Secret
Admirer
By:
Nurul Aria
Hari ini matahari bersinar dengan
teriknya. Tapi, hal itu tidak mampu membuatku mengurungkan niat untuk keluar
dari rumah menuju salah satu mall di
wilayah Jakarta Selatan. Hari ini aku ada janji bertemu dengan Tifa di sana. Sudah
beberapa bulan ini kami tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Namanya Latifa Soebagyo, tapi aku lebih
senang memanggilnya Tifa, adalah salah satu sahabat terbaikku beberapa tahun
belakangan ini. Kami bertemu di acara amal yang diadakan oleh Yayasan Sosial tempat
aku magang yang bekerja sama dengan salah satu Universitas Swasta di Jakarta.
Saat itu Tifa menjadi panitia penyelenggaranya dan sejak saat itu, kami
berteman akrab.
Getaran dari dalam tasku mengagetkanku
yang sedang mengenang pertemuan kami dulu. Kucari sumber getaran yang berasal
dari ponselku tersebut, tertera nama Latifa S di layar ponselku.
“Yes,
darling?” sahutku.
“Ranuwati similikiti, kamu sudah sampai
mana??” nada suara riang dari seberang.
“Masih di jalan, Fa.. Sebentar lagi sampai
kok. Kamu sudah sampai, ya?” tanyaku.
“Iya nih, aku sudah sampai. Heheh”
jawabnya.
“Oke, dear. Sebentar lagi, ya” jawabku meyakinkan.
“Sip, aku tunggu di lobi ya, cantik. See you there..” kemudian ponsel kumatikan
dan menaruhnya kembali di dalam tas berwarna biruku.
Tifa merupakan orang yang selalu ceria dalam
segala suasana, mudah membaur dengan siapa saja dan dari kalangan manapun.
Walaupun menyandang nama besar keluarga Soebagyo, Tifa tidak pernah memandang
orang lain dari luarnya saja. Itu yang membuat aku senang bersahabat dengannya.
Bahkan Tifa tak segan-segan menceritakan kehidupan pribadinya padaku, yang saat
itu baru mengenalnya.
Akhirnya tiba juga aku di mall ini, setelah melewati macetnya
Jakarta di siang hari. Begitu masuk lobi mall,
kulihat wanita berparas cantik dan ramping menggunakan dress berwarna ungu, berpadu dengan celana jins berwarna gelap
sedang berdiri di dekat pintu masuk mall.
Tifa memang selalu tampil modis, beda dengan aku yang apa-adanya.
“Hai Ranuwati similikiti…” sapa Tifa
ceria. Tifa memang selalu memanggilku seperti itu. Tifa merupakan salah satu
fans beratnya komedian yang juga presenter Tukul Arwana, makanya Tifa
memanggilku dengan embel-embel ‘similikiti’ khas Tukul itu.
“Lama ya nunggunya?? Sorry ya, Fa, agak macet tadi” ujarku
memohon maaf.
“Nggak kok cantik, aku juga baru
datang.” Ujarnya tersenyum. “Terus, mau kemana kita sekarang?” Tanyanya padaku.
“Bebas,” jawabku
“Kamu udah lunch belum? Apa kita cari makan aja dulu ya?”
“Ide bagus” kemudian kami beranjak dari
lobby menuju salah satu restoran yang ada di mall tersebut.
Setelah memesan hidangan..
“Ranu, masih ingat nggak dulu aku pernah
cerita tentang orang yang aku suka?’ ujarnya tiba-tiba
“Bryant maksud kamu, Fa?” tanyaku ragu
“Haha, iyaa. Kamu masih ingat ternyata”
jawabnya
“Kenapa Fa memangnya sama Bryant?”
selidikku
“Belum lama ini aku ketemu dia Nu, ya
Allah.. tambah ganteng aja deh” ujar Tifa semangat.
“Terus??” selidikku lagi
“Terus.. terus.. nabrak Nu” ledek Tifa.
Kemudian Tifa bercerita tentang Bryant
Saputra, seorang pria yang beberapa tahun ini selalu ada di hati dan
pikirannya. Awalnya Tifa mengagumi sosok Bryant yang menurutnya sangat keren
dan ‘cowok banget’. Bryant yang mandiri, Bryant yang cuek, dan segala hal
tentang Bryant menjadi topik perbincangan kami sore itu.
"Kamu beneran cinta sama
Bryant??" Tanyaku meyakinkan.
"Aku nggak tahu ini namanya apa,
Nu. Yang aku tahu, selalu ada perasaan yang aneh setiap aku ketemu Bryant. Jadi
salting gitu, Nu." Ujar Tifa
menjelaskan.
"Itu namanya jatuh cinta,
Fa.." Ujarku tersenyum. Terlihat semburat merah mewarnai pipinya.
Bagi Tifa, Bryant adalah pria pertama
yang ia cintai selain ayahnya. Tifa belum pernah merasakan yang namanya jatuh
cinta dan punya pacar. Dan semakin lama
Tifa mengenal anak lelaki satu-satunya di keluarga Saputra itu, Tifa semakin
jatuh hati pada Bryant yang terpaut 7 tahun dari usianya yang baru menginjak
angka 21 ini.
Dengan semangat, Tifa mengenang kembali
saat-saat bisa bersama Bryant, terutama saat Tifa menjadi karyawan magang di
Event Organizer milik keluarga Bryant. Sebenarnya Tifa bisa lebih dekat lagi
dengan Bryant, karena ayah Tifa bersahabat erat dengan keluarga Bryant. Bahkan,
Tifa sangat akrab dengan kakak-kakaknya Bryant.
“Aku minder tauuu..” jawab Tifa, ketika kutanya
kenapa belum ada kemajuan antara Tifa dengan Bryant.
“Minder kenapa, Fa? Kamu cantik, supel,
terpandang. Cowok normal mana sih yang nggak tertarik sama kamu, Fa?” tanyaku
heran. “Jujur ya, Fa, kalau aku jadi cowok, pasti aku pasti naksir kamu.”
Ujarku lagi.
“Ah Ranu bisa aja niih” ujar Tifa
malu-malu.
“Loh, aku serius Fa. Pasti banyak cewek
di luar sana yang iri sama kamu.” Yakinku.
“Habisnya, tipe cewek yang dia suka
nggak ada di aku, Nu.” Ujarnya sedih.
“Mas Iyan kan penyuka cewek-cewek
secantik Paris Hilton gitu Nu. Kalau di Indonesianya ya seperti Sandra Dewi
atau Marsha Timothy gitu deh. Jauh banget kan Nu sama aku” ujarnya menyebut
Bryant dengan Mas Iyan, panggilan kesayangan Tifa untuk Bryant.
“Lagian, ayah pernah bilang sama aku,
nanti kamu kalau cari pasangan jangan yang seperti Bryant ya, Fa” ujar Tifa
menirukan gaya bicara ayahnya.
“Loh, emangnya kenapa sama Bryant, Fa??
Kok Om Randy sampe ngomong begitu?” tanyaku heran.
“Kata ayah sih, Mas Iyan itu nggak
pantas lah buat aku. Kamu tahu sendiri ayah sama ibu gimana.” Ujar Tifa sedih.
"Kalau menurut kamu gimana, Nu?”
“Hmm.. Gimana ya, Fa, kalau secara agama
sih kalian kan beda." Ujarku. "Tapi, kalau di lihat dari tampangnya
sih, tampang-tampang players gitu
Fa.. hehe” lanjutku lagi.
“Haha.. iya sih. Tapi itu yang bikin aku
penasaran sama Bryant, Nu..” ujar Tifa lagi.
“Makanya diungkapin dong Fa, biar nggak
makin penasaran” saranku.
“Boro-boro ngungkapin, ngobrol sama dia
aja nggak pernah, Nu.” Ujar Tifa polos.
“Hah?? Serius Fa??” tanyaku nggak
percaya
“Iya, serius. Bryant tuh selalu bisa
bikin aku diam seribu bahasa deh kalau ada di depannya.” Jawab Tifa
“Ya ampun Tifa.. Ja-di selama ini…??”
Tanyaku menggantung. Tifa menggangguk meng-iyakan, seakan mengerti maksud
pertanyaanku.
“Aku cuma bisa mengagumi Bryant dari
jauh, Nu.” Tifa berusaha tersenyum saat mengungkapkannya.
"Sekali-kali kamu harus ngobrol lah
sama Mas Iyan-mu itu" ujarku mencoba memberi semangat pada Tifa. "Apa
perlu aku temenin??" Tawarku lagi, yang kemudian mendapat tatapan heran
Tifa.
"Caranya??" Tanya Tifa heran.
Kemudian kujabarkan rencana yang ku
maksud tadi. Tifa mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk sambil
tersenyum-senyum..
"Aaah, Ranuwati similikiti.. Kamu
selalu tahu yang aku mau.. Terimakasih cantiik" Ujar Tifa sambil
memelukku..
3 hari setelahnya,
Aku, Tifa dan Nina sahabat kami, sudah
berada di dalam mobil Tifa yang sedang meluncur menuju kawasan perumahan Elite
di wilayah Jakarta Selatan. Rencananya hari ini kami bertiga mau bertemu dengan
Mas Iyan, lebih tepatnya aku dan Nina menemani Tifa yang ingin bertemu pujaan
hatinya itu.
Sesuai rencana yang sudah disusun
sebelumnya, pura-puranya aku dan Nina sebagai teman kampus Tifa yang ingin
mengadakan acara musik, dan ingin menggunakan jasa Event Organizer milik Bryant
dan teman-temannya.
"Aaah.. Aku nervous banget nih" ujar Tifa setelah memarkir mobilnya di
depan rumah megah berwarna salem, yang merupakan kantor EO 'Project Nine' milik Bryant dan teman-temannya.
"Gimana penampilan aku?? Ada yang
aneh ngga??" Tanya Tifa sambil merapihkan rambut dan make-up nya. Aku dan
Nina hanya tersenyum melihat kepanikan Tifa ini.
"Udah cantik Fa.." Nina yang
berbicara sambil tetap tersenyum.
"Are you sure??" Kali ini
Tifa menatap aku dan Nina bergantian.
"Hahaa.. Atur napas Fa. Nggak usah
panik gitu lah." Ujarku menenangkan.
"You look so goergous today. Nggak mungkin lah Bryant nyuekin kamu." Tambahku lagi.
"Haha, semogaa" Tifa berusaha
ceria.
"Ready??" Kutatap Tifa yang sedang berusaha menenangkan diri.
"Yuk aah..
Bismillahhirrahmannirrahim" ujar Tifa setelah menarik napas dalam.
Kami bertiga akhirnya keluar dari mobil,
dan masuk ke dalam rumah tersebut. Seorang lelaki tampan, berkaus hitam dengan
celana cargo selutut, yang ternyata Bryant, menyambut kami dengan ramah,
kemudian mempersilahkan kami masuk ke dalam ruangan meeting.
Di dalam ruangan tersebut, juga ada dua
orang lelaki temannya Bryant, yang juga pemilik EO 'Project Nine'.
"Om Randy apa kabar, Fa?" Tanya
Bryant pada Tifa.
"Alhamdulillah sehat" jawab
Tifa terdengar gugup.
Setelah berbasa-basi menanyakan
keluarga, kemudian Tifa membuka pembicaraan sesuai rencana awal.
"Gini mas, kita mau tanya-tanya
tentang EO." Ujar Tifa. "Rencananya, kampus mau ngadain acara musik
dan kerja sama dengan EO. Tapi masih bingung sama konsepnya" lanjut Tifa
lagi.
Bryant menjelaskan dengan rinci, mulai
dari konsep, budgeting, hingga ke
pengisi acara. Aku dan Nina terkadang menanyakan beberapa hal yang kurang kami
mengerti. Sesekali Tifa menimpali, namun lebih seringnya diam dan hanya
memandangi Bryant yang sedang menjelaskan.
"Memang rencananya kapan mau bikin
acaranya?" Tanya Bryant
"Tanggalnya sih memang belum ditentuin
Mas, makanya kita mau tanya-tanya dulu. Biar tahu persiapannya berapa
lama." Jawabku asal. Karena sebenarnya acara musik itu hanya karangan kami
saja.
"Ooh, begitu. Kalau bisa jangan
mepet-mepet waktunya. Dan persiapannya juga harus matang." Jelas Bryant
lagi.
Tiba-tiba terdengar lagu dari Cinta Laura
yang sedang hits saat itu, "Mana hujan, ngga ada ojek.. Becek..
Becek.. Mana hujan, ngga ada ojek.. Becek.. Becek.."." Dan
kemudian Bryant meninggalkan kami sebentar untuk mengangkat telpon masuk di
ponselnya tersebut.
Tifa, Nina dan aku hanya saling tatap
sambil berusaha menahan tawa. Berbagai macam pikiran berkecamuk di otak kami.
"Sorry, tadi ada telepon. Oh, iya sampai mana tadi??" Ujar
Bryant setelah kembali duduk di hadapan kami.
"Butuh persiapan yang matang"
kali ini Nina yang bicara.
"Oh iya, kalian harus persiapkan
dengan matang semuanya." Ujar Bryant mengulang kembali kata-katanya.”Ada
yang mau ditanya lagi?” lanjut Bryant menatap kami bertiga.
“Sepertinya sudah cukup, Mas.” Jawab
Tifa. “Nanti kalau sudah pasti, aku langsung hubungi Mas Bryant saja boleh?”
ujar Tifa memberanikan diri.
“Ya boleh lah. Ini kartu nama saya.”
Bryant memberikan selembar kartu nama berwarna hitam itu.
“Terima kasih banyak ya, Mas, atas
waktunya. Maaf kalau kita ngerepotin” ujar Tifa sambil menjabat tangan Bryant.
Kemudian kami berpamitan pulang.
Di mobil Tifa, dalam perjalanan pulang,
tak henti-hentinya kami membahas pertemuan dengan Bryant tadi. Bahkan sesekali
Tifa tertawa lepas ketika mengingat lagu yang menjadi ringtone ponsel Bryant tadi.
“Mana
hujan, ngga ada ojek.. Becek.. Becek.." Tifa bernyanyi menirukan
penyanyi aslinya dengan gaya seperti orang nge-rap,
membuat aku dan Nina tak bisa menahan tawa.
“Nggak nyangka ternyata Bryant ituu…
hahaha” sahut Nina sambil tertawa.
“Lihat nggak sih tadi, mukanya Bryant tuh
agak merah gitu pas ringtonenya
bunyi. hahaha” Ujarku tak bisa menahan tawa.
“Iya tuh.. mokal banget tuh pastinya” Nina menambahi.
Tifa tak henti-hentinya tertawa, bahkan
sesekali menepuk-nepuk setirnya sangking gelinya.
“Ilfil
nggak, Fa??” tanya Nina ketika kami sudah mulai bisa tenang.
“Ya nggak lah, Nin. Malah makin cinta
sama Mas Iyan” ujar Tifa yakin.
“Hahaha.. dasar Tifa” ujar ku sambil
geleng-geleng kepala.
“Girls,
thank you yaa sudah mau nemenin aku tadi. Kalau nggak ada kalian, aku nggak
tahu deh gimana jadinya.” Ujar Tifa yang bergantian menatap kami sesaat.
“Sama-sama, Fa. Sudah puas kan tadi
ngobrol sama Bryantnya??” tanyaku.
“Puas bangeet Ranuu… Pasti mimpi indah
nih nanti malam” ujar Tifa dengan mata menerawang.
“Jadi, PDKTnya mau di lanjutin nih?”
ujar Nina tiba-tiba sambil menatap Tifa yang sedang menyetir.
“Entah lah Nin, sepertinya aku sudah hopeless untuk dapetin cintanya Bryant.”
Tifa diam sejenak, berkonsentrasi pada kemudi di hadapannya. “Jarak antara aku
dan Bryant terlalu jauh soalnya. Banyak perbedaannya.” Lanjut Tifa.
“Everything
gonna be possible, Fa, kalau kamu yakin dan mau berusaha.” Ujarku mencoba
memberikan semangat pada Tifa.
“Thanks,
Nu. But I think, I just wanna be his secret admirer aja, deh.” ujar Tifa.
“Lagian, ada pepatah yang bilang tak selamanya cinta harus memiliki kan, Nu?”
tanya Tifa padaku.
“Haha, Iya sih. Mungkin Bryant memang
bukan jodoh yang terbaik untuk kamu, Fa. Tapi tenang darling, love will found you,
if you try” ujarku menenangkan.
Ya, tak selamanya cinta harus saling
memiliki. Seperti Tifa yang tak pernah bisa memiliki Bryant, lelaki yang sangat
di cintainya. Cinta pertamanya.
(cerita
ini based on true story, nama dan
latar kejadian diubah atas permintaan orang yang bersangkutan tapi tidak
ceritanya.)
Nb:
Mokal -> malu
*********
Ini tulisan lama gue yang gue kirim untuk proyek menulis yang masuk ke dalam buku kompilasi Primer Amor 2 yang dibantu terbit oleh nulisbuku.com dan iseng aja gue posting di blog ini..
salam perdana
BalasHapushai..
Hapus