Tampilkan postingan dengan label Trauma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trauma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 September 2014

25 Day Blog Challenge, Day 3 : What Are You Afraid Of?



Haiiii... 

Udah hari ketiga dari dua puluh lima hari tantangan ngeblog ini yang gue ikutin. Dan judul kali ini adalah hal yang gue takutin. Humm....

First of all... 
Gue masih paling takut sama Arsiteknya Manusia. Masih takut masuk Neraka tapi gak yakin bakal masuk Surga. Karena sampai saat ini gue masih belum bisa menjalankan perintah-Nya dengan baik, dan juga masih belum bisa menghindari larangan-Nya dengan sempurna. Masih terlena dengan hedonisme.

Ketakutan lainnya adalah takut sama Anjing, atau bahasa kerennya Cynophobia. 
Berawal dari trauma, sih. Kejadiannya pas gue masih SD (lupa kelas berapa), gue dan beberapa temen main keliling komplek naik sepeda. Saat itu kondisi jalan masih agak bebatuan, gak rata dan belum diaspal. Gue, yang belum terlalu mahir mengendarai sepeda, masih suka hilang keseimbangan kalo di jalanan yang gak rata. Nah, pas ngelewatin rumah tetangga gue yang punya Anjing, kalo gak salah nama Anjingnya Bleki, dan juga depan rumahnya itu jalanannya agak turunan dengan bebatuan, temen-temen gue pada ngebut. Gue ditinggal sendirian. Sialnya, pintu gerbang rumah tetangga gue itu kebuka lebar, dan si Bleki gak dirantai. Dari jauh si Bleki udah menggonggong, yang bikin gue panik, nih.
Karena panik, sehingga gak fokus buat nyeimbangin sepeda di jalanan menurun dan bebatuan itu, akhirnya gue ngerem mendadak pas di depan rumah tetangga gue itu. Dari pada jatoh. Eh, ternyata si Bleki udah berjarak sejengkal aja dari ban sepeda bagian depan juga kaki kiri gue yang menapak di jalan bebatu sambil terus menggonggong ke arah gue. Sedikit lagi pasti gue digigit, nih, sama Bleki. 
Udah teriak-teriak kenceng manggil nama Ibu, karena takut digigit Bleki. Untungnya yang punya rumah langsung keluar, narik Bleki masuk ke dalem rumah dan nutup gerbang. Gue? Tetap terbujur kaku, mematung di atas sepeda dengan badan gemetar agak hebat, dan muka udah banjir air mata.
Semenjak hari itu, setiap ngeliat makhluk manis berjenis Anjing ini gue langsung dagdigdugduerrr. Parno sendiri. Keringet dingin. Dan otomatis gak mau digerakin. Kaku. Mematung. Padahal si Anjingnya belom tentu galak. Pun bila si Anjing lagi sama majikannya, gue tetep memilih menjauh, cari jalan muter biar gak papasan sama binatang yang hobi menjulurkan lidahnya ini.
Tapi untungnya beberapa waktu belakangan ini gue udah mulai bisa lebih berdamai dengan jantung dan indra persyarafan gue tiap ketemu Anjing. Mulai bisa lebih tenang. Meskipun masih sedikit dagdigdug, dan sesekali ngeliat kebelakang kalo udah berhasil ngelewatin Anjingnya. Fufufuf..

Baru cerita Anjing aja udah panjang bingitsss... Padahal masih ada dua ketakutan gue lagi yang mau gue share...

Ketakutan lainnya yang menurut gue agak parah dan aneh ini adalah... Gue takut dengan Pernikahan. Tapi di satu sisi gue sangat ingin Menikah. Dilema. :/
Alasannya? Mungkin karena gue sering ngeliat berita di televisi banyak artis yang Nikah, abis itu Cerai, beberapa bulan kemudian nikah lagi, Cerai lagi. Gak cuma dari berita di tivi sih... Sekitar gue juga ada yang ngalamin kayak gitu. Makanya gue jadi takut. Takut kalau nantinya gue Nikah, akan ngalamin seperti mereka itu. *amitamitcabangbayi* Makanya gue picky banget buat milih pasangan, terutama untuk menjurus ke hal serius itu. *piss*

Ketakutan terakhir yang mau gue share adalah.... Gue paling takut kehilangan orang yang gue sayang. Termasuk kematian. Kalau terkadang gue tiba-tiba possesif, over protective, tandanya parno-nya gue lagi muncul. Selain itu juga, ini merupakan salah satu alasan gue gak mau, eh, berusaha untuk gak jatuh cinta atau pacaran sama sahabat gue sendiri. Dengan dalih, kalo nanti pacaran, marahan, putus, lost contact. BHAY! Gak mau ngalamin kayak gitu lagi. Pliss jangan sampe.


Hhhh.... *take a deep breath* 
Kayaknya segitu aja deh yang gue share.. Itu udah yang paling parah sih tingkat “Takut”nya. Hehhe... 

Terima kasih yang sudah mau mampir baca.. Dan mohon maaf kalo bahasanya seadanya. :*

See ya on next post!

Rabu, 12 Maret 2014

Happy belated New Year 2014!!


Hiihihi.. I know it was late to say Happy New Year.  Udah bulan Maret, loh, Rul! *sungkem sama semuanya*. 3 bulan lebih ini blog gue anggurin, untungnya gak lumutan.

Dan alibinya adalah -> Bisa jadi karena memang kerjaannya lagi ribet dan sibuk. Bisa juga karena memang tidak ada waktu untuk ngetik dan update blog. Bisa juga karena memang gak ada ide untuk nulis. Bisa juga karena waktunya lebih sering digunakan untuk streaming film korea atau film bioskop yang belum sempat ditonton. Atau, bisa juga waktunya habis terpakai untuk main Candy Crush Saga dan Farm Heroes Saga yang lebih seringnya stuck di level tertentu daripada move on dari level itu. *pasang senyum manis*

Itu lah beberapa pembelaan diri gue tentang kekosongan di blog ini. Dan seperti saat ini pun, gue sebenernya bingung mau nulis apa. Heheh..

Hmm.. How about.. Kalo gue cerita tentang salah satu trauma gue? Salah satu aja. Gue, pernah –dan  bisa dibilang masih– trauma  sama binatang berjenis Anjing. It’s true. Sampe saat ini pun, kalo ketemu langsung sama binatang ini pun gue masih dagdigdug dwer lah. Takut banget. Even si Anjingnya di rantai dan yang punya Anjingnya ada disitu, tetep gue lebih memilih melipir, pergi jauh-jauh dari binatang berbulu ini. Pernah, si pemilik Anjing sampe bilang ke gue “Tenang aja, mbak. Anjingnya udah jinak, kok” dan gue mencoba untuk sopan dengan membalas “Maaf, pak. Tapi saya memang phobia sama Anjing”. Dan kemudian gue menjauh dari si Anjing juga Majikannya sambil menata jantung gue yang mau copot.

Tapi kalo cuma liat foto atau gambar Anjing, gue malah suka. Lucu-lucu sih.. 

Duh, gue nulis apa sih di atas? :))

Sekian dulu ya tulisan ngaco gue. Next gue coba ngisi blog ini dengan yang bermanfaat. Insyaallah... 

See ya!

Jumat, 18 Januari 2013

Cuti Sakit Hati




Rani terdiam mematung di depan pintu berwarna coklat yang tidak tertutup rapat itu. Di hadapannya kini terlihat adegan seorang wanita yang menggunakan blouse berwarna merah dan rok mini berwarna hitam sedang mencumbu mesra lelaki bertubuh atletis.

Lelaki yang dalam beberapa hari kedepan akan menjadi suaminya. Lelaki yang pernah berjanji tidak akan menyakitinya ataupun melukai perasaannya. Lelaki yang meyakinkannya bahwa masih ada pria yang bersikap gentleman dan bertanggung jawab. Dan sekarang lelaki tersebut sedang bercumbu mesra dengan wanita lain. Sigh!

Tanpa pikir panjang Rani berbalik arah dan berjalan dengan tergesa-gesa. Ia tidak ingin berada di kantor tersebut lebih lama lagi. Dadanya semakin sesak, kedua matanya pun mulai terasa panas.

Sehabis menutup telepon dari Ferdi beberapa jam yang lalu, Rani memutuskan untuk menemui Ferdi di kantornya saja. Rani tidak dapat menunggu lebih lama lagi hingga jam kerja usai. Ia tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Pikirannya selalu di penuhi bayang-bayang Nisrina, anaknya, dan juga reaksi Ferdi saat mengetahui tentang keberadaan Nisrina.

Iya, Rani awalnya ingin memberitahu Ferdi tentang Nisrina, yang mungkin akan mempengaruhi rencana pernikahan mereka yang tinggal hitungan hari ini. Tapi kejadian yang ia lihat barusan sudah cukup membuatnya yakin keputusan apa yang harus ia pilih.

Sakit hati sudah pasti. Di saat ia mencoba mempercayai dan mencintai lelaki itu sepenuhnya, Rani harus menerima kenyataan bahwa Ferdi tidak ada bedanya dengan Sony, mantan kekasihnya yang meninggalkannya dalam keadaan mengandung dulu.

“Ternyata semua lelaki sama” umpat Rani dari balik kemudinya.

Dibenamkan wajahnya diantara kedua lengannya yang menyilang di atas kemudi mobilnya. Rani tidak dapat lagi menahan cairan yang sejak tadi mulai membendung di kedua matanya. Ia menangis hingga kedua bahunya berguncang di dalam Honda Jazz berwarna biru itu.

Sekitar 30 menit ia berada dalam kondisi seperti itu. Pikirannya kacau, pandangannya buram karena air mata yang masih deras mengalir dari kedua matanya. Hati teramat sakit. Luka lamanya kembali terkuak. Semakin perih, seperti luka yang sudah hampir mengering yang disiram alkohol kemudian di iris-iris dengan pisau. Sangat perih.

45 menit….

1 jam…

Rani mulai dapat menguasai dirinya. Di hirupnya udara sebanyak mungkin untuk memenuhi rongga paru-parunya, kemudian dihempaskannya perlahan-lahan. Hal tersebut dilakukannya berulang-ulang hingga hati dan pikirannya benar-benar tenang. Benar-benar bisa berpikir dengan jernih.

Di raihnya ponsel berwarna putih dari dalam tasnya. Kemudian Rani menekan tombol berwarna merah pada ponselnya. Switch off. Saat ini, ia tidak ingin diganggu oleh siapapun, terutama Ferdi, lelaki yang ternyata tidak jauh berbeda dengan Sony. Di lemparkannya ponsel berwarna putih itu ke dalam tasnya. Kemudian ia menyeka bekas air mata yang membasahi kedua pipinya dengan tissue. Di hirup kembali udara sebanyak mungkin, kemudian di hempaskannya udara tersebut perlahan-lahan. Di tariknya sudut-sudut bibirnya keatas, mencoba tersenyum.

Setelah memasangkan seatbelt dengan benar, Rani menyalakan mobilnya. Hati dan pikirannya sudah lebih tenang sekarang. Sesaat kemudian Honda Jazz berwarna biru itu pun melaju meninggalkan lahan parkir di gedung perkantoran yang terletak di pusatnya kota Jakarta itu.

***

“Bunda Rani datang…. Bunda Rani datang lagi….” Beberapa anak panti menghampiri Rani sambil berteriak-teriak dengan gembira.   

Rani kemudian berjongkok dan memeluk satu persatu anak-anak yang sebagian besar masih berusia dibawah lima tahun itu.

“Hari ini pinter semua kan?” Tanya Rani pada kerumunan anak kecil tersebut yang dijawab dengan anggukan oleh mereka.

“Karena kalian semuanya pinter-pinter, ini Bunda bawain hadiah untuk kalian” Rani mengangkat kantong plastik berukuran besar yang berisi makanan ringan yang sengaja ia beli sebelumnya, khusus untuk mereka.

“Mau.. mau.. mau..” teriak anak-anak tersebut sambil mengangkat tinggi tangannya. Kemudian mereka semua membentuk barisan yang rapi, seperti biasa, dan satu persatu menghampiri Rani mengambil hadiah yang dimaksud Rani.

“Hayo, bilang apa sama Bunda Rani..” ujar Bu Susi, kepala yayasan di panti tersebut yang sudah berdiri di belakangnya sejak tadi, tanpa ia sadari.

“Terima kasih Bunda Rani…” ujar mereka kompak. Kemudian berlarian menuju ruangan bermain meninggalkan Rani berdua dengan Ibu Susi.

Rani kemudian berdiri sambil tersenyum puas. Ada kebahagiaan tersendiri setiap melihat anak-anak panti tersebut tertawa bahagia. Seperti tidak ada beban. Lepas.

Tidak salah ia mengambil keputusan untuk cuti sejenak dari sakit hatinya terhadap Ferdi, dengan mengunjungi anak-anak panti ini. Salah satu hiburan terbaiknya saat sedih. Berada di sekitar anak-anak yang selalu ceria, tanpa beban.    


Cerita sebelumnya : Orang Ketiga Pertama

Hari ke-4 #13hariNgeblogFF 



Kamis, 06 Desember 2012

Love vs Trauma

End Of November 2012

Ini adalah catatan gue di tanggal 30 November 2012. 

Catatan yang gue tulis saat perjalanan pulang ke rumah, di temani dengan earphone di telinga yang memperdengarkan lagu-lagu yang entah kenapa playlistnya sesuai banget ya sama suasana hati gue malam itu. 

Here I go...

So much tears for today...

Diawali dengan membaca temlennya mbak Silly yang bikin haru. Mbak Silly yang mau pergi ke US, pamit ke anak-anaknya. A letter for Santa from Andre. Dan berita kepulangan #Grace, seorang anak yang berjuang melawan kanker, yang akhirnya menyerahkan dirinya pada Kuasa Tuhan. 

Just that?

Nope...

Itu baru prolog..

Itu baru awal...

Ada yang lebih... lebih bikin gue sesak, hard to breath...

Cerita dari seorang sahabat..

Ah, bukan sekedar sahabat, udah seperti adik gue sendiri. She's younger than me.. Dan karena gue emang nggak punya adik cewek, so... dia udah gue anggap kayak adik gue sendiri :)

She told me everything 'bout her traumatic phsycologic *ini apa deh artinya Rul?*... She reminds me of my pass... 

Hal yang hampir sama terjadi, hampir mirip tapi beda versi.. Masa lalu yang seharusnya udah terkubur rapat, masa lalu yang sebenarnya udah nggak mau lagi gue inget-inget… Masa lalu yang akhirnya terkuak lagi, dan memaksa gue untuk flashback ke saat itu untuk kesekian kalinya.

Emang sih, masa lalu gue ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan cerita seorang cewek yang kita sebut saja namanya Via.

Via yang bercerita tentang traumanya terhadap cowok… trauma sama yang namanya pacaran… Via yang pernah di pukul membabi-buta sama pacarnya, yang akhirnya menyebabkan memar dan lebam di beberapa bagian tubuhnya. Via yang saat itu masih saja sayang dan perhatian sama pacarnya. Via yang masih berharap pacarnya bisa berubah menjadi lebih baik. Via yang saat itu di butakan oleh cinta.

Oh, oke.. Sepertinya gue udah mulai nggak sanggup cerita.

Mengingat cerita Via tadi saja udah bikin dada gue sesak, mata gue memanas..

Did you know Via?

Yang kamu alamin emang berat banget, terutama trauma fisik yang berdampak sangat buruk ke psikis kamu. But, you are not alone… Masih banyak orang yang sayang sama kamu. Bahkan, Sang Arsiteknya manusia juga sayang sama kamu. Makanya kamu ditunjukin kejadian kayak gini.

Bahkan mungkin, apa yang kamu alami ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan orang lain di luar sana. We'll never know Via...

Di lukai secara fisik emang sakit pasti, dan berbekas namun masih bisa di sembuhkan.
Tapi, di lukai secara psikis itu lebih sakit, tanpa bekas dan sangat susah di sembuhkan.

Mengalami keduanya?
Ekstra sakit, dan menimbulkan trauma yang sangat mendalam.

Hhhh...
Ceritanya Via ini tak hanya menguak masa lalu gue, tapi juga membuat gue teringat sama cerita sahabat gue, Niar, yang pernah gue tulis di blog juga. 

Honestly, gue emang nggak ngalamin apa yang mereka alamin, Via dan Niar, secara fisik. Tapi, we are still lucky girls!.. 

Allah masih ngelindungin kita semua dari marabahaya. Allah nunjukin semua kejadian ini, agar kita sadar. Ibaratnya ya, seharusnya kita udah masuk ke dalam jurang, jatuh, hancur berkeping-keping. Tapi Allah udah menyelamatkan kita terlebih dahulu, sebelum kita jatuh ke jurang itu. 

Kurang sayang apa coba Allah sama kita??

Yang pasti, jangan pernah lupa bersyukur atas segala nikmat, sakit, semuanya yang pernah datang menghampiri kita. 

Banyak yang bilang "Pengalaman adalah guru yang paling berharga dan tak ada duanya" baik itu pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain. 

Via dan Niar pastinya masih trauma sama yang namanya Cinta, hal yang membuat kita menjadi sangat bodoh dan buta karenanya. Pun dengan gue. 

Seperti Via, yang sebenarnya saat ini sudah ada seseorang yang siap menyayangi dan mendampinginya, namun Via masih sulit untuk membuka hatinya dalam waktu dekat. Tapi ia mengalihkannya dengan khayalannya, mengidolakan salah satu musisi dan membawanya dalam khayalannya. Salah satu cara melampiaskan trauma.

Seperti Niar, yang masih belum bisa membuka hatinya untuk cowok manapun, kecuali salah seorang pemain bola dari Spanyol yang sangat ia idolakan. Yang ia jadikan khayalan, pelampiasan traumanya.

Seperti Gue, yang sempat hampir seperti Niar dan Via. Tenggelam dalam khayalan, imajinasi tentang kisah romantis yang melulu menceritakan kisah bahagia. Khayalan tingkat Dewa. Yang nggak akan pernah jadi nyata. Mimpi belaka. Pelampiasan trauma juga.

Tapi, gue, belakangan ini, secara pribadi mulai belajar untuk ikhlas. 

Mengikhlaskan semua yang pernah terjadi dalam hidup kita. Menerima semua yang telah di tuliskan Sang Penulis Skenario kehidupan. Menjalankan yang apa sudah di arahkan oleh Sang Sutradara kehidupan. Hanya ini yang bisa menyembuhkan trauma tersebut. 

I always believe... 

Allah selalu punya skenario terbaik untuk semua umatnya. 

Allah tidak pernah memberikan ujian melewati batas kemampuan umatnya.

Allah selalu memberikan kemudahan dibalik kesulitan itu sendiri..


So Ladies... (and gentleman) ingatlah bahwa Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, ada hitam ada putih, ada baik ada buruk, ada surga ada neraka, ada dunia ada akhirat. 

Jadi... Allah sudah pasti, sudah menyiapkan Jodoh yang terbaik dari yang paling baik untuk semua umatnya. Tinggal kitanya aja yang menyiapkan diri untuk jadi yang terbaik, agar bisa seimbang dengan Jodoh yang sudah di siapkan oleh Allah itu..

Best Regrads, 

Rula 

(^,^)v 

(heheh edisi postingan ini agak berat ya...)

nb: pic taken from here
My Playlist saat perjalanan pulang (randomly)
- Beautiful Soul - Jesse McCartney
- You've Got a Friend - McFly
- Kiss Me - Sixpence None The Richer
- You've Gone Wild - SkidRow
- STOP - Spice Girls
- Love Song - The Cure
- When You Looking Like That - Westlife
- I Have a Dream - Westlife
- Wish You Were Here - Avril Lavigne
- No Love - Simple Plan
- Gone Too Soon - Simple Plan