama mas-mas yang jaga. 
“Mas ini salah muterin film, ya? Seinget saya , saya beli tiketnya Planes, deh” sambil nunjukin tiket gue. Dan you know si mas-masnya bilang apa? 
“Ini audi sembilan, mbak. Itu tiketnya audi enam” sambil senyum ke gue. 


Dan gue langsung keluar Audi sambil geleng-geleng kepala dan ngetawain diri sendiri. SKIPNYA KEBANGETAN SIH, RUL! Dan pas keluar Audi 9, sudah rame orang-orang yang register untuk nonton Roaring Currents jam 19.00.
Foto duyuu sebelum nonton Roaring Currents


Hari Sabtu, 30 Agustus 2014. Planet Hollywood jam sembilan pagi. Iya, gak salah kok. Jam sembilan pagi sudah harus ada di Planet Hollywood, Gatot Subroto, Jakarta untuk Premiere film Hijabers In Love (untuk umum, karena Jumat malamnya baru saja Gala Premiere). Jadi ceritanya @NontonJKT dapet 25 undangan untuk menghadiri Premiere film Hijabers In Love ini. Karena pagi banget dan yang lainnya gak bisa, jadilah gue mewakili @NontonJKT hadir di acara ini. 24 tiket lainnya? Gue sebar ke grup whatsapp dan dijadiin kuis di akun @NontonJKT . Ini satu-satunya hari di mana gue gak ke GI dan gak nonton di Blitz. Hihihi.

25 tiket Hijabers In Love
inilah para pemenang #KuisDadakan dari @NontonJKT
with #TeamJaksel @nebengers dan Tim #ArisanBuku @kemudian
Nah… Sekian cerita Diary nonton gue selama seminggu ini. Untuk review filmnya gue posting terpisah aja ya. Hihihi… See you di next #NobarJKT!   

nb: foto-foto koleksi pribadi dan dokumentasi @NontonJKT (bit.ly/nobarGOTG

  

Kamis, 12 Desember 2013

Diary Nebeng.. Episode 2

Dear Diary...

Gue mau lanjut cerita tentang Keluarga baru gue lagi, ya...

Kali ini tentang....


Diawal tahun 2013, gue dan beberapa temen di komunitas sosial yang gue ikutin, bergabung di event Tahun Baru Bagi-Bagi yang digagas bu dokter Diana, atau yang akrab disapa kak Yeyen (@rockadocta). 

Kak Yeyen (yang pake baju hitam 2 dari kiri)

Di kegiatan sosial –membagi-bagikan roti dan air mineral untuk mereka yang kurang beruntung- ini, gue ketemu lagi dengan @nebengers. Iya, komunitas berbagi seat kosong ini ambil bagian dalam kegiatan sosial ini. Sebagian besar dari mereka membawa kendaraan pribadi. Jadinya, dibagi kelompok dan wilayah pembagian rotinya. Saat itu gue sekelompok sama Oma Finky (dari Westlife Charity), Sonny dan temennya –ini gue lupa namanya, jujur. Maaf-. Sonny ini dari Nebengers wilayah Cibubur. Gue sama Oma Finky ini nebeng mobilnya Sonny buat bagi-bagiin roti dan air mineral ke wilayah utara Jakarta. Lebih tepatnya ke sekitar Gunung Sahari, Ancol, Kota, sekitar situ deh.

Seru. Dengerin Sonny dan temennya itu cerita-cerita kesehariannya. Haru. Saat bertemu seorang bapak tua berjalan sendirian sambil membawa karung yang entah isinya apa, terus kita berhenti dipinggir jalan, turun dari mobil, ngasih roti dan air mineralnya, kemudian si bapak berucap terima kasih dan doa (yang jujur membuat gue merinding haru). Keren lah!

Pertemuan kedua gue dengan nebengers kali ini, lebih rame, lebih seru. Karena gue bertemu lebih banyak anak Nebengers yang rela bangun pagi. Dan ini beberapa foto hasil dokumentasi (yang gue pinjem dari grup FBnya BFLAct). Kangen kebersamaan ini bareng kalian lagiii... Hehe.

Kak Ciput dan Mas Eas, Foundernya @nebengers

Bersama kakak-kakak dari BFLAct, Nebengers dan IHK
(itu yang sebelah kanan bawah pake baju biru, namanya Sonny)

Dee, Bang Reza Moko, Kak Ari, Maya dari nebengers
(maaf, yang paling kiri aku lupa namanya)

ini Kak Fina dan Maya

Keluarga Nebengers 

Kakak-kakak dari BFLAct


more foto bisa dilihat di sini

Ini dulu ya curhatannya. Berharap bisa ngalamin lagi Tahun Baru Bagi-Bagi di akhir tahun 2013 ini. I wish!

Sekian dan terima tebengan.

@rulachubby

Kamis, 05 Desember 2013

Diary Nebeng.. Episode 1

Dear Diary….

Kali ini gue mau cerita tentang keluarga baru gue. Keluarga yang sebenernya udah gue kenal sejak akhir 2012, namun mulai akrabnya pertengahan 2013 ini. Gue lebih sering menyebut keluarga baru gue, Keluarga Nebengers.



Awal mula gue kenal @nebengers ini dari social media berlogo burung biru, alias Twitter. Salah satu akun yang gue follow sedang berkicau tentang komunitas berbagi seat kosong ini. Yang akhirnya gue ikutan follow dan stalking akun yang logonya mayoritas berwarna hijau ini. Sekali-kali ikutan posting rute. Tapi belum pernah, tuh, dapet tebengan.

Gue juga udah isi database di web-nya. Tapi, masih belum beruntung. Mungkin karena rute dan jam kerja gue yang beda sama orang kantoran kebanyakan. Rute sih, Ciganjur – Sarinah – Ciganjur. Tapi jamnya itu. Gue masuk kerja jam setengah delapan pagi, paling telat berangkat dari rumah itu jam setengah enam pagi, lah, kalo mau naik angkutan umum. Pulang kerjanya jam setengah tiga siang. Itu kalo shift pagi. Kalo shift sore, berangkat jam dua belas siang, pulangnya setengah sembilan malam. Hehe. Jarang beruntungnya.

Pernah juga gue iseng dateng ke Kopdar (Kopi Darat, alias ketemuan) Nebengers #TeamJakSel di salah satu restoran cepat saji di bilangan Kuningan. Deket, lah, dari tempat kerja gue. Ditambah lagi jam pulang kerja gue yang lebih cepat dari orang kantoran, jadilah gue jam tiga sore itu udah duduk manis di salah satu kursi panjang di restoran cepat saji itu. Padahal kopdarnya itu After Office Hour –yang bisa dibilang diatas jam lima sore-. Oke, gue harus menunggu lebih dari dua jam di restoran cepat saji yang pendinginnya cukup membuat gue kedinginan.

Nggak cuma itu. Saat itu, gue masih menggunakan ponsel yang belum canggih. Belum beli pengganti ponsel pintar gue yang rusak sehabis dipeluk ombak waktu ke Bali (baca Bali Trip, Day 1 part 1). Dengan modal ponsel yang belum pintar, juga pulsa yang untungnya selalu ada itu, gue sms ke temen gue untuk liatin timeline-nya @nebengers, cari info tentang kopdar hari itu. (Makasihh Meghaaa :*)

Sambil menunggu orang-orang yang memang belom pernah gue kenal itu, gue iseng-iseng nulis, baca majalah, makan es krim yang dijual di restoran cepat saji itu. Mulai dari sepi – ramai – sepi lagi – ramai lagi. Gue nggak juga beranjak dari tempat gue duduk. Sesekali memperhatikan seisi ruangan restoran cepat saji itu. Nggak ada yang gue kenal.

Sampai ada tiga orang, satu orang lelaki kurus agak kemayu, satu orang lelaki berpostur atletis berkacamata dan satu perempuan agak gemuk dengan rambut bob pendek berponi, yang masuk ke restoran itu dan duduk persis di meja-kursi yang berhadapan dengan posisi gue duduk. Entah kenapa gue sempet nebak dalam hati, itu pasti anak nebengers, deh. Gue juga sempet merasa diliatin terus sama mereka. Hehe (mungkin gue terlalu ge-er-an. mungkin).  

Udah mulai sore, mulai banyak orang yang berdatangan dan mendekati tiga orang di seberang gue itu. Dan nggak lama, akhirnya mereka pindah ke meja sisi kiri gue -yang memang bisa menampung lebih banyak orang. Sayangnya saat itu gue masih bergeming dari tempat gue duduk dengan sesekali menguping keseruan obrolan mereka. Iri. Tapi gue terlalu takut dan malu untuk ikutan nimbrung. Gue memang termasuk pemalu kalo ketemu orang baru, yang belom gue kenal sama sekali. Ya.. setelah beberapa kali nguping, akhirnya gue memberanikan diri untuk nanya sama orang terdekat gue, ini nebengers, ya?. Setelah itu, akhirnya gue ikut gabung, dan ikut memperkenalkan diri gue ke semua yang hadir saat itu.

Mereka semua seru, rame, baik, ramah, open minded. Nggak nyesel lah gue nunggu dari jam tiga sore di ruangan yang dingin itu. Gue nggak inget semua yang hadir, tapi yang gue tau, saat itu ada Mas Eas dan Mbak Putri Sentanu –yang ternyata foundernya @nebengers-, bang Gamma (pria berpostur atletis berkacamata yang gue sebut di awal cerita tadi), bang Reza Moko (lelaki kurus agak kemayu), Dyah Sisca atau yang biasa dipanggil Deedee (perempuan agak gemuk dengan rambut bob pendek berponi), Mbak Prima, Mbak Adinda, Mas Eka, Babang Nino, Kak Fina, Onic, Kak Ari, Teh Hera, bang Lipi, dan yang lainnya –nggak inget lagi siapa namanya, padahal ini sambil liatin foto pas kopdarnya itu. Uwuwuwu-. Ohiya, pas pulangnya, gue bareng Kak Fina dan Onic naik TJ, sedangkan beberapa yang lainnya masih lanjut karaokean. Hehe.

(Foto from bang Gamma)


Itu cerita pertama kali gue gabung @nebengers.

Dan... masih banyak cerita lainnya..
Next episode, yahh (^_^)v

Sekian dan terima tebengan

@rulachubby