Rabu, 12 Maret 2014

Lelaki Itu Bernama Raymon



Lelaki Itu Bernama Raymon

by Nurul Aria / @rulachubby



Lelaki itu. Sudah beberapa bulan ini memenuhi hati dan pikiranku. Dan selalu ada rasa, entah harus aku deskripsikan seperti apa, yang selalu menggelitik dalam perutku setiap melihat lelaki bertubuh atletis dengan rambut tipis yang tumbuh di sekitar tulang rahang dan menutupi dagunya. Terlihat maskulin. Sempurna, seperti yang dibilang kebanyakan gadis-gadis yang kukenal. Tinggi tubuhnya yang mendukung penampilannya bak seorang model papan atas, membuatku harus sedikit mendongak untuk bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Lelaki itu. Ia menghampiriku yang masih bergeming, di tempatku berdiri memperhatikannya sejak tadi. Bahkan, retinaku masih mengikuti gerakan tubuhnya yang semakin lama semakin mendekatiku. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan salah satu lekukan di pipi kirinya yang membuatnya semakin terlihat manis.

“Sudah lama berdiri di sini, Beb?” sentuhan lembut tangan kanannya yang kekar di pipiku dan tangan kirinya yang langsung melingkar di pinggangku menimbulkan efek sengatan listrik voltase rendah, yang menjalar hingga ke seluruh tubuhku dan lagi-lagi menggelitik perutku. Seharusnya, saat ini rona merah sudah memenuhi kedua pipiku yang tidak bisa dibilang tirus ini. Rasa hangat menyelimuti wajah juga hatiku. Hal yang selalu aku rindukan jika sedang berjauhan dengan lelaki beraroma maskulin ini.

“Sst.. Kamu gak malu dilihat banyak orang?” cegahku ketika ia mendekatkan wajahnya mendekati wajahku. Yang kemudian membuat sudut-sudut bibirnya tertarik ke tengah membentuk garis datar. Lengan kirinya yang sejak ia datang melingkar di pinggangku pun langsung ditariknya kembali. Kaku.

*** 

Lelaki yang menarik hatiku itu bernama Raymon. Diperkenalkan oleh Wina, sahabatku sejak kecil, saat aku baru saja menginjakkan kaki di Jakarta. Wina menjemputku di bandara bersama Raymon, teman kampusnya dulu. Itu yang dibilang Wina padaku. Pertemuan pertama kami itu ternyata melahirkan pertemuan selanjutnya, dan selanjutnya... Hingga saat ini.

Lelaki yang memiliki rasa humor itu, selalu bisa membuatku tertawa saat aku sedih. Membuatku hangat saat dingin menyiksaku. Sekaligus membuatku tersiksa rasa rindu saat tidak bersamanya. Ya, I am falling in love with him. Diam-diam. Tanpa diketahui Wina, sahabatku. Sejujurnya, aku tahu kalau Wina pun menyukai lelaki bernama Raymon ini. I just know it.

Tapi...

Ternyata...

Lelaki yang banyak digilai banyak gadis itu ternyata memilihku. Bukan Wina, bukan gadis lainnya. Tapi aku. Aku tidak cantik dan sempurna seperti Wina. Bahkan aku tidak bisa dibandingkan dengan gadis manapun di muka bumi ini. Sangat berbeda. Aku bahkan tidak pantas dibandingkan dengan gadis lainnya.

Lelaki itu...

***

What? Gue gak salah denger kan, Ren?” Wina seakan tak percaya akan pendengarannya saat ku ceritakan semua yang aku rasakan beberapa bulan ini. “Lo... sama Raymon?” Wina menggerakkan jari telunjuk kanannya ke arahku, dan arah lainnya seperti orang linglung.  Aku hanya mengangguk, mengiyakan ketidakyakinan Wina akan ceritaku tadi.

“Se.. sejak kapan, Ren?” kali ini suaranya lemah. Masih ada sisa keterkejutan dalam diri Wina.
A few months ago.” retinaku hanya memandang sepatu biru pemberian Raymon yang kupakai saat ini.

“Win, I'm so sorry for this. Gue tau lo udah lama suka sama Ray. Dari cerita-cerita lo tentang dia. Semua curhatan lo tentang dia.” kuberanikan diri menatap Wina yang masih bergeming di hadapanku. “Tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue, Win. I do love him. Pun dengan Ray.”

Kulihat Wina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Gue gak ngelarang lo untuk jatuh cinta, Ren. But why must Ray? He is a...” Wina tak bisa meneruskan perkataannya.
“Gue tau ini salah, Win. Tapi...”
No. It's not wrong. Cuma, gue gak habis pikir. Entah apa yang lagi ada dipikiran si Cupid yang ada di belakangnya Raymon, lelaki yang gue suka, saat ngelepas anak panah dari busurnya hingga kena ke lo, Rendy, sahabat lelaki yang sangat gue percaya untuk nampung semua cerita-cerita gue tentang Raymon. Dan bukan ke gue. I can't believe this.” Lagi-lagi Wina membenamkan wajahnya dalam jemarinya yang lentik.

***

Lelaki itu bernama Raymon. Lelaki bertubuh atletis yang sangat disukai Wina, sahabatku sejak kecil. Lelaki yang sama dengan yang berada di sampingku saat ini.  



*** 

Happy belated New Year 2014!!


Hiihihi.. I know it was late to say Happy New Year.  Udah bulan Maret, loh, Rul! *sungkem sama semuanya*. 3 bulan lebih ini blog gue anggurin, untungnya gak lumutan.

Dan alibinya adalah -> Bisa jadi karena memang kerjaannya lagi ribet dan sibuk. Bisa juga karena memang tidak ada waktu untuk ngetik dan update blog. Bisa juga karena memang gak ada ide untuk nulis. Bisa juga karena waktunya lebih sering digunakan untuk streaming film korea atau film bioskop yang belum sempat ditonton. Atau, bisa juga waktunya habis terpakai untuk main Candy Crush Saga dan Farm Heroes Saga yang lebih seringnya stuck di level tertentu daripada move on dari level itu. *pasang senyum manis*

Itu lah beberapa pembelaan diri gue tentang kekosongan di blog ini. Dan seperti saat ini pun, gue sebenernya bingung mau nulis apa. Heheh..

Hmm.. How about.. Kalo gue cerita tentang salah satu trauma gue? Salah satu aja. Gue, pernah –dan  bisa dibilang masih– trauma  sama binatang berjenis Anjing. It’s true. Sampe saat ini pun, kalo ketemu langsung sama binatang ini pun gue masih dagdigdug dwer lah. Takut banget. Even si Anjingnya di rantai dan yang punya Anjingnya ada disitu, tetep gue lebih memilih melipir, pergi jauh-jauh dari binatang berbulu ini. Pernah, si pemilik Anjing sampe bilang ke gue “Tenang aja, mbak. Anjingnya udah jinak, kok” dan gue mencoba untuk sopan dengan membalas “Maaf, pak. Tapi saya memang phobia sama Anjing”. Dan kemudian gue menjauh dari si Anjing juga Majikannya sambil menata jantung gue yang mau copot.

Tapi kalo cuma liat foto atau gambar Anjing, gue malah suka. Lucu-lucu sih.. 

Duh, gue nulis apa sih di atas? :))

Sekian dulu ya tulisan ngaco gue. Next gue coba ngisi blog ini dengan yang bermanfaat. Insyaallah... 

See ya!

Kamis, 12 Desember 2013

Diary Nebeng.. Episode 2

Dear Diary...

Gue mau lanjut cerita tentang Keluarga baru gue lagi, ya...

Kali ini tentang....


Diawal tahun 2013, gue dan beberapa temen di komunitas sosial yang gue ikutin, bergabung di event Tahun Baru Bagi-Bagi yang digagas bu dokter Diana, atau yang akrab disapa kak Yeyen (@rockadocta). 

Kak Yeyen (yang pake baju hitam 2 dari kiri)

Di kegiatan sosial –membagi-bagikan roti dan air mineral untuk mereka yang kurang beruntung- ini, gue ketemu lagi dengan @nebengers. Iya, komunitas berbagi seat kosong ini ambil bagian dalam kegiatan sosial ini. Sebagian besar dari mereka membawa kendaraan pribadi. Jadinya, dibagi kelompok dan wilayah pembagian rotinya. Saat itu gue sekelompok sama Oma Finky (dari Westlife Charity), Sonny dan temennya –ini gue lupa namanya, jujur. Maaf-. Sonny ini dari Nebengers wilayah Cibubur. Gue sama Oma Finky ini nebeng mobilnya Sonny buat bagi-bagiin roti dan air mineral ke wilayah utara Jakarta. Lebih tepatnya ke sekitar Gunung Sahari, Ancol, Kota, sekitar situ deh.

Seru. Dengerin Sonny dan temennya itu cerita-cerita kesehariannya. Haru. Saat bertemu seorang bapak tua berjalan sendirian sambil membawa karung yang entah isinya apa, terus kita berhenti dipinggir jalan, turun dari mobil, ngasih roti dan air mineralnya, kemudian si bapak berucap terima kasih dan doa (yang jujur membuat gue merinding haru). Keren lah!

Pertemuan kedua gue dengan nebengers kali ini, lebih rame, lebih seru. Karena gue bertemu lebih banyak anak Nebengers yang rela bangun pagi. Dan ini beberapa foto hasil dokumentasi (yang gue pinjem dari grup FBnya BFLAct). Kangen kebersamaan ini bareng kalian lagiii... Hehe.

Kak Ciput dan Mas Eas, Foundernya @nebengers

Bersama kakak-kakak dari BFLAct, Nebengers dan IHK
(itu yang sebelah kanan bawah pake baju biru, namanya Sonny)

Dee, Bang Reza Moko, Kak Ari, Maya dari nebengers
(maaf, yang paling kiri aku lupa namanya)

ini Kak Fina dan Maya

Keluarga Nebengers 

Kakak-kakak dari BFLAct


more foto bisa dilihat di sini

Ini dulu ya curhatannya. Berharap bisa ngalamin lagi Tahun Baru Bagi-Bagi di akhir tahun 2013 ini. I wish!

Sekian dan terima tebengan.

@rulachubby

Kamis, 05 Desember 2013

Diary Nebeng.. Episode 1

Dear Diary….

Kali ini gue mau cerita tentang keluarga baru gue. Keluarga yang sebenernya udah gue kenal sejak akhir 2012, namun mulai akrabnya pertengahan 2013 ini. Gue lebih sering menyebut keluarga baru gue, Keluarga Nebengers.



Awal mula gue kenal @nebengers ini dari social media berlogo burung biru, alias Twitter. Salah satu akun yang gue follow sedang berkicau tentang komunitas berbagi seat kosong ini. Yang akhirnya gue ikutan follow dan stalking akun yang logonya mayoritas berwarna hijau ini. Sekali-kali ikutan posting rute. Tapi belum pernah, tuh, dapet tebengan.

Gue juga udah isi database di web-nya. Tapi, masih belum beruntung. Mungkin karena rute dan jam kerja gue yang beda sama orang kantoran kebanyakan. Rute sih, Ciganjur – Sarinah – Ciganjur. Tapi jamnya itu. Gue masuk kerja jam setengah delapan pagi, paling telat berangkat dari rumah itu jam setengah enam pagi, lah, kalo mau naik angkutan umum. Pulang kerjanya jam setengah tiga siang. Itu kalo shift pagi. Kalo shift sore, berangkat jam dua belas siang, pulangnya setengah sembilan malam. Hehe. Jarang beruntungnya.

Pernah juga gue iseng dateng ke Kopdar (Kopi Darat, alias ketemuan) Nebengers #TeamJakSel di salah satu restoran cepat saji di bilangan Kuningan. Deket, lah, dari tempat kerja gue. Ditambah lagi jam pulang kerja gue yang lebih cepat dari orang kantoran, jadilah gue jam tiga sore itu udah duduk manis di salah satu kursi panjang di restoran cepat saji itu. Padahal kopdarnya itu After Office Hour –yang bisa dibilang diatas jam lima sore-. Oke, gue harus menunggu lebih dari dua jam di restoran cepat saji yang pendinginnya cukup membuat gue kedinginan.

Nggak cuma itu. Saat itu, gue masih menggunakan ponsel yang belum canggih. Belum beli pengganti ponsel pintar gue yang rusak sehabis dipeluk ombak waktu ke Bali (baca Bali Trip, Day 1 part 1). Dengan modal ponsel yang belum pintar, juga pulsa yang untungnya selalu ada itu, gue sms ke temen gue untuk liatin timeline-nya @nebengers, cari info tentang kopdar hari itu. (Makasihh Meghaaa :*)

Sambil menunggu orang-orang yang memang belom pernah gue kenal itu, gue iseng-iseng nulis, baca majalah, makan es krim yang dijual di restoran cepat saji itu. Mulai dari sepi – ramai – sepi lagi – ramai lagi. Gue nggak juga beranjak dari tempat gue duduk. Sesekali memperhatikan seisi ruangan restoran cepat saji itu. Nggak ada yang gue kenal.

Sampai ada tiga orang, satu orang lelaki kurus agak kemayu, satu orang lelaki berpostur atletis berkacamata dan satu perempuan agak gemuk dengan rambut bob pendek berponi, yang masuk ke restoran itu dan duduk persis di meja-kursi yang berhadapan dengan posisi gue duduk. Entah kenapa gue sempet nebak dalam hati, itu pasti anak nebengers, deh. Gue juga sempet merasa diliatin terus sama mereka. Hehe (mungkin gue terlalu ge-er-an. mungkin).  

Udah mulai sore, mulai banyak orang yang berdatangan dan mendekati tiga orang di seberang gue itu. Dan nggak lama, akhirnya mereka pindah ke meja sisi kiri gue -yang memang bisa menampung lebih banyak orang. Sayangnya saat itu gue masih bergeming dari tempat gue duduk dengan sesekali menguping keseruan obrolan mereka. Iri. Tapi gue terlalu takut dan malu untuk ikutan nimbrung. Gue memang termasuk pemalu kalo ketemu orang baru, yang belom gue kenal sama sekali. Ya.. setelah beberapa kali nguping, akhirnya gue memberanikan diri untuk nanya sama orang terdekat gue, ini nebengers, ya?. Setelah itu, akhirnya gue ikut gabung, dan ikut memperkenalkan diri gue ke semua yang hadir saat itu.

Mereka semua seru, rame, baik, ramah, open minded. Nggak nyesel lah gue nunggu dari jam tiga sore di ruangan yang dingin itu. Gue nggak inget semua yang hadir, tapi yang gue tau, saat itu ada Mas Eas dan Mbak Putri Sentanu –yang ternyata foundernya @nebengers-, bang Gamma (pria berpostur atletis berkacamata yang gue sebut di awal cerita tadi), bang Reza Moko (lelaki kurus agak kemayu), Dyah Sisca atau yang biasa dipanggil Deedee (perempuan agak gemuk dengan rambut bob pendek berponi), Mbak Prima, Mbak Adinda, Mas Eka, Babang Nino, Kak Fina, Onic, Kak Ari, Teh Hera, bang Lipi, dan yang lainnya –nggak inget lagi siapa namanya, padahal ini sambil liatin foto pas kopdarnya itu. Uwuwuwu-. Ohiya, pas pulangnya, gue bareng Kak Fina dan Onic naik TJ, sedangkan beberapa yang lainnya masih lanjut karaokean. Hehe.

(Foto from bang Gamma)


Itu cerita pertama kali gue gabung @nebengers.

Dan... masih banyak cerita lainnya..
Next episode, yahh (^_^)v

Sekian dan terima tebengan

@rulachubby




Kamis, 31 Oktober 2013

Traffic Light Untuk Pejalan Kaki


Sore itu, saya dan beberapa teman sedang makan mie ayam di pinggir jalan, tepatnya di seberang halte TransJakarta (TJ) Monas. Kebetulan saya duduknya menghadap ke jalan raya. Jadi, sambil menunggu pesanan mie ayam bakso saya datang, mata saya memperhatikan aktivitas di depan saya. Pedagang yang berjualan, mobil yang lalulalang dan pejalan kaki yang menyebrang jalan.

Ini yang lucu tapi miris.

Di jalan raya yang mengapit halte TJ Monas itu, terdapat Traffic Light yang dapat digunakan untuk para pejalan kaki yang akan menyeberang. Dengan cara, menekan tombol yang terdapat di tiang Traffic Light tersebut, kemudian menunggu beberapa saat hingga lampu yang berlambang orang berjalan itu menyala berwarna hijau. Yang artinya kendaraan bermotor harus berhenti dan pejalan kaki bisa menyeberang jalan dengan segera.

taken from here


taken from here

Tapi yang saya lihat, mayoritas dari para pejalan kaki tersebut menyebrang seenaknya, tanpa terlebih dahulu memencet tombol yang terdapat di Traffic Light dan menunggu lampu bergambar manusia itu berwarna hijau. Untungnya kendaraan yang lalu lalang sore itu tidak terlalu banyak dan tidak terlalu ngebut. Tidak hanya itu, tertangkap pula oleh mata saya ada pengendara motor yang menyeberang di zebra cross untuk pejalan kaki tersebut. Dan lagi, ternyata tombol Traffic Light nya tidak berfungsi dengan  baik di beberapa Traffic Light.  Hanya di sisi sebrang (yang sejajar dengan halte Busway, dan yang sejajar dengan Museum Nasional) yang tombolnya berfungsi. Jadi, kalau mau menyebrang dari sisi satunya, harus berteriak atau memberi kode kepada pejalan kaki ataupun pedagang yang ada di seberang jalan. Itu pun kalau mereka sadar.

Karena pemandangan yang saya lihat tersebut, terjadi perbincangan antara saya dan teman saya tentang Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Pernah dengar tentang GDN ini? Yap, gerakan yang pernah dicanangkan oleh Bapak Soeharto, Presiden RI jaman Orde Baru. Apa kabar gerakan itu di jaman Reformasi? Masih adakah GDN yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia?
Pertanyaan retoris, kah itu? Entah.

Yang ada dipikiran saya saat ini hanyalah… Miris.. Miris melihat masyarakat yang kurang disiplin, terutama dalam berlalulintas. Jujur saja, ini juga termasuk saya dan mungkin keluarga juga teman-teman saya.

Kalau kita lihat pemerintahan sekarang, khususnya wilayah DKI Jakarta, sudah mulai membenahi diri dalam segala bidang. Terutama bidang transportasi. Mulai dari angkutan umum hingga sarana dan prasarana lainnya. Ya, meskipun masih banyak yang complain juga…

Misalnya saja, beberapa armada angkutan umum sudah mulai diperbaiki, diuji kelaikan jalannya. Bahkan sudah ada Kopaja AC dan bus APTB yang terintegrasi dengan TransJakarta, sehingga bisa melalui dan terhubung dengan jalur TransJakarta (Busway),  yang diharapkan dapat memberikan kenyamanan juga kemudahan para pengguna transportasi umum. Ada juga CommuterLine (CL), transportasi massal yang paling banyak peminatnya karena lebih murah dan efisien, ini juga sudah mulai membenahi diri. Meskipun masih banyak juga yang complain tentang jumlah gerbong, karena masih harus berdesakan dengan penumpang lainnya –terutama di jam-jam berangkat dan pulang kerja, waktu kedatangan yang masih suka telat dan sering mengalami ganguan sinyal, juga di beberapa gerbong CL yang pendingin udara atau kipasnya tidak berfungsi sehingga udara dalam gerbongnya yang penuh dengan manusia yang berdesak-desakan itu jadi pengap dan panas. (Yang ini saya hapal banget, karena saya pengguna CL). Itu beberapa contohnya.  

Kembali ke sarana dan prasarana, Traffic Light untuk pejalan kaki, sarana ini sudah lama diadakan di beberapa ruas jalan, terutama jalan protokol dan yang tidak ada jembatan penyebrangan. Ya, salah satunya yang ada di depan Monumen Nasional itu. Namun, ternyata masyarakat pun kurang mengetahui kegunaan Traffic Light tersebut. Atau tahu, tapi pura-pura tidak tahu? ….

Entah..

Mungkin, memang harus ada sosialisasi untuk penggunaan sarana dan prasarana umum tersebut. Selain peningkatan kesadaran dalam diri manusia itu sendiri tentunya. Gerakan Disiplin Nasional. Disiplin dalam berlalu lintas, Disiplin dalam berkendara. Biar terciptanya aman, nyaman dan selamat bagi semua pengguna jalan…

taken from here


Itu aja


@rulachubby