Tampilkan postingan dengan label TransJakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TransJakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

Weekend bersama Manusia-Manusia Hebat

Hai….

Selamat Tahun Baruuuuuu....

Di awal Tahun ini gue mau posting tulisan yang sebenernya udah gue tulis sejak Desember 2014 kemarin, tapi baru sempat gue selesain sekarang. Heheh.. pisss.. 

Di postingan ini gue mau cerita pengalaman gue jadi volunteer di acara "Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu Bintaro" (YSI Bintaro) di Kebun Raya Bogor, Sabtu, 29 November 2014. It’s been a few weeks ago, memang. Tapi keriaan itu masih terbayang di benak gue sampai sekarang.



Bermula dari…

Dari posting-an di salah satu grup whatsapp, broadcast tentang acara "Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu Bintaro" yang diadakan dalam rangka menyambut Hari Disabilitas Internasional dan juga dalam rangka mengampanyekan #MasyarakatInklusif.

Karena gue, yang udah lama banget gak terjun jadi volunteer karena kesibukan ini itu, yang kangen jadi volunteer lagi, kangen ketemu malaikat-malaikat lucu ini lagi, akhirnya memantapkan diri untuk daftar jadi volunteer di acara Wisata Anak ini. Meskipun harus nekat ngajuin cuti dari jauh-jauh hari. (FYI itu acara kan di hari Sabtu, ya, dan gue selalu shift siang kalo Sabtu). Makanya harus cuti dari jauh-jauh hari biar gue bisa mengobati rindu gue berinteraksi dengan malaikat-malaikat yang selalu jadi mood booster gue ini. Bismillah… Pasti bisa.

Setelah mengisi formulir online itu, gue dihubungi via e-mail oleh kak Dhika, Koordinator Lapangan Acara Wisata Anak, untuk hadir dalam rapat sekalian perkenalan dengan volunteer yang lainnya. Sayangnya pada rapat pertama ini gue berhalangan hadir karena ada acara (lupa acara apa, hehe). Dari hasil rapat pertama itu diputuskan kalau rapatnya akan diadakan setiap hari minggu di YSI Bintaro, jam 9 pagi.
Rapat, 2 November 2014

Hari Minggu, 2 November 2014, akhirnya gue bisa hadir di rapat kedua persiapan Wisata Anak di YSI Bintaro.  Hmm.. di mana itu YSI Bintaro? Yaaa, di Bintaro lah, Rul… Kalo naik kendaraan umum, angkotnya itu A.K.A.P deh.. Alias antar kota antar propinsi. (Perjalanan jauh, kapten! Gak nyampe-nyampe ini). Heheh. Tapi itu karena gue naik angkot yang dari lebak bulus. Jalur yang gue tau cuma itu, itu pun setelah nanya-nanya ke temen gue yang tinggal sekitar Bintaro. Tapi untuk rapat-rapat berikutnya akhirnya gue naik KRL, itu pun setelah nanya-nanya lagi sama panitia yang lain. Better lah yaa naik KRL dibanding naik angkot. Heheh. Tapi ada hikmahnya sih gue ngangkot, jadi semacam napak tilas wilayah ciputat-rempoa-binplaz, lah.. Mengenang zaman masih suka berkeliaran di sana. *oke stop intermezzonya*

Sampai di YSI Bintaro, langsung ketemu kak Dhika dan beberapa volunteer –yang kebanyakan masih kuliah- di aula lantai 2. Sepertinya cerita tentang rapatnya gue skip, ya. Off the record! *piss lagi*.

Berfoto setelah rapat, 2 November 2014



Di Acara Wisata Anak bersama YSI Bintaro ini, gue mengajukan diri untuk menjadi Liaison Officer, atau disingkat LO. Kerjaannya? Yang handle pengisi acara. Kenapa gue pilih jadi LO? Karena gue penasaran sama kerja LO seperti apa. Mungkin juga akibat berkali-kali baca bukunya kak Melanie Subono yang judulnya Liaison Officer Forever dan Ouch!, kisah kak Mel selama jadi LO. Dan gue curious, kakak.. Makanya, ada kesempatan jadi LO, ngajuin diri deh.. heheh..

Tim Liaison Officer with Mbak Rini dan Randy

Tim LO ini masuk ke Area 5, dengan koordinator Iqbal, Anggotanya cewek semua *termasuk gue* dan semuanya mahasiswi *kecuali gue*, ada Nadya, Rahmalia, Dinda, dan Utari. Nah karena ada beberapa kategori pengisi acara, jadinya dibagi-bagi lah tugasnya. Dan gue kedapetan untuk handle yang ngisi acara Musik dan Tari.

Itu sekilas tentang persiapan acara Wisata Anak Bersama Sahabat YSI Bintaro. Sebelum lanjut, gue mau cerita saat Car Free Day, satu minggu sebelum hari H.    

Jadi, satu minggu sebelum hari H ini panitia dari YSI Bintaro mengajak volunteer dan beberapa anak-anak yang ada di YSI Bintaro untuk jalan-jalan pagi di sekitar Senayan – Sudirman saat car free day. Janji ketemuan di Parkir Timur Senayan (yang ternyata rame banget karena ada event Colour Run dan Wisuda).
Ubay dan kak Dwi
kak Herta dan kak Dhika with Ubay

with kakak-kakak yang abis Colour Run
Setelah sempet ngetem beberapa saat di sekitaran FX Sudirman, akhirnya Bu Reno, Ketua panitia Wisata Anak, mengajak anak-anak dan volunteer naik TransJakarta (TJ) Busway. Mencoba transportasi umum yang (katanya) ramah disabilitas.

menaiki JPO menuju halte GBK
menaiki JPO menuju halte GBK
Mulai dari halte busway Gelora Bung Karno, yang memang ramah disabilitas, jadi anak-anak yang menggunakan kursi roda bisa masuk. Saat masuk ke haltenya pun dipermudah, dan ternyata anak-anak disabilitas ini free loh, yang bayar hanya pengantarnya aja. Keren, lah, ini. Cuma sayangnya halte busway GBK ini agak sempit dan hanya satu pintu untuk naik-turun penumpang. Jadinya petugas di halte buswaynya harus koordinasi terlebih dahulu dengan pramudi TJnya. Akhirnya kami semua masuk TJ melalui pintu paling depan. Untungnya TJ saat itu belum terlampau penuh. Jadi bisa masuk semua. Dan lagi, petugas onboardnya ikut membantu menaikkan anak-anak dengan kursi roda. Makasih, pak! 

Berfoto sebelum masuk halte GBK
Kursi roda masuk jalur khusus
Kursi roda masuk jalur khusus

menunggu Transjakarta Busway di halte GBK
petugas onboard membantu mengangkat anak disabilitas masuk bus

Anak-anak yang memang belum pernah naik TJ ini terlihat sangat senang dan bersemangat. Ubay, Nurul, Jelita, Bella senyum dan tertawa dengan riang. Tapi ada satu anak yang agak ketakutan. Namanya Ayu, tidak menggunakan kursi roda dan saat itu kursi penumpang penuh, jadinya berdiri dan berpegangan erat ke gue. Asli, pegangannya kenceng banget dan tangannya sampe keringetan. Saking takut jatuh. Ditambah lagi, sang pramudi buswaynya beberapa kali ngebut dan ngerem agak mendadak gitu. Tapi akhirnya, setelah beberapa halte lewat, ada penumpang yang berdiri da mempersilahkan Ayu untuk duduk. 


Ubay tertawa senang saat di dalam TJ
Ayu yang pegangan erat ke gue



Bella dan Jelita yang terlihat antusias saat di dalam bus
Tujuan awal mau ke Bunderan Hotel Indonesia. Tapi berhubung halte Bunderan HI sudah tidak ada dan halte Tosari (saat itu) terlampau sempit dan tidak ramah disabilitas, jadinya kami turun di halte Sarinah (yang memang lebih besar). Sampai di halte Sarinah, terpaksa kami balik lagi ke arah Sudirman. Karena Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di sana tidak ramah disabilitas. Alias berbentuk tangga. Jadinya anak-anak yang menggunakan kursi roda tidak bisa turun. Karena lift yang disediakan pun tidak berfungsi.

penampakan tangga penyebrangan dari halte Sarinah

di halte Sarinah









Nah, saat naik TJ arah balik ke Sudirman, kami dapat bus yang sepi penumpang. Jadi agak leluasa masuk. Dan Ayu, juga beberapa pendamping anak bisa duduk dengan nyaman. Tapi kami agak bingung saat hendak turun di halte GBK. Karena kami naik dari pintu paling depan, sedangkan saat di halte GBK, penurunan penumpang dari pintu tengah. Jadilah kami urung turun di halte itu. Pindah ke halte Bunderan Senayan, yang (saat itu) sudah lebih luas. Tapi ternyata halte Bunderan Senayan ini masih belum ramah disabilitas. Karena saat di pintu keluarnya, anak-anak dengan kursi roda tidak bisa lewat. Karena rata-rata kursi rodanya agak lebar dan besar. Hanya kursi roda yang kecil yang bisa lewat. Jadinya, anak-anak yang menggunakan kursi roda agak besar terpaksa harus digendong saat melalui pintu keluar.


hanya Jelita yang bisa lewat.
Bella harus diangkat melewati pintu keluarnya
Ubay juga harus digendong untuk bisa keluar halte
   



Nurul dan kursi rodanya juga harus diangkat keluar halte
Beruntungnya masih banyak manusia baik yang membantu mengangkat anak-anak berserta kursi rodanya untuk melewati pintu keluar di halte Bunderan Senayan ini. Jadi selain pendamping dari YSI Bintaro, Kak Dhika dan petugas di halte Bunderan Senayan-nya, ada kakak berkemeja biru itu yang membantu mengangkat Bella dan Nurul. Makasih ya, kakak-yang-tidak-diketahui-namanya. (Kalo ada yang kenal dengan kakak ini, boleh loh dimensyen di kolom komen blog ini. Maacih)

Saat melewati jembatan di halte Bunderan Senayan

Back to Wisata Anak Bareng YSI Bintaro.

Sejak hari jumat malam, gue dan tim LO juga beberapa orang dari divisi perlengkapan menginap di hotel dekat Kebun Raya Bogor. Persiapan untuk acara esok harinya. 

Dari pagi, setelah sarapan kami bersiap ke TKP. Follow up para pengisi acara sudah sampai mana, check sound, GR, dan persiapan panggung lainnya. Excited, deg-degan, campur aduk, deh. Itu yang gue rasain di pagi hari itu. Mulai dari menghubungi pengisi acara yang gue handle, konfirmasi keberadaan mereka udah di mana, panik karena no respon dari CP yang dikasih ke gue. Banyak, deh.

Sekitar pukul 9-an, satu persatu peserta Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu ini mulai berdatangan dan Lapangan Randu di Kebun Raya Bogor ini pun mulai dipenuhi oleh panitia dan peserta yang mayoritas menggunakan kaos berwarna kuning.

Suasana di Lapangan Randu 


Dan mata gue mulai mencari-cari pengisi acara yang gue handle. Ada adik-adik tunanetra dari Sanggar Pelita Monas, yang akan membawakan Tari Saman dan bermain Angklung. Ada Fauzan dengan Autisme, yang jago main Biola, akan membawakan 2 lagu instrumen dengan Biola. Dan juga ada adik-adik Down Syndrome yang lucu-lucu dari Sanggar Tari Insan Anugerah yang membawakan Tarian Robotic.

Disaat gue sedang mencari-cari mereka di antara peserta lainnya yang hampir semuanya mengenakan kaos kuning cerah itu, gue melihat sosok yang gue kenal banget. Temen-temen dari Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung. Ada kak Yunas dan kak Lena, ada Icha juga (oke, memang hanya itu yang gue kenal dari Palsi Gunung). Langsung gue deketin mereka. Udah lama gue gak berkunjung ke Palsi Gunung, jadinya seneng banget bisa ketemu mereka di acara ini. Kangen mereka!. Mumpung belum terlalu sibuk, gue sempatkan diri menyapa rombongan dari Palsi Gunung ini. Kangen-kangenan, terutama sama Icha yang agak gemuk. Dan tak lupa gue juga mengabadikan pagi bersama mereka dengan berfoto. (Karena belom tentu nanti bisa foto lagi).

bersama rombongan dari Palsi Gunung
Gak cuma ketemu anak-anak dari Palsi Gunung. Gue pun ketemu dengan anak-anak dari YSI Barito. Mardi, Hosean, Mira, Irma, Tegar, dan banyaaak lagi. Bener-bener ajang temu kangen gue dengan malaikat-malaikat kecil yang udah lama gak gue temuin. Seketika hati gue berbunga-bunga. Setiap bercengkrama dengan mereka, selalu memberi suntikan semangat buat gue. Meskipun semalam kurang tidur, dan agak sedikit panik, tapi hilang seketika.

bersama anak-anak YSI Barito dan Inung.

Selesai bercengkrama dan berfoto-foto dengan anak-anak dari YSI Barito ini, gue kembali ke tugas gue sebenernya saat itu. Mencari keberadaan pengisi acara dan melihat persiapannya. Terutama dengan adik-adik tunanetra dari Sanggar Pelita Monas yang akan membawakan Tari Saman di awal acara. Setelah bertemu dengan Ibu Yani dari Sanggar Pelita Monas, memberitahu tentang rundown dan mempersilahkan adik-adik bersiap dan melakukan check sound untuk penampilan keduanya nanti. Selain Tari Saman, adik-adik dari Sanggar Pelita Monas ini juga akan tampil menampilkan permainan angklung mereka. Dan mereka semua berbakat.

adik-adik dari Sanggar Pelita Monas

Sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak, yang hampir semuanya masih sekolah tingkat menengah ini, tentang bagaimana mereka berlatih tarian Saman dan alat musik Angklung ini. Seru. Seperti kata Nurul, "awalnya emang susah, kak. Tapi setelah terbiasa, malah jadi gampang banget."

Nurul, dari Sanggar Pelita Monas
Gue pernah belajar Tari Saman. Pernah tampil membawakan Tarian Saman saat masih SMA dulu. Dan gue tau gak gampang berlatih untuk bisa menguasai Tarian Saman ini. Makanya gue kagum sama mereka. Semangat belajarnya tinggi. Mereka hebat, karena juga menguasai alat musik Angklung. Gue aja gak bisa. :')

Gak cuma adik-adik dari Sanggar Pelita Monas ini aja yang membuat gue kagum karena bakatnya. Ada Fauzan, meskipun terbatas dengan Autismenya, tapi Fauzan sangat ciamik saat memainkan Biola di atas panggung. Lagu yang dibawakan Fauzan saat dipanggung (yang gue inget) adalah lagunya Bruno Mars - Count On Me. Ini lagu kedua. Yang pertama gue agak lupa, karena tiba-tiba aja Shinta dari I'm Star ikut naik ke atas panggung mengiringi Fauzan dengan keyboardnya.

Fauzan ditemani Shinta dari I'm Star (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Satu lagi pengisi acara yang gue handle adalah adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah. Adik-adik dengan Down Syndrome ini membawakan Tarian Robotic. Lucu-lucu gerakannya. Bahkan ketika belum giliran mereka naik panggung, mereka tetap naik panggung. Ceritanya lagi check sound, yang diputerin lagu yang agak ngebeat, langsung mereka menyerbu panggung dan berjoget di atas panggung. Menghibur pengunjung lainnya. Dan mereka lucu-lucu.

adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah

adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah

Selain 3 pengisi acara yang gue sebutin di atas, acara Wisata Anak Bersama Sahabat YSI Bintaro ini juga dihibur oleh Shena (X-Factor), Pasha (AFI) yang mengajak serta Rifky (AFI), dan I'm Star, sebuah band yang personelnya merupakan anak-anak berbakat dengan Autisme.

kak Shena, kak Rifky dan kak Pasha (foto dokumentasi YSI Bintaro)
I'm Star (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Selain dihibur oleh musik dan tari, di Wisata Anak ini ada juga acara Lelang. Lelang lukisan hasil karya Pak Faisal Rusdi, yang melukis hanya dengan mulutnya karena keterbatasannya. Lukisannya terjual dengan harga yang cukup fantastis loh, gaes.

pak Faisal Rusdi sedang melukis (foto dokumentasi YSI Bintaro)


lelang lukisan pak Faisal Rusdi (foto dokumentasi YSI Bintaro)


Gak cuma lelang lukisan. Ada juga lelang Origami hasil karya Thomas Andika. Remaja pria dengan Autisme yang jago melipat-lipat kertas sehingga menghasilkan bentuk robot atau binatang.

Thomas (jaket abu-abu) sedang membuat origami (foto dokumen YSI Bintaro)
salah satu karya Thomas (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Lagi-lagi Allah seakan menyentil kepala gue melalui acara ini. Mereka, yang memiliki keterbatasan, namun masih bisa berkarya dengan baik. Nah gue? Lebih banyak males-malesannya daripada berkarya. :(

Oh iya, ada yang kelupaan. Acara Wisata Anak ini diawali dengan pelepasan balon warna-warni ke langit, loh, gaes. Jadi, seluruh pengisi dan peserta acara berkumpul di salah satu sisi lapangan Randu, untuk melepas balon warna-warni ini ke langit.

Pelepasan balon warna-warni (foto dokumentasi YSI Bintaro)
balon warna-warni menuju angkasa luas (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Nah, sepertinya udah hampir semuanya gue ceritain tentang acara Wisata Anak ini. Selain karena pengisi acara, ada lagi nih yang juga berjasa memeriahkan acara Wisata Anak ini. Tak lain dan tak bukan adalah para MC kondang, mbak Riry Wijaya, mbak Shanty, dan my favourite Announcer sejak SMA dulu.. Mas Imam Wibowo (yang ternyata tetep ganteng aja yaa mukanya, hehe). Mereka berhasil membuat acara Wisata Anak ini tetap "hidup".

trio MC kondang (foto dokumentasi YSI Bintaro)


kan.. mas Imam mukanya ga berubah, kan. teteup kasep :)
(foto dokumentasi YSI Bintaro)

Sebelum mengakhiri postingan ini, gue mau ngucapin makasih banget sama YSI Bintaro yang udah kasih gue kesempatan untuk bisa membantu di acara Wisata Anak ini. Banyak pengalaman berharga yang belom tentu gue dapetin lagi di kehidupan mendatang.

Aaaak, jadi kangen anak-anak lagi kan :(((

Ah, sudahlah... Sekian cerita dari gue tentang Weekend bersama Manusia-Manusia Hebat. Untuk dokumentasi lebih lengkapnya monggo mampir di FB YSI Bintaro.

Best Regrads!
Rula


(Start : Desember 2014, Finish: Januari 2015)

Kamis, 31 Oktober 2013

Traffic Light Untuk Pejalan Kaki


Sore itu, saya dan beberapa teman sedang makan mie ayam di pinggir jalan, tepatnya di seberang halte TransJakarta (TJ) Monas. Kebetulan saya duduknya menghadap ke jalan raya. Jadi, sambil menunggu pesanan mie ayam bakso saya datang, mata saya memperhatikan aktivitas di depan saya. Pedagang yang berjualan, mobil yang lalulalang dan pejalan kaki yang menyebrang jalan.

Ini yang lucu tapi miris.

Di jalan raya yang mengapit halte TJ Monas itu, terdapat Traffic Light yang dapat digunakan untuk para pejalan kaki yang akan menyeberang. Dengan cara, menekan tombol yang terdapat di tiang Traffic Light tersebut, kemudian menunggu beberapa saat hingga lampu yang berlambang orang berjalan itu menyala berwarna hijau. Yang artinya kendaraan bermotor harus berhenti dan pejalan kaki bisa menyeberang jalan dengan segera.

taken from here


taken from here

Tapi yang saya lihat, mayoritas dari para pejalan kaki tersebut menyebrang seenaknya, tanpa terlebih dahulu memencet tombol yang terdapat di Traffic Light dan menunggu lampu bergambar manusia itu berwarna hijau. Untungnya kendaraan yang lalu lalang sore itu tidak terlalu banyak dan tidak terlalu ngebut. Tidak hanya itu, tertangkap pula oleh mata saya ada pengendara motor yang menyeberang di zebra cross untuk pejalan kaki tersebut. Dan lagi, ternyata tombol Traffic Light nya tidak berfungsi dengan  baik di beberapa Traffic Light.  Hanya di sisi sebrang (yang sejajar dengan halte Busway, dan yang sejajar dengan Museum Nasional) yang tombolnya berfungsi. Jadi, kalau mau menyebrang dari sisi satunya, harus berteriak atau memberi kode kepada pejalan kaki ataupun pedagang yang ada di seberang jalan. Itu pun kalau mereka sadar.

Karena pemandangan yang saya lihat tersebut, terjadi perbincangan antara saya dan teman saya tentang Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Pernah dengar tentang GDN ini? Yap, gerakan yang pernah dicanangkan oleh Bapak Soeharto, Presiden RI jaman Orde Baru. Apa kabar gerakan itu di jaman Reformasi? Masih adakah GDN yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia?
Pertanyaan retoris, kah itu? Entah.

Yang ada dipikiran saya saat ini hanyalah… Miris.. Miris melihat masyarakat yang kurang disiplin, terutama dalam berlalulintas. Jujur saja, ini juga termasuk saya dan mungkin keluarga juga teman-teman saya.

Kalau kita lihat pemerintahan sekarang, khususnya wilayah DKI Jakarta, sudah mulai membenahi diri dalam segala bidang. Terutama bidang transportasi. Mulai dari angkutan umum hingga sarana dan prasarana lainnya. Ya, meskipun masih banyak yang complain juga…

Misalnya saja, beberapa armada angkutan umum sudah mulai diperbaiki, diuji kelaikan jalannya. Bahkan sudah ada Kopaja AC dan bus APTB yang terintegrasi dengan TransJakarta, sehingga bisa melalui dan terhubung dengan jalur TransJakarta (Busway),  yang diharapkan dapat memberikan kenyamanan juga kemudahan para pengguna transportasi umum. Ada juga CommuterLine (CL), transportasi massal yang paling banyak peminatnya karena lebih murah dan efisien, ini juga sudah mulai membenahi diri. Meskipun masih banyak juga yang complain tentang jumlah gerbong, karena masih harus berdesakan dengan penumpang lainnya –terutama di jam-jam berangkat dan pulang kerja, waktu kedatangan yang masih suka telat dan sering mengalami ganguan sinyal, juga di beberapa gerbong CL yang pendingin udara atau kipasnya tidak berfungsi sehingga udara dalam gerbongnya yang penuh dengan manusia yang berdesak-desakan itu jadi pengap dan panas. (Yang ini saya hapal banget, karena saya pengguna CL). Itu beberapa contohnya.  

Kembali ke sarana dan prasarana, Traffic Light untuk pejalan kaki, sarana ini sudah lama diadakan di beberapa ruas jalan, terutama jalan protokol dan yang tidak ada jembatan penyebrangan. Ya, salah satunya yang ada di depan Monumen Nasional itu. Namun, ternyata masyarakat pun kurang mengetahui kegunaan Traffic Light tersebut. Atau tahu, tapi pura-pura tidak tahu? ….

Entah..

Mungkin, memang harus ada sosialisasi untuk penggunaan sarana dan prasarana umum tersebut. Selain peningkatan kesadaran dalam diri manusia itu sendiri tentunya. Gerakan Disiplin Nasional. Disiplin dalam berlalu lintas, Disiplin dalam berkendara. Biar terciptanya aman, nyaman dan selamat bagi semua pengguna jalan…

taken from here


Itu aja


@rulachubby

Minggu, 14 Juli 2013

Harga BBM Naik, Harga Tiket Kereta Turun. Imbasnya?

Sebenernya udah lama gue mau nulis tentang ini. Tapi cuma ngumpul di otak, dan baru sempet sekarang nulisnya. Heheh..

Seperti yang semua udah tau, harga BBM naik sekitar dua ribu rupiah, yang akhirnya berimbas ke naiknya tarif transportasi umum, macam Mikrolet, Kopaja, Metromini, Patas AC, dll. Bahkan Ojeg juga ada beberapa yang naik (meskipun ada juga tukang ojeg yang bilang "terserah Non aja mau ngasih berapa" lah...). Oh iya, gak cuma itu. Harga beberapa kebutuhan pokok, macam sayur-mayur, daging, bumbu-bumbu masakan, juga cabe, ikutan naik. Drastis :((

Okeh, itu yang naek. Ternyata, pemerintah bikin kebijakan lain yang (sepertinya) berusaha mengimbangi kenaikan tarif transportasi umum itu. Seperti, harga tiket Transjakarta (TJ) yang tidak jadi dinaikkan (gossip awal Pak Jokowi mau naikin tarif TJ yang Rp3.500,- itu, tapi akhirnya dicancel), dan tarif KRL Commuterline (CL) yang sejak awal juli sudah memberlakukan tarif progressif. Gak cuma tiket kereta Jabodetabek yang jadi murah. Tiket kereta keluar kota juga beberapa ada yang turun harga. :D

Sebenernya, dengan gak naikin tarif TJ dan memberlakukan tarif progressif untuk CL itu merupakan strategi yang bagus. Salah satu cara menarik minat masyarakat untuk lebih menggunakan transportasi umum tersebut. Iya. Imbasnya si TJ dan si CL ini jadi banyak Fans-nya. Penuh. Crowded. 

Tapi, sayangnya semua itu belum dipikirkan dengan matang (menurut gue, sih). Mungkin gue mau ambil contoh dari diberlakukannya e-ticketing dan tarif progressif oleh PT. KAI, ya. Karena gue memang lebih banyak menggunakan si CL ini sehari-hari. Heheh.. piss (^_^)v

Tarif progressifnya begini, tarif Rp2.000,- untuk 5 (lima) stasiun pertama, dan dikenakan Rp500,- untuk 3 (tiga) stasiun berikutnya. Cheaper? Pastinya!. Jika dibandingkan dengan tarif awal CL yang rata Rp8.000,- (Depok - Kota) dan Rp9.000,- (Bogor - Kota), kini berubah drastis. Gue pribadi, yang menggunakan si CL dari stasiun Lenteng Agung - Gondangdia aja cuma kena tarif Rp3.000,- aja. Kalo ke stasiun Kota malah cuma kena Rp3.500,-. Berkurang Rp5.000,- ongkos gue dalam sehari :)). 

Itu kalo diliat dari tarifnya. Nominal uang yang harus gue keluarin. Kalo diliat dari pelayanannya? Umm...

Gue mau cerita aja kali ya, pengalaman gue naek CL setiap gue shift pagi. 

Biasanya, kalo gue gak mau telat sampe tempat kerja, jam setengah tujuh pagi itu gue udah harus ada di stasiun Lenteng dan naik CL pertama yang dateng. Baik itu yang ke Tanah Abang (nanti transit di Manggarai) atau pun yang ke Kota. Waktu masih tarif Rp8.000,- gue masih bisa masuk gerbong CL dengan santainya, karena jam segitu belom terlalu penuh penumpangnya, terutama di gerbong khusus penumpang wanita (gue emang selalu naik di gerbong ini). 

Tapi, semenjak diberlakukannya tarif progressif ini, sepertinya gue harus bangun lebih pagi lagi kalo gak mau telat sampe tempat kerja. Kenapa? Jadi begini, hari itu hari Senin, dan gue udah ada di stasiun Lenteng Agung sekitar jam setengah tujuh. Peron stasiun pagi itu udah penuh, macam jam tujuh pagi. Dan, cerita selanjutnya... gue gak bisa masuk ke gerbong CL. Iya, setiap CL yang dateng, selalu penuh dan yang bisa masuk cuma 1 atau 2 orang aja. Dan itu harus nekat dorong-dorongan. Entah berapa CL yang lewat, akhirnya gue baru bisa masuk gerbong CL yang jam 7.40 (waktu Lenteng dan sekitarnya). Ah, iya. Satu jam menunggu baru bisa masuk :( . Telat parah. Pastinya. Wong absennya 7.30 T_T.

Itu baru awal, masih ada kejadian heboh nihh di stasiun Gondangdia-nya. Begitu turun ke lantai 1 stasiun Gondangdia, tempat pintu keluar, terjadi antrian panjang manusia yang udah mengular hingga sisi utara stasiun. Iya, mengantri di pintu keluar e-ticketing. Dan... entah (lagi) itu memakan waktu berapa lama. Yang pasti, hari itu gue baru sampe tempat kerja jam 9.00. Telat parah :(((( 

Yah, itu sedikit curhatan gue. Soalnya itu gak cuma terjadi di satu hari tersebut. Tapi juga di hari-hari berikutnya. Ya untungnya gue bisa nyari celah untuk bisa masuk gerbong CL setiap ada CL yang datang. Musti nahan badan yang di gencet-gencet di dalem gerbong CL yang penuh sesak sama manusia. Bahkan kadang gue sampe susah napas, sangking padetnya. Dan (lagi), gue harus merelakan satu sampai dua menit waktu gue untuk mengantri di pintu keluar e-ticketing stasiun Gondangdia. 

Tapi ada satu hal yang gue suka dari diberlakukannya e-ticketing tarif progressif ini. Selain harga murah, PT. KAI juga menyediakan e-ticketing Multi Trip, yang bisa diisi ulang saldonya. Dengan membeli kartu Multi Trip seharga Rp.50.000,- kita mendapat saldo Rp30.000,- dan bisa di-top up mulai dari Rp5.000 (maksimalnya gue lupa). 

Umm, ini bukan promosi Multi Trip, loh yaaa.. Tapi emang gue dan (mungkin) penumpang CL lainnya merasa terbantu dengan adanya si kartu Multi Trip ini.. hehehe...

Multi Trip tampak depan

Multi Trip tampak belakang

Ah, sudah lah.. Kalo dilanjutin, bisa ceracau kemana-mana ini. Intinya, harga BBM naik dan harga tiket kereta turun, berimbas ke penumpukan penumpang di stasiun, yang (masih) belom bisa keangkut sama CL yang dateng, meskipun si CL udah mulai diperbanyak dan jadwal kedatangannya pun sudah lumayan sering. Tapi tetep yaa masih terasa kurang. (Ini sepertinya faktor kebanyakan penduduk deh di Jakarta, #eh, #piss)


Sekian dulu curhatan dari gue. Kalo jadinya aneh, gak nyambung, dan lain-lain, mohon dimaafkan.. 

Cheers, 

@rulachubby
(^_^)v




Jumat, 17 Februari 2012

“Wanita Bar-Bar”

Pengalaman Antri di Antrian Wanita Koridor 6 Halte Busway Dukuh Atas 2

Gw mau curhaat!!!!

Sebenernya siih, ini bukan sekedar curhatan gw aja, tapi juga pemikiran gw, pendapat gw selama jadi ‘fans’nya TransJakarta terutama Koridor 6. Gw mau cerita pengalaman gw menggunakan TransJakarta Busway Koridor 6. Eeh tapi gw ga mau cerita tentang TransJakartanya yaah. Gw mau cerita pengalaman gw ngantri di antrian Wanita Koridor 6 TransJakarta di halte busway Dukuh Atas 2. Dan gw beri judul tulisan gw ini “Wanita Bar-Bar” (sebelumnya, maaf banget buat yg ga suka sama tulisan gw ini yg mungkin kasar atau apalah.. it’s just my opinion yaah.. kalo ga suka yaa Maap..)

Kenapa gw kasih judul “Wanita Bar-Bar”?? Let’s We Start the Stories…

Sejak Oktober akhir 2011 yang lalu gw mulai jadi penggemar setianya TransJakarta Busway lagi, terutama jam pulang kantor skitar jam 4-5 sore lah. Dan gw biasanya transit di halte Dukuh Atas 2, kadang-kadang aja transit  halte Monas tapi karena nunggu TJnya lama bangett, jadinya gw lebih sering ke Dukuh Atas lah..

Kondisi halte busway Dukuh Atas 2 emang ga pernah bisa di prediksi dengan pasti. Kadang sepi kadang ramee antriannya (di jam 4-6 sore loh yaa). Kedatangan TJ kor. 6 juga ga pernah pasti, kadang lama kadang cepet. Gw ga akan bahas tentang halte busway yang sepi antrian. Tapi gw mau bahas kondisi halte busway yang rame antrian penumpangnya (seringnya sampe naek keatas jembatan penyebrangan).

Selalu dan selalu terjadi di setiap antrian panjang, TJ yang lama datengnya (ini yg bikin antrian tambah panjang), penumpang yang mulai emosi (ga pria, ga wanita sama-sama emosi), tambah emosi lagi begitu lihat ke antrian Ibu-ibu hamil dan lansia rame (kadang ada juga yg beli tiketnya di Loket Dukuh Atas 2 ikut antrian ini). Gw ngerti siih, pulang kerja ituuu emang cape, maunya cepet-cepet sampe rumah biar bisa istirahat. Semua pasti maunya gitu kan???

Ga jugaa ternyata, ada beberapa penumpang yang antri (terutama di antrian wanita) yang maunya dapet duduk di TJ biar bisa tidur sampe Halte tujuan. Ini yang jadi masalahnya. Para wanita yang ga mau berdiri di dalem TJ otomatis ga akan masuk ke TJ kalo lihat tempat duduknya penuh. Dan otomatis mereka “harusnya” langsung menepi dari antrian biar yang di belakang mereka (yang buru-buru dan mau berdiri) bisa masuk ke dalam TJ. Kalo teratur semua baik-baik ajaa.. gw jamin…

Tapi ternyata selama ini yang gw alamin (btw, gw kadang lebih milih nunggu dapet duduk biar bisa tidur di TJ), begitu TJ berhenti di depan antrian Kor. 6 dari antrian belakang udah mulai dorong-dorong untuk maju kedepan padahal pintu TJnya aja belom dibuka.. “hello ga pake dorong-dorongan kaliii”. Ini yang gw bilang “Wanita Bar-Bar”.

Biasanya gw ngantrinya di pinggiran (biar bisa nyender maksudnya), dan saat TJ dateng otomatis gw ikut maju kedepan juga donk. Tapi, dari depan dan kanan gw dorong-dorongnya hebat banget, sampe-sampe gw ke gencet antara badan orang di kanan gw dengan dinding halte di kiri gw. Dan itu rasanya SAKIT bangett. Pernah sampe tangan gw agak luka kebaret (gw ga tau kebaret apa, tiba-tiba udah perih aja). And you know?? Ngantri TJ kor .6 di halte busway Dukuh Atas 2 saat jam pulang kantor ini mengingatkan gw saat nonton Konser The Moffatts di tahun 2000 dulu. Desek-desekan, dorong-dorongan sampe ga bisa napas (kalo konser-konser sekarang lebih rapi kan antriannya). Gw juga inget jaman-jamannya ikut Nyokap ke kantornya naek KRL, desek-desekan, dorong-dorongan dan nyaris HILANG di dalem KRL. Hampir sama.

Gw ngerti kok semua yang antri mau masuk ke dalem TJ, mau cepet-cepet sampe tempat tujuan, udah capek kerja dan segala macem alesan yang pasti beragam. Gw juga sama. tapi mungkin gw emang maunya duduk, karena gw tau kondisi gw gimana (biasanya kalo lagi ga fit gw nunggu yg dapet duduk).

Tapi, pernah ga siih kalian HEY WANITA mikir posisi yang ngantri paling depan bisa jatoh akibat dorong-dorongan? Yang badannya kecil bisa kegencet akibat dorong-dorongan?? Dan bus TransJakarta kan punya kapasitas penumpang, kalo dari halte Dukuh Atas 2 aja TJ udah penuh, nasib penumpang yang antri di Halte busway setelah Dukuh Atas 2 gimana?? Pasti ga keangkut kan?? Padahal mereka itu sama-sama ingin cepet-cepet sampe tempat tujuan, sama-sama buru-buru. THINK!!

Okey, mungkin ada sebagian yang beranggapan, “itu derita lo” atau “itu bukan urusan gw”. Ooh Ladiesss!! C’mon… TransJakarta Busway ini kan TRANSPORTASI MASSAL, untuk umum, di gunakan bersama untuk masyarakat. So, harusnya kita berbagi kan?? Biarlah petugas Outbordernya yang ngatur seberapa banyak penumpang yang boleh masuk di Halte Dukuh Atas 2.

Hmm. Ini baru kejadian hari ini. Tadi sore di Halte Dukuh Atas 2 sekitar Jam 5. Kebetulan gw pribadi emang kurang Fit dan gw nunggu yang dapet duduk. Pas gw sampe di antrian paling depan dan posisi gw udah di pinggir (minggir banget tepatnya) gw berhenti, ga naek karena emang udah penuh juga. Tapi ada satu wanita suaranya dari belakang antrian yang bilang ke petugas Outbordernya “mba, yang depan suruh maju donk” si petugasnya jawab “orangnya ga mau maju mbak”. Dan gw melihat ke samping kanan gw, ibu-ibu hampir jatoh karena di dorong dari belakang. Abis itu gw sempet denger ada yang bilang “kalo mau tidur naek taksi aja” dan gw hanya bisa ketawa dalam hati denger ucapan itu. Itu baru awal.

TJ berikutnya dateng, dan gw masih diem di tempat dan lebih memiringkan badan (mepet abiis) biar yang di belakang gw bisa masuk ke TJ. Dan apa yang gw denger “eh, mbak jangan egois dong, yang laen kan buru-buru, jangan ngalangin yang mau masuk” kurang lebih gitu deh yang gw denger. Padahal itu posisi gw udah meluk besi pilar yang nyanggah jembatan penghubung antara halte dengan TJ dan badan gw kegencet-gencet orang yang masuk, yang memungkinkan gw untuk jatoh kalo gw ga pegangan kuat-kuat. Dan gw hanya bisa tersenyum dalam hati… “hellooo sekarang siapa yang egois cobaa?? Dorong-dorong orang, ga peduli di depan udah ada yang mau jatoh Cuma biar bisa secepatnya masuk TJ, secepatnya sampe tempat tujuan.” Gw Cuma bisa berucap itu dalem hati. Miris…

Yaah, namanya juga manusia.. siapapun itu pasti punya sifat egois. Gw akuin gw emang punya sifat egois. Dan gw ga mau nyalahin orang laen. Mungkin posisi gw tadi masih ngalangin jalan orang yang mau masuk TJ. “Maaf yaa, ibu-ibu, mbak-mbak yang tadi kehalangan sama badan saya yang besar…”

Cuma sekedar saran untuk petugas Halte / outborder Busway TransJakarta dimana aja… mohon dengan sangat KETEGASANNYA saat mengatur antrian penumpang. Masih banyak penumpang yang “bandel” dan “egois”. Mohon juga di atur jadwal BBG yang biasanya bentrok dengan jam pulang kantor (saat penumpang lagi rame-ramenya dan macet-macetnya). Sudah banyak warga Jakarta yang percaya menggunakan jasa TransJakarta Busway untuk mobilitasnya sehari-hari. So, sudah sepatutnya perusahaan TransJakarta memberikan pelayanan yang terbaik. Terutama armada, pramudi dan petugasnya yang lain. Supaya lebih maju, dan semakin baik dimata masyarakat.

Ini hanya tulisan seorang penumpang TransJakarta Busway yang sehari-harinya menggunakan jasa angkutan missal ini. Jika ada yang kurang berkenan mohon di maafkan.. *sungkem*

@rulachubby