Selasa, 20 Januari 2015

Weekend bersama Manusia-Manusia Hebat

Hai….

Selamat Tahun Baruuuuuu....

Di awal Tahun ini gue mau posting tulisan yang sebenernya udah gue tulis sejak Desember 2014 kemarin, tapi baru sempat gue selesain sekarang. Heheh.. pisss.. 

Di postingan ini gue mau cerita pengalaman gue jadi volunteer di acara "Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu Bintaro" (YSI Bintaro) di Kebun Raya Bogor, Sabtu, 29 November 2014. It’s been a few weeks ago, memang. Tapi keriaan itu masih terbayang di benak gue sampai sekarang.



Bermula dari…

Dari posting-an di salah satu grup whatsapp, broadcast tentang acara "Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu Bintaro" yang diadakan dalam rangka menyambut Hari Disabilitas Internasional dan juga dalam rangka mengampanyekan #MasyarakatInklusif.

Karena gue, yang udah lama banget gak terjun jadi volunteer karena kesibukan ini itu, yang kangen jadi volunteer lagi, kangen ketemu malaikat-malaikat lucu ini lagi, akhirnya memantapkan diri untuk daftar jadi volunteer di acara Wisata Anak ini. Meskipun harus nekat ngajuin cuti dari jauh-jauh hari. (FYI itu acara kan di hari Sabtu, ya, dan gue selalu shift siang kalo Sabtu). Makanya harus cuti dari jauh-jauh hari biar gue bisa mengobati rindu gue berinteraksi dengan malaikat-malaikat yang selalu jadi mood booster gue ini. Bismillah… Pasti bisa.

Setelah mengisi formulir online itu, gue dihubungi via e-mail oleh kak Dhika, Koordinator Lapangan Acara Wisata Anak, untuk hadir dalam rapat sekalian perkenalan dengan volunteer yang lainnya. Sayangnya pada rapat pertama ini gue berhalangan hadir karena ada acara (lupa acara apa, hehe). Dari hasil rapat pertama itu diputuskan kalau rapatnya akan diadakan setiap hari minggu di YSI Bintaro, jam 9 pagi.
Rapat, 2 November 2014

Hari Minggu, 2 November 2014, akhirnya gue bisa hadir di rapat kedua persiapan Wisata Anak di YSI Bintaro.  Hmm.. di mana itu YSI Bintaro? Yaaa, di Bintaro lah, Rul… Kalo naik kendaraan umum, angkotnya itu A.K.A.P deh.. Alias antar kota antar propinsi. (Perjalanan jauh, kapten! Gak nyampe-nyampe ini). Heheh. Tapi itu karena gue naik angkot yang dari lebak bulus. Jalur yang gue tau cuma itu, itu pun setelah nanya-nanya ke temen gue yang tinggal sekitar Bintaro. Tapi untuk rapat-rapat berikutnya akhirnya gue naik KRL, itu pun setelah nanya-nanya lagi sama panitia yang lain. Better lah yaa naik KRL dibanding naik angkot. Heheh. Tapi ada hikmahnya sih gue ngangkot, jadi semacam napak tilas wilayah ciputat-rempoa-binplaz, lah.. Mengenang zaman masih suka berkeliaran di sana. *oke stop intermezzonya*

Sampai di YSI Bintaro, langsung ketemu kak Dhika dan beberapa volunteer –yang kebanyakan masih kuliah- di aula lantai 2. Sepertinya cerita tentang rapatnya gue skip, ya. Off the record! *piss lagi*.

Berfoto setelah rapat, 2 November 2014



Di Acara Wisata Anak bersama YSI Bintaro ini, gue mengajukan diri untuk menjadi Liaison Officer, atau disingkat LO. Kerjaannya? Yang handle pengisi acara. Kenapa gue pilih jadi LO? Karena gue penasaran sama kerja LO seperti apa. Mungkin juga akibat berkali-kali baca bukunya kak Melanie Subono yang judulnya Liaison Officer Forever dan Ouch!, kisah kak Mel selama jadi LO. Dan gue curious, kakak.. Makanya, ada kesempatan jadi LO, ngajuin diri deh.. heheh..

Tim Liaison Officer with Mbak Rini dan Randy

Tim LO ini masuk ke Area 5, dengan koordinator Iqbal, Anggotanya cewek semua *termasuk gue* dan semuanya mahasiswi *kecuali gue*, ada Nadya, Rahmalia, Dinda, dan Utari. Nah karena ada beberapa kategori pengisi acara, jadinya dibagi-bagi lah tugasnya. Dan gue kedapetan untuk handle yang ngisi acara Musik dan Tari.

Itu sekilas tentang persiapan acara Wisata Anak Bersama Sahabat YSI Bintaro. Sebelum lanjut, gue mau cerita saat Car Free Day, satu minggu sebelum hari H.    

Jadi, satu minggu sebelum hari H ini panitia dari YSI Bintaro mengajak volunteer dan beberapa anak-anak yang ada di YSI Bintaro untuk jalan-jalan pagi di sekitar Senayan – Sudirman saat car free day. Janji ketemuan di Parkir Timur Senayan (yang ternyata rame banget karena ada event Colour Run dan Wisuda).
Ubay dan kak Dwi
kak Herta dan kak Dhika with Ubay

with kakak-kakak yang abis Colour Run
Setelah sempet ngetem beberapa saat di sekitaran FX Sudirman, akhirnya Bu Reno, Ketua panitia Wisata Anak, mengajak anak-anak dan volunteer naik TransJakarta (TJ) Busway. Mencoba transportasi umum yang (katanya) ramah disabilitas.

menaiki JPO menuju halte GBK
menaiki JPO menuju halte GBK
Mulai dari halte busway Gelora Bung Karno, yang memang ramah disabilitas, jadi anak-anak yang menggunakan kursi roda bisa masuk. Saat masuk ke haltenya pun dipermudah, dan ternyata anak-anak disabilitas ini free loh, yang bayar hanya pengantarnya aja. Keren, lah, ini. Cuma sayangnya halte busway GBK ini agak sempit dan hanya satu pintu untuk naik-turun penumpang. Jadinya petugas di halte buswaynya harus koordinasi terlebih dahulu dengan pramudi TJnya. Akhirnya kami semua masuk TJ melalui pintu paling depan. Untungnya TJ saat itu belum terlampau penuh. Jadi bisa masuk semua. Dan lagi, petugas onboardnya ikut membantu menaikkan anak-anak dengan kursi roda. Makasih, pak! 

Berfoto sebelum masuk halte GBK
Kursi roda masuk jalur khusus
Kursi roda masuk jalur khusus

menunggu Transjakarta Busway di halte GBK
petugas onboard membantu mengangkat anak disabilitas masuk bus

Anak-anak yang memang belum pernah naik TJ ini terlihat sangat senang dan bersemangat. Ubay, Nurul, Jelita, Bella senyum dan tertawa dengan riang. Tapi ada satu anak yang agak ketakutan. Namanya Ayu, tidak menggunakan kursi roda dan saat itu kursi penumpang penuh, jadinya berdiri dan berpegangan erat ke gue. Asli, pegangannya kenceng banget dan tangannya sampe keringetan. Saking takut jatuh. Ditambah lagi, sang pramudi buswaynya beberapa kali ngebut dan ngerem agak mendadak gitu. Tapi akhirnya, setelah beberapa halte lewat, ada penumpang yang berdiri da mempersilahkan Ayu untuk duduk. 


Ubay tertawa senang saat di dalam TJ
Ayu yang pegangan erat ke gue



Bella dan Jelita yang terlihat antusias saat di dalam bus
Tujuan awal mau ke Bunderan Hotel Indonesia. Tapi berhubung halte Bunderan HI sudah tidak ada dan halte Tosari (saat itu) terlampau sempit dan tidak ramah disabilitas, jadinya kami turun di halte Sarinah (yang memang lebih besar). Sampai di halte Sarinah, terpaksa kami balik lagi ke arah Sudirman. Karena Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di sana tidak ramah disabilitas. Alias berbentuk tangga. Jadinya anak-anak yang menggunakan kursi roda tidak bisa turun. Karena lift yang disediakan pun tidak berfungsi.

penampakan tangga penyebrangan dari halte Sarinah

di halte Sarinah









Nah, saat naik TJ arah balik ke Sudirman, kami dapat bus yang sepi penumpang. Jadi agak leluasa masuk. Dan Ayu, juga beberapa pendamping anak bisa duduk dengan nyaman. Tapi kami agak bingung saat hendak turun di halte GBK. Karena kami naik dari pintu paling depan, sedangkan saat di halte GBK, penurunan penumpang dari pintu tengah. Jadilah kami urung turun di halte itu. Pindah ke halte Bunderan Senayan, yang (saat itu) sudah lebih luas. Tapi ternyata halte Bunderan Senayan ini masih belum ramah disabilitas. Karena saat di pintu keluarnya, anak-anak dengan kursi roda tidak bisa lewat. Karena rata-rata kursi rodanya agak lebar dan besar. Hanya kursi roda yang kecil yang bisa lewat. Jadinya, anak-anak yang menggunakan kursi roda agak besar terpaksa harus digendong saat melalui pintu keluar.


hanya Jelita yang bisa lewat.
Bella harus diangkat melewati pintu keluarnya
Ubay juga harus digendong untuk bisa keluar halte
   



Nurul dan kursi rodanya juga harus diangkat keluar halte
Beruntungnya masih banyak manusia baik yang membantu mengangkat anak-anak berserta kursi rodanya untuk melewati pintu keluar di halte Bunderan Senayan ini. Jadi selain pendamping dari YSI Bintaro, Kak Dhika dan petugas di halte Bunderan Senayan-nya, ada kakak berkemeja biru itu yang membantu mengangkat Bella dan Nurul. Makasih ya, kakak-yang-tidak-diketahui-namanya. (Kalo ada yang kenal dengan kakak ini, boleh loh dimensyen di kolom komen blog ini. Maacih)

Saat melewati jembatan di halte Bunderan Senayan

Back to Wisata Anak Bareng YSI Bintaro.

Sejak hari jumat malam, gue dan tim LO juga beberapa orang dari divisi perlengkapan menginap di hotel dekat Kebun Raya Bogor. Persiapan untuk acara esok harinya. 

Dari pagi, setelah sarapan kami bersiap ke TKP. Follow up para pengisi acara sudah sampai mana, check sound, GR, dan persiapan panggung lainnya. Excited, deg-degan, campur aduk, deh. Itu yang gue rasain di pagi hari itu. Mulai dari menghubungi pengisi acara yang gue handle, konfirmasi keberadaan mereka udah di mana, panik karena no respon dari CP yang dikasih ke gue. Banyak, deh.

Sekitar pukul 9-an, satu persatu peserta Wisata Anak Bersama Sahabat Yayasan Sayap Ibu ini mulai berdatangan dan Lapangan Randu di Kebun Raya Bogor ini pun mulai dipenuhi oleh panitia dan peserta yang mayoritas menggunakan kaos berwarna kuning.

Suasana di Lapangan Randu 


Dan mata gue mulai mencari-cari pengisi acara yang gue handle. Ada adik-adik tunanetra dari Sanggar Pelita Monas, yang akan membawakan Tari Saman dan bermain Angklung. Ada Fauzan dengan Autisme, yang jago main Biola, akan membawakan 2 lagu instrumen dengan Biola. Dan juga ada adik-adik Down Syndrome yang lucu-lucu dari Sanggar Tari Insan Anugerah yang membawakan Tarian Robotic.

Disaat gue sedang mencari-cari mereka di antara peserta lainnya yang hampir semuanya mengenakan kaos kuning cerah itu, gue melihat sosok yang gue kenal banget. Temen-temen dari Wisma Tuna Ganda Palsi Gunung. Ada kak Yunas dan kak Lena, ada Icha juga (oke, memang hanya itu yang gue kenal dari Palsi Gunung). Langsung gue deketin mereka. Udah lama gue gak berkunjung ke Palsi Gunung, jadinya seneng banget bisa ketemu mereka di acara ini. Kangen mereka!. Mumpung belum terlalu sibuk, gue sempatkan diri menyapa rombongan dari Palsi Gunung ini. Kangen-kangenan, terutama sama Icha yang agak gemuk. Dan tak lupa gue juga mengabadikan pagi bersama mereka dengan berfoto. (Karena belom tentu nanti bisa foto lagi).

bersama rombongan dari Palsi Gunung
Gak cuma ketemu anak-anak dari Palsi Gunung. Gue pun ketemu dengan anak-anak dari YSI Barito. Mardi, Hosean, Mira, Irma, Tegar, dan banyaaak lagi. Bener-bener ajang temu kangen gue dengan malaikat-malaikat kecil yang udah lama gak gue temuin. Seketika hati gue berbunga-bunga. Setiap bercengkrama dengan mereka, selalu memberi suntikan semangat buat gue. Meskipun semalam kurang tidur, dan agak sedikit panik, tapi hilang seketika.

bersama anak-anak YSI Barito dan Inung.

Selesai bercengkrama dan berfoto-foto dengan anak-anak dari YSI Barito ini, gue kembali ke tugas gue sebenernya saat itu. Mencari keberadaan pengisi acara dan melihat persiapannya. Terutama dengan adik-adik tunanetra dari Sanggar Pelita Monas yang akan membawakan Tari Saman di awal acara. Setelah bertemu dengan Ibu Yani dari Sanggar Pelita Monas, memberitahu tentang rundown dan mempersilahkan adik-adik bersiap dan melakukan check sound untuk penampilan keduanya nanti. Selain Tari Saman, adik-adik dari Sanggar Pelita Monas ini juga akan tampil menampilkan permainan angklung mereka. Dan mereka semua berbakat.

adik-adik dari Sanggar Pelita Monas

Sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak, yang hampir semuanya masih sekolah tingkat menengah ini, tentang bagaimana mereka berlatih tarian Saman dan alat musik Angklung ini. Seru. Seperti kata Nurul, "awalnya emang susah, kak. Tapi setelah terbiasa, malah jadi gampang banget."

Nurul, dari Sanggar Pelita Monas
Gue pernah belajar Tari Saman. Pernah tampil membawakan Tarian Saman saat masih SMA dulu. Dan gue tau gak gampang berlatih untuk bisa menguasai Tarian Saman ini. Makanya gue kagum sama mereka. Semangat belajarnya tinggi. Mereka hebat, karena juga menguasai alat musik Angklung. Gue aja gak bisa. :')

Gak cuma adik-adik dari Sanggar Pelita Monas ini aja yang membuat gue kagum karena bakatnya. Ada Fauzan, meskipun terbatas dengan Autismenya, tapi Fauzan sangat ciamik saat memainkan Biola di atas panggung. Lagu yang dibawakan Fauzan saat dipanggung (yang gue inget) adalah lagunya Bruno Mars - Count On Me. Ini lagu kedua. Yang pertama gue agak lupa, karena tiba-tiba aja Shinta dari I'm Star ikut naik ke atas panggung mengiringi Fauzan dengan keyboardnya.

Fauzan ditemani Shinta dari I'm Star (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Satu lagi pengisi acara yang gue handle adalah adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah. Adik-adik dengan Down Syndrome ini membawakan Tarian Robotic. Lucu-lucu gerakannya. Bahkan ketika belum giliran mereka naik panggung, mereka tetap naik panggung. Ceritanya lagi check sound, yang diputerin lagu yang agak ngebeat, langsung mereka menyerbu panggung dan berjoget di atas panggung. Menghibur pengunjung lainnya. Dan mereka lucu-lucu.

adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah

adik-adik dari Sanggar Tari Insan Anugrah

Selain 3 pengisi acara yang gue sebutin di atas, acara Wisata Anak Bersama Sahabat YSI Bintaro ini juga dihibur oleh Shena (X-Factor), Pasha (AFI) yang mengajak serta Rifky (AFI), dan I'm Star, sebuah band yang personelnya merupakan anak-anak berbakat dengan Autisme.

kak Shena, kak Rifky dan kak Pasha (foto dokumentasi YSI Bintaro)
I'm Star (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Selain dihibur oleh musik dan tari, di Wisata Anak ini ada juga acara Lelang. Lelang lukisan hasil karya Pak Faisal Rusdi, yang melukis hanya dengan mulutnya karena keterbatasannya. Lukisannya terjual dengan harga yang cukup fantastis loh, gaes.

pak Faisal Rusdi sedang melukis (foto dokumentasi YSI Bintaro)


lelang lukisan pak Faisal Rusdi (foto dokumentasi YSI Bintaro)


Gak cuma lelang lukisan. Ada juga lelang Origami hasil karya Thomas Andika. Remaja pria dengan Autisme yang jago melipat-lipat kertas sehingga menghasilkan bentuk robot atau binatang.

Thomas (jaket abu-abu) sedang membuat origami (foto dokumen YSI Bintaro)
salah satu karya Thomas (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Lagi-lagi Allah seakan menyentil kepala gue melalui acara ini. Mereka, yang memiliki keterbatasan, namun masih bisa berkarya dengan baik. Nah gue? Lebih banyak males-malesannya daripada berkarya. :(

Oh iya, ada yang kelupaan. Acara Wisata Anak ini diawali dengan pelepasan balon warna-warni ke langit, loh, gaes. Jadi, seluruh pengisi dan peserta acara berkumpul di salah satu sisi lapangan Randu, untuk melepas balon warna-warni ini ke langit.

Pelepasan balon warna-warni (foto dokumentasi YSI Bintaro)
balon warna-warni menuju angkasa luas (foto dokumentasi YSI Bintaro)

Nah, sepertinya udah hampir semuanya gue ceritain tentang acara Wisata Anak ini. Selain karena pengisi acara, ada lagi nih yang juga berjasa memeriahkan acara Wisata Anak ini. Tak lain dan tak bukan adalah para MC kondang, mbak Riry Wijaya, mbak Shanty, dan my favourite Announcer sejak SMA dulu.. Mas Imam Wibowo (yang ternyata tetep ganteng aja yaa mukanya, hehe). Mereka berhasil membuat acara Wisata Anak ini tetap "hidup".

trio MC kondang (foto dokumentasi YSI Bintaro)


kan.. mas Imam mukanya ga berubah, kan. teteup kasep :)
(foto dokumentasi YSI Bintaro)

Sebelum mengakhiri postingan ini, gue mau ngucapin makasih banget sama YSI Bintaro yang udah kasih gue kesempatan untuk bisa membantu di acara Wisata Anak ini. Banyak pengalaman berharga yang belom tentu gue dapetin lagi di kehidupan mendatang.

Aaaak, jadi kangen anak-anak lagi kan :(((

Ah, sudahlah... Sekian cerita dari gue tentang Weekend bersama Manusia-Manusia Hebat. Untuk dokumentasi lebih lengkapnya monggo mampir di FB YSI Bintaro.

Best Regrads!
Rula


(Start : Desember 2014, Finish: Januari 2015)

Sabtu, 20 Desember 2014

Keindahan Alam Sumba di Film Pendekar Tongkat Emas

Haiiiii..

Sabtu sore di tempat kerja. 

Mumpung belom ada pasien, gue mau review film sekalian cerita tentang nonton bareng Film “Pendekar Tongkat Emas” (PTE) di XXI Setiabudi tadi pagi, yaaa.


Jadi ceritanya gini….

Kemarin, Jumat, 19 Desember 2014, gue menang kuis tiket gratis nonton film PTE di XXI Setiabudi, Kuningan, Jakarta hari Sabtu, 20 Desember 2014 jam 9 pagi untuk 2 orang. Yeay! Senenglah gue dapet tiket gratisan, dua tiket pula. (anaknya suka yang gratisan) (dilempar koin) (abaikan). 

*masih muka bantal*

Eh, waitt.. dua tiket? Ngajak siapa, ya? Yang mau merelakan waktu tidur paginya di hari libur untuk dateng ke Setiabudi One buat nonton film doang? ….. Daripada bingung, akhirnya yang satu tiket lagi gue lempar ke grup whatsappnya @NontonJKT, yang japri gue pertama, dialah yang dapet tiketnya. Hihihi.. So, jadinya gue sama Om Al (sebut saja begitu) janjian di tekape langsung untuk Nobar Film PTE. Dan ternyata, gue juga ketemu sama beberapa temen dari @nebengers yang juga ikut nonton film ini. Hihi.. Akhirnya ada yang gue kenal juga.
*with @difarah*


*the tickets*

Tiket yang gue dapet untuk show di studio 1, jam 9.30. Dan sebelum filmnya dimulai, ternyata ada sambutan dulu dari yang ngegarap film dan beberapa cast.nya. Ada mbak Mira Lesmana, mas Riri Riza, mas Ifa Isfansyah daaaannn Nicholas Saputra juga Reza Rahardian. Yeaaayyy… Gak sia-sia deh gue bangun pagi di hari sabtu kalo jadinya begini. (oke agak lebay, gaes).





*all foto from Omal dan Bangald*

Daripada gue makin ngalor ngidul, gimana kalo kita lanjut ke Filmnya aja langsung ya, gaes? *manggut-manggut*


Here we go..

*taken from mbah gugel*
Sinopsis Pendekar Tongkat Emas:

Cempaka adalah pendekar yang disegani dan sangat dihormati di dalam dunia persilatan. Ia memegang sebuah senjata legendaris tongkat emas dengan jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi yang mematikan dan tak tertandingi kekuatannya. Ketika usianya menua, Cempaka bermaksud mewariskan senjata dan jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi kepada salah satu muridnya. Akan tetapi, pembunuhan dan pengkhianatan terjadi sebelum dunia persilatan dapat mengetahui siapa ahli warisnya. Tongkat emas pun direbut oleh pendekar lain yang bermaksud jahat sehingga menimbulkan kekacauan. Satu-satunya orang yang dapat merebut kembali Tongkat Emas adalah Pendekar Naga Putih, seorang pendekar sakti yang dulu merupakan pasangan Cempaka dan telah lama menghilang. Dua orang murid Cempaka, Dara dan Angin harus menemukan Pendekar Naga Putih sebelum terlambat.


Film garapan Mirles Film yang bekerjasama dengan KG Studio ini tayang perdana di Bioskop tanggal 18 Desember kemarin. Film yang mengambil lokasi syuting di daerah Sumba Timur, NTT ini disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Beberapa aktor dan aktris yang ikut terlibat dalam film yang konon katanya memakan biaya produksi hingga 25 Milyar ini antara lain ada Christine Hakim (sebagai Cempaka), Reza Rahardian (sebagai Biru), Tara Basro (sebagai Gerhana) Nicholas Saputra (sebagai Elang), Eva Celia (sebagai Dara), Aria Kusumah (sebagai Angin).

My Review…


Pernah kecewa dengan film-film karya mbak Mira dan mas Riri? Gue sih belum, ya. So far, gue selalu suka dengan film-film karya mereka. Karya-karya mereka memang selalu awesome buat gue, pun dengan PTE ini. Dan gue selalu menantikan mbak Mira dan mas Riri ngeluarin karya-karya mereka selanjutnya (terutama AADC2 yang dijanjikan akan diproduksi jika film PTE ini sukses). Ditambah dengan campur tangan mas Ifa Isfansyah, sutradara terbaik FFI 2011, pernah menyutradarai film Sang Penari, yang juga sukses di kancah perfilman Indonesia, Film PTE ini menjadi film Indonesia yang wajib ditonton di bioskop kesayangan Anda. J

*taken from here*

Lokasi syuting di Sumba Timur, NTT, yang secara topografi umum berada di daerah pesisir, dengan rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur curam, juga savana yang menghijau bak karpet berbukit, cukup memanjakan mata yang haus akan keindahan alam di bumi Indonesia. Subhanallah, ternyata masih ada kekayaan alam Indonesia yang belum terjamah mata ini. Beberapa kali gue merasakan eyesgasm ketika layar bioskopnya menampilkan keindahan alam Sumba. Kerennn… secara cinematografinya keren abis.

*taken from here*
*taken from here*

Selain mengangkat kekayaan alam Indonesia, PTE ini juga menaikkan lagi dunia persilatan Indonesia. Gerakan-gerakan silat yang ditampilkan di hampir semua adegan dalam film ini juga mampu membuat mata gue seakan tak mau berpaling dari layar. Apik, manis, keren. Ah, seru, lah. Gue memang selalu suka dengan ilmu beladiri. Makanya kalo lagi nonton film laga yang ada adegan berantemnya, pasti gue perhatiin banget. Salut sama para aktor dan aktrisnya yang udah latihan dengan giat demi menampilkan adegan laga yang beneran laga. J 

Para pemainnya di sini totalitas banget, lah, akting mereka semua gak usah diraguin lagi. Reza Rahardian dan Tara Basro yang dapet banget antagonisnya, terutama Tara Basro, mimik mukanya itu asli bengis banget. Nicholas Saputra yang selalu tampil cool dengan cara bicaranya yang cool. Eva Celia yang sangat menghayati peran. Dan Aria Kusumah, si kecil yang pendiam dan misterius. Dan ada satu lagi anak kecil *entah namanya siapa* ceritanya dia itu anaknya Biru dan Gerhana. Di akhir film PTE ini dia berguru pada Dara dan menunjukkan gerakan silatnya. (Menurut berita, anak kecil ini memang beneran pesilat, loh).  

Kalo dari segi cerita, PTE ini banyak menyampaikan pesan moral. Ada satu kalimat yang gue suka, ini kalimat yang diucapkan Angin saat akan melawan Biru dan Gerhana, 

“Jiwa besar membuat orang merelakan apa yang layak dia dapatkan, jiwa kerdil menginginkan semua yang tak layak dia dapat”


Secara keseluruhan, PTE ini AWESOME. Akhirnya ada lagi film Indonesia yang layak ditonton di bioskop. Bukan hanya sekedar menunggu kemunculannya di layar kaca. Hayoklah rame-rame ke bioskop buat nonton PTE, *biar mbak Mira dan mas Riri bikin AADC2 nihhh* 


Terima kasih mbak Mira dan Mas Riri juga mas Ifa Ifansyah yang selalu menghadirkan film-film Indonesia berkualitas. Sukses terus perfilman Indonesia!

*with Mas Binar, Om Al, Sibil dan Difarah.* *foto taken from bangAld*

Sekian, 
Rula pamit!

Jumat, 12 Desember 2014

Baymax iPhone Case

Baymax iPhone Case: Baymax Big Hero 6 design by Distro Ocean. Gray case that made of a good material that will protect your phone from scratch and dust, this case also available for iPhone 4/4s/5/5s and Samsung Galaxy Note 2, 3, Samsung Galaxy S3, S4, S5, Samsung Galaxy Grand and Redmi Xiaomi.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LH5To

Hai...

2014 hanya tersisa beberapa hari lagi. 
Pergantian tahun tinggal menghitung hari. 
Dan udah lama juga gue gak posting di sini :’). 

Mulai menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan dan disibukkan dengan pasien yang masih aja banyak. Heheh..

Sebenernya ada dua event -yang bisa dibilang cukup besar- yang gue ikutin dua bulan kebelakang. Nanti akan gue ceritain di postingan terpisah. Karena masing-masing event punya cerita sendiri. Yang pastinya akan memakan banyak space kalo digabung dalam satu postingan. Hehehe..

Yang jelas, menjelang akhir tahun ini berbagai kisah mulai terputar kembali dalam benak gue. 
Baik yang sedih, senang, haru, bahagia, kesel, semua rasa. 

Dan gue harap gue bisa konsisten nulis semua cerita itu. Kisah klasik nan drama. Hehehe..

Just wait and read…


Love ya!