Senin, 07 Juli 2014

Ini yang Ku Pilih

Ini yang Ku Pilih
By Nurul Aria
“Ma, Akbar mau pergi dulu, ya..” pamit Akbar pada mamanya.
“Mau kemana kamu?” Tanya Bu Tari, mamanya, heran melihat Akbar berpakaian rapi, kemeja biru berpadu celana jins berwarna gelap lengkap dengan sepatu kets kesayangannya.
“Akbar mau…” Akbar menggantung jawabannya, ia tahu mamanya tak akan mengizinkannya pergi jika ia berkata yang sebenarnya “Akbar mau jalan-jalan ke Mall, Ma sama teman-teman.” Ujar Akbar berbohong.
“Ya sudah, pulangnya jangan malam-malam, ya”
‘Maafin Akbar, Ma’ ujar Akbar dalam hati saat mencium tangan mamanya, kemudian pamit pergi.
Hari ini, Akbar akan mengikuti casting untuk menjadi seorang pemain sinetron. Sejak kecil, Akbar selalu bermimpi bisa menjadi seorang bintang film atau sinetron ternama seperti aktor idolanya Mathias Muchus dan Didi Petet. Ya, Akbar memang menyukai seni peran. Makanya sejak SMP hingga sekarang, Akbar tergabung dalam kelompok teater yang membuatnya semakin mencintai seni peran dan bermimpi bisa menjadi artis.
Tapi ternyata, semua tak berjalan dengan mudah. Kecintaan Akbar terhadap seni peran tak mendapat restu dari sang Mama. Entah karena alasan apa sang Mama tidak menyukai Akbar menjadi seorang artis sesuai impiannya. Bahkan pernah ibu dan anak ini bertengkar hanya karena Akbar bergabung dalam kelompok teater. Hal tersebut yang membuat Akbar terpaksa berbohong pada mamanya selama ini. Akbar secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang Mama tetap bergelut dalam dunia seni peran. Berbagai macam alasan ia buat agar tetap bisa menikmati kecintaannya terhadap seni peran ini. Seperti hari ini, Akbar berbohong untuk kesekian kalinya pada wanita yang paling dihormatinya itu untuk bisa keluar rumah dan mengikuti casting.
***
“Abang kemana, Ma?” tanya Rinta, adik Akbar, ketika melihat Mamanya sedang duduk sendiri di ruang tengah.
“Jalan-jalan ke Mall sama teman-temannya.” Jawab bu Tari. “Kamu baru bangun?” tanya Bu Tari yang melihat anak gadisnya masih menggunakan piyama tidurnya.
“Jam segini ke mall??” tanya Rinta heran, karena jam dinding di rumahnya masih menunjukkan pukul sembilan pagi. ‘Pasti Abang bohong lagi sama Mama’ ujar Rinta dalam hati.
Selama ini Rinta memang tahu, kalau satu-satunya kakak lelaki yang ia miliki itu sering berbohong pada mamanya. Akbar memang sering curhat pada Rinta tentang kecintaannya pada seni peran dan juga ketidaksukaan mama mereka akan seni peran. Rinta selalu menjadi pendengar yang baik untuk abang yang sangat disayanginya itu, juga selalu menyimpan rahasia abangnya. Hal tersebut dilakukannya karena tak ingin melukai perasaan mama juga abangnya yang sama-sama ia sayangi. Tapi, semakin lama ia menyimpan rapat rahasia abangnya ini, Rinta semakin merasa bersalah pada mamanya. Satu-satunya orang tua yang Rinta dan abangnya miliki, setelah kepergian papa saat mereka masih sangat kecil.
“Kok bengong saja, Rin?” tanya Bu Tari yang melihat anaknya berdiri mematung di dekatnya itu. “Mandi dulu sana, habis itu bantuin Mama masak, ya” lanjut Bu Tari. Rinta hanya tersenyum sambil mengangguk, kemudian berbalik menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Rinta langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan sms untuk abangnya. Kemudian Rinta meletakkan poselnya di atas tempat tidurnya dan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya tersebut untuk mandi seperti yang diperintahkan mamanya tadi.
***
Drrttt.. drtt..

Ponsel Akbar bergetar dua kali, menandakan ada sms yang masuk dalam ponselnya. Dari Rinta, adik semata wayang yang sangat disayanginya.
From: Rintul [08993245xxxx]
Bohong lg sm Mama, bang? Mau smp kpn bohong terus? Abang ga kasihan sm Mama??
“Hmm…” Akbar hanya bisa menarik napas dalam saat membaca sms dari adiknya tersebut, kemudian teringat akan kejadian tadi pagi ketika ia pamit pergi pada mamanya. Langsung saja ia membalas sms tersebut
To: Rintul [08993245xxxx]
Abang terpaksa Rin, hari ini abang casting utk sinetron doakan smga abang lolos ya.
Hanya itu balasan Akbar untuk adiknya. Saat ini hatinya sedang berkecamuk antara grogi karena casting dan merasa bersalah karena telah berbohong pada mamanya, wanita yang paling disayanginya selain adiknya.
“Hey ganteng, yey ikutan casting juga, ya?” sapa seorang lelaki dengan gaya kemayu yang sudah duduk di sampingnya.
“I-iya, mas juga ikut casting” jawab Akbar tergagap karena kaget disapa oleh lelaki tersebut.
Yey jangan panggil eike mas, dong. Nggak lihat apa eike cantik gini, panggil eike ses Merry.” Ujar lelaki kemayu ini sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Mencoba tetap bersikap sopan, Akbar pun menjabat tangan halus lelaki tersebut sambil mengucapkan namanya “Akbar”
“Iih, cucok deeh sama body, yey” ujar Merry genit, matanya terus memperhatikan Akbar dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Muka ganteng, body keren. cucok deh, yaa.. hahah” lanjut Merry masih dengan gayanya yang kemayu dan genit, membuat Akbar sedikit bergidik ngeri pada awalnya.
Selama menunggu giliran casting, Merry selalu mengajak ngobrol Akbar tentang dunia entertainment yang akan dimasuki Akbar jika lolos casting nanti. Banyak informasi tentang dunia keartisan yang ia dapat dari obrolannya bersama Merry yang ternyata berprofesi sebagai make up artist itu. Bahkan Merry sempat menawarinya jalan pintas jika memang Akbar sangat ingin menjadi seorang artis. Kebetulan Merry banyak kenal dengan produser dan sutradara yang sering memakainya jasanya sebagai make up artist untuk film dan sinetron mereka.
***
1 bulan kemudian.
Darling, yey lolos casting, loh. Bisa datang ke kantor PH kan, buat tandatangan kontrak?” ujar suara genit di seberang ketika Akbar menerima telepon di ponselnya.
“Serius, beb? Aku diterima??” Tanya Akbar tak percaya pada pendengarannya.
“Yes darling, yey di-te-ri-ma. Sekarang langsung capcus ke kantor PH, ya. Yey ditunggu sama bos, tandatangan kontrak.” Jawab suara genit di sebrang.
“Oke.. Oke.. Wait me!!” Ujar Akbar riang.
Setelah menutup telepon, tanpa berpamitan dengan orang rumah, Akbar bergegas berangkat menuju kantor PH di wilayah Selatan Jakarta. Hatinya sangat gembira, akhirnya mimpinya untuk menjadi seorang artis sudah di depan mata.
Merry benar-benar memenuhi janjinya itu. Sejak bertemu Merry di tempat casting dan bertukar nomor telepon, Akbar memang semakin dekat dengan Merry. Merry membantu Akbar dalam banyak hal, terutama yang berhubungan dengan dunia keartisan. Dan Akbar tidak menyia-nyiakan bantuan yang diberikan Merry, karena Akbar ingin secepatnya meraih impiannya menjadi seorang artis. Tidak mudah memang, karena ternyata Merry tidak memberikan semua itu dengan cuma-cuma.
Akika naksir yey, mas ganteng” ujar Merry genit saat itu, hal yang mampu membuat Akbar terkejut.
Bagaimana tidak, seorang laki-laki kemayu menyatakan perasaan sukanya pada Akbar. Entah apa yang ada di benak Akbar saat itu, hingga membuatnya menerima semua kebaikan Merry, termasuk menjadi ‘teman dekat’ nya Merry.
Selama masa produksi sinetron, hubungan Akbar dengan Merry semakin intim, karena Merry dipercaya sebagai make up artist hingga akhir produksi. Tidak ada yang curiga dengan keakraban Merry dan Akbar selama di lokasi syuting, karena mereka berdua melakukannya secara profesional. Mereka bersikap seperti biasa di lokasi syuting, namun intim di luar lokasi syuting. Dan karena sikap Merry yang memang supel dan genit terhadap semua crew juga pemain, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Akbar semakin menikmati hubungan ‘rahasia’nya dengan Merry. Segala yang Akbar inginkan selalu di penuhi oleh Merry, walaupun Akbar juga harus memenuhi apa yang diinginkan oleh Merry, kasih sayang dan perhatian seorang kekasih.
Semakin lama, Akbar semakin merasa nyaman setiap bersama Merry, laki-laki kemayu yang selalu memanjakannya. Rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak Papa dan Mamanya bercerai.
Akbar kecil memang sangat dekat dengan papanya. Dan kedekatannya dengan Merry, membuat Akbar rindu sosok seorang Ayah. Sehingga Akbar melampiaskan rasa rindunya itu pada Merry, yang sudah di anggapnya sebagai seorang Ayah, Ibu, sahabat juga kekasih.  

***
“Rin, sebenarnya kakakmu itu kerja apa, sih? Kok Mama lihat lebih sering pulang pagi, bahkan pernah beberapa hari tak pulang. Tapi setiap Mama tanya, Abangmu hanya diam” Tanya Bu Tari pada Rinta anak bungsunya saat sarapan.
“Ehh, Rinta kurang tahu, Ma. Bang Akbar nggak pernah cerita.” Jawab Rinta berbohong. Sebenarnya ia tahu kalau abangnya sedang sibuk syuting sinteron.
“Benar kamu nggak tahu?” selidik Bu Tari lagi. Yang hanya dijawab anggukan oleh Rinta.
“Hmm.. Ma, Rinta boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Rinta ragu.
“Tanya apa, sayang?” tanya Bu Tari lembut.
“Rinta boleh tahu nggak, kenapa Mama nggak suka kalau bang Akbar jadi artis?”
Bu Tari hanya terdiam. Angannya kembali ke masa lalu, ketika ia memutuskan bercerai dengan suaminya,  Ayah dari kedua anaknya, dan menjadi single parent bagi kedua anaknya.
“Apa ini ada hubungannya sama Papa, Ma?” tanya Rinta lagi karena melihat reaksi mamanya yang hanya terdiam mematung. “Maa..” kali ini Rinta menyentuh tangan mamanya.
“Hehh.. Sepertinya sudah saatnya kamu tahu alasan Mama bercerai dengan Papamu dulu.” Ujar Bu Tari sambil mengatur gemuruh di dadanya.
Rinta hanya memperhatikan mamanya dalam diam. Dan Bu Tari melanjutkan perkataannya.
“Mama dan Papa bercerai karena…” Bu Tari terdiam sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan masa lalunya yang pahit itu. “Karena Papa kamu selingkuh.” Dan Rinta masih terdiam membisu.
“Papa kamu selingkuh bukan dengan wanita, tapi dengan... pria” Bu Tari mencoba tetap tegar dalam mengucapkan kata ‘Pria’ tersebut.
“Maksud Mama, Papa gay?” Rinta seakan tak percaya dengan pendengarannya.
“Iya, Papa kamu penyuka sesama jenis. Sebenarnya Mama sudah curiga sejak lama. Dan akhirnya Mama mengetahui kebenarannya, karena Mama tidak sengaja melihat Papamu dan teman laki-lakinya di Hotel tempat kantor Mama mengadakan acara. Awalnya Mama berpikir mereka hanya relasi kerja, tapi melihat gerak-gerik mereka yang menunjukkan kemesraan layaknya sepasang kekasih, membuat Mama curiga. Mama ikuti mereka, dan ternyata mereka menuju salah satu kamar di Hotel tersebut.” Bu Tari menghentikan ceritanya, kemudian menghapus air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Rinta masih terdiam, masih belum percaya dengan apa yang didengarnya saat ini.
“Karena curiga dan penasaran, akhirnya Mama memberanikan diri masuk tanpa permisi ke dalam kamar tersebut yang ternyata tidak dikunci. Dan, kecurigaan Mama terbukti juga. Mama melihat adegan yang lebih mesra dari sebelumnya antara Papa kamu dan lelaki itu.” Bu Tari semakin tak kuasa menahan air matanya. Rinta memeluk mamanya yang kali ini terlihat sangat rapuh itu.
“Tapi Ma, hubungannya dengan keinginan Bang Akbar jadi artis apa?” tanya Rinta sedikit bingung.
“Karena... Teman laki-laki Papamu itu… Seorang artis sinetron yang saat itu sedang naik daun. Dan setelah itu Mama jadi tahu, bahwa lelaki itu juga yang memberikan Papamu banyak hadiah dan uang untuk Kamu dan Abang kamu.” Bu Tari terdiam sejenak.
“Mama kecewa dengan Papa kamu. Itu sebabnya, Mama lebih memilih bercerai dari Papa kamu dan membesarkan kalian sendiri, tanpa seorang suami. Dan Mama tidak akan menikah lagi, karena Mama trauma dengan kejadian itu. Karena itu juga Mama tidak suka Abang kamu memilih profesi sebagai Artis. Dunia entertain tidak semudah dan seenak yang kalian pikirkan” Lanjut Bu Tari. Rinta semakin erat memeluk mamanya.
“Maafin Rinta, Ma.. Kalau Rinta tahu ceritanya seperti ini, Rinta nggak akan menanyakan hal ini.” Ujar Rinta merasa bersalah, karena mamanya harus membuka lagi luka lama yang sudah ditutup rapat.
Akbar terdiam mematung dalam kamarnya, ia mendengar semua percakapan antara  adiknya, Rinta dan Mamanya dari balik pintu kamarnya. Akbar semakin shock, ketika menyadari bahwa ia tak jauh beda dengan papanya yang telah menyakiti mamanya demi lelaki lain. Akbar teringat hubungan 'rahasia'nya dengan Merry, yang Ia lakukan demi mencapai impiannya menjadi seorang artis terkenal, hal yang tidak di sukai mamanya.
“Maafin Akbar, Ma.. Akbar janji, Akbar nggak akan ngecewain Mama lagi..” Ucapnya dalam hati.

***


******************************************************************************
Ini tulisan gue dari tahun 2013 yang ga pernah dipublish. lupa nyimpen di mana sebenernya. pas lagi ngutakngatik gdrive, ketemu tulisan ini yang seharusnya udah di edit bareng mbak Irene. tapi malah gada yang editan dari mbak Irenenya. hiihi...
Dan ini tulisan pertama gue yang temanya LGBT.

Senin, 23 Juni 2014

Secret Admirer

Secret Admirer
By: Nurul Aria

Hari ini matahari bersinar dengan teriknya. Tapi, hal itu tidak mampu membuatku mengurungkan niat untuk keluar dari rumah menuju salah satu mall di wilayah Jakarta Selatan. Hari ini aku ada janji bertemu dengan Tifa di sana. Sudah beberapa bulan ini kami tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Namanya Latifa Soebagyo, tapi aku lebih senang memanggilnya Tifa, adalah salah satu sahabat terbaikku beberapa tahun belakangan ini. Kami bertemu di acara amal yang diadakan oleh Yayasan Sosial tempat aku magang yang bekerja sama dengan salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Saat itu Tifa menjadi panitia penyelenggaranya dan sejak saat itu, kami berteman akrab.

Getaran dari dalam tasku mengagetkanku yang sedang mengenang pertemuan kami dulu. Kucari sumber getaran yang berasal dari ponselku tersebut, tertera nama Latifa S di layar ponselku.

Yes, darling?” sahutku.
“Ranuwati similikiti, kamu sudah sampai mana??” nada suara riang dari seberang.
“Masih di jalan, Fa.. Sebentar lagi sampai kok. Kamu sudah sampai, ya?” tanyaku.
“Iya nih, aku sudah sampai. Heheh” jawabnya.
“Oke, dear. Sebentar lagi, ya” jawabku meyakinkan.
“Sip, aku tunggu di lobi ya, cantik. See you there..” kemudian ponsel kumatikan dan menaruhnya kembali di dalam tas berwarna biruku.

Tifa merupakan orang yang selalu ceria dalam segala suasana, mudah membaur dengan siapa saja dan dari kalangan manapun. Walaupun menyandang nama besar keluarga Soebagyo, Tifa tidak pernah memandang orang lain dari luarnya saja. Itu yang membuat aku senang bersahabat dengannya. Bahkan Tifa tak segan-segan menceritakan kehidupan pribadinya padaku, yang saat itu baru mengenalnya.

Akhirnya tiba juga aku di mall ini, setelah melewati macetnya Jakarta di siang hari. Begitu masuk lobi mall, kulihat wanita berparas cantik dan ramping menggunakan dress berwarna ungu, berpadu dengan celana jins berwarna gelap sedang berdiri di dekat pintu masuk mall. Tifa memang selalu tampil modis, beda dengan aku yang apa-adanya. 

“Hai Ranuwati similikiti…” sapa Tifa ceria. Tifa memang selalu memanggilku seperti itu. Tifa merupakan salah satu fans beratnya komedian yang juga presenter Tukul Arwana, makanya Tifa memanggilku dengan embel-embel ‘similikiti’ khas Tukul itu.
“Lama ya nunggunya?? Sorry ya, Fa, agak macet tadi” ujarku memohon maaf.
“Nggak kok cantik, aku juga baru datang.” Ujarnya tersenyum. “Terus, mau kemana kita sekarang?” Tanyanya padaku.
“Bebas,” jawabku
“Kamu udah lunch belum? Apa kita cari makan aja dulu ya?”
“Ide bagus” kemudian kami beranjak dari lobby menuju salah satu restoran yang ada di mall tersebut.

Setelah memesan hidangan..
“Ranu, masih ingat nggak dulu aku pernah cerita tentang orang yang aku suka?’ ujarnya tiba-tiba
“Bryant maksud kamu, Fa?” tanyaku ragu
“Haha, iyaa. Kamu masih ingat ternyata” jawabnya
“Kenapa Fa memangnya sama Bryant?” selidikku
“Belum lama ini aku ketemu dia Nu, ya Allah.. tambah ganteng aja deh” ujar Tifa semangat.
“Terus??” selidikku lagi
“Terus.. terus.. nabrak Nu” ledek Tifa.

Kemudian Tifa bercerita tentang Bryant Saputra, seorang pria yang beberapa tahun ini selalu ada di hati dan pikirannya. Awalnya Tifa mengagumi sosok Bryant yang menurutnya sangat keren dan ‘cowok banget’. Bryant yang mandiri, Bryant yang cuek, dan segala hal tentang Bryant menjadi topik perbincangan kami sore itu.

"Kamu beneran cinta sama Bryant??" Tanyaku meyakinkan.
"Aku nggak tahu ini namanya apa, Nu. Yang aku tahu, selalu ada perasaan yang aneh setiap aku ketemu Bryant. Jadi salting gitu, Nu." Ujar Tifa menjelaskan.
"Itu namanya jatuh cinta, Fa.." Ujarku tersenyum. Terlihat semburat merah mewarnai pipinya.

Bagi Tifa, Bryant adalah pria pertama yang ia cintai selain ayahnya. Tifa belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan punya pacar.  Dan semakin lama Tifa mengenal anak lelaki satu-satunya di keluarga Saputra itu, Tifa semakin jatuh hati pada Bryant yang terpaut 7 tahun dari usianya yang baru menginjak angka 21 ini.
Dengan semangat, Tifa mengenang kembali saat-saat bisa bersama Bryant, terutama saat Tifa menjadi karyawan magang di Event Organizer milik keluarga Bryant. Sebenarnya Tifa bisa lebih dekat lagi dengan Bryant, karena ayah Tifa bersahabat erat dengan keluarga Bryant. Bahkan, Tifa sangat akrab dengan kakak-kakaknya Bryant.

“Aku minder tauuu..” jawab Tifa, ketika kutanya kenapa belum ada kemajuan antara Tifa dengan Bryant.
“Minder kenapa, Fa? Kamu cantik, supel, terpandang. Cowok normal mana sih yang nggak tertarik sama kamu, Fa?” tanyaku heran. “Jujur ya, Fa, kalau aku jadi cowok, pasti aku pasti naksir kamu.” Ujarku lagi.
“Ah Ranu bisa aja niih” ujar Tifa malu-malu.
“Loh, aku serius Fa. Pasti banyak cewek di luar sana yang iri sama kamu.” Yakinku.
“Habisnya, tipe cewek yang dia suka nggak ada di aku, Nu.” Ujarnya sedih.
“Mas Iyan kan penyuka cewek-cewek secantik Paris Hilton gitu Nu. Kalau di Indonesianya ya seperti Sandra Dewi atau Marsha Timothy gitu deh. Jauh banget kan Nu sama aku” ujarnya menyebut Bryant dengan Mas Iyan, panggilan kesayangan Tifa untuk Bryant.
“Lagian, ayah pernah bilang sama aku, nanti kamu kalau cari pasangan jangan yang seperti Bryant ya, Fa” ujar Tifa menirukan gaya bicara ayahnya.
“Loh, emangnya kenapa sama Bryant, Fa?? Kok Om Randy sampe ngomong begitu?” tanyaku heran.
“Kata ayah sih, Mas Iyan itu nggak pantas lah buat aku. Kamu tahu sendiri ayah sama ibu gimana.” Ujar Tifa sedih. "Kalau menurut kamu gimana, Nu?”
“Hmm.. Gimana ya, Fa, kalau secara agama sih kalian kan beda." Ujarku. "Tapi, kalau di lihat dari tampangnya sih, tampang-tampang players gitu Fa.. hehe” lanjutku lagi.
“Haha.. iya sih. Tapi itu yang bikin aku penasaran sama Bryant, Nu..” ujar Tifa lagi.
“Makanya diungkapin dong Fa, biar nggak makin penasaran” saranku.
“Boro-boro ngungkapin, ngobrol sama dia aja nggak pernah, Nu.” Ujar Tifa polos.
“Hah?? Serius Fa??” tanyaku nggak percaya
“Iya, serius. Bryant tuh selalu bisa bikin aku diam seribu bahasa deh kalau ada di depannya.” Jawab Tifa
“Ya ampun Tifa.. Ja-di selama ini…??” Tanyaku menggantung. Tifa menggangguk meng-iyakan, seakan mengerti maksud pertanyaanku.
“Aku cuma bisa mengagumi Bryant dari jauh, Nu.” Tifa berusaha tersenyum saat mengungkapkannya.
"Sekali-kali kamu harus ngobrol lah sama Mas Iyan-mu itu" ujarku mencoba memberi semangat pada Tifa. "Apa perlu aku temenin??" Tawarku lagi, yang kemudian mendapat tatapan heran Tifa.
"Caranya??" Tanya Tifa heran.
Kemudian kujabarkan rencana yang ku maksud tadi. Tifa mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk sambil tersenyum-senyum..
"Aaah, Ranuwati similikiti.. Kamu selalu tahu yang aku mau.. Terimakasih cantiik" Ujar Tifa sambil memelukku..


3 hari setelahnya,

Aku, Tifa dan Nina sahabat kami, sudah berada di dalam mobil Tifa yang sedang meluncur menuju kawasan perumahan Elite di wilayah Jakarta Selatan. Rencananya hari ini kami bertiga mau bertemu dengan Mas Iyan, lebih tepatnya aku dan Nina menemani Tifa yang ingin bertemu pujaan hatinya itu.
Sesuai rencana yang sudah disusun sebelumnya, pura-puranya aku dan Nina sebagai teman kampus Tifa yang ingin mengadakan acara musik, dan ingin menggunakan jasa Event Organizer milik Bryant dan teman-temannya.

"Aaah.. Aku nervous banget nih" ujar Tifa setelah memarkir mobilnya di depan rumah megah berwarna salem, yang merupakan kantor EO 'Project Nine' milik Bryant dan teman-temannya.
"Gimana penampilan aku?? Ada yang aneh ngga??" Tanya Tifa sambil merapihkan rambut dan make-up nya. Aku dan Nina hanya tersenyum melihat kepanikan Tifa ini.
"Udah cantik Fa.." Nina yang berbicara sambil tetap tersenyum.
"Are you sure??"  Kali ini Tifa menatap aku dan Nina bergantian.
"Hahaa.. Atur napas Fa. Nggak usah panik gitu lah." Ujarku menenangkan.
"You look so goergous today. Nggak mungkin lah Bryant nyuekin kamu." Tambahku lagi.
"Haha, semogaa" Tifa berusaha ceria.
"Ready??" Kutatap Tifa yang sedang berusaha menenangkan diri.
"Yuk aah.. Bismillahhirrahmannirrahim" ujar Tifa setelah menarik napas dalam.

Kami bertiga akhirnya keluar dari mobil, dan masuk ke dalam rumah tersebut. Seorang lelaki tampan, berkaus hitam dengan celana cargo selutut, yang ternyata Bryant, menyambut kami dengan ramah, kemudian mempersilahkan kami masuk ke dalam ruangan meeting.
Di dalam ruangan tersebut, juga ada dua orang lelaki temannya Bryant, yang juga pemilik EO 'Project Nine'.
"Om Randy apa kabar, Fa?" Tanya Bryant pada Tifa.
"Alhamdulillah sehat" jawab Tifa terdengar gugup.
Setelah berbasa-basi menanyakan keluarga, kemudian Tifa membuka pembicaraan sesuai rencana awal.
"Gini mas, kita mau tanya-tanya tentang EO." Ujar Tifa. "Rencananya, kampus mau ngadain acara musik dan kerja sama dengan EO. Tapi masih bingung sama konsepnya" lanjut Tifa lagi.

Bryant menjelaskan dengan rinci, mulai dari konsep, budgeting, hingga ke pengisi acara. Aku dan Nina terkadang menanyakan beberapa hal yang kurang kami mengerti. Sesekali Tifa menimpali, namun lebih seringnya diam dan hanya memandangi Bryant yang sedang menjelaskan.

"Memang rencananya kapan mau bikin acaranya?" Tanya Bryant
"Tanggalnya sih memang belum ditentuin Mas, makanya kita mau tanya-tanya dulu. Biar tahu persiapannya berapa lama." Jawabku asal. Karena sebenarnya acara musik itu hanya karangan kami saja.
"Ooh, begitu. Kalau bisa jangan mepet-mepet waktunya. Dan persiapannya juga harus matang." Jelas Bryant lagi.  

Tiba-tiba terdengar lagu dari Cinta Laura yang sedang hits saat itu, "Mana hujan, ngga ada ojek.. Becek.. Becek.. Mana hujan, ngga ada ojek.. Becek.. Becek.."." Dan kemudian Bryant meninggalkan kami sebentar untuk mengangkat telpon masuk di ponselnya tersebut.
Tifa, Nina dan aku hanya saling tatap sambil berusaha menahan tawa. Berbagai macam pikiran berkecamuk di otak kami.

"Sorry, tadi ada telepon. Oh, iya sampai mana tadi??" Ujar Bryant setelah kembali duduk di hadapan kami.
"Butuh persiapan yang matang" kali ini Nina yang bicara.
"Oh iya, kalian harus persiapkan dengan matang semuanya." Ujar Bryant mengulang kembali kata-katanya.”Ada yang mau ditanya lagi?” lanjut Bryant menatap kami bertiga.
“Sepertinya sudah cukup, Mas.” Jawab Tifa. “Nanti kalau sudah pasti, aku langsung hubungi Mas Bryant saja boleh?” ujar Tifa memberanikan diri.
“Ya boleh lah. Ini kartu nama saya.” Bryant memberikan selembar kartu nama berwarna hitam itu.
“Terima kasih banyak ya, Mas, atas waktunya. Maaf kalau kita ngerepotin” ujar Tifa sambil menjabat tangan Bryant. Kemudian kami berpamitan pulang.

Di mobil Tifa, dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya kami membahas pertemuan dengan Bryant tadi. Bahkan sesekali Tifa tertawa lepas ketika mengingat lagu yang menjadi ringtone ponsel Bryant tadi.

Mana hujan, ngga ada ojek.. Becek.. Becek.." Tifa bernyanyi menirukan penyanyi aslinya dengan gaya seperti orang nge-rap, membuat aku dan Nina tak bisa menahan tawa.
“Nggak nyangka ternyata Bryant ituu… hahaha” sahut Nina sambil tertawa.
“Lihat nggak sih tadi, mukanya Bryant tuh agak merah gitu pas ringtonenya bunyi. hahaha” Ujarku tak bisa menahan tawa.
“Iya tuh.. mokal banget tuh pastinya” Nina menambahi.
Tifa tak henti-hentinya tertawa, bahkan sesekali menepuk-nepuk setirnya sangking gelinya.

Ilfil nggak, Fa??” tanya Nina ketika kami sudah mulai bisa tenang.
“Ya nggak lah, Nin. Malah makin cinta sama Mas Iyan” ujar Tifa yakin.
“Hahaha.. dasar Tifa” ujar ku sambil geleng-geleng kepala.
Girls, thank you yaa sudah mau nemenin aku tadi. Kalau nggak ada kalian, aku nggak tahu deh gimana jadinya.” Ujar Tifa yang bergantian menatap kami sesaat.
“Sama-sama, Fa. Sudah puas kan tadi ngobrol sama Bryantnya??” tanyaku.
“Puas bangeet Ranuu… Pasti mimpi indah nih nanti malam” ujar Tifa dengan mata menerawang.
“Jadi, PDKTnya mau di lanjutin nih?” ujar Nina tiba-tiba sambil menatap Tifa yang sedang menyetir.
“Entah lah Nin, sepertinya aku sudah hopeless untuk dapetin cintanya Bryant.” Tifa diam sejenak, berkonsentrasi pada kemudi di hadapannya. “Jarak antara aku dan Bryant terlalu jauh soalnya. Banyak perbedaannya.” Lanjut Tifa.
Everything gonna be possible, Fa, kalau kamu yakin dan mau berusaha.” Ujarku mencoba memberikan semangat pada Tifa.
Thanks, Nu. But I think, I just wanna be his secret admirer aja, deh.” ujar Tifa. “Lagian, ada pepatah yang bilang tak selamanya cinta harus memiliki kan, Nu?” tanya Tifa padaku.
“Haha, Iya sih. Mungkin Bryant memang bukan jodoh yang terbaik untuk kamu, Fa. Tapi tenang darling, love will found you, if you try” ujarku menenangkan. 

Ya, tak selamanya cinta harus saling memiliki. Seperti Tifa yang tak pernah bisa memiliki Bryant, lelaki yang sangat di cintainya. Cinta pertamanya.





(cerita ini based on true story, nama dan latar kejadian diubah atas permintaan orang yang bersangkutan tapi tidak ceritanya.)

Nb: Mokal -> malu 

********* 

Ini tulisan lama gue yang gue kirim untuk proyek menulis yang masuk ke dalam buku kompilasi Primer Amor 2 yang dibantu terbit oleh nulisbuku.com dan iseng aja gue posting di blog ini.. 

Senin, 26 Mei 2014

Dear, Lelaki Misterius (Last Part)

Dear, Lelaki Misterius.

Hai, Kamu… How are you?

Hmm.. I just wanna say, I think it will be my last posting about you, Lelaki Misteriusku.
I don’t know why, but I think, aku mau give up aja.
Yes, sampai saat ini aku memang masih belum bisa memecahkan misteri tentang kamu, Lelaki Misterius.
Dan aku menyerah. Aku lambaikan bendera putih setinggi-tingginya. Agar kamu bisa melihat bendera putih itu berkibar dihembus sang Angin.

Kurang lebih sudah satu bulan ini kamu menyabotase dunia khayalku. Membajak pikiranku. Dan hampir merusak emosi labilku.

Ah, bukan sepenuhnya salah kamu, Lelaki Misterius. It’s my fault.

Mungkin karena aku terlalu bodoh, hingga  tak bisa memecahkan misteri yang kau berikan padaku itu.
Mungkin aku terlalu lemah, sehingga dengan mudahnya menyerah, mundur, sebelum dinding es itu mencair.
Mungkin juga karena aku terlalu rapuh.

Aku takut. 
Aku takut untuk keluar dari dunia khayalku dan tidak menemukanmu dalam kehidupan nyataku.
Iya, aku terlalu takut terbangun dari mimpi-mimpi indah yang kau ciptakan, ah tidak, mimpi indah yang aku ciptakan bersamamu di dalam dunia yang hanya ada Kamu dan Aku. Kita.
Dunia yang tidak akan pernah berubah jadi kongkrit.

Dan aku menyerah saat ini.
Sebelum semuanya terlalu jauh.
Sebelum semuanya menjadi begitu dalam.
Sebelum bahagia semu itu berubah menjadi sakit macam ditusuk sembilu.
Sebelum aku menjadi gila.
Hhhh….

Dear Lelaki Misterius,

Maaf untuk sikapku yang lancang.
Maaf karena aku yang tanpa izin membawamu masuk dalam dunia khayalku. Dan sepertinya aku malah menyalahkanmu selama ini.
Maafkan aku yang pernah mengganggu hari-harimu dengan ceracauku.
Maaf.

Aku janji. Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi.
Aku janji. Setelah ini, aku tidak akan menyeretmu masuk ke dunia khayalku lagi.
Dan Aku berjanji. Aku akan melupakan kamu untuk seterusnya.
Meskipun aku tahu, agak susah melepasmu dari duniaku. Tapi aku harus.
Iya, aku harus membiarkan mu pergi dari dunia khayalku. Jika tidak, aku akan semakin gila.

Terima kasih sudah pernah mewarnai duniaku, meski hanya dunia khayalku, bukan dunia nyataku.
Terima kasih sudah membiarkan aku membawamu masuk ke dalam dunia khayalku.
Terima kasih.

Tertanda, Aku.

Minggu, 11 Mei 2014

Dear, Lelaki Misterius (Part 3)

Hai, Kamu.
Iya, Kamu.. Lelaki (yang masih) Misterius.

Sudah beberapa hari ini kita tak bersapa di chat whatsapp.
Apa kabar, kamu?
Masih sibuk kerja, kah?
Atau sibuk membangun dinding es tebal?

Kamu tahu? Aku sempat kaget begitu melihat ada foto kamu di salah satu postingan aku di path, beberapa hari lalu.
Iya, kamu melihat postingan aku itu. Padahal aku tahu, kamu sangat jarang membuka akun sosial media itu.

Ah iya, aku belum mendapatkan petunjuk baru untuk memecahkan kasus ini.
Kasus yang sepertinya akan selalu menjadi misteri bagiku.

Teka-teki yang belum terpecahkan..
Teka-teki yang bagai dinding es setebal tembok Cina.
Teka-teki yang membentengimu dari dunia ku.
Teka-teki yang harus bisa aku pecahkan. Jika aku ingin masuk ke duniamu, tentunya.
Teka-teki yang.. Ah, sudah lah..

Dear Lelaki Misterius..
Yang masih (dan selalu) saja kurapalkan namamu dalam setiap sujudku.
Sampai kapan kah kau akan bertahan di balik dinding es tebalmu yang sedingin kutub itu?

Masih Aku,
yang menunggu dinding es itu mencair.

***
Part sebelumnya :
Dear, Lelaki Misterius (Part 1)
Dear, Lelaki Misterius (Part 2)

Senin, 05 Mei 2014

Dear, Lelaki Misterius (part 2)

Dear, Lelaki Misterius.

Sepertinya masih terlalu nyaman bagimu bersarang dalam khayalku.
Masih pula leluasanya dirimu menghantui malam-malamku.
Bahkan tidak sedikit pun kau biarkan aku bernapas barang sehirup saja.

Yaa.. Kau biarkan dada ini sesak, miskin oksigen tapi kaya akan dirimu. Lelaki Misterius.

Kau pun membiarkan kupu-kupu berterbangan dalam perutku, melahirkan rasa aneh yang selalu datang bersama dengan bayangan mu. Lelaki Misterius.

Dan semua (memang) masih tentang kamu. Lelaki (yang selalu) Misterius.

Tidak ada kah petunjuk baru untukku memecahkan kasus ini, hay, Lelaki Misterius?

Tertanda, Aku


***
Part sebelumnya :
Dear, Lelaki Misterius (Part 1)