Jumat, 27 November 2015

Movie Review: Les Nouvelles Aventures d'Aladin, Aladin Versi Baru



Masih ingatkah kita dengan kisah dari negeri 1001 malam? Di mana seorang pencuri muda yang menemukan sebuah lampu ajaib dengan Jin yang mampu mengabulkan keinginan kita. Namun, bagaimana jika kisah Aladin dan lampu ajaibnya dirubah dari kisah aslinya? Seperti halnya yang terjadi pada Film besutan sutradara Arthur Benzaquen, Les Nouvelles Aventures d’Aladin (The New Adventures of Aladin).


DIRECTOR les-nouvelles-aventures-d-aladin
Sutradara, Arthur Benzaquen

Berkisah tentang Sam dan Khalid yang memutuskan untuk mencuri di Galeries Lafayette pada malam Natal. Namun Sam, yang saat itu sedang mengenakan pakaian Sinterklas tiba-tiba terjebak di tengah anak-anak yang memintanya untuk mendongeng. Sam pun akhirnya menceritakan kisah Aladin, dalam versinya sendiri. Dalam tubuh Aladin, Sam bertualang ke kota 1001 malam, Baghdad dan bertemu dengan Putri Shallia.


les-nouvelles-aventures-d-aladin8
Aladin dan Khalid, dua pencuri ulung di Baghdad

Dalam film berdurasi 107 menit ini, penonton sudah diminta untuk tertawa sejak awal. Terutama ketika Aladin, yang diperankan oleh Kev Adams, mulai beraksi. Tidak hanya disuguhi tingkah laku Aladin yang konyol, film bergenre komedi ini juga menghadirkan drama dan musikal yang membuat penonton tidak ingin mengalihkan perhatiannya dari layar.


les-nouvelles-aventures-d-aladin01
Putri Shailla, yang memikat hati Aladin

Meskipun film yang diproduksi oleh MT Entertainment ini berkisah tentang Aladin, yang biasa ditonton oleh anak-anak, namun dalam Aladin versi Daive Cohen, sang penulis skenario, film yang akan tayang dalam Festival Sinema Prancis, Desember nanti ini tidak layak ditonton bersama anak-anak.


Vizir, sang tiran yang kejam mengincar lampu ajaib milik Aladin
Vizri, sang tiran yang kejam mengincar lampu ajaib
milik Aladin


Untuk mengetahui jadwal tayang Les Nouvelles Aventures d’Aladin (The New Adventures of Aladin), dapat dilihat di web Festival Sinema Prancis atau simak di lini masa Twitter @IFI_Indonesia dan Instagram @ifi_indonesia. Dan jangan lupa simak trailernya terlebih dahulu di sini


Note: tulisan ini juga diposting di web NontonJKT

Tara Basro Didapuk Menjadi Duta Festival Sinema Prancis 2015

Duta Festival Sinema Prancis 2015

Di tahun ke-20nya Festival Sinema Prancis memilih dua orang sineas Indonesia sebagai Duta Festival Sinema Prancis; Garin Nugroho dan Tara Basro.

IMG_8422

Garin Nugroho sudah menjadi penghubung industri film Indonesia dan Prancis sejak filmnya Daun Di Atas Bantal terpilih untuk kategori Un Certain Regard di Festival Film Cannes 1998. Tahun ini, festival film yang ia rintis, Jogja-Netpac Asian Film Festival berkolaborasi dengan Festival Sinema Prancis 2015 dalam memutar film-film Prancis berkualitas dan sesi diskusi Promosi dan Strategi Festival di IFI Yogyakarta pada 4 Desember dengan pembicara; Isabelle Glachant (Perwakilan Unifrance), Kamila Andini (Sutradara), Nan Achnas (Sutradara & Produser), dan Christine Hakim (Aktris senior Indonesia yang pernah menjadi anggota juri Cannes International Film Festival).

“Menjadi kehormatan untuk menjadi Duta Festival Sinema Prancis karena sejarah sinema prancis dari era nouvelle vague (sinema baru Prancis) hingga sekarang selalu mendorong pembuat film melahirkan karya-karya personal, dengan cara pandang sendiri di luar industri film Hollywood. Maka sudah selayaknya sinema Prancis menjadi bagian dari budaya tontonan pecinta film Indonesia,” ujar Garin atas terpilihnya sebagai Duta Festival Sinema Prancis 2015.

Lewat film A Copy Of Mind, Tara Basro, berhasil meraih penghargaan Citra untuk kategori Aktris  Wanita Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2015. Film yang disutradarai Joko Anwar ini telah diputar di Venice Film Festival 2015, Toronto International Film Festival (TIFF), Busan Film Festival 2015dan akan segera rilis di Indonesia tahun depan.

IMG_8422


“Sinema Prancis berperan penting dalam industri film dunia ketika konsep film sebagai tontonan publik diperkenalkan pertama kalinya di Paris. Terpilih menjadi Duta Festival Sinema Prancis ke-20 dan bisa menjadi bagian dari sejarah sinema Prancis, terutama di Indonesia adalah kebanggaan tersendiri buatku. Dan aku percaya bahwa Festival Sinema Prancis juga bisa membuka kesempatan untuk para filmmaker muda yang terpilih sebagai finalis di Kompetisi Film Pendek Festival Sinema Prancis, yang tentunya akan membuka pintu untuk berkiprah dalam industri film internasional,” ujar wanita yang gemar menonton film Prancis ini. 

Note: tulisan ini juga diposting di web NontonJKT

Festival Sinema Prancis 2015, Hadirkan 5 Film Indonesia

Festival Sinema Prancis kembali hadir di 9 kota besar di Indonesia, yaitu : Jakarta, Bandung, Denpasar, Malang, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Makassar dan Balikpapan. Di tahun ke-20 Festival Sinema Prancis juga dimeriahkan dengan dipilihnya Garin Nugroho dan Tara Basro sebagai Duta Festival Sinema Prancis. 

IMG_8415
Direktur IFI, Marc Piton memberi sambutan

Seperti yang dikatakan oleh Marc Piton, Direktur Institut Francais Indonesia (IFI) yang juga Konselor Kerjasama dan Kebudayaan Kedubes Prancis di Indonesia,  “Tahun 2015 adalah awal baru dari 20 tahun yang akan datang di mana cakupan kerjasama dan bentuk kemitraan Indonesia-Prancis dalam bidang sinema akan semakin luas dan intens”.

Acara yang akan dihelat pada 3-6 Desember 2015 ini akan hadir dalam 3 program; Panorama – yang akan menyajikan berbagai film Prancis terbaru dari berbagai genre (drama, komedi, action hingga animasi) dan berkualitas internasional. Beberapa film Prancis yang akan tayang di Festival Sinema Prancis 2015 antara lain, Dheepan, Les Nouvelle Aventures d’Aladin (The New Adventures of Aladin), Taj Mahal, Le Petit Prince (The Little Prince), La Familie Bélier (The Bélier Family), Pourquoi j’ai pas mange mon père (Monkey Bussines), La French (The Connection), Le Père Noël (Santa Claus).

Fokus – program ini didedikasikan bagi kolaborasi sinematografi antara Prancis dan Indonesia melalui lima film, seperti; Sang Penari, Laut Bercermin, Berbagi Suami, The Photograph dan Garuda Power : The Spirit Within.

Dan terakhir Kompetisi Film Pendek – sebanyak 8 film yang berhasil lolos sebagai finalis tahun ini akan diputar sebelum pemutaran film panjang dalam program Panorama. Kedelapan film tersebut adalah Bid & Run karya Gugun Ekalaya, Iblis Jalanan karya Salman Farizi, Iman karya Nurul Ibrahim, Return to Sender karya Vera Lestafa, Sandekala karya Amriy Ramadhan, Simbiosis karya Wiranata Tanjaya, Sleep Tight Maria karya Monica Vanessa Tedja dan Taste of Fences karya Sinung Winahyoko.   

19_9_FSP


Untuk dapat menonton program Panorama yang akan diputar di jaringan XXI/21 di 9 kota besar di Indonesia, tiket dapat diperoleh di kantor IFI Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Balikpapan mulai tanggal 26 November 2015, seharga IDR 35.000. Dan untuk jadwal Festival Sinema Prancis lebih lengkap bisa dilihat di web www.festivalsinemaprancis.com.

Note: tulisan ini juga diposting di web NontonJKT

Minggu, 22 November 2015

Movie Review : The Little Prince, Keajaiban Dunia Masa Kecil

Setiap Ibu memang menginginkan masa depan yang terbaik bagi anak-anaknya. Berbagai cara pun dilakukan agar sang anak berhasil mendapat kan yang terbaik. Tetapi, apakah harus merenggut kebebasan anak itu sendiri?


pic from here

Seperti diceritakan dalam sebuah film berjudul The Little Prince yang disutradarai oleh Mark Osborne tentang seorang Little Girl (disuarakan oleh Mackenzie Foy) yang kehidupannya sudah diatur sedemikan rupa oleh sang Ibu (disuarakan oleh Rachel McAdams) demi masa depan yang baik bagi Little Girl kelak. Tetapi ketika Little Girl memutuskan untuk berteman dengan tetangganya yang eksentrik namun baik hati, The Aviator (disuarakan oleh Jeff Bridges), Little Girl belajar tentang keajaiban imanjinasi dan juga kisah The Little Prince (disuarakan oleh Riley Osborne), seorang anak yang tersesat di padang pasir setelah jatuh dari sebuah Asteroid. Sampai pada akhirnya Little Girl akan melakukan sebuah perjalanan ajaib ke dunia imajinasinya sendiri, di mana dia menemukan kembali masa kecilnya dan belajar bahwa apa yang paling penting adalah hubungan manusia dan hal-hal yang hanya bisa dilihat dengan hati.


pic from here

Film yang diadaptasi dari novel Prancis karya Antoine de Saint-Exupéry berjudul Le Petit Prince (The Little Prince) ini menggabungkan dua teknik animasi, yaitu papercraft animasi dan Pixar-esque CG. Keduanya menyatu dengan sempurna dalam film berdurasi 106 menit ini. Ditambah dengan scoring yang memang mendukung cerita dalam setiap adegan, film yang sudah tayang sejak 30 Oktober 2015 lalu di Indonesia ini memang layak untuk ditonton semua jenis usia.


pic from here


Meskipun alur cerita agak sedikit lambat, namun tidak mengurangi esensi film yang didapuk bergenre Fantasi Animasi ini. Ada satu quote yang terekam dengan jelas, bahkan beberapa kali diulang dalam film dari rumah produksi On Entertainment, Onyx Films dan Orange Studio ini, yaitu:

”It is only with the heart that one can see rightly. 

What is essential is invisible to the eyes”  


Nilai 8 dari 10 untuk film ini. Trailer : Official International Trailer The Little Prince



Minggu, 15 November 2015

Movie Review : The Bélier Family, Film yang Mengaduk-aduk Perasaan

Memilih antara keluarga atau mengejar mimpi memang sebuah pilihan yang cukup sulit, apalagi bagi seorang gadis remaja yang merupakan tumpuan keluarga dalam berkomunikasi.

Paula menjadi tumpuan keluarganya dalam berkomunikasi

Bercerita tetang Paula, gadis berusia 16 tahun yang memiliki keluarga tuna rungu. Hanya Paula yang mampu berbicara di Keluarga Bélier sehingga Paula menjadi satu-satunya juru bicara sekaligus penerjemah di Keluarga Bélier ini. Keluarga Bélier sendiri merupakan keluarga petani di kota kecil di Prancis.  

The Bélier Family

Di satu sisi, Paula yang ternyata bersuara emas ini ingin mengikuti kontes menyanyi di Radio France di Paris, dengan konsekuensi jika ia terpilih, ia harus meninggalkan keluarganya selama 3 bulan. Di sisi lain, Paula tidak bisa meninggalkan keluarganya yang memang selalu membutuhkan dirinya tersebut.

Paula gigih berlatih nyanyi dengan guru musiknya

Film yang dalam bahasa aslinya berjudul La Famille Bélier ini mampu mengaduk-aduk perasaan penonton seperti ketika menaiki roller-coaster. Tidak hanya disuguhi konflik keluarga seperti yang dihadapi Paula (Laouane Emera), dalam film berdurasi 106 menit ini penonton juga diajak untuk merasakan kehidupan gadis remaja bersuara emas ini yang penuh dengan romansa dan kegilaan khas remaja yang menghadirkan gelak tawa.

Paula sangat ingin mengikuti kontes menyanyi di Paris


Dalam filmnya, Sutradara Éric Lartigau ini mengingatkan kita tentang arti sebuah keluarga. Meskipun memiliki kekurangan, tetapi orang tua akan selalu berusaha mendukung sang anak dalam mengejar mimpinya.  

Sang Sutradara The  Bélier Family

Penasaran dengan The  Bélier Family? Sebelum menonton film yang sudah rilis di Prancis sejak 2014 lalu ini, ada baiknya kita simak trailer The  Bélier Family terlebih dahulu di sini.

The  Bélier Family menjadi satu dari sejumlah film yang akan diputar dalam Festival Sinema Prancis 2015, 3-6 Desember 2015 nanti. Institut Français d’Indonésie (IFI) bekerja sama dengan Cinema XXI/21, kantung kebudayaan dan komunitas film lokal kembali menghadirkan Festival Sinema Prancis di 9 kota di Indonesia, Jakarta, Bandung, Denpasar, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Makassar dan Balikpapan.




Jadwal film untuk Festival Sinema Prancis baru akan rilis tanggal 25 November 2015 nanti. Untuk info lebih lengkap bisa kunjungi website Festival Sinema Prancis atau simak linimasa Twitter @IFI_Indonesia atau di Instagram @ifi_indonesia. Yuk, sama-sama kita sambut kemeriahan perayaan ke-20 Festival Sinema Prancis!


Note : tulisan ini juga diposting di web NontonJKT dengan perubahan.